Alunan Lagu di Spotify Melacak Pengkhianatan Suamiku dengan Adik Kandungku Sendiri
'Jangan sekarang, Dananjaya. Tolong jangan di sini,' bisikku pada layar ponsel yang menyala, sementara di sekelilingku, riuh rendah pengunjung Artisan Bakery di kawasan Senopati seolah tenggelam dalam dengung sunyi yang tiba-tiba menyerang kepalaku.
Gelas es kopi susu gandum di hadapanku sedikit terguncang ketika jemariku yang gemetar tak sengaja menyenggol tatakan kayu di bawahnya. Setetes cairan cokelat manis itu jatuh, mengotori ujung lengan kemeja linen broken white yang baru kubeli minggu lalu. Namun, fokusku tidak beralih sedikit pun. Mataku terpaku pada sebuah notifikasi pembaruan dari aplikasi Spotify Family Plan yang selama ini kukelola atas namaku sendiri.
Sebuah playlist kolaboratif baru saja diperbarui dua menit yang lalu. Judulnya sederhana namun menusuk: 'Sisa Rasi'. Pembuatnya adalah akun suamiku, Dananjaya, dan seorang kolaborator misterius bernama 'K_Aruna'. Dadaku berdegup kencang. K_Aruna adalah nama pena lama milik Kirana, adik kandungku sendiri, yang dia gunakan saat masih aktif di komunitas fotografi indie beberapa tahun lalu. Kirana, gadis berusia dua puluh tiga tahun yang baru saja lulus kuliah dan menumpang tinggal di paviliun belakang rumah kami dengan alasan menghemat biaya sewa kos.
Aku menggeser layar, membuka daftar lagu di dalam playlist tersebut. Lagu teranyar yang baru saja ditambahkan adalah sebuah lagu folk melankolis tentang kerinduan yang tak tersampaikan. Waktu penambahannya: pukul 14.15 WIB. Hari ini. Saat ini juga. Padahal, pagi tadi Dana pamit pergi ke Surabaya untuk urusan audit keuangan klien penting selama tiga hari. Dia bahkan mencium keningku dengan lembut sebelum melangkah ke dalam taksi bandara pada pukul enam pagi.
Napas duniaku mendadak terasa sempit. Jika Dana sedang berada di dalam pesawat atau sibuk dalam rapat tertutup di Surabaya, bagaimana mungkin dia sempat memperbarui playlist intim ini bersama Kirana? Dan mengapa lagu yang dipilih memiliki deskripsi singkat yang ditulis oleh Dana: 'Untuk malam-malam hangat di paviliun bawah'?
Pikiranku melayang pada kejadian-kejadian kecil beberapa bulan terakhir. Wangi parfum vanilla yang manis—aroma khas Kirana—yang lamat-lamat tercium di jok depan mobil Dana. Sikap adikku yang tiba-tiba menjadi sangat rajin menyeduh kopi hitam tanpa gula setiap kali Dana pulang larut malam. Hingga tatapan mata mereka yang terlalu lama bertemu di meja makan, yang kala itu kuanggap sebagai keakraban biasa antara ipar.
Bodoh. Aku benar-benar perempuan paling bodoh di dunia. Aku yang membiayai kuliah Kirana setelah orang tua kami tiada, aku yang membujuk Dana agar mengizinkannya tinggal bersama kami, dan kini aku pula yang membentangkan karpet merah bagi pengkhianatan mereka.
Dengan tangan yang masih gemetar, aku mencoba mencari tahu lokasi terakhir masuk akun Spotify Dana melalui pengaturan keamanan keluarga yang tersambung di ponselku. Layar memproses pencarian selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Ketika titik koordinat itu muncul di peta digital, jantungku seakan berhenti berdetak.
Lokasi perangkat Dana berada di radius kurang dari lima puluh meter dari tempatku duduk sekarang. Dia tidak berada di Surabaya. Dia berada di Senopati.
Aku mengangkat wajah, memindai sekeliling kafe yang didominasi kaca besar dan tanaman hias gantung. Pandanganku menyapu setiap sudut, melewati deretan meja kayu yang diisi oleh para pekerja kantoran dan sekumpulan anak muda modis Jakarta. Dan di sana, di sudut paling belakang yang terhalang oleh pot monstera raksasa, aku melihat mereka.
Dananjaya duduk berhadapan dengan Kirana. Dana mengenakan kaos polo kasual berwarna hitam—bukan kemeja formal yang dia siapkan di koper pagi tadi. Kirana mengenakan dress musim panas berwarna kuning pastel, rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai. Mereka berdua begitu dekat, hampir tanpa jarak. Dana sedang membisikkan sesuatu ke telinga Kirana, membuat adik kandungku itu tertawa kecil sembari mencubit manja lengan suamiku.
Rasa mual yang hebat langsung menghantam lambungku. Rasa sakitnya begitu nyata, seolah ada sebilah pisau tumpul yang diputar perlahan di dalam dadaku. Ini bukan lagi sekadar kecurigaan. Ini adalah kenyataan pahit yang telanjang di depan mataku sendiri.
Aku memperhatikan bagaimana jemari Dana dengan lembut merapikan anak rambut Kirana yang menghalangi wajahnya. Sentuhan yang begitu intim, sentuhan yang dahulu membuatku merasa menjadi wanita paling dicintai di dunia. Kini, sentuhan itu terasa seperti racun yang mematikan.
Aku bangkit berdiri. Lututku terasa lemas, seolah tak mampu menopang berat badanku sendiri. Logikaku berteriak agar aku berlari ke sana, menyiramkan sisa es kopi di tanganku ke wajah mereka, dan meneriakkan semua makian yang layak mereka terima di depan umum. Namun, darah bangsawan Jawa yang mengalir dari mendiang ibuku menuntutku untuk tetap anggun, bahkan di saat duniaku sedang runtuh berkeping-keping.
Aku tidak boleh terlihat menyedihkan. Aku tidak boleh hancur di depan mereka tanpa rencana yang matang.
Aku menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungku yang menggila. Sambil menatap ke arah meja mereka dari kejauhan, aku membuka kembali aplikasi Spotify di ponselku. Aku mengetikkan sebuah judul lagu di kolom pencarian. Sebuah lagu klasik dari dekade lalu tentang perpisahan dan karma yang tak terhindarkan.
Aku menekan tombol 'tambahkan ke playlist'. Aku memasukkannya ke dalam playlist 'Sisa Rasi'.
Hanya dalam hitungan detik, aku melihat ponsel Dana yang tergeletak di atas meja kafe menyala. Di saat yang bersamaan, ponsel Kirana di samping cangkir tehnya juga bergetar. Mereka berdua tertegun, menatap layar ponsel masing-masing dengan ekspresi bingung yang perlahan berubah menjadi kepanikan yang nyata. Mereka menyadari bahwa pemilik akun utama—aku—baru saja mengirimkan pesan tanpa suara melalui lagu yang baru saja kutambahkan.
Aku melangkah perlahan keluar dari area kafe, membiarkan pintu kaca berdenting halus di belakangku, siap merajut jaring-jaring pembalasan yang tidak akan pernah mereka bayangkan sebelumnya.