Tiga Menit Sebelum Penandatanganan Megaproyek, Suamiku Tersenyum Sambil Menunjukkan Sertifikat Nikah Siri Istrinya dengan Sahabat Sendiri
'Jangan berteriak, Mahardika! Kalau kamu bikin kebohongan ini ramai di restoran, besok pagi kantor konsultan arsitektur milikmu bakalan digerebek polisi atas tuduhan penggelapan pajak yang sama sekali tidak pernah kamu lakukan!' Suara Jatmiko terdengar begitu tenang, hampir menyerupai bisikan seorang kawan lama yang sedang menawarkan secangkir kopi hangat di sore hari. Namun, jari-jemarinya yang mengenakan cincin emas bermata zamrud itu dengan santai menggeser layar tablet berukuran sepuluh inci di atas meja marmer hitam.
Layar tablet itu menampilkan salinan digital lembar pengesahan penjamin pinjaman dana pinjaman eksekusi senilai empat puluh lima miliar rupiah. Di sana, pada kolom penjamin tunggal, tertera nama lengkap Mahardika Dananjaya lengkap dengan tanda tangan basah yang diarsir rapi. Namun, yang membuat napas Mahardika seolah tersumbat di tenggorokan bukanlah deretan angka fantastis itu, melainkan dokumen lampiran di lembar berikutnya: sebuah mutasi rekening berkala atas nama yayasan fiktif yang menerima aliran dana rutin sebesar tiga juta seratus empat puluh satu ribu lima ratus sembilan puluh dua rupiah—bilangan desimal Pi yang hanya diketahui oleh Mahardika dan almarhum ayahnya sebagai kode brankas keluarga.
Di sebelah kanan Mahardika, Kirana—wanita yang telah mendampingi hidupnya selama lima tahun terakhir sebagai istri yang anggun dan berpendidikan tinggi—tetap tenang memotong daging steak wagyu di piring porselennya. Tidak ada sedikit pun riak kepanikan di wajah Kirana. Jemari lentiknya yang mengenakan cincin pertunangan pemberian Mahardika bergerak sangat presisi. Senyum tipis yang tersaji di bibirnya yang terpoles lipstik nude terasa lebih dingin daripada es batu di dalam gelas wiski Mahardika.
'Kamu tidak perlu menatapku seperti itu, Mas,' ujar Kirana santai, lalu menyuapkan potongan kecil daging itu ke dalam mulutnya. 'Jatmiko hanya menjalankan apa yang seharusnya menjadi hak kami sejak awal. Kamu terlalu naif jika berpikir perusahaan konsultan yang dibangun oleh ayahmu itu bersih dari darah dan air mata keluarga kami. Ayahmu menghancurkan bisnis ayahku puluhan tahun lalu, dan kamu dengan lugunya menyerahkan seluruh otoritas keuangan perusahaan kepada Jatmiko hanya karena dia sahabat karibmu sejak zaman kuliah di Jogja.'
Mahardika memejamkan mata sejenak, meresapi rasa getir yang mendadak memenuhi rongga dadanya. Memori lima belas tahun persahabatannya dengan Jatmiko mendadak berputar seperti gulungan film tua yang terbakar. Jatmiko adalah orang yang menumpang tidur di kos-kosan sempitnya saat mahasiswa, orang yang menangis sesenggukan bersama Mahardika ketika ayah Mahardika wafat tiga tahun lalu, dan orang yang paling keras menepuk bahunya saat Mahardika menikahi Kirana di sebuah resor mewah di Bali. Semuanya terasa begitu rapi, begitu sempurna, hingga Mahardika tidak pernah menyadari bahwa setiap senyuman dan pelukan sahabatnya adalah racun ber dosis rendah yang disuntikkan secara berkala ke dalam hidupnya.
'Kalian berdua... sudah merencanakan ini berapa lama?' tanya Mahardika dengan nada suara yang tertahan. Tangannya di bawah meja terkepal begitu erat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, meninggalkan bekas kemerahan yang memutih.
