Detik-Detik Aku Menemukan Mobil Suamiku Keluar Tol Sumedang Lewat Notifikasi e-Toll, Padahal Dia Pamit Rapat Penting di Jakarta
Bunyi dentang sendok stainless steel yang menghantam piring keramik itu terdengar begitu nyaring, memutus keriuhan pujasera pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Pusat siang itu. Beberapa pasang mata sempat menoleh ke arah meja nomor dua belas, tempat Sekar Ayu duduk mematung. Namun, Sekar tidak peduli. Seluruh pasokan oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis saat matanya terpaku pada layar ponsel yang masih menyala.
Di sana, sebuah notifikasi dari aplikasi perbankan digital menunjukkan transaksi auto-debit baru saja berhasil. Sebuah potongan saldo sebesar empat belas ribu lima ratus rupiah untuk gerbang tol Pamulihan. Tol Cisumdawu. Sumedang.
Sekar menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa pening yang tiba-tiba menghantam tengkuknya. Suaminya, Dananjaya, dua jam lalu mengirimkan pesan singkat yang begitu manis: 'Sayang, aku mulai rapat dengan dewan direksi di SCBD ya. Ponsel sengaja aku matikan atau silent agar fokus. Jangan lupa makan siang, I love you.' Danan adalah seorang corporate lawyer terpandal di ibu kota, yang jadwalnya biasa disusun rapi hingga ke hitungan menit. Tapi Sumedang? Seingat Sekar, klien terbesar suaminya tidak ada yang memiliki pabrik atau kantor di wilayah pegunungan Jawa Barat tersebut.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Sekar menggeser layar ponselnya, membuka aplikasi pemutar musik digital. Di sana, sebuah fitur kurasi bersama bernama 'Spotify Blend' antara dirinya, Danan, dan Gendis Larasati—sahabat karib Sekar sejak masa kuliah di Bandung—menunjukkan aktivitas terbaru. Sebuah lagu indie lokal melankolis baru saja ditambahkan ke dalam daftar putar kolaboratif mereka. Keterangan di bawah judul lagu itu tertulis jelas: 'Ditambahkan oleh Dananjaya, 3 menit yang lalu'.
Sekar merasa jantungnya melompat dari tempatnya. Gendis baru saja mengunggah cerita di Instagram pribadinya sepuluh menit lalu. Foto sebuah cangkir kopi berlatar belakang perbukitan hijau yang diselimuti kabut tipis, dengan takarir singkat: 'Melarikan diri sejenak dari bisingnya Jakarta'.
Pertemuan demi pertemuan kecil dalam ingatan Sekar mendadak tersusun bagai kepingan puzzle yang mengerikan. Gendis yang belakangan ini kerap menanyakan perkembangan kasus hukum yang sedang ditangani Danan. Danan yang tiba-tiba mengganti parfumnya dengan aroma pinus yang segar—aroma yang sangat disukai Gendis. Dan yang paling membuat dadanya sesak, gantungan kunci kulit di mobil Danan yang sempat hilang, kini terpasang kembali dengan jahitan tangan yang sangat rapi. Jahitan khas milik Gendis, seorang desainer produk yang selalu perfeksionis.
Sekar bangkit dari kursinya, meninggalkan makan siangnya yang baru tersentuh dua suap. Langkah kakinya terasa ringan namun goyah, seolah dia sedang berjalan di atas lapisan es tipis yang siap retak kapan saja. Dia melangkah menuju area parkir bawah tanah, menyalakan mesin mobilnya, dan duduk terdiam di balik kemudi yang dingin. Di dalam keheningan itu, dia menyadari satu hal: pernikahan yang dia agungkan selama lima tahun ini mungkin hanyalah sebuah panggung sandiwara yang dirancang dengan sangat rapi oleh dua orang terdekatnya.
Dia tidak menangis. Rasa sakitnya terlalu besar untuk dikonversi menjadi air mata. Sebagai gantinya, sebuah ketenangan yang dingin menjalar di dalam kepalanya. Sekar mencengkeram kemudi, menatap lurus ke depan, dan memutuskan untuk mengikuti alur permainan mereka. Dia akan menunggu Danan pulang malam ini, menunggu kebohongan apa lagi yang akan meluncur dari bibir pria yang sangat dicintainya itu.
Perjalanan kembali ke rumah mereka di kawasan Bintaro terasa begitu panjang. Setiap sudut jalanan Jakarta seolah meledek kebodohannya selama ini. Sesampainya di rumah, Sekar langsung menuju ruang kerja Danan yang wangi kayu ek. Dia membuka laci meja kerja suaminya yang tidak pernah dikunci—sebuah bentuk 'kepercayaan penuh' yang selama ini selalu mereka banggakan. Di sudut laci, di bawah tumpukan dokumen kontrak lawas, Sekar menemukan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah tua. Di dalamnya kosong, namun ada sebuah nota pembelian perhiasan emas putih tertanggal dua minggu lalu. Transaksi itu dilakukan di sebuah butik perhiasan di Bandung.
Sekar tersenyum getir. Pada tanggal yang tertera di nota itu, Danan pamit pergi ke Surabaya untuk urusan arbitrase selama tiga hari. Dan pada akhir pekan yang sama, Gendis sempat mengirimkan foto pergelangan tangannya yang dihiasi gelang emas putih baru dengan caption manis tentang 'self-reward'.
Semua bukti itu tersaji begitu telanjang di hadapannya. Sekar merapikan kembali laci tersebut, memastikan tidak ada satu pun detail yang bergeser. Dia tidak ingin musuhnya tahu bahwa benteng pertahanan mereka telah runtuh dari dalam. Malam merayap naik, membawa serta udara dingin sisa hujan sore tadi. Tepat pukul setengah delapan malam, suara deru mobil Danan terdengar memasuki halaman rumah.
Sekar berdiri di dekat jendela ruang tamu, menatap suaminya yang keluar dari mobil dengan setelan jas yang tampak sedikit kusut. Wajah pria itu menampilkan gurat kelelahan yang sangat meyakinkan. Dia melangkah masuk ke dalam rumah, langsung menghampiri Sekar, lalu mengecup kening istrinya dengan kehangatan yang terasa begitu palsu di kulit Sekar.
'Capek banget, Sayang. Rapat hari ini benar-benar menguras energi. Kliennya keras kepala banget,' ujar Danan sembari melonggarkan dasinya, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa beludru abu-abu.
Sekar menatap suaminya, menahan gejolak hebat di dalam dadanya. 'Oh ya? Rapatnya lancar kan? Di daerah SCBD macet banget ya jam segini?' tanya Sekar dengan nada suara yang diatur selembut mungkin, tanpa ada nada curiga sedikit pun.
'Macet parah. Makanya aku pulang agak telat ini,' jawab Danan tanpa ragu, matanya lurus menatap layar televisi yang menyala tanpa suara.
Sekar berjalan perlahan ke arah dapur, mengambilkan segelas air putih dingin untuk suaminya. Saat dia menyerahkan gelas tersebut, jemarinya sengaja menyentuh pergelangan tangan Danan. Kulit suaminya terasa dingin, aroma sisa pegunungan dan kabut tipis masih samar-samar tercium di balik wangi parfum pinusnya. Sekar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan badai besar yang siap menyapu bersih seluruh hidup mereka.