Struk E-Toll Jam Tiga Pagi dan Beli Salep Gatal Anak Kecil Bikin Pernikahan Tujuh Tahun Kami Hancur Berantakan!

Struk E-Toll Jam Tiga Pagi dan Beli Salep Gatal Anak Kecil Bikin Pernikahan Tujuh Tahun Kami Hancur Berantakan!

Drama Rumah Tangga

Struk E-Toll Jam Tiga Pagi dan Beli Salep Gatal Anak Kecil Bikin Pernikahan Tujuh Tahun Kami Hancur Berantakan!



'Bisa tolong ambilkan troli lain, Mba? Mba ini kayanya pusing banget sampai botol kecapnya jatuh,' suara seorang ibu-ibu di lorong minimarket BSD itu mengagetkan Nareswari. Nareswari masih berdiri terpaku di lantai ubin yang terciprat cairan kedelai hitam, jemarinya memegang ponsel dengan gemetar hebat. Di layar ponsel yang saling terhubung dengan akun e-commerce bersama milik suaminya, Damar, baru saja muncul notifikasi transaksi otomatis bulanan yang terpasang berulang: 'Pembayaran Berhasil untuk Salep Kulit Sensitif Anak Hydrocortisone 1% - Alamat Pengiriman: Lobi Pos Satpam Perumahan Cikupa Asri'.

Pernikahan Nareswari dan Damar sudah berjalan tujuh tahun tanpa tangisan bayi. Mereka berdua sepakat bahwa anak adalah rezeki yang ditunggu dengan tenang tanpa paksaan. Namun, mengapa Damar secara rutin memesan salep khusus eksim kulit balita setiap tanggal lima belas selama dua belas bulan terakhir? Lebih mengejutkan lagi, pesanan itu tidak pernah dikirim ke rumah mereka di kawasan Serpong, melainkan ke sebuah pos satpam di daerah Cikupa, Kabupaten Tangerang yang jaraknya lebih dari tiga puluh kilometer.

Nareswari meninggalkan belanjaannya begitu saja. Dengan napas yang memburu, ia berjalan cepat menuju mobil Honda HR-V miliknya yang terparkir di bawah terik matahari siang. Di dalam kabin mobil yang terasa menyesakkan, tangan Nareswari bergerak cekatan membuka aplikasi riwayat transaksi kartu e-toll keluarga yang terhubung dengan akun perbankan digitalnya. Grafik transaksi keluar-masuk jalan tol selama delapan bulan terakhir mendadak membuat jantungnya serasa dilempar dari ketinggian.

Setiap hari Kamis malam, Damar selalu pamit untuk melakukan pemeliharaan server berkala di kantor konsultan IT miliknya di daerah Kuningan. Damar selalu pulang Jumat pagi dengan wajah lelah, aroma kopi instan, dan pakaian yang berbau asap rokok tipis. Namun, data e-toll mencatat kebohongan yang sangat rapi: Mobil Damar selalu menempelkan kartu e-toll di Gerbang Tol Cikupa pada pukul 03.14 WIB dini hari. Tidak pernah ada catatan mobil itu berada di Tol Dalam Kota pada jam-jam tersebut.

Nareswari mencengkeram kemudi hingga kuku-kukunya memutih. Kebohongan ini disusun begitu presisi, begitu halus, sampai-sampai tidak pernah ada bekas lipstik di kerah kemeja atau panggilan telepon mencurigakan di malam hari. Damar adalah suami yang amat sangat manis; ia masih menyeduhkan teh chamomile hangat setiap Nareswari datang bulan, masih rutin mencium keningnya sebelum berangkat kerja, dan tidak pernah lupa memberi kejutan di hari ulang tahun pernikahan mereka. Namun di balik kehangatan itu, ada separuh jiwa Damar yang menguap setiap Kamis malam menuju sebuah wilayah yang tidak pernah Nareswari bayangkan.

Hari Kamis berikutnya tiba. Nareswari berpura-pura tidur saat Damar mengecup pipinya lembut pada pukul sebelas malam. 'Mas berangkat dulu ya, Nares. Server pusat lagi migrasi data besar-besaran, kemungkinan Mas baru pulang subuh atau jam delapan pagi,' bisik Damar pelan sambil membenarkan posisi selimut Nareswari. Begitu pintu depan terdengar terkunci dan deru mesin mobil Damar menjauh dari garasi, Nareswari membuka matanya. Ia tidak menangis. Rasa sakit hati yang terlalu dalam justru melahirkan keberanian dingin yang membakar jiwanya.

Nareswari menyambar kunci mobil cadangan, mengenakan jaket gelap, dan menyusul jejak suaminya dari kejauhan. Menembus pekatnya Jalan Tol Jakarta-Tangerang di tengah malam adalah perjalanan terpanjang dalam hidup Nareswari. Setiap kilometer yang dilewati terasa seperti mengikis potongan masa lalu mereka yang indah. Apakah Damar punya istri muda? Apakah Damar sudah memiliki anak dari wanita lain selama bertahun-tahun ini?

Deretan pertanyaan mematikan itu berputar di kepala Nareswari saat mobilnya perlahan keluar dari Gerbang Tol Cikupa pada pukul tiga pagi lewat sedikit. Ia mengikuti titik lokasi tempat pengiriman barang e-commerce yang sudah ia salin ke peta navigasinya. Jalanan menuju Perumahan Cikupa Asri menyempit, melewati deretan warung kelontong yang sudah tutup dan penerangan jalan yang remang-remang.

