Aplikasi Telematika Mobil Ungkap Alasan Calon Suami dan Sepupuku Selalu Izin Rapat Lapangan Setiap Hari Selasa Jam Dua Siang
'Gendis, gelang kaki kamu bagus sekali. Beli di mana?' Pertanyaan ibuku di tengah riuhnya restoran di kawasan Senopati malam itu membuat denting sendok dan garpu di tanganku mendadak berhenti. Aku meletakkan pisau steak dengan sangat perlahan, berusaha menjaga agar jemariku tidak gemetar. Di seberang meja, Gendis, sepupu dekatku yang juga menjabat sebagai kepala desainer interior di biro arsitekturku, tersenyum manis seraya menggoyangkan sedikit pergelangan kaki kanannya. Di sana melingkar sebuah gelang perak bakar dengan bandul bermotif sulur tanaman khas Kotagede, Yogyakarta. Sebuah karya seni custom yang sangat spesifik.
'Oh, ini? Aku beli di toko barang antik online, Tante. Katanya cuma ada satu di dunia,' jawab Gendis tanpa kedipan, suaranya terdengar begitu renyah dan tanpa beban. Matanya kemudian melirik sekilas ke arah Bhumi, tunanganku sekaligus mitra bisnisku, yang duduk tepat di sebelahku. Bhumi tetap tenang, memotong daging steaknya dengan presisi seorang arsitek kelas atas, lalu menyuapkannya ke dalam mulut tanpa ekspresi bersalah sedikit pun. Aku menatap gelang itu dengan dada yang bergemuruh. Gelang itu tidak dibeli di toko online. Gelang itu adalah hadiah ulang tahunku yang ke-26 dari Bhumi, yang katanya hilang dari laci dasbor mobil dua bulan lalu saat mobil kami diservis. Bhumi bahkan sempat memarahi montir bengkel karena kecerobohan tersebut.
Aku tidak berteriak. Aku tidak menjambak rambut Gendis atau menyiramkan es teh manis ke wajah tampan Bhumi yang selalu tampak berwibawa di depan media. Sebagai CEO dan arsitek utama di Dananjaya Architect, aku dididik untuk selalu mengedepankan logika di atas emosi. Malam itu, aku menyelesaikan makan malam mewah keluarga dengan senyum paling menawan yang pernah kupamerkan. Namun, begitu kami tiba di apartemen masing-masing, kepalaku mulai merancang cetak biru untuk sebuah rekonstruksi kebenaran.
Keesokan paginya, aku tidak pergi ke kantor. Aku duduk di ruang kerja pribadiku yang sunyi, ditemani secangkir kopi hitam tanpa gula yang terasa sama pahitnya dengan kecurigaan di dadaku. Di hadapanku tergeletak sebuah tablet hitam yang terhubung dengan sistem telematika mobil listrik Hyundai Ioniq 6 milik perusahaan yang sehari-hari digunakan oleh Bhumi. Mobil itu dibeli atas nama perusahaan, dan sebagai direktur utama, aku memegang kendali atas akun administrator aplikasi pelacak kendaraan tersebut. Biasanya, aku hanya menggunakannya untuk memantau pengeluaran klaim asuransi dan efisiensi baterai.
Namun hari ini, aku membuka fitur yang paling jarang disentuh: log riwayat perjalanan mendalam beserta koordinat GPS dan rekaman otomatis kamera kabin saat fitur 'Valet Mode' aktif. Jariku mengetik tanggal demi tanggal selama tiga bulan terakhir. Aku memfokuskan pencarian pada setiap hari Selasa. Mengapa hari Selasa? Karena setiap hari Selasa jam dua siang, Bhumi dan Gendis selalu meminta izin untuk melakukan kunjungan lapangan bersama ke proyek resort mewah kami di kawasan Sentul. Mereka selalu beralasan bahwa klien hanya bisa ditemui pada jam tersebut.
Layar tablet mulai menampilkan visual peta digital. Garis biru tebal meluncur dari kantor kami di Sudirman, melewati jalan tol, namun tidak pernah keluar di pintu tol Sentul Selatan yang mengarah ke lokasi proyek. Garis biru itu selalu keluar di gerbang tol yang berbeda, lalu berbelok menuju sebuah kompleks perumahan klaster eksklusif di pinggiran Bogor. Di sana, mobil akan berhenti selama tepat tiga jam di sebuah alamat yang tercatat sebagai sebuah townhouse privat.
Napas daku tertahan. Jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. Aku mengklik detail aktivitas kendaraan. Di sana, aplikasi menunjukkan bahwa selama tiga jam tersebut, mesin mobil mati, namun sistem pendingin kabin (AC) tetap dinyalakan dari jarak jauh melalui aplikasi ponsel Bhumi sebanyak lima kali. Lebih mengejutkan lagi, ketika aku membuka log memori kamera dasbor yang terintegrasi, aku menemukan beberapa klip video pendek berdurasi sepuluh detik yang otomatis tersimpan setiap kali mobil mendeteksi guncangan tidak biasa saat diparkir.
Aku memutar salah satu klip video tersebut. Sudut kamera dasbor memang menghadap ke arah jalan raya di depan rumah, namun mikrofon di dalam kabin merekam suara percakapan dengan sangat jelas sebelum mereka turun dari mobil. Suara tawa manja Gendis terdengar memenuhi ruangan sunyiku. 'Bhumi, kamu yakin Kirana tidak akan curiga dengan gelang ini? Aku suka sekali, tidak tahan kalau cuma disimpan di laci.'
