Dosen Muda Itu Mencuri Seluruh Masa Depanku Lewat File Sampah di Perpustakaan Pusat
Suara gesekan kursi kayu dengan lantai marmer perpustakaan yang dingin terdengar seperti jeritan tertahan di telinga Nareswari. Jarum jam baru saja melewati angka tujuh malam, dan sisa-sisa aroma kopi instan dari botol minumnya terasa pahit di pangkal lidah. Nareswari, atau yang akrab dipanggil Nares, sedang berjibaku dengan tumpukan data riset untuk tugas akhir semesternya. Sebagai asisten laboratorium yang dikenal teliti, dia tidak pernah membiarkan satu detail pun luput. Namun, malam itu, sebuah kecerobohan kecil membawanya pada penemuan yang akan mengubah seluruh hidupnya di kampus ini.
Dia baru saja menyambungkan hard disk eksternal miliknya ke komputer nomor 14 di sudut paling gelap Perpustakaan Pusat. Komputer itu jarang disentuh karena posisinya yang tersembunyi di balik rak buku sosiologi yang berdebu. Saat jendela penjelajah file terbuka, sebuah tab histori browser yang belum tertutup otomatis muncul. Nares awalnya ingin langsung menutupnya, namun satu nama yang tertera di kolom pencarian terakhir membuat jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat: 'Daftar Publikasi Internasional Nareswari (Unpublished)'.
Nares menelan ludah. Dia belum pernah mempublikasikan apapun. Risetnya tentang partikel mikro baru saja selesai bulan lalu dan masih tersimpan rapat di drive pribadinya. Dengan tangan gemetar, dia mengklik riwayat unduhan di komputer itu. Matanya membelalak. Ada puluhan file miliknya—draf kasar, catatan kaki, hingga hasil eksperimen laboratorium yang gagal—semuanya telah diunduh tiga jam yang lalu dari akun cloud milik kampus yang seharusnya hanya bisa diakses oleh dosen pembimbingnya. Namun, nama pengguna yang tertinggal di sesi login itu bukan nama dosennya. Itu adalah Dananjaya.
Dananjaya. Nama itu adalah simbol kesempurnaan di Fakultas Teknik. Dia tampan, kaya, dan yang paling menyebalkan, dia adalah kandidat kuat penerima beasiswa penuh ke Oxford tahun depan. Danan selalu bersikap ramah pada Nares, bahkan sering membelikannya roti lapis saat mereka harus lembur di lab bersama. Nares sempat berpikir bahwa Danan adalah satu dari sedikit orang tulus di lingkungan kompetitif ini. Namun, deretan file yang sedang ia pandangi sekarang berkata lain. Danan tidak hanya membaca risetnya; dia sedang menyusun ulang data itu menjadi sebuah jurnal atas namanya sendiri.
'Nyari apa, Res? Kok tegang banget?' Sebuah suara bariton yang sangat familiar berbisik tepat di belakang telinga Nares. Bau parfum kayu cendana yang mahal langsung memenuhi indra penciumannya. Nares tersentak, hampir menjatuhkan mouse dari atas meja. Dia menoleh perlahan dan mendapati Dananjaya berdiri di sana, menyunggingkan senyum tipis yang biasanya terlihat menawan, namun kini tampak seperti seringai predator.
'Enggak, cuma... cuma lagi cari referensi lama,' jawab Nares terbata-bata. Dia dengan cepat mencoba menutup layar, namun tangan Danan lebih cepat. Telapak tangan pria itu menumpu di atas meja, mengunci posisi Nares di antara tubuhnya dan meja komputer. Danan menatap layar dengan intens, matanya yang tajam memindai daftar file unduhan yang belum sempat Nares bersihkan.
