Satu Struk Toll Jam Dua Pagi Bongkar Siapa Sosok Anak Kecil yang Diam-Diam Dibiayai Suamiku Selama Lima Tahun
'Mbak, totalnya jadi dua ratus empat puluh lima ribu rupiah. Mau dibayar pakai e-wallet atau debit?' Suara kasir minimarket di kasir lima memecah lamunan Arumi. Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu tersentak pelan, buru-buru menyodorkan kartu debit suaminya yang pagi tadi tertinggal di atas meja rias.
Transaksinya berhasil dalam hitungan detik. Namun, bersamaan dengan struk belanjaan yang keluar dari mesin cetak kecil itu, selembar kertas resi cetak ulang transaksi e-money meluncur jatuh ke lantai marmer yang dingin. Arumi membungkuk, memungut slip tipis berwarna agak kusam tersebut. Matanya yang jeli menangkap deretan angka dan lokasi yang tercetak samar di sana: 'Gerbang Tol Pondok Ranji - Exit Bintaro, 02:15 WIB'. Tanggalnya adalah hari Selasa minggu lalu.
Dada Arumi seperti dihantam batu besar yang tak kasat mata. Selasa minggu lalu, Baskara—pria yang telah menikahi Arumi selama empat tahun—mengirimkan pesan singkat berisi foto tumpukan cetakan biru di kantor proyek Cikarang. Baskara bersumpah harus menginap di mess kontraktor karena ada inspeksi mendadak dari investor. Lantas, untuk apa mobil suaminya melintasi gerbang tol Bintaro pada jam dua pagi yang buta?
Arumi tidak berteriak. Ia tidak meremas kertas itu hingga hancur. Sebagai seorang desainer grafis yang terbiasa menganalisis detail mikroskopis pada setiap piksel gambar, Arumi memilih menelan semua gemuruh di dadanya. Ia memasukkan belanjaan ke dalam bagasi mobil, lalu duduk di balik kemudi selama sepuluh menit tanpa menyalakan mesin. Tangannya yang gemetaran mulai membuka aplikasi perbankan milik Baskara di ponsel second yang terhubung dengan akun bersama mereka.
Di sana, tersimpan mutasi transaksi otomatis berlabel 'Biaya Pendidikan Bintang Kecil' sebesar empat juta rupiah setiap tanggal lima. Transaksi itu sudah berjalan berturut-turut selama tiga tahun terakhir tanpa pernah sekalipun didiskusikan dengan Arumi. Padahal, selama tiga tahun ini, mereka berdua kerap berhemat setengah mati untuk mengumpulkan dana program bayi tabung yang selalu tertunda.
Malam harinya, aroma semur daging favorit Baskara memenuhi ruang makan rumah mereka yang minimalis di kawasan BSD. Baskara pulang dengan wajah lelah yang tampak amat meyakinkan. Kemeja kerjanya terlipat di bagian siku, dan senyum manisnya yang biasa langsung menyapa Arumi begitu pintu utama terbuka. 'Capek banget hari ini, Sayang. Tol Jakarta-Cikampek macet parah seperti biasa,' ujar Baskara sambil mengecup dahi Arumi hangat.
Arumi menatap mata suaminya, mencari ketidakjujuran di sana. Namun iris mata Baskara begitu jernih, penuh kehangatan yang selama empat tahun ini membuat Arumi merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. 'Mas, tadi aku pakai kartu debit kamu yang ketinggalan buat beli bahan makanan di supermarket,' tutur Arumi santai sambil menuangkan air putih ke gelas Baskara.
Baskara meneguk air itu santai. 'Oh iya? Nggak apa-apa, pakaik aja. Lagian itu kan uang kita juga.' Responsnya begitu natural, tanpa ada kejutan atau kepanikan yang terlihat di wajahnya. Ketenangan Baskara justru membuat Arumi merasa bulu kuduknya berdiri. Seberapa mahir pria ini menyembunyikan kehidupan ganda di balik senyum lembutnya?
'Terus tadi ada struk e-money yang jatuh dari dompet kartu kamu, Mas. Tulisan keluar tol Bintaro jam dua pagi minggu lalu,' lanjut Arumi dengan nada suara selurus garis pantai.
Gerakan sendok di tangan Baskara terhenti seketika. Hening merayap di antara meja makan yang penuh makanan lezat itu. Hanya ada suara denting jam dinding yang berdetak nyaring. Wajah Baskara tidak berubah menjadi pucat secara dramatis, melainkan berubah datar—sebuah ekspresi netral yang amat asing bagi Arumi.
