Tiga Tahun Bangun Bisnis Bareng, Amplop Pajak Solo Ini Bongkar Main Belakang Tunangan dan Sahabat Sendiri!

Tiga Tahun Bangun Bisnis Bareng, Amplop Pajak Solo Ini Bongkar Main Belakang Tunangan dan Sahabat Sendiri!

Skandal & Pengkhianatan

Tiga Tahun Bangun Bisnis Bareng, Amplop Pajak Solo Ini Bongkar Main Belakang Tunangan dan Sahabat Sendiri!



'Jangan pernah berani pegang bahu saya pakai tangan yang semalam kamu usapkan ke leher Dananjaya, Radhan!' Suara Mahira memotong keriuhan antrean coffee shop di lobby lantai lima gedung perkantoran kawasan Sudirman pagi itu. Beberapa karyawan berjas tebal dan wanita karir yang sedang menunggu pesanan Americano langsung menoleh, menghentikan langkah kaki mereka dalam keheningan yang serempak.

Aradhana—wanita berambut sebahu dengan blouse silk krem mahal yang baru saja hendak merangkul Mahira—membeku seketika. Jari-jemarinya yang terawat rapi melayang di udara beberapa senti dari pundak Mahira. Wajah Aradhana yang biasanya memancarkan aura ketenangan eksekutif muda, mendadak kehilangan seluruh warna alaminya. Matanya mengerjap liar, berjuang mencari pegangan di tengah tatapan tajam puluh pasang mata yang kini tertuju padanya.

'Ra, kamu bicara apa sih? Kamu kecapekan gara-gara mengurus audit tahunan ya? Yuk, kita duduk dulu di dalam, nggak enak dilihat orang banyak,' bisik Aradhana dengan suara gemetar, berusaha meraih pergelangan tangan Mahira untuk menyembunyikan kepanikan yang mulai menjalar.

Namun Mahira tidak bergeming. Ia berdiri tegak, merapikan blazer hitam terstrukturnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari mata Aradhana. Di tangan kirinya, Mahira memegang sebuah amplop cokelat tebal berlogo kantor konsultan pajak dari Solo. Amplop itu bukan sekadar berkas keuangan rutin yang biasa mampir di mejanya. Amplop itulah penyingkap topeng dua orang paling ia percayai di dunia ini.

'Dua jam lalu, auditor internal menyerahkan amplop ini ke meja saya. Mereka heran kenapa ada klaim garansi dan sertifikat perhiasan senilai dua ratus juta yang masuk ke beban operasional kantor,' ujar Mahira dengan nada datar, namun setiap katanya menancap bagai sembilu. 'Sertifikat cincin emas putih dengan ukiran nama A.S. di bagian dalam lingkarannya. Dibelikan oleh Dananjaya pakai kartu kredit korporat dua minggu lalu saat kamu izin pulang kampung ke Solo karena alasan ibumu sakit.'

Aradhana menelan ludah dengan susah payah. Bibirnya yang berpoles lipstik nude mendadak kering. 'Ra... itu... itu salah paham. Dananjaya minta tolong aku buat cari cincin buat kamu! Dia mau kasih kejutan di hari ulang tahun pernikahan kalian yang bakal datang!'

Sebuah senyum tipis dan dingin terbit di bibir Mahira. Senyuman yang sama sekali tidak memancarkan kehangatan, melainkan keharuan pahit atas kebohongan yang begitu murahan. 'Ukuran jarimu nomor sebelas, Radhan. Jariku nomor empat belas. Dan sejak kapan nama saya berubah jadi Aradhana Suwandi?'

Sebelum Aradhana sempat membalas, langkah kaki tergesa-gesa terdengar menggelegar dari arah elevator VIP. Dananjaya datang dengan napas memburu, dasinya agak longgar, dan wajahnya dipenuhi peluh dingin. Pria yang sudah menemaninya selama tiga tahun terakhir—pria yang berjanji akan mengucap ijab kabul di hadapan ayah Mahira dalam waktu empat bulan ke depan—tampak panik luar biasa saat melihat kerumunan orang di depan coffee shop.

