Sahabat Karibku dan Suamiku Merancang Kehancuranku: Dokumen Rahasia di Cloud Drive yang Membongkar Segalanya...
Malam itu, SCBD masih tetap bising meski jarum jam sudah melewati angka sebelas. Cahaya lampu dari gedung-gedung pencakar langit di Jakarta Selatan ini biasanya terasa menenangkan buat gue, kayak pengingat kalau gue udah berhasil menaklukkan kerasnya ibu kota. Tapi entah kenapa, malam ini udara di dalam ruangan kantor gue terasa lebih berat dari biasanya. Nama gue Maya, seorang perancang perhiasan yang orang bilang sih lagi di puncak karier. Gue punya brand sendiri, Lumina Jewel, dan gue punya Aris, suami yang selalu bilang kalau gue adalah poros dunianya. Oh, jangan lupa Dita, sahabat sejak zaman kuliah yang sekarang jadi partner bisnis gue. Hidup gue harusnya sempurna, kan?
Gue masih duduk di depan laptop, jempol gue pegal habis scrolling ribuan foto referensi buat koleksi musim depan. Aris tadi WhatsApp katanya bakal pulang telat karena ada meeting mendadak sama klien di luar kota. Dita juga sudah pamit sejak jam lima sore, katanya mau me-time karena kepalanya mau pecah urus vendor. Gue sendirian di kantor yang luas ini. Karena butuh satu file desain lama buat klien VIP, gue login ke akun shared cloud drive yang biasanya cuma gue, Dita, dan sekretaris kami yang akses. Tapi jari gue berhenti bergerak saat melihat sebuah folder baru tanpa nama, tersembunyi di balik sub-folder arsip pajak tahun 2019. Insting gue sebagai perempuan tiba-tiba aja teriak kalau ada yang nggak beres.
Gue klik folder itu. Isinya cuma satu file PDF dengan nama yang bikin jantung gue kayak berhenti detak: 'Exit Strategy - Lumina & Maya'. Tangan gue gemetar hebat waktu gue klik dua kali file itu. Di layar laptop, terpampang sebuah draf perjanjian hukum. Isinya? Skema pengalihan aset Lumina Jewel ke sebuah perusahaan cangkang di Singapura. Dan yang bikin gue mual, nama pemilik perusahaan itu adalah Aris Pratama dan Dita Anindita. Bukan cuma itu, di sana tertulis jelas rencana mereka buat bikin gue terlihat melakukan penggelapan dana perusahaan supaya mereka punya alasan buat mendepak gue secara hukum tanpa gue bisa nuntut balik. Gue ngerasa kayak disambar petir di siang bolong, tapi ini lebih buruk. Ini pengkhianatan yang dirancang dengan sangat rapi oleh dua orang yang paling gue percayai di dunia ini.
Gue mencoba narik napas dalam-dalam, tapi dada gue rasanya sesak banget, kayak ada batu besar yang nindih. Air mata gue mulai jatuh satu-satu ke atas keyboard. Selama tujuh tahun pernikahan, gue selalu bangga-banggain Aris sebagai suami idaman. Dia yang selalu masakin gue kalau gue lembur, dia yang selalu dengerin keluh kesah gue. Dan Dita? Kita udah bareng-bareng dari zaman makan promag di kosan sampai sekarang bisa beli tas branded tanpa liat harga. Ternyata, semua perhatian mereka itu cuma akting? Semua tawa mereka di meja makan rumah gue itu cuma topeng sambil mereka nunggu waktu yang pas buat nikam gue dari belakang? Gue berasa jadi orang paling tolol sedunia.
Gue mulai telusuri lagi isi folder itu, dan gue nemu satu file video pendek. Gue klik dengan ragu. Video itu diambil di sebuah bar remang-remang, sepertinya di daerah Senopati. Di sana, Aris dan Dita duduk berdampingan, sangat dekat. Aris merangkul bahu Dita, dan mereka tertawa sambil bersulang gelas wine. 'Dikit lagi, Sayang. Begitu Maya tanda tangan dokumen kerja sama baru bulan depan, dia nggak bakal punya apa-apa lagi. Kita bisa pindah ke Bali atau luar negeri kalau kamu mau,' suara Aris terdengar jelas di video itu. Dita menyandarkan kepalanya di bahu Aris, lalu menjawab dengan nada manja yang nggak pernah gue denger sebelumnya, 'Aku udah nggak sabar pengen liat muka sok jagonya itu hancur. Dia pikir dia pusat semesta cuma karena dia yang jago desain? Tanpa kita, dia itu cuma butiran debu, Ris.'