'Oh, itu. Waktu itu Mas nganterin Pak Dananjaya, bos proyek yang rumahnya di Bintaro. Dia kemalaman di kantor Cikarang dan mobilnya mogok, jadi Mas yang antar balik pakai mobil Mas,' jawab Baskara tenang, lalu melanjutkan mengunyah semur dagingnya seolah tidak ada masalah besar yang sedang mengintai.
Arumi tersenyum kecil, senyuman tipis yang terasa getir di bibirnya. 'Pak Dananjaya yang minggu lalu dinas luar negeri ke Singapura itu, Mas?' tanya Arumi lagi. Ia tahu pasti jadwal sang atasan karena istri Pak Dananjaya adalah klien tetap untuk jasa desain produk buatan Arumi.
Baskara menghentikan suapannya. Kali ini, tatapannya mengunci mata Arumi. 'Arumi, kamu sedang menginterogasi aku?' suara Baskara berubah dingin, merendah penuh peringatan. 'Aku kerja banting tulang tiap hari buat masa depan kita. Kamu malah sibuk mencocokkan jam keluar tol dan sibuk curiga tanpa alasan yang jelas.'
Malam itu berakhir tanpa pertengkaran hebat. Baskara memilih tidur memunggungi Arumi di kamar utama, sementara Arumi terjaga hingga fajar menyingsing. Keduanya saling membisu, namun pertempuran dingin telah resmi dimulai di bawah atap rumah mereka.
Keesokan harinya, Arumi memilih tidak pergi ke studio kerjanya. Berbekal alamat dari nama yayasan 'Bintang Kecil Bintaro' yang ia lacak secara independen melalui pencarian daring, Arumi mengendarai mobilnya menuju sebuah sektor perumahan tenang di Bintaro. Hatinya berdegup kencang bak genderang perang ketika ia memarkirkan mobilnya agak jauh dari gerbang paud swasta yang tampak asri tersebut.
Pukul sebelas siang, bel sekolah berbunyi. Anak-anak kecil berhamburan keluar menyambut jemputan masing-masing. Arumi memandangi pemandangan itu dari balik kaca mobilnya yang gelap. Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam yang sangat dikenal Arumi berhenti tepat di depan gerbang paud.
Baskara turun dari mobil. Pria itu tidak memakai kemeja kerjanya, melainkan kaus kasual berwarna abu-abu yang biasa ia pakai di hari libur. Baskara berlutut di atas aspal, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun dengan rambut dikuncir dua berlari kencang dan langsung melompat ke dalam pelukan Baskara. Baskara tertawa lepas, memutar tubuh anak kecil itu di udara sebelum mencium kedua pipinya penuh kerinduan.
Rasa mual membakar tenggorokan Arumi. Udara di dalam mobilnya mendadak terasa amat menipis hingga ia sulit bernapas. Namun kejutan sesungguhnya belum berakhir di sana. Dari arah dalam sekolah, seorang wanita berpakaian sederhana berjalan mendekati Baskara dan anak kecil itu.
Ketika wanita itu menoleh ke arah jalan raya, Arumi merasa jantungnya berhenti berdetak seketika. Wanita itu bukan orang asing. Wanita itu adalah Kirana—adik tiri Arumi dari pernikahan kedua ayahnya yang telah menghilang tanpa kabar sejak lima tahun lalu setelah skandal keuangan keluarga yang menghancurkan masa muda mereka.
Pikiran Arumi berkecamuk hebat. Bagaimana mungkin suaminya, pria yang dikenalnya tiga tahun lalu melalui kawan kampus, bisa mengenal Kirana? Dan mengapa Baskara membiayai anak kecil yang memanggil suaminya dengan sebutan 'Papa Baskara' dari jarak sejauh ini?
Arumi membuka pintu mobilnya, membiarkan sepatu heels-nya mengetuk aspal jalanan dengan tegas. Langkah kakinya mendekati mereka bertiga yang tampak seperti keluarga kecil yang amat bahagia di bawah naungan pohon trembesi yang rindang.
'Reuni keluarga yang sangat indah, bukan?' suara Arumi memotong gelak tawa di antara mereka.
Baskara berbalik dengan cepat. Wajahnya seketika menjadi pucat pasi, matanya membelalak tak percaya melihat istrinya berdiri hanya dua meter dari hadapannya. Kirana di sisi lain, menggenggam erat jemari anak kecil itu sambil melangkah mundur dengan tatapan penuh rasa takut dan bersalah.