'Cukup lama untuk memastikan bahwa seluruh aset warisan Kulon Progo, sertifikat tanah kantor pusat di kawasan Jaksel, hingga skema bagi hasil proyek bendungan di Jawa Tengah sudah beralih kepemilikan secara sah secara hukum,' jawab Jatmiko sambil mengulum senyum. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit restoran berbintang lima tersebut, menunjukkan gestur pemenang yang mutlak. 'Dan oh ya, biar kamu tidak terlalu bingung dengan hukum perdata kita, Kirana dan aku sudah menikah siri empat tahun yang lalu di Jepara. Jadi, secara morally and financially, kamu hanyalah seorang penonton di dalam rumah tanggamu sendiri.'
Kata-kata Jatmiko seperti hantaman palu godam yang menghancurkan seluruh dinding kesadaran Mahardika. Menikah siri empat tahun lalu? Itu berarti hanya satu tahun setelah pernikahan megah Mahardika dan Kirana dilangsungkan. Selama empat tahun ini, Kirana tidur di sampingnya, menyeduh kopi di pagi hari untuknya, mendampinginya dalam setiap acara gala dinner korporat, sembari di saat yang sama membagikan ranjang dan rahasia bisnisnya bersama Jatmiko di balik punggungnya.
Rasa mual membuncah di perut Mahardika. Ia menatap wajah Kirana yang masih tampak sangat memesona di bawah pendar lampu gantung kristal restoran. Tidak ada sedikit pun raut penyesalan. Yang ada hanyalah tatapan kalkulatif dari seorang wanita yang berhasil menyelesaikan misi penipuan terbesar dalam dekade ini. Mahardika sadar, meluapkan kemarahan dengan membanting meja atau memukul Jatmiko di tempat umum hanya akan membuat dirinya terlihat seperti pecundang yang panik. Mereka telah menyiapkan jebakan hukum yang sangat rapi. Jika Mahardika membuat keributan malam ini, draf laporan penggelapan pajak fiktif atas namanya akan langsung masuk ke sistem kepolisian sebelum tengah malam.
'Bagus sekali,' gumam Mahardika perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin pendingin ruangan menenangkan gejolak darahnya yang mendidih. Ia menegakkan posisi duduknya, merapikan kerah jas bespoke berwarna navy yang membalut tubuhnya, lalu menatap Jatmiko dan Kirana bergantian dengan tatapan datar tanpa emosi.
'Kamu tidak marah, Mas? Tidak mau memaki atau menampar wajahku?' tanya Kirana, kini ada nada sedikit heran mengintip dari balik suaranya yang halus. Reaksi dingin Mahardika rupanya di luar dari skenario psikologis yang telah mereka susun.
'Untuk apa?' balas Mahardika santai. 'Memaki kalian hanya akan membuang energi yang sangat berharga. Tapi Jatmiko, ada satu hal kecil yang lupa kamu periksa di dalam sistem enkripsi server lama milik almarhum ayahku sebelum kamu mentransfer angka Pi itu ke rekening yayasanmu.'
Wajah Jatmiko yang tadinya penuh kemenangan mendadak berubah tipis. Perubahan ekspresi yang sangat kecil, namun cukup untuk ditangkap oleh mata tajam seorang arsitek seperti Mahardika. 'Apa maksudmu? Server lama itu sudah saya format ulang dua tahun lalu!'
'Kamu memformat server cadangan di kantor operasional, Jatmiko. Bukan server induk yang tertanam di bawah lantai brankas beton rumah tua kami di Kotagede,' sahut Mahardika sambil tersenyum tipis—sebuah senyuman yang kini justru membuat bulu kuduk Kirana berdiri. 'Ayahku memang seorang pengusaha keras kepala, tapi beliau tidak pernah bodoh. Beliau tahu bahwa sahabat terdekat sering kali menjadi pengkhianat pertama saat takhta keluarga mulai membesar. Ayah sengaja memasukkan nomor rekening berisi angka Pi itu sebagai honeypot—sebuah umpan digital.'
Mahardika merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar berdesain tebal yang khusus digunakan untuk jaringan terenkripsi. Ia menyalakan layarnya dan mengarahkannya ke arah Jatmiko dan Kirana. Di sana, sebuah timernya sedang berjalan secara real-time, menunjukkan angka hitung mundur: 00:02:45.
