Kukira Suamiku Alergi Bulu, Ternyata Dia Diam-Diam Membiayai 'Anak' Baru di Apartemen Sahabat Dekatku

Kukira Suamiku Alergi Bulu, Ternyata Dia Diam-Diam Membiayai 'Anak' Baru di Apartemen Sahabat Dekatku

Skandal & Pengkhianatan

Kukira Suamiku Alergi Bulu, Ternyata Dia Diam-Diam Membiayai 'Anak' Baru di Apartemen Sahabat Dekatku



Genggaman tangan Sekar Kirana pada gagang troli belanja di sudut supermarket premium Grand Indonesia mendadak mendingin. Di depannya, jajaran makanan anjing impor dengan label harga ratusan ribu rupiah berbaris rapi. Namun, bukan harga barang-barang itu yang membuat napas Sekar mendadak tercekat di tenggorokan, melainkan sebaris notifikasi mutasi rekening kartu kredit korporat atas nama suaminya, Dananjaya, yang baru saja masuk ke ponselnya.

Pembayaran otomatis bulanan sebesar empat juta rupiah didebit untuk 'Dharma Vet Clinic & Care', diikuti transaksi tiga juta rupiah di 'Paw-fect Premium Feed'. Transaksi ini bukan yang pertama. Saat Sekar menarik riwayat transaksi enam bulan terakhir, angka yang sama selalu muncul pada tanggal yang sama. Dada Sekar bergemuruh hebat. Otaknya mencoba merangkai logika yang waras, namun semuanya mentok pada satu kenyataan mutlak: mereka tidak memiliki hewan peliharaan.

Selama lima tahun pernikahan mereka, Danan selalu menegaskan bahwa dirinya memiliki alergi ekstrem terhadap bulu hewan. Jangankan memelihara anjing atau kucing, mendekati kafe kucing saja bisa membuat pria itu bersin-bersin hingga sesak napas. Sekar ingat betul bagaimana dulu ia terpaksa memberikan kucing persia kesayangannya kepada orang lain sebelum mereka menikah demi kesehatan Danan. Danan bahkan sempat mengenakan inhaler jika tidak sengaja berada di dekat hewan berbulu. Lalu, untuk siapa semua biaya perawatan medis dan makanan hewan premium ini didebit setiap bulan?

Sekar berusaha menguasai diri. Di tengah hiruk-pikuk pengunjung supermarket yang wangi dan elegan, ia melangkah menuju area parkir dengan langkah yang terasa melayang. Ia menolak untuk langsung mengonfrontasi Danan tanpa bukti yang solid. Danan adalah seorang pengacara korporat yang sangat lihai membalikkan kata-kata. Jika Sekar bertanya sekarang tanpa bukti konkret, Danan pasti akan menemukan seribu satu alasan logis yang akan membuat Sekar merasa bersalah karena telah menuduhnya.

Keesokan harinya, Sekar memutuskan untuk mendatangi Dharma Vet Clinic & Care yang terletak di kawasan Kebayoran Baru. Klinik itu tampak sangat mewah, lebih mirip lobi hotel butik daripada rumah sakit hewan. Dengan mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra yang menutupi sebagian wajahnya, Sekar melangkah mendekati meja resepsionis yang dijaga oleh seorang wanita muda berseragam rapi.

'Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Ibu?' sapa resepsionis itu dengan ramah.

'Siang. Saya asisten pribadi Pak Dananjaya,' Sekar berbohong tanpa berkedip, menyembunyikan getar suaranya di balik nada suara yang dingin dan profesional. 'Beliau meminta saya untuk mengambil salinan rekam medis dan rincian tagihan terbaru untuk... Kiko. Ada beberapa pengeluaran yang perlu dicocokkan dengan laporan keuangan kantor.'

Resepsionis itu mengerutkan kening sejenak, lalu mengetikkan sesuatu di komputernya. 'Kiko? Golden Retriever milik Ibu Gendis?'

Dunia seolah berhenti berputar di sekeliling Sekar. Nama itu menghantam ulu hatinya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang rusuk. Gendis. Gendis Kirana, sahabat karibnya sejak masa SMA. Wanita yang selalu hadir di setiap perayaan hari besar mereka, wanita yang menangis paling keras saat Sekar menikah, dan wanita yang selama ini mengaku masih melajang dan terlalu sibuk dengan bisnis butiknya di Jakarta Selatan.

'Ah, iya benar. Kiko,' jawab Sekar, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya tetap stabil meskipun tangannya di bawah meja resepsionis sudah mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya memutih. 'Pak Danan yang biasa mengurus pembayarannya, kan?'

'Betul, Ibu. Semua tagihan Kiko langsung didebit otomatis ke kartu kredit Pak Dananjaya. Sebentar ya, saya cetakkan rincian kunjungan medis Kiko selama enam bulan terakhir.'

Beberapa menit kemudian, Sekar keluar dari klinik tersebut dengan selembar dokumen tebal di tangannya. Di dalam mobilnya yang terparkir di bawah keteduhan pohon pelindung, Sekar membaca lembar demi lembar dokumen tersebut. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi kertas putih bersih itu.

Di sana tertulis dengan jelas: Pemilik Hewan: Gendis Kirana. Alamat: Verde Two Condominium, Tower Terra, Unit 18B. Dan yang paling menghancurkan hati Sekar adalah nama kontak darurat kedua yang tertera di sana: Dananjaya, dengan nomor telepon pribadi suaminya.

