Suamiku Bilang Dia Rapat di Hotel Puncak, Tapi Akun Spotify Family Kami Memutar Lagu di Ruang Tamu Sahabatku

Suamiku Bilang Dia Rapat di Hotel Puncak, Tapi Akun Spotify Family Kami Memutar Lagu di Ruang Tamu Sahabatku

Skandal & Pengkhianatan

Suamiku Bilang Dia Rapat di Hotel Puncak, Tapi Akun Spotify Family Kami Memutar Lagu di Ruang Tamu Sahabatku



'Mbak, rotinya mau dipotong sekalian?' Suara ramah kasir bercelemek linen abu-abu itu memecah lamunan Danisha. Di tengah keriuhan toko roti artisan di kawasan Senopati yang harum mentega hangat, Danisha hanya mengangguk samar. Pikirannya tidak sedang berada di sana. Matanya terpaku pada layar ponsel yang menyala hangat di genggamannya. Di sana, di pojok kanan bawah aplikasi Spotify Premium miliknya, tertera sebuah notifikasi kecil yang tampak tidak bersalah: 'Sedang Memutar di LG Smart TV - Apartemen Kinar'.

Danisha merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak surut ke ujung kaki. Napasnya tertahan di tenggorokan. Bramantyo, suaminya yang menjabat sebagai kepala divisi investasi di sebuah perusahaan sekuritas, seharusnya sedang berada di Bogor sejak kemarin pagi. Bram berpamitan untuk menghadiri rapat kerja tahunan yang intensif hingga hari Minggu. Dia bahkan sempat mengirimkan foto selfie dengan latar belakang aula hotel yang dingin, lengkap dengan ID card berwarna merah menyala yang melingkar di lehernya.

Namun, layar ponsel Danisha tidak pernah berbohong. Akun Spotify Family yang tagihannya didebit otomatis dari rekening Danisha setiap bulan itu dengan jelas menunjukkan aktivitas aktif. Seseorang sedang memutar lagu 'At Last' milik Etta James—lagu dansa pernikahan mereka dulu—dan memproyeksikan suaranya ke sebuah televisi pintar yang terdaftar atas nama apartemen sahabat terbaik Danisha sejak masa SMA, Kinar.

Danisha melangkah keluar dari toko roti tanpa membawa kantong kertas cokelatnya. Kasir itu sempat memanggilnya, namun suara itu terdengar begitu jauh, seolah teredam oleh air yang sangat dalam. Di dalam mobilnya yang terparkir di bawah rimbun pohon mahoni, Danisha mencengkeram kemudi dengan jari-jari yang gemetar hebat. Dadanya sesak. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini mungkin hanya kesalahan sistem. Mungkin Kinar meminjam akun Bram? Tapi kenapa harus menggunakan akun Bram, sementara Kinar memiliki akun premiumnya sendiri? Dan kenapa harus lagu itu? Lagu yang memiliki nilai sentimental teramat personal bagi Danisha dan Bram.

Sambil menahan tangis yang mendesak di sudut matanya, Danisha menyalakan mesin mobil. Dia tidak pulang ke rumah mereka di Bintaro. Sebaliknya, dia mengarahkan kendaraan menuju kawasan Pakubuwono, tempat apartemen Kinar berada. Jalanan Jakarta siang itu terasa sangat menyiksa dengan kemacetan yang merayap. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan lambat yang menguliti kewarasannya.

Selama perjalanan, kenangan demi kenangan berputar di kepalanya seperti film usang yang rusak. Kinar adalah orang pertama yang memeluknya saat ibunya meninggal dunia. Kinar juga yang sibuk membantu mempersiapkan pernikahannya dengan Bram lima tahun lalu. Bahkan, ketika Danisha sempat mengalami keguguran tahun lalu dan terpuruk dalam depresi yang dalam, Kinar adalah sosok yang hampir setiap hari datang ke rumah mereka, membawakan makanan, dan menemani Danisha menangis di sofa ruang tamu.

