Bayangan di Meja Kerja
Anya menekan tombol 'kirim' dengan jari gemetar. Sebuah email biasa, laporan bulanan yang harusnya dikirim ke seluruh tim. Tapi ada satu baris tersembunyi, sebuah kode yang hanya ia dan Pak Bram, manajernya, yang tahu artinya. 'Pertemuan 7B, setelah jam kerja.' Ruang arsip lama yang jarang dipakai, saksi bisu dari kesalahan manis mereka.
Jantung Anya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia melirik sekilas ke arah meja Pak Bram yang kosong. Pria itu sedang rapat di lantai atas, membahas proyek yang akan mengubah segalanya bagi perusahaan. Bagi Anya, proyek itu hanya bumbu, pemanis dari setiap pandangan curian, sentuhan tak sengaja di lorong, dan janji-janji bisu yang melayang di udara.
Seorang rekan kerja, Sita, tiba-tiba berdiri di samping kubikel Anya. 'Sibuk banget, Yan?' tanyanya sambil tersenyum tipis. Anya tersentak, cepat-cepat menutup tab email dan membuka lembar kerja kosong. 'Oh, Sita! Biasa, ngebut deadline,' jawab Anya, berusaha terdengar santai. Tapi ia tahu, senyum Sita itu bukan senyum biasa. Ada kerlingan mata yang aneh, seolah menelusuri sesuatu, mencari jejak yang tersembunyi.
Sita mengamat-amati layar komputer Anya. 'Pak Bram belum balik dari rapat, ya? Tadi kayaknya buru-buru banget.' Nada suaranya casual, terlalu casual. Anya merasa tenggorokannya tercekat. Ia bisa merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Apa Sita tahu? Apa ada yang melihat mereka kemarin di parkiran, saat Pak Bram menahan tangannya sesaat sebelum masuk mobil?
'Belum, mungkin sebentar lagi,' jawab Anya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Sita hanya mengangguk, lalu beranjak kembali ke mejanya, meninggalkan Anya dengan seribu pertanyaan di kepala.
Sepanjang sisa jam kerja, pikiran Anya kacau balau. Ketegangan itu melilit perutnya. Hubungannya dengan Pak Bram bagai pedang bermata dua: memberi kehangatan yang memabukkan sekaligus ancaman kehancuran yang nyata. Ia melihat cincin perak melingkar di jari manis Pak Bram saat mereka rapat bersama pagi tadi. Cincin itu, simbol janji suci, kini terasa seperti belenggu yang mengikatnya dalam rahasia.
Pukul lima sore. Kantor mulai lengang. Pak Bram mengirim pesan singkat: 'Saya sudah di 7B.' Jemari Anya kaku di atas keyboard. Apakah ia sanggup terus bermain api? Setiap langkah menuju ruang arsip terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Namun, magnet itu terlalu kuat. Hasrat dan rasa takut bertarung di benaknya. Ia bangkit, melangkah perlahan, seolah bayangan kecurigaan Sita masih mengikutinya dari belakang. Rahasia ini bukan hanya miliknya, ini adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja, menghancurkan kariernya, reputasinya, dan mungkin juga keluarga Pak Bram. Tapi malam ini, ia akan tetap pergi. Lagi.