'Begitu ada transaksi yang menggunakan nomor rekening Pi tersebut dari perangkat pihak ketiga tanpa verifikasi sidik jari otentik milik ayah atau aku, seluruh otorisasi perbankan korporat, bukti rekaman suara pembicaraan kalian di vila Nusa Dua bulan lalu, serta sertifikat nikah siri kalian yang terdaftar secara ilegal dengan pemalsuan status dokumen kependudukan akan secara otomatis terkirim ke email Divisi Kejahatan Keuangan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya,' tutur Mahardika dengan suara sangat tenang, nyaris seperti sedang membacakan presentasi rancangan gedung.
Kirana mendadak menghentikan gerak garpunya. Wajah cantiknya memucat seketika. Warna merah dari lipstiknya kini tampak kontras dengan kulit wajahnya yang kehilangan darah. 'Mas... kamu gertak sambal, kan? Kamu tidak mungkin punya dokumen-dokumen itu!'
'Tanya pada sahabat terhebatmu itu, Kirana,' potong Mahardika tajam. 'Tanyakan padanya, kenapa tiga bulan lalu dia menyuruh sekretaris pribadi kantor untuk mencari berkas fisik otentik di rumah Kotagede tapi tidak pernah menemukannya? Karena berkas itu tidak pernah ada di sana dalam bentuk kertas. Semuanya tersimpan di dalam jaringan blockchain yang hanya bisa ditutup jika aku memasukkan kata sandi pribadi dalam waktu kurang dari dua menit dari sekarang.'
Jatmiko bangkit dari kursinya, matanya melotot tajam penuh amarah dan kepanikan yang mendalam. Napasnya memburu. Pria yang tadinya terlihat begitu perkasa sebagai dalang pengkhianatan kini tampak seperti seorang pencuri kecil yang tertangkap basah di lorong gelap. 'Mahardika! Batalin program itu sekarang! Kalau laporan itu masuk ke Mabes Polri, bukan cuma aku dan Kirana yang hancur, tapi nama besar perusahaan ayahmu juga bakalan terseret skandal publik!'
'Nama besar perusahaan ayahku sudah hancur sejak kalian berdua menginjak-injak harga diri rumah tangga dan persahabatan kita,' balas Mahardika dingin. Ia meminum wiskinya hingga tandas, merasakan rasa terbakar yang membakar tenggorokannya, memberi rasa hangat yang bertolak belakang dengan dinginnya suasana di meja makan tersebut.
'Satu menit tiga puluh detik,' ujar Mahardika sambil menatap layar ponselnya. 'Sekarang, penawarannya berubah. Jatmiko, kalau kamu mau aku membatalkan pengiriman berkas ke Mabes Polri, kamu harus menyerahkan seluruh dokumen pengalihan aset Kulon Progo dan saham mayoritas konsultan detik ini juga lewat aplikasi otorisasi di tabletmu. Atau... kita bertiga hancur bersama malam ini. Aku kehilangan harta, tapi kalian berdua akan membusuk di sel penjara atas tuduhan pemalsuan dokumen negara dan pencucian uang berencana.'
Kirana langsung memegang lengan Jatmiko dengan cengkeraman histeris. 'Jatmiko! Lakukan cepat! Transfer balik sahamnya! Aku tidak mau masuk penjara! Karierku di lembaga riset bisa hancur total!'
'Diam kamu, Kirana!' bentak Jatmiko dengan nada kasar yang belum pernah didengar oleh Kirana sebelumnya. Topeng kesopanan dan keramahan yang dipakai Jatmiko selama belasan tahun runtuh total dalam hitungan detik. 'Kalau aku transfer balik sekarang, kita tidak punya bargaining chip apa-apa lagi!'
'Empat puluh detik,' potong Mahardika datar, matanya tidak berkedip menatap dua manusia yang kini saling berteriak di hadapannya. Ia menikmati setiap detik kehancuran skenario mulus yang telah mereka rancang selama bertahun-tahun. Bagi Mahardika, pengkhianatan tidak bisa dibalas dengan air mata atau permohonan ampun. Pengkhianatan hanya bisa dibayar tuntas dengan kehancuran sistemis yang membuat si pengkhianat menyadari betapa kecil dan tidak berdayanya mereka saat kebohongan mereka dibuka di terang benderangnya kenyataan.