'Mahira! Cukup! Apa-apaan kamu bikin keributan di depan klien dan karyawan begini?' Dananjaya langsung mengambil posisi membentengi Aradhana, sebuah refleks spontan yang justru menegaskan ke mana arah kecondongan hatinya. 'Kalau ada masalah internal, kita selesaikan di ruang rapat direksi. Bukan kayak orang tanpa pendidikan begini!'

'Orang tanpa pendidikan?' Mahira terkehdap pelan, mengulangi kata-kata tunangannya. 'Dananjaya, kamu menyebut wanita yang mendirikan firma ini dari modal nol di kontrakan sempit Jogja sebagai orang tanpa pendidikan, hanya demi membela wanita yang baru kamu kenal dua tahun lalu?'

'Bukan begitu maksud aku, Ra,' Dananjaya menurunkan intonasi suaranya ketika menyadari pandangan sinis dari beberapa manajer senior yang berdiri tak jauh dari mereka. 'Kamu cuma salah paham soal amplop pajak itu. Aku dan Aradhana cuma...'

'Cuma apa? Cuma memindahkan lima aset paten sistem perangkat lunak kita ke perusahaan cangkang baru di Solo atas nama Aradhana?' potong Mahira cepat. Kali ini, ia melemparkan lembaran dokumen kedua dari dalam amplop cokelat tersebut tepat ke dada Dananjaya. Lembaran kertas itu berserakan di lantai marmer kilap coffee shop.

Keheningan di koridor lantai lima semakin mencekam. Bukan lagi sekadar skandal perselingkuhan biasa, tapi sebuah pengkhianatan bisnis berskala besar. Dananjaya menunduk menatap lembaran kertas yang berserakan. Wajahnya yang semula tampak dominan mendadak pucat pasi. Di lembaran tersebut, tertera jelas aktanotaris pendirian PT Suwandi Karya Utama, lengkap dengan pengalihan hak kekayaan intelektual firma mereka yang telah ditandatangani secara sepihak oleh Dananjaya dan Aradhana seminggu yang lalu.

'Kalian pikir saya bodoh?' lanjut Mahira, melangkah satu tapak mendekati Dananjaya. 'Kalian pikir selama tiga bulan terakhir saya tidak tahu kenapa retainer klien-klien besar dari Semarang dan Surabaya mendadak minta ditarik dan dialihkan ke vendor baru? Kalian menggunakan modal perusahaan yang kita bangun bersama untuk mendanai perselingkuhan kalian sekaligus merampok aset utamanya!'

'Mahira, dengarkan aku dulu!' Dananjaya mencoba meraih lengan Mahira, namun Mahira menepisnya dengan gerakan dingin yang tak terbantahkan. 'Aku melakukan ini demi masa depan kita juga! Perusahaan kita terlalu banyak membagi deviden ke investor luar. Kalau kita alihkan ke PT baru ini, kita bisa pegang kontrol seratus persen!'

'Kita?' Mahira menatap Dananjaya dengan tatapan kasihan. 'Tidak ada 'kita', Dananjaya. Di dalam draf kepemilikan saham PT baru di Solo itu, nama saya sama sekali tidak ada. Yang ada hanya nama kamu lima puluh persen, dan nama Aradhana lima puluh persen. Kamu menjual seluruh komitmen, cinta, dan janji pernikahan kita hanya untuk wanita yang bersedia membantu kamu mencuri!'

Aradhana, yang merasa tersudut dan tak lagi punya jalan keluar untuk berpura-pura anggun, akhirnya mengangkat wajahnya dengan tatapan sengit. 'Lalu kamu mau apa, Mahira? Menghancurkan reputasi kantor ini? Menghancurkan nama baik Dananjaya? Kamu pikir kalau berita ini menyebar, saham perusahaan kita tidak akan anjlok? Kamu juga bakal rugi!'