Lalu, terdengar suara Bhumi, suara yang biasanya membisikkan kata-kata penenang saat aku stres menghadapi tenggat waktu proyek. 'Dia terlalu sibuk dengan cetak biru proyek Bali untuk menyadari hal sekecil itu, Gendis. Lagi pula, dia percaya penuh padaku. Yang penting sekarang, pastikan dokumen transfer hak kekayaan intelektual untuk desain paviliun bambu itu sudah kamu salin ke flashdisk milik investor kita. Begitu Kirana menandatangani dokumen kerja sama minggu depan, seluruh hak cipta desainnya akan beralih ke perusahaan baru kita di Singapura tanpa dia sadari.'
Aku mematikan video itu. Tubuhku gemetar hebat, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang begitu pekat hingga membuatku ingin muntah. Mereka tidak hanya mengkhianati ranjangku, mereka sedang merancang kejatuhan profesionalitasku. Desain paviliun bambu itu adalah mahakaryaku yang telah kukerjakan selama dua tahun penuh, sebuah inovasi arsitektur ramah lingkungan yang memenangkan penghargaan internasional. Mereka ingin mencurinya, menyingkirkanku dari perusahaanku sendiri, dan membangun kerajaan baru di atas puing-puing hidupku.
Aku bersandar di kursi kerja, menatap langit-langit ruangan yang tinggi. Air mataku luruh satu demi satu, membasahi pipi, namun ekspresi wajahku perlahan berubah menjadi dingin. Aku menghapus air mata itu dengan punggung tangan. Air mata tidak akan menyelamatkan Dananjaya Architect. Rencana matang harus segera disusun.
Hari Selasa berikutnya tiba. Suasana di kantor terasa seperti biasa. Gendis berjalan melewatiku dengan membawa tumpukan sampel kain interior, tersenyum manis seolah dia adalah sepupu paling berbakti di dunia. 'Mbak Kirana, aku dan Mas Bhumi jalan dulu ya ke Sentul. Kliennya cerewet banget, minta revisi tata letak lobi lagi,' pamitnya dengan nada manja yang dibuat-buat.
'Oh, iya. Hati-hati di jalan ya. Tolong pastikan detail pencahayaannya sesuai dengan draf terakhir,' jawabku, memberikan senyuman terbaikku yang tampak sangat tulus. Bhumi menyusul di belakangnya, sempat mengecup keningku sekilas sebelum pergi. Kecupan yang biasanya terasa hangat kini terasa seperti lumatan racun yang menjijikkan.
Begitu pintu lift tertutup dan mereka berdua hilang dari pandangan, aku langsung memanggil tim legal eksternal dan akuntan forensik yang telah kusewa secara rahasia selama tiga hari terakhir. Kami berkumpul di ruang rapat utama yang berkaca gelap. Di atas meja, aku menjabarkan seluruh bukti: log GPS mobil, rekaman suara kabin, mutasi rekening asing atas nama Gendis yang menerima aliran dana mencurigakan dari sebuah perusahaan cangkang di Singapura, serta draf dokumen palsu yang coba disisipkan Bhumi ke dalam berkas tanda tanganku.
'Ibu Kirana, ini sudah masuk ranah tindak pidana penipuan jabatan dan pelanggaran hak cipta berat. Kita bisa melaporkan mereka ke polisi sekarang juga,' ujar pengacara senior yang duduk di sebelahku.
Aku menggelengkan kepala perlahan. 'Tidak. Kalau kita lapor polisi sekarang, mereka akan punya waktu untuk menyewa pengacara hebat dan membuat drama di media yang bisa merusak reputasi Dananjaya Architect sebelum proyek Bali diluncurkan. Aku ingin kehancuran mereka terjadi secara instan, publik, dan tanpa jalan keluar.'
Dua minggu kemudian, hari yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba. Malam penganugerahan dan konferensi pers peluncuran megaproyek resort Bali diadakan di ballroom hotel bintang lima di Jakarta. Ratusan tamu undangan, mulai dari jajaran menteri, investor asing, hingga media papan atas berkumpul. Bhumi tampak sangat gagah dengan setelan jas rancangan desainer ternama, sementara Gendis berdiri di sampingnya dengan gaun malam mewah, bertingkah seolah dialah otak di balik keindahan interior proyek tersebut.
Aku berdiri di panggung utama, memegang mikrofon. Saatnya presentasi utama. Di belakangku, sebuah layar LED raksasa siap menampilkan slide presentasi desain paviliun bambu yang legendaris itu. Bhumi dan Gendis tersenyum lebar dari barisan kursi VIP terdepan, siap menerima tepuk tangan dan bersiap untuk mengumumkan pengalihan hak cipta yang telah mereka manipulasi dalam dokumen yang baru saja kutandatangani sore tadi—atau yang mereka kira telah kutandatangani.
'Selamat malam hadirin sekalian,' suaraku menggema dengan tenang dan penuh wibawa di dalam ballroom yang megah. 'Malam ini, sebelum kita melihat keindahan desain resort Bali, saya ingin membagikan sebuah proses kreatif yang sangat unik. Sebuah proses yang melibatkan kerja keras, dedikasi, dan... perjalanan rahasia yang dilakukan oleh tim terbaik saya setiap hari Selasa jam dua siang.'
Aku melihat senyum di wajah Bhumi mendadak membeku. Gendis mengerutkan kening, tangannya yang memegang gelas sampanye mulai tampak gemetar. Aku menekan tombol remote di tanganku. Layar LED di belakangku tidak menampilkan gambar resort Bali. Layar itu menampilkan peta pelacakan GPS mobil perusahaan yang bergerak menuju perumahan di Bogor, diikuti dengan transkrip percakapan suara kabin yang sangat jelas, lengkap dengan nama pembuat dokumen transfer hak cipta palsu di Singapura.
Seluruh ruangan mendadak sunyi senyap, sebelum akhirnya bisik-bisik histeris mulai menjalar seperti api yang membakar jerami kering.