Satu Klik Lembar PDF Ini Bikin Skandal Terbesar Direksi Kantor Kami Bikin Gempar Satu Gedung!

Satu Klik Lembar PDF Ini Bikin Skandal Terbesar Direksi Kantor Kami Bikin Gempar Satu Gedung!

Romansa Kantor

Satu Klik Lembar PDF Ini Bikin Skandal Terbesar Direksi Kantor Kami Bikin Gempar Satu Gedung!



'Jangan pernah berani geser kursor itu lebih jauh, Savitri!' Suara bariton Dananjaya memotong gemuruh mesin pendingin ruangan di ruang rapat utama lantai delapan belas. Delapan pasang mata jajaran komisasaris dan direksi senior PT Astraja Mastertech yang tadinya fokus pada cangkir espresso masing-masing, kini tertuju penuh ke arah layar proyektor berukuran seratus inci di depan ruangan.

Savitri tertegun. Jemarinya membeku di atas trackpad laptop. Di layar proyektor, di tengah-tengah presentasi audit keuangan kuartal ketiga yang sedang ia paparkan, sebuah folder tersembunyi berlabel 'Arsip_Vendor_Catering_2019' mendadak muncul akibat sinkronisasi otomatis cloud drive perusahaan yang lupa ia matikan. Namun, bukan invoice katering yang terpampang di sana saat pindaian pratinjau otomatis bekerja. Itu adalah lembaran sertifikat pengalihan hak paten teknologi dan rekening bank lepas pantai atas nama mendiang ibunya, lengkap dengan tanda tangan digital milik Savitri sendiri—tanda tangan yang seingatnya tidak pernah ia bubuhkan pada dokumen mana pun sepanjang lima tahun berkarier di gedung pencakar langit SCBD ini.

Hening menyeruak seketika, menggantung tebal seperti kabut polusi Jakarta di luar jendela kaca tebal ruangan tersebut. Dananjaya, Managing Director berusia tiga puluh delapan tahun yang selama tiga tahun terakhir menjadi sosok paling disegani sekaligus pria yang diam-diam mengisi ruang hampa di hati Savitri, berdiri tegak. Jas charcoal ciptaannya yang selalu tampak sempurna kini terlihat kaku. Senyum tenang yang biasanya sanggup menenangkan badai krisis saham perusahaan mendadak luntur, menyisakan tatapan mata tajam yang belum pernah Savitri lihat sebelumnya.

'Savitri, tutup dokumen itu sekarang dan lanjutkan ke slide alokasi anggaran operasional,' perintah Dananjaya lagi, kali ini dengan nada dingin yang nyaris tidak menyisakan ruang untuk bantahan. Niatnya terdengar seperti instruksi profesional seorang bos kepada bawahannya, tetapi kilat kecemasan di balik kacamata bingkai tipisnya tak bisa dibohongi.

Napas Savitri tertahan di tenggorokan. Dada kirinya berdenyut nyeri, sebuah rasa sakit yang melompat jauh melewati batas hubungan kerja profesional. Selama tiga tahun ini, Dananjaya bukan sekadar atasan yang membimbing kariernya dari seorang analis junior hingga menduduki posisi Senior Financial Analyst. Pria itu adalah sosok yang selalu memesankan teh chamomile hangat setiap kali Savitri lembur hingga tengah malam, pria yang menahannya untuk tidak mengundurkan diri saat ibunya wafat dua tahun lalu, dan pria yang dalam ratusan malam tanpa status jelas, memegang jemarinya di dalam mobil saat kemacetan jalan tol Gatot Subroto.

'Tunggu sebentar, Pak Dananjaya,' suara lain menyela dari ujung meja oval berkilau itu. Brahma, Head of Internal Audit yang terkenal bermuka batu dan tak pernah tersenyum, menegakkan posisi duduknya. Tangannya yang memegang pena Parker perak mengetuk meja dua kali. 'Biarkan Mbak Savitri membuka lembar kedua dari file PDF itu. Sebagai auditor, saya menemukan ketidaksesuaian kode pos dan spesifikasi aset yang terdaftar dalam laporan konsolidasi holding kita tahun lalu.'