'Kamu beruntung punya sahabat seperti Kinar, Dan,' kata Bram suatu malam, sambil mengusap punggung Danisha yang masih rapuh. 'Dia benar-benar peduli pada keluarga kita.'

Kini, kata-kata itu terdengar seperti racun yang mengendap perlahan. Danisha mengingat bagaimana Bram belakangan ini sering pulang terlambat dengan alasan rapat mendadak, namun aroma parfumnya terasa berbeda—lebih manis, dengan sentuhan vanilla yang akrab di penciumannya. Danisha mengingat bagaimana Kinar tiba-tiba mengetahui detail-detail kecil tentang kebiasaan tidur Bram yang seharusnya hanya diketahui oleh seorang istri. Selama ini Danisha menganggap itu semua hanya kebetulan, sebuah hasil dari kedekatan mereka sebagai sahabat karib. Betapa bodohnya dia.

Mobil Danisha akhirnya memasuki area parkir bawah tanah apartemen Kinar. Dengan langkah yang dipaksakan tegak, dia berjalan menuju lobi. Petugas keamanan di meja resepsionis menyapanya dengan senyum ramah. Sebagai sahabat pemilik unit, Danisha memang cukup sering berkunjung dan bahkan memiliki kartu akses cadangan yang diberikan Kinar untuk keadaan darurat.

'Siang, Bu Danisha. Mau ke tempat Bu Kinar?' tanya petugas itu sopan.

'Iya, Pak. Kinar ada di atas?' Danisha berusaha menjaga suaranya tetap stabil, meskipun hatinya terasa seperti sedang diremas dengan tangan besi.

'Ada, Bu. Tadi saya lihat beliau baru kembali sekitar satu jam yang lalu dengan... suaminya ya? Eh, maaf, maksud saya dengan seorang tamu laki-laki,' petugas itu meralat ucapannya dengan canggung saat melihat ekspresi wajah Danisha yang mendadak berubah pucat pasi.

Danisha tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kaku dan berjalan cepat menuju lift. Di dalam kotak logam yang bergerak naik itu, Danisha menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya yang biasanya segar kini tampak sangat kuyu. Dia mengeluarkan kartu akses cadangan dari dalam dompetnya. Kartu plastik tipis berwarna putih itu kini terasa sangat berat, seolah membawa beban kebenaran yang akan menghancurkan hidupnya dalam hitungan detik.

Lift berdenting pelan di lantai dua puluh satu. Lorong apartemen itu sunyi, dilapisi karpet tebal yang meredam setiap langkah kakinya. Danisha berjalan perlahan menuju unit nomor 21B. Dari luar pintu kayu jati yang kokoh itu, samar-samar dia bisa mendengar suara musik yang sangat dia kenal. Melodi saksofon yang mendayu-dayu dari lagu Etta James mengalun lembut, menembus celah bawah pintu.

Danisha berdiri terpaku di depan pintu. Tangannya yang memegang kartu akses gemetar sangat hebat hingga kartu itu hampir terjatuh. Dia memejamkan mata, berdoa dalam hati agar apa yang akan ditemukannya di balik pintu ini adalah sebuah kesalahpahaman besar. Dia ingin percaya bahwa Bram sedang tidak ada di dalam. Dia ingin percaya bahwa Kinar hanyalah seorang sahabat yang setia.

Namun, bau parfum maskulin beraroma cedarwood dan bergamot milik Bram yang khas menguar tipis dari sela pintu, bercampur dengan aroma kopi arabika yang baru diseduh. Itu adalah kombinasi aroma yang selalu memenuhi rumah mereka setiap pagi akhir pekan. Danisha menarik napas dalam-dalam, menempelkan kartu akses ke panel sensor di pintu. Bunyi klik digital yang tajam terdengar, menandakan kunci telah terbuka. Dengan perlahan, Danisha mendorong gagang pintu dan melangkah masuk ke dalam keheningan yang mematikan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url