Suamiku Bilang Dinas ke Bandung, tapi History GoCar di Tablet Ini Membocorkan Rahasia yang Membuatku Mati Rasa
'Kamu tahu tidak, Dan, kalau akun Spotify Duo itu tidak bisa dipakai untuk dua orang yang alamat rumahnya berbeda?' Amara bertanya dengan nada suara yang terlampau tenang, hampir seperti seorang kurator seni yang sedang menjelaskan lukisan abstrak kepada pengunjung awam. Suaranya yang dingin di tengah riuhnya kafe estetik di kawasan Senopati itu membuat Dananjaya menghentikan gerakan jemarinya yang sedang mengetik di atas keyboard laptop. Pria itu mendongak, menatap istrinya dengan senyum tipis yang tampak dipaksakan, sebuah senyuman yang biasanya ia gunakan untuk menenangkan klien-klien korporat yang mulai rewel.
'Maksud kamu apa, Sayang? Aku kurang paham,' jawab Dananjaya, mencoba menjaga intonasi suaranya tetap hangat dan stabil. Namun, Amara bisa melihat kerutan halus di dahi suaminya, sebuah tanda kecemasan kecil yang hanya bisa ditangkap oleh seseorang yang telah hidup bersamanya selama tujuh tahun. Amara tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser sebuah tablet sepuluh inci yang layarnya masih menyala ke tengah meja kayu oak di antara mereka. Di layar itu, terpampang rincian tagihan langganan Spotify Premium Duo yang baru saja diperbarui secara otomatis dua hari lalu.
Pengkhianatan sejati tidak pernah datang dengan gemuruh badai atau klise yang biasa kita tonton di televisi. Tidak ada noda lipstik di kerah kemeja, tidak ada aroma parfum asing yang tertinggal saat Dananjaya pulang larut malam, dan tidak ada notifikasi mencurigakan yang sengaja disembunyikan di layar ponselnya yang terkunci rapat. Semuanya berawal dari hal yang sangat sepele: sebuah mutasi rekening dari kartu kredit sekunder milik Amara yang sudah lama tidak ia gunakan, namun masih terhubung sebagai metode pembayaran utama pada akun Apple ID di tablet lama yang ia hadiahkan untuk Dananjaya tiga tahun lalu. Ada transaksi otomatis sebesar tujuh puluh sembilan ribu rupiah untuk langganan Spotify Duo, sesuatu yang aneh karena Amara sendiri selalu menggunakan akun Spotify Family bersama adik-adiknya.
Rasa penasaran yang awalnya biasa saja menuntun Amara untuk membuka aplikasi Spotify di tablet tersebut. Di sana, di bawah profil utama bernama Dananjaya, terdapat undangan Duo yang telah diterima oleh sebuah akun dengan nama pengguna 'Kiki_Dan'. Sudut bibir Amara bergetar saat ia menyadari bahwa akun itu tidak hanya berbagi biaya langganan dengan suaminya, tetapi juga berbagi sebuah ruang digital yang sangat intim. Mereka memiliki sebuah playlist kolaboratif berjudul 'Our Escape' yang berisi hampir dua ratus lagu indie folk bernuansa melankolis—jenis musik yang selalu diklaim Dananjaya sebagai musik berisik yang membuatnya pusing setiap kali Amara memutarnya di mobil.
Namun yang membuat napas Amara benar-benar tercekat adalah gambar sampul playlist tersebut. Itu bukan gambar acak dari internet, melainkan sebuah ilustrasi digital custom bergaya minimalis yang memperlihatkan siluet sepasang kekasih yang sedang menikmati kopi di sebuah balkon dengan latar belakang pemandangan malam kota Bandung dari ketinggian. Amara sangat mengenali goresan kuas digital itu. Gaya ilustrasi dengan palet warna pastel yang khas, detail garis tipis pada siluet wanitanya, hingga watermark kecil di sudut kanan bawah yang nyaris tak terlihat: 'Ki.Art'. Itu adalah karya Kirana. Sahabat terbaiknya sejak masa kuliah di ITB, perempuan yang memegang gaun pengantin Amara saat ia melangkah ke pelaminan, dan orang pertama yang memeluknya erat-erat di koridor rumah sakit saat Amara mengalami keguguran tahun lalu.
Amara mengingat kembali setiap detail dari beberapa bulan terakhir. Rasa perih mulai menjalar dari ulu hatinya, menjalar ke seluruh pembuluh darahnya hingga membuat ujung-ujung jarinya terasa dingin. Ia membuka aplikasi browser di tablet tersebut, memeriksa riwayat pencarian yang tersinkronisasi, dan menemukan sesuatu yang lebih konkret dari sekadar daftar putar lagu romantis. Ada belasan email konfirmasi perjalanan GoCar yang dikirimkan ke alamat email bisnis Dananjaya. Semua perjalanan itu memiliki pola yang sama: penjemputan dari Stasiun Bandung menuju ke sebuah kompleks kondominium mewah di kawasan Dago Pakar bernama 'The Emerald Pavilion'. Kompleks yang sama tempat Kirana menyewa sebuah unit studio untuk studio desain grafisnya sejak awal tahun ini.