'Arumi... bagaimana kamu bisa ada di sini?' bisik Baskara dengan suara yang hampir kehilangan daya pikatnya.
'Pertanyaan yang bagus, Mas. Tapi kurasa pertanyaannya harus dibalik: Mengapa suamiku membiayai anak dari adik tiriku yang selama ini kukira sudah melarikan diri ke luar negeri?' balas Arumi dengan nada dingin tanpa ampun.
Anak kecil itu sembunyi di balik rok Kirana, menatap Arumi dengan mata bulatnya yang polos. Kirana akhirnya membuka suara, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. 'Mbak Arumi... ini tidak seperti yang Mbak pikirkan. Mas Baskara cuma berusaha menyelamatkan kami...'
'Menyelamatkan dari apa, Kirana? Menyelamatkan kamu dengan uang tabungan program bayi tabungku dan suamiku?' potong Arumi tajam, memandang Kirana dan Baskara bergantian dengan tatapan penuh kekecewaan yang tak bertepi.
Baskara melangkah mendekati Arumi, mencoba meraih jemari istrinya yang dingin bagai es. 'Arumi, dengarkan aku dulu. Anak ini... Sekar... dia bukan anak kandungku dengan Kirana. Dia anak almarhum Mas Rian, kakak kandungku yang meninggal empat tahun lalu dalam kecelakaan.' Kalimat Baskara terhenti sejenak, tenggorokannya tercekat saat memandang Arumi yang masih mematung.
'Lalu kenapa harus Kirana yang merawatnya? Dan kenapa kamu harus sembunyi-sembunyi dari aku selama bertahun-tahun, Baskara?' tanya Arumi, suaranya mulai bergetar menahan ledakan emosi yang siap pecah kapan saja.
Baskara menunduk dalam-dalam, menghembuskan napas berat yang sarat akan beban masa lalu. 'Karena almarhum Mas Rian menikah siri dengan Kirana tanpa sepengetahuan keluarga besar kita maupun keluarga kamu. Saat Mas Rian meninggal, keluarga besarku menolak mengakui Sekar dan Kirana. Mereka bahkan mengancam akan mengambil hak asuh Sekar secara paksa hanya untuk menguasai klaim asuransi jiwa Mas Rian. Aku satu-satunya orang yang tahu kebenarannya, Arumi.'
Arumi tertegun. Kenyataan itu menghantamnya dari sudut yang tak pernah ia duga sama sekali. Kirana—adik tirinya yang dulu ia benci karena menganggap ibu Kirana telah merusak rumah tangga orang tuanya—ternyata adalah wanita yang disembunyikan oleh suami Arumi demi melindungi anak dari almarhum kakak kandungnya sendiri.
'Aku takut memberi tahu kamu di awal pernikahan kita, Arumi,' lanjut Baskara dengan mata memerah. 'Aku tahu betapa dalamnya rasa benci kamu pada Kirana dan keluarga masa lalu ayahmu. Aku takut kamu bakal benci sama aku kalau tahu aku berhubungan lagi dengan Kirana. Tapi aku nggak bisa membiarkan keponakanku sendiri terlunta-lunta tanpa tempat tinggal dan pendidikan yang layak.'
Kirana kini terisak pelan di balik bayang-bayang pohon. 'Mbak Arumi, Mas Baskara tidak pernah sekalipun melampaui batas sebagai kakak ipar. Semua uang yang dikirimkan Mas Baskara murni untuk biaya sekolah dan tempat tinggal Sekar. Saya bekerja sebagai penjahit rumahan untuk makan kami sehari-hari. Tolong jangan salahkan Mas Baskara...'
Arumi memandangi anak kecil bernama Sekar itu. Wajah anak itu memang memiliki guratan garis mata yang mirip dengan mendiang kakak Baskara yang fotonya pernah Arumi lihat di rumah ibu mertuanya. Namun, rasa sakit di dada Arumi tidak serta merta menguap begitu saja.
'Kamu benar, Mas,' kata Arumi pelan, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya yang pucat. 'Kamu mungkin seorang paman yang sangat bertanggung jawab dan luar biasa heroik. Tapi dengan menyembunyikan kebohongan sebesar ini dari istri kamu sendiri selama empat tahun... kamu sudah membunuh rasa percayaku pada pernikahan kita.'
Arumi berbalik, melangkah pergi menuju mobilnya tanpa mempedulikan panggilan Baskara yang mengejarnya dari belakang. Kebenaran telah terungkap seluruhnya, namun pecahan rasa percaya yang hancur itu tidak akan pernah bisa direkatkan kembali seperti sedia kala.