Iseng Cek Mutasi Bank Jam Tiga Pagi, Istri Ini Temukan Suami Sering Bayar Lahan Pemakaman Atas Namanya!

Iseng Cek Mutasi Bank Jam Tiga Pagi, Istri Ini Temukan Suami Sering Bayar Lahan Pemakaman Atas Namanya!

Skandal & Pengkhianatan

Iseng Cek Mutasi Bank Jam Tiga Pagi, Istri Ini Temukan Suami Sering Bayar Lahan Pemakaman Atas Namanya!



'Bisa Anda ulangi lagi kata-kata Anda tadi, Pak?' Suara Kirana nyaris tenggelam di antara riuh lalu lintas Jalan Rasuna Said yang menembus kaca tebal kantor bank swasta siang itu. Jemarinya mencengkeram pinggiran meja marmer dingin hingga buku-buku jarinya memutih. Di hadapannya, seorang petugas layanan nasabah prioritas menatapnya dengan raut wajah serba salah, seolah baru saja membocorkan rahasia negara yang paling terlarang.

Petugas itu membetulkan posisi kacamata frame tipisnya, memandangi layar monitor komputer sebelum kembali menatap Kirana dengan tatapan iba. 'Secara administratif, transaksi ini sah, Ibu Kirana. Pembayaran pemesanan kavling pemakaman eksklusif di San Diego Hills atas nama Ibu Kirana Santoso sudah diselesaikan tiga bulan lalu. Transaksi dilakukan secara autodebet berkala melalui rekening bersama atas nama Tuan Baskara dan diotorisasi oleh kuasa hukum keluarga Anda, Tuan Dananjaya.'

Dunia Kirana seolah berhenti berputar detik itu juga. Udara di dalam ruangan ber-AC dingin itu mendadak terasa begitu tipis, menyiksa dadanya hingga sesak. Kirana berusia tiga puluh dua tahun, dalam kondisi fisik sempurna, tanpa riwayat penyakit kronis sedikit pun. Mengapa suaminya, Baskara, pria yang selalu mengecup keningnya setiap pagi sebelum berangkat ke studio arsitekturnya, bersama Dananjaya, sahabat terdekat sekaligus pengacara keluarga mereka, memesan dan melunasi lahan pemakaman atas namanya sejak tiga bulan yang lalu?

Ia memegang lembaran cetakan mutasi dan lampiran berkas digital yang baru saja dicetak oleh teller. Mata Kirana menelusuri tiap baris tulisan dengan ketakutan yang kian merayap. Tak hanya kavling pemakaman, ada sebuah polis asuransi jiwa berjangka bernilai puluhan miliar rupiah yang baru saja diperbarui dua bulan lalu. Dalam polis tersebut, namanya terdaftar sebagai tertanggung utama, sementara penerima manfaat penuh jika terjadi kecelakaan atau kelalaian medis adalah sebuah perusahaan cangkang atas nama Dananjaya.

Kenangan demi kenangan berputar liar di kepala Kirana. Rumah tangga mereka yang dibina selama tujuh tahun selalu menjadi panutan di kalangan kolega. Baskara adalah arsitek tenang, penuh perhatian, dan lembut. Sementara Dananjaya adalah sosok 'saudara tak sedarah' yang selalu hadir dalam setiap acara keluarga, mengurus segala legalitas bisnis galeri seni peninggalan orang tua Kirana di Menteng. Semuanya tampak begitu harmonis, begitu sempurna. Namun, di balik senyuman hangat mereka dalam setiap foto liburan keluarga, tersimpan rancangan skenario kematian yang sangat rapi.

Dengan langkah gontai namun berusaha tetap tegap, Kirana meninggalkan gedung bank. Ia menolak taksi dan memilih berjalan kaki menuju sebuah kedai kopi kecil di kawasan Cikini—tempat yang tak mungkin didatangi oleh Baskara atau Dananjaya. Kirana membuka laptopnya, menyambungkan koneksi internet, dan mulai membongkar arsip-arsip lama galeri seni milik keluarganya yang selama ini sepenuhnya diserahkan penanganannya kepada Dananjaya.

Dua jam menelusuri audit internal, pola busuk itu mulai menyeruak. Galeri seni heritage milik keluarganya di Menteng, yang memiliki nilai sejarah dan harga tanah sangat tinggi, rupanya telah digadaikan secara diam-diam sebagai jaminan hutang investasi proyek properti Baskara yang gagal di Bali. Dan klausa pelunasannya sangat mengerikan: jika Kirana meninggal dunia, seluruh aset galeri akan beralih sepenuhnya menjadi milik perusahaan cangkang Dananjaya untuk menutup hutang tersebut, sementara Baskara akan menerima pembayaran asuransi jiwa yang melimpah.

