Log Pintu Digital Rumah Kami Terbuka Tengah Malam, Dan Nama Akun Spotify Itu Bukan Milikku

Log Pintu Digital Rumah Kami Terbuka Tengah Malam, Dan Nama Akun Spotify Itu Bukan Milikku

Skandal & Pengkhianatan

Log Pintu Digital Rumah Kami Terbuka Tengah Malam, Dan Nama Akun Spotify Itu Bukan Milikku



Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen di restoran hotel bintang lima itu mendadak terdengar seperti lonceng kematian di telinga Larasati. Di seberang meja kayu mahoni yang dipoles berkilau, suaminya, Dananjaya, sedang tertawa lebar. Danan baru saja menyelesaikan lelucon jenaka tentang masa kuliah mereka dulu, membuat ibu mertua Laras terpingkal-pingkal sambil menepuk lengan putranya dengan bangga. Di sebelah Danan, duduk Kirana, sahabat karib Laras sejak semester pertama di Fakultas Seni Rupa. Kirana tersenyum manis, jemarinya yang lentik dengan cat kuku berwarna nude mengaduk es teh leci dengan gerakan anggun yang teramat biasa Laras lihat.

Bagi siapa pun yang memandang dari meja sebelah, mereka adalah potret keluarga kelas menengah atas Jakarta yang sempurna. Danan yang tampan dengan kemeja batik tulis sutra, Laras yang tampak bersahaja namun elegan dengan blus tenun ikat, dan Kirana yang selalu tampil modis sebagai desainer grafis sukses yang sudah dianggap seperti bagian dari keluarga sendiri. Namun, di bawah meja, tepat di atas pangkuan Laras, jemari wanita itu bergetar hebat. Layar ponselnya yang sengaja disembunyikan di balik serbet makan masih menyala, menampilkan antarmuka aplikasi smart-home Oasis Home yang baru saja dia perbarui sore tadi.

Laras tidak sengaja membukanya. Dia hanya ingin memeriksa apakah sistem penyiram tanaman otomatis di halaman belakang rumah mereka di kawasan BSD berfungsi dengan baik selama mereka ditinggal pergi. Namun, ketika jarinya menyentuh tab riwayat aktivitas pintu utama, sesuatu yang janggal menarik perhatiannya. Ada catatan akses masuk menggunakan kode PIN tamu sementara pada pukul 23.47, tepat tiga hari yang lalu, saat Laras sedang berada di Yogyakarta untuk urusan kurasi pameran seni. Kode PIN itu diberi label K-Project Office oleh Danan. Laras tahu betul bahwa K-Project adalah proyek renovasi kantor hukum milik Danan yang sudah selesai dua bulan lalu. Mengapa kodenya baru dibuat dan digunakan minggu ini?

Kecurigaan itu menuntun Laras untuk membuka riwayat aplikasi lain yang terintegrasi dengan ekosistem rumah pintar mereka: Spotify Family. Di sana, tertera aktivitas pemutaran musik di speaker Sonos ruang tidur utama mereka pada jam yang hampir bersamaan dengan terbukanya pintu pintar tersebut. Lagu yang diputar adalah Sore di Tebet, sebuah lagu indie melow yang sangat dibenci Danan karena dianggap terlalu mendayu-dayu. Namun, lagu itu adalah lagu favorit Kirana. Lebih hancur lagi perasaan Laras saat melihat nama perangkat yang mengontrol pemutaran musik malam itu: iPhone-Kiki. Kiki adalah nama panggilan masa kecil Kirana yang hanya digunakan oleh orang-orang terdekatnya. Termasuk Danan.

Laras mengangkat pandangannya dari layar ponsel yang terasa membakar kulit tangannya. Dia menatap Danan yang kini sedang sibuk memotongkan daging steak untuk ibunya. Pria itu begitu perhatian, begitu hangat, persis seperti pria yang dinikahinya empat tahun lalu di sebuah resor mewah di Bali. Laras mengingat bagaimana Danan menggenggam tangannya di hadapan ratusan tamu, berjanji untuk menjaga kesucian rumah tangga mereka di bawah langit senja. Kini, janji itu rasanya seperti abu yang ditiup angin, menyisakan rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya.

Apakah kamu mau tambah pencuci mulutnya, Laras? Kamu dari tadi diam saja, tidak disentuh sama sekali saladnya, tanya ibu mertuanya dengan nada yang terdengar seperti perhatian, namun selalu menyisipkan penilaian dingin di baliknya. Laras memaksakan sebuah senyuman tipis, menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di dalam dadanya. Tidak, Ma. Laras masih agak kenyang. Tadi sebelum ke sini sempat makan camilan sedikit di galeri, jawab Laras dengan suara sekondusif mungkin, meski setiap suku kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti duri yang menyiksa.

Kirana menatap Laras dengan mata bulatnya yang jernih. Tatapan yang selama sepuluh tahun ini Laras percayai sebagai simbol ketulusan seorang sahabat sejati. Ras, kamu kelihatan capek banget. Apa kurasi pameran di Jogja kemarin bener-bener menguras energi? Jangan terlalu diforsir dong, kasihan Danan kalau istrinya sakit terus, ucap Kirana dengan nada manja yang terdengar sangat natural. Laras merasakan lambungnya bergolak. Dia ingin sekali berteriak, melemparkan gelas kristal di depannya ke wajah Kirana, lalu menanyakan apa yang dilakukan sahabatnya itu di kamar tidurnya pada pukul setengah dua belas malam ketika dia tidak ada di rumah.