Nareswari mematikan lampu utama mobilnya saat memasuki gang lebar beraspal rusak di dalam perumahan tersebut. Di ujung jalan, di bawah naungan pohon mangga yang rimbun, sedan hitam milik Damar terparkir di depan sebuah rumah kecil berpintu kayu dengan cat hijau yang mulai memudar. Lampu teras rumah itu menyala kekuningan, memantulkan bayangan dua orang yang berdiri di balik gorden tipis ruang tamu.

Nareswari melangkah keluar dari mobil tanpa membuat suara. Sandal teplek yang dikenakannya menginjak dedaunan kering dengan sangat hati-hati. Udara malam Cikupa dingin dan berbau tanah basah. Saat ia makin mendekati jendela samping rumah tersebut, suara tawa kecil seorang balita laki-laki terdengar memecah keheningan malam. Nareswari mengintip dari celah ventilasi udara yang terbuka sedikit.

Di dalam sana, Damar tidak sedang berpelukan mesra dengan seorang wanita cantik bergaun malam. Damar sedang berlutut di atas karpet tipis, berulang kali menepis jemari seorang anak kecil berumur empat tahun yang terus menggaruk pipi dan lehernya yang kemerahan. Di samping mereka, seorang wanita berpakaian daster sederhana berusia awal tiga puluhan berdiri memegang mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil.

'Jangan digaruk ya, Jati. Nanti berdarah lagi kaya kemarin. Paman Damar udah bawain salep yang adem,' ujar Damar dengan nada suara yang begitu lembut, nada suara yang biasanya hanya ia gunakan saat menenangkan Nareswari jika sedang panik. Wanita berdaster itu—yang belakangan Nareswari ketahui bernama Kalila—mendesah pelan sambil menatap Damar dengan mata yang berkaca-kaca.

'Kamu nggak harus datang jam tiga pagi begini setiap minggu, Mar. Kalau Nareswari tahu, rumah tangga kalian bisa hancur. Aku sama Jati bisa bertahan hidup sendiri dari uang pensiunan almarhum,' ucap Kalila dengan suara bergetar. Damar menggelengkan kepala dengan tegas sambil mengoleskan salep putih ke leher balita itu secara perlahan.

'Mba Kalila nggak usah ngomong gitu. Ini kewajiban aku. Mas Baskara meninggal karena kelalaian aku delapan tahun lalu. Sebelum Mas Baskara menabrak pembatas jalan malam itu, dia nitipin Mba dan anak yang waktu itu masih di dalam kandungan Mba ke aku. Aku yang bikin Jati lahir tanpa sosok ayah. Nareswari nggak boleh tahu hal ini, Mba. Ibuku juga nggak boleh tahu kalau almarhum Mas Baskara punya simpanan dan anak di luar nikah sebelum dia meninggal. Biar semua dosa dan beban ini aku yang tanggung sendiri,' balas Damar dengan nada terpukul.

Nareswari yang berdiri di luar jendela merasa dadanya dihantam godam raksasa. Baskara adalah kakak kandung Damar, seorang pahlawan keluarga yang meninggal dalam kecelakaan maut seminggu sebelum pernikahan Nareswari dan Damar digelar. Selama tujuh tahun ini, seluruh keluarga besar menyembah nama Baskara sebagai sosok anak teladan yang sempurna tanpa cela. Nareswari tidak pernah tahu bahwa almarhum kakak iparnya memiliki kehidupan rahasia, dan Damar memikul dosa kebohongan itu sendirian di atas pundak pernikahan mereka.

Namun, saat Nareswari bersiap menarik napas lega karena suaminya tidak berselingkuh secara fisik, wanita berdaster itu tiba-tiba memegang pergelangan tangan Damar dengan kuat. Wajah Kalila berubah tegang saat menatap mata Damar dalam-dalam.

'Tapi sampai kapan kamu mau bohongi diri kamu sendiri, Mar? Kecelakaan delapan tahun lalu itu bukan kelalaian biasa! Kamu tahu betul Mas Baskara sengaja membanting setir karena dia tahu kamu yang sebenarnya melaporkan bisnis gelapnya ke polisi! Kamu bayar uang kontrakan ini, kamu belikan salep Jati tiap bulan, bukan cuma karena merasa bersalah kan? Kamu lakuin ini semua karena kamu takut aku buka suara ke Nareswari kalau malam itu kamu juga ada di dalam mobil yang sama!' pekik Kalila dengan nada mengancam.

Nareswari memegang dadanya yang mendadak sesak luar biasa. Kakinya terasa melayang, ketakutan yang jauh lebih pekat melingkupi pikirannya. Pria yang tidur bersamanya selama tujuh tahun, pria yang selalu mengusap punggungnya saat mimpi buruk, ternyata menyimpan rahasia kelam tentang kecelakaan maut yang menewaskan kakaknya sendiri. Dan malam ini, di depan rumah cat hijau yang memudar itu, Nareswari menyadari bahwa pernikahan mereka tidak sedang dihancurkan oleh wanita lain, melainkan oleh kebohongan darah yang disembunyikan rapat-rapat di bawah lantai rumah tangga mereka.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url