Keringat dingin membasahi telapak tangan Savitri. Di dalam ruangan berpendingin enam belas derajat Celsius itu, ia merasa tubuhnya dibakar dari dalam. Jemarinya yang gemetar nekat mengklik ganda dokumen tersebut. Layar menampilkan detail transaksi penjualan lisensi sistem keamanan siber senilai belasan miliar rupiah—lisensi yang sejatinya diciptakan oleh almarhum ayahnya sebelum perusahaan keluarga mereka bangkrut secara misterius delapan tahun silam. Dan di kolom penerima kuasa akuisisi, tertera nama Dananjaya, dengan tanggal eksekusi persis tiga hari setelah pemakaman ibu Savitri.

Pandangan Savitri memburam oleh kabut air mata yang ditahannya setengah mati. Seluruh puzzle absurd dalam hidupnya seolah terangkai dalam hitungan detik. Perhatian intensif Dananjaya, beasiswa magang yang tiba-tiba ia dapatkan di Astraja Mastertech, hingga keputusan Dananjaya yang selalu melarangnya menyentuh folder arsip fisik di lantai basemen—semuanya bukan bentuk perlindungan atau cinta kasihan. Itu adalah strategi matang untuk mengurung korban di dekat sang pemangsa, memastikan Savitri tak akan pernah membedah bangkai rahasia di balik kekayaan megah pria itu.

'Rapat kita tunda sepuluh menit. Savitri, ikut saya ke ruangan sekarang,' Dananjaya memotong arus kepanikan sebelum komisaris utama sempat bersuara. Pria itu mematikan proyektor secara paksa dengan remote control di genggamannya, lalu melangkah lebar meninggalkan ruang rapat tanpa menoleh lagi.

Langkah kaki Dananjaya terdengar tegas menggema di sepanjang koridor berlantai marmer polished. Savitri menyambar laptopnya dengan jemari tremor, mengabaikan tatapan penuh selidik dari Brahma dan para petinggi lainnya. Ia menyusul langkah Dananjaya memasuki ruang kerja megah berornamen kayu mahoni di sudut lantai delapan belas yang menghadap langsung ke pemandangan garis cakrawala ibu kota.

Begitu pintu kaca tebal itu tertutup otomatis dengan bunyi klik yang terkunci rapat, udara di dalam ruangan mendadak terasa begitu tipis. Dananjaya memutar tubuhnya, melepas kacamata, lalu memijat pangkal hidungnya dengan helaan napas panjang yang terdengar sangat lelah. Sikapnya mendadak berubah kembali menjadi pria hangat yang dikenal Savitri selama ini.

'Ri, dengarkan aku dulu. Jangan biarkan Brahma atau siapapun memprovokasi pikiran kamu dengan potongan dokumen yang tidak kamu pahami konteks historisnya,' ujar Dananjaya pelan, melangkah mendekat dengan kedua tangan terangkat santai, mencoba menunjukkan bahwa ia tak memiliki niat jahat.

'Jangan panggil aku 'Ri' lagi, Pak Dananjaya,' potong Savitri, suaranya bergetar hebat namun ada ketegasan tajam yang baru pertama kali muncul dari bibirnya. Ia mundur satu langkah, menjaga jarak sejauh mungkin dari pria yang baunya—campuran kayu cendana dan parfum maskulin mewah—dulu selalu membuatnya merasa aman. 'Tanda tangan digital itu... Ibu saya meninggal dalam keadaan koma di ICU dua tahun lalu. Bagaimana bisa tanda tangan saya tercantum di dokumen pengalihan aset ayah saya pada tanggal yang sama saat saya sedang memegang tangan ibu saya yang makin dingin di rumah sakit?'

Dananjaya menghentikan langkahnya. Matanya meredup, kehilangan binar pesona yang biasanya sanggup meluluhkan siapapun penanam saham terkeras. 'Kamu masih terlalu muda saat itu, Savitri. Kalau aset paten ayahmu tidak dimasukkan ke dalam portofolio akuisisi Astraja saat itu, perusahaan ayahmu akan disita penuh oleh bank penagih utang, dan kamu tidak akan punya uang sepeser pun untuk membayar biaya perawatan ICU ibumu selama enam bulan. Aku menyelamatkanmu!'

