Tagihan Shopee PayLater Suamiku Mengirimku ke Sebuah Rumah Asing di Sawangan

Tagihan Shopee PayLater Suamiku Mengirimku ke Sebuah Rumah Asing di Sawangan

Drama Rumah Tangga

Tagihan Shopee PayLater Suamiku Mengirimku ke Sebuah Rumah Asing di Sawangan



‘Maaf, Ibu Sekar, kartunya decline. Limitnya sepertinya sudah habis atau ada transaksi yang tertunda,’ ujar kasir berambut bob itu dengan nada yang luar biasa sopan, namun cukup nyaring untuk membuat tiga orang di antrean belakangku serentak mendongak dari ponsel mereka.

Aku mematung di depan kasir nomor tiga GrandLucky Senopati. Di dalam keranjang belanjaanku ada beberapa potong daging wagyu, sebotol minyak zaitun organik, dan buah beri segar yang seharusnya menjadi menu makan malam romantis merayakan hari jadi pernikahan kami yang ketujuh. Aku tersenyum canggung, merasakan telingaku mendadak panas. Dengan gerakan buru-buru, aku membuka aplikasi m-banking di ponsel untuk memeriksa saldo. Semuanya normal. Rekening bersamaku dan Dananjaya masih memiliki angka yang lebih dari cukup untuk membeli seluruh isi supermarket ini.

Namun, saat aku membuka aplikasi e-commerce yang terhubung dengan kartu kredit utama kami untuk memeriksa apakah ada kegagalan sistem, mataku tidak sengaja menangkap ikon lonceng notifikasi keuangan. Di sana, tertera sebuah tagihan jatuh tempo Shopee PayLater yang membengkak luar biasa. Tanganku gemetar pelan saat menyentuh layar, membuka rincian transaksi bulanan yang menggunakan akun keluarga yang tersambung atas nama Dananjaya.

Dua kaleng Enfamil A+ Gentle Care, tiga pak popok sekali pakai ukuran New Born, dan satu set baju bayi organik berwarna kuning pastel. Alamat pengirimannya bukan ke apartemen mewah kami di kawasan SCBD, melainkan ke sebuah perumahan kluster bernama Jasmine Residence di daerah Sawangan, Depok. Nama penerimanya tertulis jelas di sana: Larasati. Seorang wanita yang sama sekali tidak kukenal.

Napas duniaku seolah ditarik paksa keluar dari paru-paru. Selama tujuh tahun pernikahan kami yang dingin, ruang bayi di apartemen kami tetap kosong. Kami telah melewati tiga kali siklus IVF yang gagal, ratusan jarum suntik yang meninggalkan lebam biru di perutku, dan air mata yang mengering di bantal setiap kali hasil tes kehamilan kembali menunjukkan satu garis merah. Dananjaya selalu memelukku erat, berbisik bahwa dia tidak peduli jika kami hanya hidup berdua selamanya. Namun kini, di layar ponselku, suamiku secara rutin membelikan susu formula hipoalergenik untuk bayi milik wanita lain.

‘Ibu Sekar? Jadi pembayarannya mau dicoba lagi dengan kartu lain?’ Suara kasir itu memecah keheningan yang mendengung di kepalaku. Aku menatap tumpukan belanjaan itu dengan pandangan kabur. Keinginan untuk memasak makan malam mewah mendadak menguap, digantikan oleh rasa mual yang hebat yang naik ke tenggorokanku.

‘Ah, maaf. Saya batalkan saja semuanya. Ada urusan mendadak,’ bisikku lirih. Tanpa menunggu jawaban kasir atau memedulikan tatapan heran orang-orang di belakangku, aku berbalik dan melangkah setengah berlari menuju basemen parkir. Tanganku yang memegang kunci mobil berguncang begitu hebat hingga aku harus mencobanya tiga kali sebelum pintu Mazda CX-5 merahku terbuka.

Di dalam mobil yang kedap suara, aku membiarkan air mataku jatuh satu-satu ke atas kemudi kulit. Otakku berputar cepat, menyusun kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini kuanggap sebagai angin lalu. Aku teringat bagaimana Dananjaya sering kali pulang terlambat dengan alasan kemacetan menggila di tol Jagorawi setelah memantau proyek di Bogor. Aku teringat bau minyak telon bayi yang samar-samar tercium dari jas kerjanya beberapa bulan lalu, yang saat itu dia dalih sebagai sisa pelukan dari anak sepupunya yang baru lahir. Semuanya bohong. Semua kelembutan dan kesabarannya menghadapi depresiku karena mandul hanyalah sebuah topeng untuk menyembunyikan kehidupan lain yang utuh di luar sana.

Aku menyalakan mesin mobil. Alih-alih mengarahkan kemudi pulang ke arah Senopati, aku memasukkan alamat kluster di Sawangan itu ke dalam Google Maps. Jantungku berdegup kencang, menabuh dada dengan ritme yang menyakitkan saat aplikasi navigasi itu menunjukkan waktu tempuh satu jam empat puluh menit akibat kemacetan sore hari. Di sepanjang jalan tol, aku tidak menyalakan radio. Aku hanya ditemani oleh suara napasku sendiri yang patah-patah dan bayangan-bayangan mengerikan tentang apa yang akan kutemukan di ujung perjalanan ini.