Sekar mengingat kembali momen tiga bulan lalu, ketika Gendis mengunggah foto seekor anak anjing Golden Retriever yang sangat lucu di akun Instagram-nya. Saat itu, Sekar sempat berkomentar betapa menggemaskannya anak anjing itu. Gendis membalas komentarnya dengan berkata, 'Iya nih, hadiah dari seseorang yang sangat spesial, Kar. Tapi dia pemalu, nggak mau dipublikasikan.'

Sekarang, teka-teki itu terjawab dengan cara yang paling mengerikan. Seseorang yang spesial itu adalah suaminya sendiri. Pria yang setiap malam tidur di sampingnya, memeluknya, dan membisikkan kata-kata cinta. Pria yang selalu menolak pulang terlambat dengan alasan lelah bekerja, namun ternyata memiliki waktu untuk menemani Gendis membawa anak anjing mereka ke klinik hewan mewah ini.

Rasa mual yang hebat mendadak menyerang perut Sekar. Pengkhianatan ini terasa begitu rapi, begitu terencana, dan melibatkan dua orang yang paling ia percayai di dunia ini. Sekar menyandarkan kepalanya di setir mobil, membiarkan dadanya sesak oleh tangis yang tertahan. Mengapa mereka harus melakukan ini padanya? Jika Danan mencintai Gendis, mengapa dia harus menikahinya dan menyiksanya dalam kebohongan yang rumit ini?

Sekar memutuskan tidak akan menangis lebih lama lagi. Rasa sedihnya perlahan mengkristal menjadi kemarahan yang dingin dan tajam. Ia menyalakan mesin mobilnya dan mengarahkan kendaraan menuju Verde Two Condominium. Ia tahu betul kode akses ke unit Gendis karena ia sering berkunjung ke sana sebelumnya, meskipun belakangan ini Gendis selalu beralasan sibuk atau sedang berada di luar kota setiap kali Sekar ingin mampir.

Setibanya di lobi kondominium mewah itu, Sekar berjalan dengan langkah anggun namun tegas. Di tangannya, ia membawa kantong kertas berisi dokumen medis Kiko. Lift membawanya ke lantai 18 dengan kecepatan tinggi, membuat telinganya berdenging. Ketika pintu lift terbuka langsung di depan lorong unit Gendis, Sekar menarik napas dalam-dalam.

Ia menekan bel pintu unit 18B. Tidak ada jawaban. Sekar menekan bel sekali lagi, lebih lama. Dari dalam ruangan, terdengar suara gonggongan anjing yang riuh. Kiko. 'Anak' suaminya dan sahabatnya.

Beberapa saat kemudian, pintu kayu ek tebal itu terbuka. Gendis berdiri di sana, mengenakan jubah tidur sutra berwarna merah muda yang longgar. Wajahnya yang tanpa riasan tampak terkejut melihat Sekar berdiri di depan pintunya pada jam kerja seperti ini. Namun, keterkejutan itu dengan cepat berusaha ia sembunyikan di balik senyuman manisnya yang biasa.

'Sekar? Kok tiba-tiba ke sini nggak bilang-bilang?' tanya Gendis, suaranya terdengar sedikit gugup.

Sebelum Sekar sempat menjawab, seekor anak anjing Golden Retriever yang lincah berlari keluar dari dalam apartemen, menabrak kaki Gendis dengan riang. Di leher anjing itu, melingkar sebuah kalung kulit mewah berwarna cokelat gelap dengan gantungan emas berbentuk tulang.

Sekar menunduk melihat anjing itu, lalu perlahan menatap mata sahabatnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sekar mengeluarkan dokumen medis dari kantong kertas dan menyodorkannya tepat di depan wajah Gendis. 'Aku ke sini untuk mengantarkan ini, Gendis. Kurasa suamiku lupa memberikan salinan tagihan bulanan anak kalian.'

Wajah Gendis mendadak pucat pasi. Senyum di bibirnya lenyap seketika, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa saat matanya membaca logo Dharma Vet Clinic di kertas tersebut. Tubuhnya gemetar, dan ia melangkah mundur satu langkah.

'Sekar... ini... aku bisa jelasin semuanya...' bisik Gendis dengan suara yang nyaris habis.

Namun, sebelum Gendis sempat melanjutkan kalimatnya, sebuah suara berat yang sangat akrab di telinga Sekar terdengar dari arah dalam apartemen Gendis. 'Gendis, siapa yang datang? Apa paket makanan Kiko sudah sampai?'

Seorang pria berjalan keluar dari arah dapur sambil memegang cangkir kopi, hanya mengenakan celana jins dan kaus dalam putih tipis. Langkah pria itu terhenti seketika saat matanya bertatapan dengan mata Sekar yang sedingin es. Pria itu adalah Dananjaya.

Danan membeku di tempatnya berdiri. Cangkir kopi di tangannya bergetar hebat. Tidak ada bersin, tidak ada sesak napas karena alergi bulu anjing yang selama lima tahun ini ia keluhkan di depan Sekar. Di sana, di apartemen sahabat istrinya, Danan tampak sangat sehat, sangat santai, dan sangat di rumah.

Sekar memandang suaminya dengan senyum getir yang sanggup menyayat hati siapapun yang melihatnya. 'Hai, Mas. Ternyata alergimu sudah sembuh total ya?'

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url