Semua perjalanan itu terjadi pada akhir pekan, tepat pada hari-hari di mana Dananjaya berpamitan kepada Amara untuk melakukan 'site inspection' atau 'pertemuan klien penting' di Cirebon dan Semarang. Pria itu selalu beralasan bahwa ia harus pergi sendiri karena timnya sedang sibuk dengan proyek lain. Amara, dengan segala kepatuhan dan rasa percayanya yang buta, selalu menyiapkan kemeja terbaik suaminya, menyetrikanya dengan rapi, dan menyelipkan doa di setiap pelukan keberangkatan mereka di pintu depan rumah. Kini, semua ingatan itu berputar kembali dalam benak Amara bagaikan potongan film hitam-putih yang mengerikan.
'Ini hanya akun bersama untuk keperluan kantor, Amara,' ujar Dananjaya akhirnya, suaranya kini terdengar sedikit lebih berat, mencoba mencari pembenaran logis yang bisa menyelamatkan dirinya. 'Kamu tahu sendiri kan, Kirana sering membantu agensi kami untuk urusan visual branding proyek hotel di Bandung. Kami sering bertukar referensi musik untuk video presentasi klien. Itu hanya hal profesional, tidak lebih. Jangan terlalu berlebihan berpikir yang tidak-tidak.'
Amara menatap suaminya dengan tatapan kosong, jenis tatapan yang membuat Dananjaya mendadak kehilangan kata-kata selanjutnya. 'Profesional?' bisik Amara, suaranya sangat lirih namun sarat akan kepedihan yang mendalam. 'Apakah profesional juga termasuk perjalanan GoCar jam sebelas malam dari stasiun langsung ke unit kondominiumnya Kirana? Apakah profesional juga berarti kalian mendengarkan lagu 'Our Escape' ini bersama-sama di balkon lantai dua belas sambil memandang lampu kota Bandung, sementara di sini aku sedang menangis sendirian di kamar bayi kita yang kosong, meratapi hilangnya calon anak kita?'
Suasana di sekitar mereka seolah membeku seketika. Riuh rendah percakapan pengunjung kafe lain dan denting sendok garpu yang beradu seakan lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam di meja mereka. Wajah Dananjaya yang tadinya tenang kini perlahan memucat. Ia mencoba meraih tangan Amara yang berada di atas meja, namun dengan gerakan perlahan namun tegas, Amara menarik tangannya menjauh. Ia tidak ingin disentuh oleh jemari yang mungkin beberapa hari lalu baru saja membelai rambut sahabatnya sendiri.
'Amara, dengarkan aku dulu...' suara Dananjaya mulai bergetar, pertahanannya runtuh saat menyadari bahwa istrinya tidak sedang menuduh berdasarkan asumsi belaka, melainkan telah memegang bukti-bukti nyata yang tak terbantahkan. 'Aku bisa jelaskan semuanya. Itu... itu semua khilaf. Kami tidak berniat untuk melukaimu. Kirana hanya... dia selalu ada di sana saat aku merasa sangat tertekan dengan semua masalah kita setelah kita kehilangan bayi kita. Aku merasa gagal menjadi suami untukmu, dan Kirana...'
'Jangan pernah berani menyebut nama anak kita yang sudah tiada sebagai alasan busuk untuk pengkhianatan kalian!' potong Amara dengan nada yang naik satu oktav, namun ia segera mengendalikannya agar tidak menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini perlahan luruh, membasahi pipinya yang pucat, namun matanya tetap menatap tajam langsung ke dalam manik mata suaminya. 'Kalian berdua adalah dua orang yang paling aku percayai di dunia ini. Dan kalian memilih untuk menusukku dari belakang dengan cara yang paling menjijikkan.'
Amara membuka tas tangannya yang diletakkan di kursi sebelah, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna abu-abu yang awalnya ia siapkan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang kedelapan minggu depan. Di dalamnya, tidak ada jam tangan mewah atau perhiasan mahal. Hanya ada kunci cadangan apartemen Kirana di Bandung—yang sempat dititipkan kepada Amara saat Kirana pergi ke luar negeri bulan lalu—beserta cincin pernikahan emas putih milik Amara yang sudah ia lepaskan dari jari manisnya sejak malam ketika ia pertama kali menemukan playlist misterius itu di tablet Dananjaya.
Ia meletakkan kotak beludru itu tepat di atas layar tablet yang masih menampilkan daftar lagu 'Our Escape'. Cahaya dari layar tablet menembus kotak transparan itu, memantulkan kilau emas putih yang kini terasa begitu dingin dan tidak berarti lagi bagi Amara. 'Pergilah ke Bandung menemui dia, Dan. Katakan pada Kirana bahwa dia tidak perlu lagi menggambar siluet kalian secara sembunyi-sembunyi. Mulai hari ini, kalian bebas melakukan apa saja yang kalian inginkan tanpa harus bersembunyi di balik nama akun Spotify Duo atau riwayat perjalanan GoCar palsu ini,' ucap Amara dengan suara yang kini benar-benar datar, tanpa emosi, menandakan akhir dari segala rasa yang pernah ada dalam hatinya untuk pria di hadapannya itu.