Tiga Tahun Mengira Suamiku Duta Keluarga Panutan, Lembar PBB Villa Dago Atas Nama Adik Tiriku Mengubah Semuanya

Tiga Tahun Mengira Suamiku Duta Keluarga Panutan, Lembar PBB Villa Dago Atas Nama Adik Tiriku Mengubah Semuanya

Skandal & Pengkhianatan

Tiga Tahun Mengira Suamiku Duta Keluarga Panutan, Lembar PBB Villa Dago Atas Nama Adik Tiriku Mengubah Semuanya



'Mas, tolong ambilkan botol air mineral di glove box,' pintaku pelan, menahan rasa mual yang mendadak menyerang di tengah kemacetan tol Jalan Tol Dalam Kota sore itu. Hari baru saja diguyur hujan deras, meninggalkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Dananjaya, suamiku yang selama enam tahun ini dikenal sebagai sosok pria pendiam, penyabar, dan direktur operasional di kantor arsitektur yang kubangun dari nol, hanya menunjuk ke arah laci dashboard tanpa mengalihkan pandangannya dari kemudi. 'Ambil sendiri ya, Nares. Tanganku lagi pegang setir, macetnya parah banget ini.'

Saya mengangguk, menggeser tubuh dan membuka laci kulit berwarna cokelat tua itu. Di antara tumpukan buku servis berkala SUV kami dan beberapa struk parkir langganan di kawasan Senopati, jemariku menyentuh sebuah amplop cokelat tebal berstempel resmi instansi perpajakan daerah. Amplop itu tidak tertutup rapat. Niat awalku hanya ingin merapikannya agar tidak berantakan, namun ketika selembar kertas pajak PBB tergelincir keluar, mataku terpaku pada deretan ketikan cetak tebal di kolom nama wajib pajak.

Villa Dua Lantai, Kawasan Dago Pakar, Bandung. Luas tanah 450 meter persegi. Nama Pemilik: Gendis Paramitha.

Jantungku serasa berhenti berdetak saat itu juga. Gendis adalah adik tiriku—wanita berusia 24 tahun yang dua tahun lalu kumasukkan ke perusahaan sebagai staf magang atas permintaan almarhum ayahku, sebelum akhirnya naik jabatan menjadi manajer pemasaran. Darimana seorang gadis muda dengan gaji delapan juta rupiah sebulan bisa memiliki aset properti senilai miliaran di kawasan elit Bandung? Dan yang lebih mengerikan, alamat korespondensi penagihan pajak itu tercantum jelas: alamat rumah pribadi kami di Jakarta Selatan.

'Kok melamun, Nares? Airnya nggak ada?' suara Dananjaya memecah keheningan mobil, begitu tenang, begitu tanpa dosa, seperti biasa. Ia bahkan sempat mengelus lututku lembut dengan tangan kirinya saat lampu lalu lintas berganti merah.

Saya menelan ludah yang terasa setajam sembilu. Dengan gerakan halus namun cepat, saya menyelipkan kembali lembaran tersebut ke dalam amplop, mengembalikannya ke posisi semula di balik buku panduan pemilik mobil, lalu mengambil botol air mineral. 'Ada kok, Mas. Cuma tadi agak tersangkut buku servis,' jawabku senormal mungkin. Suaraku tidak bergetar. Sebagai seorang arsitek utama yang terbiasa menangani proyek mega-struktur bernilai puluhan miliar, saya belajar satu hal penting: jangan pernah menunjukkan kekagetandmu sebelum kamu menguasai seluruh peta denah bangunan.

Malam itu, setelah Dananjaya tertidur lelap di kamar utama kami—napasnya teratur dan wajahnya tampak sangat polos di bawah pendar lampu tidur—saya bangkit tanpa suara. Saya membawa laptop pribadi dan melangkah menuju ruang kerja di lantai dua. Tangan saya gemetar dingin saat membuka sistem manajemen keuangan internal Arka Design, perusahaan arsitektur yang kami kelola bersama.

Selama ini, saya murni memegang kendali desain dan hubungan klien VIP, sementara seluruh arus kas, pembayaran sub-kontraktor, dan laporan operasional harian kuserahkan sepenuhnya pada Dananjaya. Saya percaya padanya melebihi rasa percayaku pada diriku sendiri. Dialah lelaki yang menemaniku saat Arka Design hanya beranggotakan tiga orang di sebuah garasi rumah sewaan.

Namun malam ini, kecurigaan menyeretku menyusuri rekapitulasi arus kas lima tahun terakhir. Saya menarik audit independen secara diam-diam melalui akun akses pemilik saham mayoritas. Apa yang kutemukan di sana jauh lebih mengerikan daripada sekadar lembaran PBB di laci mobil.

Sejak tiga tahun lalu—tepatnya delapan bulan setelah Gendis bergabung dengan perusahaan—ada aliran dana rutin bernominal tetap setiap tanggal 15 yang ditransfer ke sebuah vendor interior bernominal 'PT Paramitha Karya Megah'. Dalam dokumen pendirian perusahaan vendor tersebut, tertera nama Gendis Paramitha sebagai Komisaris Utama, dan Dananjaya sebagai pemegang saham lima puluh persen.

Total dana yang dialihkan secara halus dari proyek-proyek besar kami mencapai angka 4,2 miliar rupiah. Mereka tidak hanya mengkhianati ikatan pernikahan dan kekeluargaan, tetapi sedang merampok Arka Design dari dalam secara sistematis.