Mahira menatap Aradhana tanpa ada rasa gentar sedikit pun. Di matanya, tak ada lagi air mata kesedihan atau rasa dikhianati yang melumpuhkan. Yang tersisa hanyalah tekad baja seorang wanita yang telah ditempa oleh kerasnya perjuangan hidup.

'Rugi?' Mahira mengambil tablet lipat dari tas kulitnya dan menyalakannya. 'Radhan, kamu lupa siapa yang memegang kendali atas struktur IT dan enkripsi basis data utama perusahaan ini sejak hari pertama? Kamu lupa siapa yang memegang hak kuasa hukum atas nama yayasan keluarga saya yang menyuntikkan tujuh puluh persen modal awal?'

Mahira menggeser layar tabletnya, lalu menunjukkan sebuah konfirmasi transaksi perbankan dan surat pembekuan rekening korporat. 'Tiga jam yang lalu, sebelum saya turun ke coffee shop ini, saya sudah membekukan seluruh akses tanda tangan digital Dananjaya di rekening korporat. Saya juga telah mengembalikan seluruh lisensi hak cipta ke atas nama saya pribadi melalui penasihat hukum yayasan.'

Mata Dananjaya membelalak lebar. 'Kamu... kamu nggak bisa melakukan itu secara sepihak!'

'Saya bisa, dan saya baru saja melakukannya,' jawab Mahira mantap. 'Bukan cuma itu. Audit forensik yang dikirim dari Solo ini juga melampirkan bukti aliran dana ilegal ke rekening ayah Aradhana untuk pencucian uang pembelian tanah di Boyolali. Berkas ini sudah ada di tangan tim penyidik Polda Metro Jaya sejak pukul delapan pagi tadi.'

Jeritan kecil lolos dari mulut Aradhana. Ia bersandar pada dinding kaca coffee shop, matanya nanar menatap Mahira yang berdiri kokoh tanpa cela. Rasa percaya diri dan keanggunan palsu yang Aradhana pamerkan selama ini hancur berkeping-keping dalam hitungan menit.

'Dananjaya,' panggil Mahira lembut, namun nada suaranya seperti vonis hakim di ruang sidang. 'Mulai detik ini, hubungan pertunangan kita batal. Cincin lamaranmu sudah ada di meja satpam lantai dasar. Besok pagi, surat pemecatan kamu dan Aradhana sebagai direksi akan diserahkan oleh dewan komisaris.'

Dananjaya berlutut di atas marmer dingin, mencoba meraih ujung pakaian Mahira dengan mata yang mulai berkaca-kaca. 'Ra... tolong, Ra... kita bisa bicarakan ini baik-baik di rumah. Aku khilaf, Ra! Aradhana yang menggoda aku duluan! Dia yang merencanakan pengalihan aset itu!'

'Dananjaya!' pekik Aradhana tak percaya mendengar tuduhan dari pria yang semalam berjanji akan menikahinya di Bali.

Mahira hanya menatap kedua manusia itu dengan senyuman tipis yang penuh pembebasan. Ia mundur satu langkah, membiarkan Dananjaya berlutut memohon di tengah kerumunan karyawan yang kini berbisik-bisik penuh cemoohan. Pengkhianatan yang mereka rancang dengan sangat rapi selama berbulan-bulan runtuh hanya karena sebuah amplop audit pajak yang lupa mereka musnahkan dari tagihan Solo.

'Jangan pernah menelepon saya lagi, Dananjaya. Dan untuk kamu, Aradhana... siapkan pengacara terbaikmu, karena polisi akan menjemputmu di lobby ini sebelum jam makan siang,' bisik Mahira pelan namun amat jelas.

Dengan langkah mantap dan kepala ditegakkan, Mahira berbalik meninggalkan coffee shop. Ia berjalan melintasi koridor perkantoran yang megah itu tanpa menoleh lagi ke belakang. Hari ini, ia tidak hanya membersihkan perusahaannya dari pengkhianat, tapi juga membersihkan masa depannya dari orang-orang yang tak pernah layak mendampingi langkah hidupnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url