Duar! Rasanya seluruh dunia gue runtuh seketika. Kata-kata Dita bener-bener kayak belati yang digoreskan ke muka gue. Gue nangis sesenggukan sendirian di kantor yang dingin ini. Kenapa? Apa salah gue ke mereka? Gue kasih Dita saham 30 persen secara cuma-cuma karena gue sayang dia. Gue biayain semua cicilan mobil dan gaya hidup Aris karena bisnis dia yang sempat macet. Dan ini balasannya? Gue bener-bener nggak bisa mikir jernih. Gue pengen langsung telepon Aris dan maki-maki dia, gue pengen samperin rumah Dita dan jambak rambutnya sampai dia minta ampun. Tapi kemudian, sisi dingin dalam diri gue muncul. Kalau gue meledak sekarang, mereka bakal tahu kalau gue udah tahu. Mereka bakal punya waktu buat hapus jejak dan bener-bener bikin gue masuk penjara dengan tuduhan penggelapan dana yang mereka susun.
Gue harus tenang. Gue hapus air mata gue dengan kasar. Gue copy semua file di folder itu ke hard disk eksternal gue, lalu gue hapus history akses gue di cloud itu supaya mereka nggak curiga. Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Gue pulang ke rumah dengan perasaan yang udah mati rasa. Pas sampai rumah, gue liat mobil Aris sudah terparkir. Dia ternyata sudah pulang. Pas gue masuk kamar, dia pura-pura tidur, atau mungkin emang tidur beneran setelah ngerencanain kehancuran istrinya sendiri. Gue berdiri di samping tempat tidur, ngeliatin wajahnya yang kelihatan polos itu. Gimana bisa orang yang tiap pagi gue cium keningnya, ternyata lagi asah pisau buat bunuh karier dan hidup gue?
Keesokan harinya, gue bersikap seolah-olah nggak terjadi apa-apa. Ini adalah akting tersulit dalam hidup gue. Pas sarapan, Aris masih sempat-sempatnya nanya, 'Sayang, kok matanya sembab? Kurang tidur ya gara-gara proyek baru itu?' Gue cuma senyum tipis, senyum yang paling palsu yang pernah gue buat. 'Iya nih, banyak revisi. Tapi bentar lagi beres kok, Ris. Aku bakal pastiin semuanya selesai tepat waktu,' jawab gue dengan penekanan di kata 'selesai'. Dia nggak sadar kalau yang bakal selesai itu bukan cuma proyek perhiasannya, tapi juga sandiwara busuk dia sama Dita. Gue harus mulai cari pengacara, tapi bukan pengacara biasa. Gue butuh seseorang yang bisa main cantik di area abu-abu.
Gue pergi ke kantor dan ketemu Dita. Dia datang dengan wajah ceria, bawain gue kopi favorit gue seolah dia sahabat paling perhatian di dunia. 'May, ini draf kontrak buat vendor baru yang kita omongin kemarin. Kamu tanda tangan di sini ya, biar aku bisa langsung proses pembayarannya,' katanya sambil nyodorin map biru. Gue tahu, di balik lembaran-lembaran kertas itu pasti terselip dokumen yang bakal mindahin aset gue ke perusahaan cangkang mereka. Gue pura-pura baca pelan-pelan. 'Aduh Dit, kepala aku lagi pusing banget nih. Aku simpan dulu ya, nanti sore aku kasih ke kamu setelah aku cek detailnya lagi,' kata gue sambil naruh map itu di meja.
Muka Dita sempat berubah agak tegang, cuma sedetik, tapi gue nangkep itu. 'Oh, oke. Tapi jangan lama-lama ya, vendornya udah nagih-nagih soalnya. Kamu tahu kan mereka paling nggak suka nunggu,' Dita berusaha tetap kalem tapi nadanya agak maksa. Gue cuma ngangguk. Begitu dia keluar dari ruangan gue, gue langsung kunci pintu. Gue telepon seseorang, mantan pacar gue zaman kuliah yang sekarang jadi detektif swasta spesialis kasus korporat dan perselingkuhan. Namanya Baskara. Gue tahu gue nggak seharusnya hubungin dia lagi, tapi saat ini, dia satu-satunya orang yang bisa gue percaya karena dia benci banget sama Aris sejak dulu.
Dua hari kemudian, gue ketemu Baskara di sebuah kafe terpencil di pinggiran Jakarta. Dia nggak banyak berubah, masih dengan jaket kulitnya dan tatapan matanya yang tajam. 'Gue udah duga si Aris itu ular sejak dulu, May. Tapi gue nggak nyangka dia seberani ini bareng sahabat lo sendiri,' kata Baskara setelah baca semua dokumen yang gue kasih. Dia kasih gue sebuah amplop cokelat. Isinya lebih parah dari yang gue bayangkan. Ternyata Aris dan Dita bukan cuma mau ambil Lumina Jewel, mereka juga udah nyiapin saksi palsu buat nuduh gue pakai narkoba supaya hak asuh aset gue jatuh sepenuhnya ke tangan Aris sebagai suami kalau gue sampai masuk rehabilitasi atau penjara. Gila. Mereka bener-bener pengen habisin gue luar dalam.