'Oh, file itu,' ucap Danan santai, suaranya tetap tenang namun mengandung ancaman yang nyata. 'Aku cuma butuh sedikit inspirasi, Nares. Kamu tahu kan, persaingan untuk beasiswa itu gila-gilaan. Kamu punya otak yang brilian, tapi kamu nggak punya koneksi. Sedangkan aku? Aku punya segalanya, kecuali satu hal kecil yang kamu punya di dalam file-file ini. Jadi, kenapa kita nggak berbagi saja?' Nares merasa mual. Pria di depannya ini baru saja mengakui pencurian intelektual dengan nada seolah-olah dia sedang membicarakan cuaca.
'Ini riset gue, Danan. Gue ngerjain ini dua tahun, begadang di lab sampai tipes, dan lo mau ambil gitu aja?' suara Nares mulai meninggi, mengabaikan aturan dilarang berisik di perpustakaan. Beberapa mahasiswa di meja jauh mulai menoleh. Danan tidak gentar. Dia malah mendekatkan wajahnya, membuat Nares bisa melihat pantulan dirinya yang ketakutan di pupil mata hitam pria itu.
'Jangan naif, Nareswari. Di dunia nyata, yang menang bukan yang paling pintar, tapi yang paling tahu cara menggunakan sumber daya. Kalau kamu lapor, siapa yang bakal percaya? Aku asisten kesayangan Dekan. Kamu? Cuma mahasiswa beasiswa bidikmisi yang nggak punya siapa-siapa. Sekali aku bilang kamu yang mencoba memeras aku dengan file-file ini, karirmu selesai bahkan sebelum dimulai,' ancam Danan dengan suara yang nyaris seperti desisan.
Nares merasakan air mata kemarahan menggenang di sudut matanya. Dia ingin sekali menampar wajah sombong itu, tapi dia tahu Danan benar. Kekuasaan di kampus ini sangat timpang. Dia melihat Danan menarik flashdisk dari saku celananya dengan gerakan elegan. 'Aku sudah menghapus semua jejak aslinya di server pusat sore tadi. Jadi, file di komputer ini adalah satu-satunya bukti yang tersisa kalau riset ini pernah ada. Dan sekarang...' Danan dengan tenang mengklik kanan pada folder tersebut dan memilih 'Shift + Delete'.
'Lo gila, Danan!' Nares mencoba meraih keyboard, tapi Danan menahan pergelangan tangannya dengan kuat. Tekanannya membuat Nares meringis kesakitan. Bunyi 'cling' dari Windows menandakan bahwa folder itu telah hilang selamanya dari hard drive komputer perpustakaan tersebut. Nares terpaku. Seluruh masa depannya, harapan ibunya di kampung, dan dua tahun kerja kerasnya baru saja musnah dalam satu klik.
Danan melepaskan tangan Nares dan merapikan kemeja flanelnya yang sedikit kusut. 'Anggap saja ini pelajaran berharga, Res. Jangan terlalu percaya pada sistem keamanan kampus. Dan oh, besok pagi aku akan presentasi di depan tim seleksi Oxford. Jangan lupa datang dan tepuk tangan yang meriah ya, karena tanpa bantuanmu, presentasiku nggak akan sesempurna itu.' Danan berbalik dan melangkah pergi dengan langkah ringan, meninggalkan Nares yang terduduk lemas di kursi kayu yang keras itu.
Namun, Dananjaya melakukan satu kesalahan fatal malam itu. Dia lupa bahwa Nareswari adalah asisten laboratorium sistem informasi sebelum dia pindah ke teknik kimia. Nares menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. Dia menyeka air matanya dengan kasar. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia merogoh saku tasnya dan mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk kotak hitam: sebuah Wi-Fi Pineapple yang telah dia modifikasi.
Nares tersenyum sinis di tengah kegelapan perpustakaan. Saat Danan login ke akun cloud-nya tadi, Nares yang sudah memasang alat itu sejak sore untuk keperluan pengujian keamanan jaringan, telah berhasil menangkap seluruh paket data, termasuk password terenkripsi dan token akses sesi milik Danan. Danan pikir dia telah menghapus filenya, padahal Nares justru baru saja mendapatkan akses ke seluruh 'kerajaan digital' milik Dananjaya, termasuk draf-draf curang lainnya yang selama ini Danan gunakan untuk mendaki puncak prestasi.