Namun, Larasati bukan wanita yang gegabah. Bertahun-tahun bergelut di dunia seni dan menghadapi berbagai karakter klien kelas atas membuatnya belajar satu hal penting: emosi yang meledak-ledak hanya akan membuat lawan bersiap untuk bertahan atau menyerang balik. Jika dia ingin menghancurkan kebohongan ini, dia harus melakukannya dengan ketenangan seorang seniman yang sedang menggoreskan kuas di atas kanvas kosong. Dia harus mengumpulkan setiap kepingan bukti hingga tidak ada satu celah pun bagi mereka untuk mengelak.

Iya, Ki. Lumayan menguras tenaga. Tapi untungnya semua berjalan lancar. Danan juga banyak bantu lewat telepon, kok, kata Laras sambil melirik suaminya. Danan hanya tersenyum tipis, lalu mengusap punggung tangan Laras dengan lembut di atas meja. Sentuhan yang biasanya menghangatkan hati Laras kini terasa seperti sengatan listrik dingin yang menjijikkan. Laras menahan diri untuk tidak menarik tangannya dengan kasar. Dia membiarkan Danan memainkan jemarinya, berpura-pura menjadi istri yang patuh dan penuh kasih sayang.

Setelah makan malam yang terasa seperti siksaan tanpa akhir itu selesai, mereka berjalan menuju area parkir valet hotel. Danan merangkul pinggang Laras dengan posesif, sementara Kirana berjalan di sisi lain sambil mengobrol ringan dengan ibu mertua Laras. Di bawah lampu lobi hotel yang temaram, Laras memperhatikan interaksi kecil antara suaminya dan sahabatnya. Bagaimana mata Danan sesekali melirik ke arah gaun satin hijau botol yang dikenakan Kirana, atau bagaimana Kirana dengan sengaja menyapukan jarinya ke bahu Danan saat berpamitan untuk masuk ke dalam taksi online-nya.

Detail-detail kecil yang selama ini dianggap Laras sebagai keakraban biasa antara suami dan sahabat kini tampak seperti potongan teka-teki gambar yang mulai menyatu membentuk sebuah lukisan pengkhianatan yang mengerikan. Mengapa dia bisa sebodoh ini selama berbulan-bulan? Mengapa dia membiarkan Kirana memiliki akses bebas masuk ke apartemen mereka dengan dalih membantu mendekorasi ulang ruang kerja Danan? Pikiran-pikiran itu terus berputar di kepala Laras sepanjang perjalanan pulang ke rumah mereka di BSD.

Di dalam mobil, keheningan malam terasa begitu pekat. Danan sesekali bersenandung kecil mengikuti lagu jazz yang mengalun dari radio mobil. Dia tampak sangat tenang, seolah tidak ada dosa besar yang sedang disembunyikannya di balik senyum menawan itu. Laras memandang ke luar jendela, menatap lampu-lampu jalan tol Jakarta-Tangerang yang berpendar cepat bagai kilasan memori masa lalu mereka yang kini terasa hambar.

Kamu capek banget ya, Sayang? Kok dari tadi merem terus? tanya Danan sambil memindahkan gigi mobil saat mereka keluar dari gerbang tol. Laras membuka matanya perlahan, menoleh ke arah suaminya yang profil wajahnya tersorot lampu jalanan. Hanya sedikit pusing, Danan. Mungkin kurang tidur saja selama di Jogja kemarin, jawab Laras lembut, nada suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar sangat rapuh dan membutuhkan perlindungan.

Nanti sampai rumah langsung istirahat ya. Aku buatkan teh chamomile hangat buat kamu, kata Danan dengan nada suara yang begitu manis. Manis yang kini terasa seperti racun bagi Laras. Dia hanya mengangguk pelan, lalu kembali membuang pandangannya ke luar jendela. Di dalam kepalanya, rencana demi rencana mulai tersusun rapi. Laras tahu, konfrontasi langsung hanya akan membuat Danan menghapus semua bukti digital dan memutarbalikkan fakta dengan kemampuan bicaranya sebagai seorang pengacara andal.

Sesampainya di rumah, Laras sengaja berjalan lambat di belakang Danan. Saat pintu utama terbuka dengan bunyi klik mekanis dari smart-lock, Laras menatap gagang pintu itu dengan pandangan dingin. Di sinilah, tiga malam yang lalu, Kirana memasukkan kode PIN yang diberikan suaminya. Di sinilah mereka melangkah masuk, melewati ruang tamu, menuju lantai dua, ke dalam ruang paling pribadi yang seharusnya hanya milik Laras dan Danan.

Laras berjalan menuju dapur, memperhatikan Danan yang dengan telaten merebus air dan menyiapkan cangkir teh untuknya. Punggung pria itu tampak begitu kokoh. Laras mendekat, memeluk Danan dari belakang, menenggelamkan wajahnya di punggung suaminya. Danan sedikit terkejut, namun kemudian terkekeh pelan dan mengusap tangan Laras yang melingkar di perutnya. Ada apa, hm? Manja banget malam ini, bisik Danan hangat.

Aku cuma kangen sama kamu, Danan. Rasanya lama banget kita gak benar-benar berdua seperti ini, bohong Laras, sementara matanya menatap tajam ke arah ponsel Danan yang diletakkan di atas meja konter dapur dengan layar menghadap ke atas. Laras tahu bahwa dia harus mendapatkan ponsel itu. Dia harus mencari tahu seberapa jauh pengkhianatan ini telah berjalan, dan sudah berapa lama istana pasir yang dibangunnya dengan penuh cinta ini sebenarnya telah runtuh dari dalam.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url