Jalanan menuju Sawangan terasa panjang dan melelahkan, kontras dengan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang perlahan tergantikan oleh deretan ruko, warung kelontong, dan rimbunnya pohon-pohon pinggir jalan yang mulai menggelap diterpa senja. Ketika mobilku akhirnya berbelok memasuki gerbang Jasmine Residence, hari sudah sepenuhnya malam. Kluster itu tampak tenang, tipe perumahan kelas menengah ke atas yang asri dengan jalanan paving blok dan lampu-lampu taman yang temaram.

Aku memarkir mobilku sekitar tiga rumah dari alamat yang tertera di aplikasi. Di depan sebuah rumah dengan fasad minimalis bernuansa putih dan kayu, aku melihat mobil Honda CR-V hitam milik Dananjaya terparkir rapi di carport. Hatiku rasanya seperti dihantam godam besar. Spekulasi terakhirku bahwa mungkin ini hanyalah salah kirim atau akunnya diretas langsung hancur berkeping-keping. Mobil itu ada di sana. Suamiku ada di dalam rumah itu.

Aku tidak langsung turun. Aku mematikan lampu mobil dan duduk di dalam kegelapan, mengamati rumah itu dari balik kaca depan yang mulai berembun karena AC. Jendela ruang tamu yang besar ditutupi oleh tirai tipis, menampilkan siluet hangat dari lampu dalam yang berwarna kuning hangat. Beberapa saat kemudian, pintu depan terbuka. Seseorang keluar ke teras.

Itu Dananjaya. Dia tidak mengenakan kemeja kerja formalnya yang biasa kusetrika dengan rapi setiap pagi. Dia memakai kaus oblong abu-abu santai dan celana pendek kain, pakaian yang biasa dia kenakan saat kami bersantai di hari Minggu. Di lengannya, dia menggendong seorang bayi yang tampaknya baru berusia beberapa bulan. Dan di sampingnya, berdiri seorang wanita muda berambut panjang yang mengenakan daster rumahan yang sederhana namun tampak anggun. Wanita itu tersenyum lebar sambil membenarkan posisi selimut sang bayi, lalu menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu suamiku.

Pemandangan itu begitu indah, begitu domestik, dan begitu sempurna hingga membuatku merasa seperti seorang penyusup di dalam kehidupan mereka. Selama tujuh tahun, aku selalu memimpikan momen seperti ini terjadi di apartemen kami. Aku membayangkan Dananjaya menggendong anak kami, mengayunnya dengan penuh kasih sayang di bawah sinar matahari pagi. Namun sekarang, impian itu sedang berlangsung di depanku, diperankan oleh suamiku sendiri dengan wanita lain sebagai istrinya.

Air mataku berhenti mengalir. Rasa sakit yang luar biasa itu mendadak mengkristal menjadi kemarahan yang dingin dan sunyi. Aku mengambil ponselku, mengarahkan kamera ke arah teras rumah itu, dan mengambil beberapa foto serta video pendek dengan fokus yang sangat tajam. Aku merekam momen ketika Dananjaya mengecup kening wanita itu dengan lembut sebelum mereka kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

Aku menurunkan ponselku dengan tangan yang mati rasa. Rasa hancur ini begitu dalam hingga aku bahkan tidak memiliki energi untuk keluar dari mobil, menggedor pintu mereka, dan berteriak histeris seperti wanita-wanita dikhianati di dalam drama televisi. Aku terlalu berharga untuk pertunjukan murahan seperti itu. Dananjaya telah membangun sebuah istana ilusi di atas penderitaanku, dan aku akan memastikan istana itu runtuh dengan cara yang paling tidak dia duga.

Aku memutar balik mobilku, meninggalkan kluster sunyi itu tanpa membuat suara sedikit pun. Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta, kepalaku bekerja dengan dinginnya seorang ahli strategi perang. Aku tidak akan meminta cerai malam ini. Aku tidak akan menangis di depannya saat dia pulang besok pagi dengan sejuta kebohongan baru. Aku akan menunggu. Aku akan mengumpulkan setiap mutasi rekening, setiap bukti transaksi, dan setiap detail dari kehidupan ganda suamiku sampai tidak ada satu celah pun baginya untuk mengelak atau menyelamatkan asetnya.

Ketika aku akhirnya tiba kembali di apartemen kami yang sepi di Senopati, jam dinding telah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku berjalan ke kamar mandi, membersihkan sisa maskara yang luntur di pipiku, lalu mengenakan gaun tidur sutra terbaikku. Aku duduk di sofa ruang tamu yang gelap, menunggu kunci pintu apartemen berputar, menunggu pria yang kucintai setengah mati itu melangkah masuk dengan aroma bayi orang lain di tubuhnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url