Nares bangkit dari kursinya, tidak lagi merasa seperti korban. Jika Danan ingin bermain kotor di medan perang akademis, maka Nares akan menunjukkan padanya bagaimana rasanya hancur oleh teknologi yang selama ini dia sepelekan. Dia berjalan keluar perpustakaan, melewati rak-rak buku yang membisu, menuju laboratorium komputer fakultas yang masih terbuka 24 jam. Malam ini akan menjadi malam yang panjang, dan besok pagi, panggung Oxford yang Danan impikan akan berubah menjadi pengadilan terbuka yang akan mempermalukannya di depan seluruh jajaran rektorat.
Dia singgah sebentar di kantin yang hampir tutup, membeli sebotol air mineral. Di sana, dia melihat Sekar, teman dekat Danan, sedang tertawa sambil menelepon seseorang. Nares tahu Sekar juga terlibat dalam lingkaran kecil 'pencuri prestasi' ini. Nares hanya tersenyum tipis melewati mereka. Dia tidak butuh drama fisik. Dia hanya butuh satu baris perintah kode untuk meruntuhkan segalanya. Saat dia sampai di depan pintu laboratorium, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal: 'Aku tahu apa yang kamu lakukan di komputer 14. Temui aku di rooftop gedung C sekarang, atau file itu bukan satu-satunya yang hilang malam ini.'
Nares membeku. Apakah ada orang lain yang melihatnya? Ataukah Danan memasang jebakan lain? Dia melihat ke arah gedung C yang menjulang tinggi dalam kegelapan malam. Rasa takut kembali menyergap, namun rasa ingin tahu dan dendam jauh lebih kuat. Dia memutar arah, melangkah menuju lift gedung C. Di dalam lift yang bergerak naik, dia memeriksa kembali datanya. Dia harus siap. Siapapun yang menunggunya di atas sana, mereka tidak tahu bahwa Nareswari bukan lagi gadis lugu yang bisa diintimidasi dengan gertakan murah.
Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Angin malam yang kencang langsung menyambar wajahnya. Di ujung rooftop, membelakangi pintu, berdiri seseorang dengan jaket almamater kampus. Bukan Danan. Postur tubuhnya lebih kecil. Saat orang itu berbalik, jantung Nares seakan melompat keluar dari dadanya. Itu adalah Sekar, tapi wajahnya tidak lagi ceria seperti di kantin tadi. Dia memegang sebuah tablet yang menyala terang, menampilkan log aktivitas jaringan yang persis sama dengan milik Nares.
'Lo pikir cuma lo yang tahu cara sniffing jaringan di kampus ini, Nares?' tanya Sekar dengan nada dingin. 'Danan itu cuma bidak. Gue yang butuh riset lo supaya dapet posisi di tim riset nasional. Dan kalau lo berani ngebocorin ini besok pagi, bukan cuma karir lo yang ancur, tapi rahasia soal keluarga lo yang lo tutup-tupi di formulir beasiswa itu bakal tersebar di grup angkatan dalam hitungan detik.'
Nares tertegun. Rahasia itu. Bagaimana Sekar bisa tahu tentang ayahnya yang mantan narapidana? Itu adalah satu-satunya hal yang bisa membatalkan beasiswanya secara permanen karena aturan etika kampus yang kolot. Nares berdiri di tepi kehancuran yang lebih dalam. Dia harus memilih: membiarkan mereka mencuri risetnya dan tetap aman, atau melawan dan kehilangan segalanya termasuk nama baik keluarganya. Namun, di tengah keputusasaan itu, Nares menyadari sesuatu pada tablet Sekar yang masih terkoneksi ke server pusat. Sebuah celah keamanan yang selama ini dia cari.