Rasa mual membakar tenggorokan Kirana. Ia teringat kebiasaan Baskara selama empat bulan terakhir. Setiap malam sebelum tidur, Baskara selalu meracikkan segelas teh herbal hangat dan memberikannya beberapa butir suplemen impor yang diklaim sebagai 'vitamin penambah imunitas'. Baskara selalu menunggunya meminum suplemen itu hingga habis, menatapnya dengan tatapan lembut yang kini terasa bagaikan tatapan seorang algojo yang sedang menanti korbannya tertidur lelap.

Kirana merogoh tas tangannya, mengambil botol suplemen yang selalu ia bawa. Tangannya gemetar hebat. Selama ini ia percaya sepenuhnya. Ia menganggap perhatian Baskara adalah wujud cinta yang tulus. Kirana kemudian menghubungi Mahardika, seorang teman lamanya dari kampus yang kini bekerja sebagai ahli farmakologi klinis di sebuah laboratorium independen di Jakarta Pusat.

'Aku butuh bantuanmu, Mahardika. Tolong uji kandungan tablet ini secepatnya. Sangat mendesak, dan tolong jangan tanyakan apa pun dulu sebelum hasilnya keluar,' bisik Kirana dengan suara bergetar saat menelepon Mahardika.

Sore harinya, hujan deras mengguyur Jakarta. Kirana duduk di sudut laboratorium Mahardika, memandangi rintik air yang menghantam kaca jendela. Mahardika keluar dari ruang pengujian dengan wajah sangat pucat. Ia menyerahkan lembar hasil analisis laboratorium kepada Kirana.

'Kirana, obat ini bukan sekadar suplemen biasa,' kata Mahardika dengan nada sangat serius. 'Ini adalah kombinasi dosis terukur dari senyawa kimia yang secara bertahap memperlemah dinding pembuluh darah dan memicu serangan jantung mendadak tanpa meninggalkan jejak racun yang mencurigakan dalam otopsi standar. Jika ini diminum terus menerus selama dua bulan lagi... pemakainya akan mengalami gagal jantung alami dalam tidur.'

Kirana menutup matanya rapat-rapat. Air matanya menetes satu per satu, dingin dan menyayat hati. Namun, ketika ia membuka matanya kembali, ketakutan di dalam dirinya telah menguap, digantikan oleh kemarahan yang membeku menjadi dendam murni. Ia tidak boleh terlihat panik. Ia harus kembali ke rumah malam ini, bersikap seolah tidak ada satu pun rahasia yang terungkap.

Pukul tujuh malam, Kirana melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya di kawasan Kebayoran Baru. Suasana rumah begitu tenang. Dari arah ruang makan, terdengar suara gelak tawa yang sangat akrab. Baskara dan Dananjaya sedang duduk berhadapan, menikmati makan malam dengan sebotol anggur merah mahal, merayakan sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu.

'Sayang, kamu sudah pulang?' panggil Baskara dengan senyum terkembang saat melihat Kirana berjalan mendekat. 'Kok basah kuyup begini? Kan bisa minta sopir jemput. Oya, Dananjaya mampir untuk merapikan beberapa berkas hak waris galeri seni yang kemarin belum selesai kamu tanda tangani.'

Dananjaya tersenyum ramah, menganggukkan kepala dengan penuh simpati yang dibuat-buat. 'Iya, Kirana. Biar semuanya rapi dan aman untuk jangka panjang. Kamu tidak perlu pusing memikirkan urusan hukum, biarkan aku dan Baskara yang mengurus segalanya demi masa depanmu.'

Kirana menatap kedua pria di hadapannya satu per satu. Suaminya yang sangat ia cintai, dan sahabat dekat yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri. Keduanya tampak begitu tenang, begitu sempurna memainkan peran sebagai pelindung, sementara di belakangnya mereka sedang mengukur kedalaman liang kubur untuk dirinya.

'Terima kasih banyak, ya,' jawab Kirana dengan senyuman paling manis yang bisa ia ukir malam itu. Ia melepas blazer mewahnya, lalu berjalan menuju dapur. 'Kalian pasti haus. Biar aku yang buatkan teh herbal spesial malam ini. Kita minum bersama sambil menyelesaikan berkas-berkas itu.'

Di balik seluk-beluk meja dapur yang tertutup dari pandangan ruang makan, Kirana mengambil tiga buah cangkir keramik. Jemarinya dengan tenang membuka botol suplemen racun itu, memilah butiran-butirannya, lalu menukarkan cangkir-cangkir tersebut dengan cermat. Skenario permainan ini baru saja dimulai, dan Kirana bersumpah, ia tidak akan menjadi satu-satunya orang yang masuk ke dalam liang kubur itu.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url