'Terus gue harus gimana, Bas?' tanya gue, suara gue mulai pecah lagi. Baskara genggam tangan gue, kasih kekuatan yang udah lama nggak gue rasain. 'Lo jangan tanda tangan apa pun. Kita bakal bikin jebakan balik. Kita biarin mereka ngerasa di atas angin sampai hari peluncuran koleksi baru lo di Gala Dinner minggu depan. Di depan semua klien besar dan media, kita bakal bongkar siapa mereka sebenarnya. Lo berani?' tanya Baskara. Gue narik napas panjang. Rasa takut gue perlahan berubah jadi amarah yang dingin. Gue nggak mau cuma sekadar cerai atau bubarin kemitraan. Gue mau mereka ngerasain gimana rasanya kehilangan segalanya di depan orang banyak, persis kayak rencana mereka ke gue.
Hari-hari menjelang Gala Dinner itu berasa kayak neraka. Aris makin sering mesra-mesraan sama gue di rumah, yang bikin gue pengen muntah tiap kali dia nyentuh gue. Dita juga makin rajin nanya soal tanda tangan kontrak itu. Gue terus-terusan bikin alasan, mulai dari file yang hilang sampai alasan pengacara pribadi gue lagi review. Mereka berdua kelihatan makin gak sabar, dan itu bagus. Orang yang nggak sabar biasanya bakal bikin kesalahan kecil. Dan benar aja, gue meretas akses CCTV cadangan di ruang kerja Dita pakai bantuan Baskara. Gue liat mereka berdua berantem hebat karena kontrak itu belum gue tanda tangani. 'Maya mulai curiga ya?' tanya Dita di video itu. 'Nggak mungkin, dia itu lugu. Paling dia emang lagi sok sibuk aja. Tenang aja, pas malam Gala, dia pasti tanda tangan karena dia bakal terlalu happy sama kesuksesannya,' jawab Aris tenang.
Gala Dinner pun tiba. Tempatnya di ballroom hotel bintang lima yang mewah banget. Semua sosialita, kolektor perhiasan, dan media hadir. Gue pakai gaun merah marun yang elegan, kelihatan berwibawa tapi hati gue bergejolak hebat. Aris berdiri di samping gue dengan setelan tuksedo, tampak seperti suami sempurna. Dita ada di sisi lain gue, pakai gaun emas yang mencolok. Mereka berdua tersenyum lebar ke arah kamera. Di tengah acara, saatnya gue naik ke panggung buat kasih sambutan dan presentasi koleksi terbaru. 'Selamat malam semuanya. Terima kasih sudah hadir. Malam ini bukan cuma soal perhiasan, tapi soal kejujuran dan dedikasi,' suara gue terdengar stabil di microphone.
Gue liat Aris dan Dita di barisan depan, mereka kasih jempol ke gue. Mereka pikir ini adalah saat di mana gue bakal mengumumkan kemitraan baru yang bakal jadi lubang kubur gue. 'Sebelum saya menunjukkan koleksi Amarilis, saya ingin menunjukkan sebuah perjalanan di balik layar Lumina Jewel. Sebuah perjalanan tentang kepercayaan,' kata gue. Layar besar di belakang gue menyala. Tapi yang muncul bukan foto-foto proses desain perhiasan. Melainkan video rekaman Aris dan Dita di bar itu, suara mereka yang lagi ngerencanain kehancuran gue terdengar sangat kencang di seluruh ballroom. Suasana yang tadinya ramai langsung sunyi senyap, lalu berubah jadi bisik-bisik yang riuh.
Gue liat muka Aris langsung pucat pasi, kayak orang ngeliat hantu. Dita gemetar hebat, gelas wine di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping. Mereka berdua mau lari, tapi Baskara dan beberapa orang suruhannya sudah berdiri di pintu keluar. Media langsung menyerbu mereka dengan lampu flash yang menyambar-nyambar. Gue berdiri di panggung, ngeliatin mereka dengan tatapan paling dingin yang gue punya. 'Ris, Dit... kalian bilang aku cuma butiran debu kan? Mari kita lihat siapa yang bakal jadi debu malam ini,' ucap gue pelan tapi tajam. Dan saat itu juga, polisi masuk ke ballroom untuk menjemput mereka atas dugaan konspirasi penipuan dan pencucian uang berdasarkan bukti-bukti yang sudah gue dan Baskara serahkan sore tadi. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, gue yang pegang kendali.