Saya duduk tertegun di dalam kegelapan ruang kerja. Keringat dingin membasahi punggungku. Bayangan-bayangan masa lalu berputar cepat di kepala: bagaimana Gendis selalu bersikap sangat manja dan sopan padaku, bagaimana Dananjaya selalu membelanya ketika para staf senior mengeluhkan kinerja Gendis yang sering tak masuk kantor dengan alasan dinas luar kota, dan bagaimana mereka berdua begitu rapi menyembunyikan tatapan mata di setiap rapat mingguan.

Keesokan harinya, pesta ulang tahun Arka Design yang ke-8 digelar meriah di ballroom sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Pusat. Seluruh klien besar, media arsitektur, dan jajaran staf hadir. Dananjaya tampil sangat memikat dengan jas abu-abu gelap buatan penjahit ternama, sementara Gendis tampil anggun menggenakan gaun brokat warna krem—sangat cocok dan serasi jika saja mereka berdua adalah pasangan suami istri yang sah.

'Nareswari, selamat ya! Arka Design makin luar biasa di bawah kepemimpinan kamu dan Dananjaya,' puji Pak Baskara, salah satu investor utama kami, sembari menyalami tanganku hangat.

'Terima kasih banyak, Pak Baskara. Sukses ini tak lepas dari bantuan orang-orang terdekat yang sangat... dedikatif,' jawabku sambil melemparkan senyum tipis ke arah Dananjaya yang sedang berdiri tak jauh dari kami, memegang gelas champagne bersama Gendis.

Saat sesi sambutan dimulai, Dananjaya naik ke atas panggung. Ia memegang mikrofon dengan penuh percaya diri, menyampaikan pidato penuh kata-kata puitis tentang loyalitas, kerja keras, dan bagaimana Arka Design adalah dedikasi cintanya untukku. Para tamu bertepuk tangan riuh. Beberapa sahabatku bahkan menatapku dengan tatapan iri, menganggapku sebagai wanita paling beruntung di dunia.

Di sudut panggung, saya melihat Gendis tersenyum tipis—sebuah senyuman kecil yang sangat samar, namun penuh dengan rasa kepemilikan terselubung saat menatap Dananjaya di atas podium.

Saya berdiri dari kursi VIP saya, meraih mikrofon cadangan yang telah kusiapkan melalui tim panitia acara, lalu berjalan perlahan menuju tengah panggung. Muka Dananjaya sedikit berubah terkejut, namun ia segera mengumbar senyum manisnya. 'Ah, sepertinya istriku tercinta mau menyampaikan sepatah dua kata penguat pidatoku,' ujarnya mesra di hadapan ratusan hadirin.

Saya berdiri persis di sampingnya, menatap lurus ke arah ratusan tamu undangan, lalu mengarahkan pandangan tepat ke mata Gendis yang duduk di barisan paling depan.

'Terima kasih, Mas Dananjaya,' suaraku menggema jernih lewat pengeras suara ruangan. 'Pidato yang sangat indah tentang kejujuran dan dedikasi. Tapi rasanya ada yang kurang lengkap jika di malam yang istimewa ini, kita tidak merayakan pencapaian terbesar yang baru saja kamu selesaikan secara diam-diam bersama adikku, Gendis.'

Ruangan ballroom mendadak hening. Senyum di wajah Dananjaya perlahan membeku. Tangan kanannya yang memegang mikrofon tampak menegang seketika.

'Pencapaian apa maksudmu, Nares? Jangan bercanda di depan para tamu,' bisik Dananjaya sangat pelan melalui celah giginya yang rapat, matanya mulai memancarkan kepanikan liar.

Saya tidak menjawab bisikannya. Saya menekan tombol klik pada remote presentasi di tangan kiriku. Layar proyektor raksasa berukuran 8x4 meter di belakang kami—yang seharusnya menampilkan video perjalanan 8 tahun berdiri Arka Design—seketika berubah warna. Menampilkan salinan dokumen legal kepemilikan PT Paramitha Karya Megah, bukti transfer aliran dana operasional kantor selama 3 tahun terakhir, dan sertifikat PBB Villa Dago Pakar lengkap dengan foto-foto kebersamaan mereka yang kudapatkan dari hasil investigasi detektif swasta dalam waktu 24 jam terakhir.

Suasana ballroom meledak seketika. Bisik-bisik histeris dan helaan napas kaget membahana dari sudut ke sudut. Para wartawan media arsitektur langsung mengarahkan kamera mereka, kilatan flash membanjiri panggung utama.

Gendis berdiri dari kursinya dengan wajah pucat pasi seperti mayat. Ia mencoba menutupi mukanya dari sorotan kamera, sementara Dananjaya berdiri mematung, menatap layar devasator itu dengan rahang yang jatuh terkulai. Kehormatan, reputasi, dan kepalsuan yang mereka bangun selama bertahun-tahun hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan detik di hadapan seluruh kolega terpandang di ibu kota.

Saya mendekatkan bibirku ke telinga Dananjaya, berbisik halus namun cukup dingin untuk membekukan sisa hidupnya. 'Laporan kepolisian atas tuduhan penggelapan dalam jabatan dan gugatan perceraian sudah didaftarkan jam empat sore tadi, Mas. Selamat menikmati malam puncak kejayaanmu.'

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url