'Kamu tidak menyelamatkanku!' jerit Savitri, tumpah sudah air mata yang sejak tadi ditahannya. Suaranya pecah menembus kesunyian ruang kedap suara itu. 'Kamu membeli sisa-sisa kehancuran keluargaku dengan harga murah, mengklaimnya sebagai milikmu untuk naik jabatan menjadi Managing Director, lalu mengikatku di kantor ini dengan rasa utang budi palsu! Dan selama tiga tahun ini... setiap kali kamu memelukku di dalam mobil, setiap kali kamu bilang kamu peduli padaku... kamu hanya sedang memastikan bawahanku ini tidak cukup pintar untuk membongkar kebohonganmu!'

Dananjaya menatapnya lurus-lurus. Ekpresi penyesalannya berangsur-angsur menguap, berganti dengan topeng dingin tanpa emosi yang membuat punggung Savitri merinding. Pria itu berjalan santai menuju meja kerjanya, mengambil cangkir kopi porcelain, lalu menyesapnya sedikit sebelum kembali menatap Savitri.

'Savitri, realitas dunia korporasi tidak secantik cerita novel romance yang biasa kamu baca,' kata Dananjaya dengan nada yang kini sepenuhnya lugas, tanpa sisa kehangatan. 'Kamu punya bukti apa? Tanda tangan digital itu sah secara hukum enkripsi perusahaan. Kalau kamu membawa masalah ini ke papan direksi atau ke media, yang akan terlihat di mata publik adalah seorang analis junior yang mencoba memeras atasannya menggunakan dokumen lama yang diretas. Lagipula, siapa yang akan percaya pada anak dari pengusaha bangkrut dibanding seorang Managing Director yang baru saja menyumbang keuntungan empat puluh persen bagi holding?'

Kejam. Begitu lugas dan tanpa cela. Savitri merasa fondasi dunianya runtuh tak berbekas. Pria yang diimpikannya menjadi pelabuhan terakhir dari segala duka hidupnya ternyata adalah arsitek utama di balik seluruh tragedi tersebut. Namun, di tengah kehancuran mental yang teramat sangat itu, sebuah suara ketukan berirama terdengar dari pintu ruang kerja Dananjaya.

Pintu terbuka tanpa menunggu izin. Brahma berdiri di sana, memegang sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang tampak kusam. Di belakangnya, dua orang petugas keamanan internal berdiri bersiaga.

'Maaf mengganggu pembicaraan emosional kalian,' ujar Brahma datar, melangkah masuk tanpa rasa sungkan. 'Tapi Pak Dananjaya, komisaris utama baru saja menginstruksikan pembekuan sementara seluruh akses sistem dan rekening eksekutif Anda. Tampaknya dokumen katering yang terbuka di layar tadi bukan satu-satunya file yang bocor dari cloud server lima menit yang lalu. Seseorang telah mengirimkan seluruh histori mutasi rekening penampung di Singapura ke email seluruh anggota dewan komisaris.'

Dananjaya membeku. Cangkir porselen di tangannya bergetar halus hingga menyisakan denting tipis dengan piring alasnya. Mata tajamnya beralih cepat dari Brahma ke Savitri. 'Kamu... kamu yang melakukan ini?'

Savitri menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangan. Sekilas bayangan tentang flashing drive berukuran mikro yang diserahkannya kepada Brahma di pantry tiga hari lalu melintas di ingatannya. Intuisi kewaspadaannya yang terasah selama bekerja di bagian analisis keuangan tidak pernah benar-benar mati, meskipun hatinya sempat dibutakan oleh rasa cinta.

'Saya memang mencintai Anda, Pak Dananjaya,' bisik Savitri pelan, menatap lurus ke dalam manik mata pria yang kini tampak pucat pasi. 'Tapi Anda lupa satu hal. Ayah saya yang mengajarkan saya cara membaca laporan keuangan sebelum dia meninggal. Dan dia juga yang mengajari saya bagaimana cara menjatuhkan seorang pencuri yang berpakaian seperti pahlawan.'

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url