Dua Ribu Empat Ratus Hari Menikah, Baru Hari Ini Aku Tahu Kartu Akses Perumahan Mewah Suamiku Atas Nama Sahabatku Sendiri
'Tolong tahan pintu lifnya sebentar!' bisik Sekar dengan napas memburu, tepat sebelum jemarinya yang mengenakan cincin titanium bertuliskan ukiran serupa milik suamiku menyelip di antara sensor pintu besi yang hampir tertutup rapat. Aku berdiri membeku di sudut kabin lif gedung perkantoran megah itu, menatap jemari halus Sekar yang selama lima tahun terakhir selalu kupeluk setiap kali dia menangis menceritakan nasib kemalangannya sebagai janda muda tanpa anak.
Sekar tidak menyadari kehadiranku karena kacamata hitam besar yang kukenakan serta posisiku yang terhalang oleh dua pria bersetelan jas. Dia sibuk merapikan tatanan rambutnya di cermin dinding lif, sambil mengusap lembut perutnya yang tampak sedikit membuncit di balik gaun rajut warna krem. Ketika ponselnya berdering, dia menjawabnya tanpa ragu dengan nada suara yang sangat kukenal, nada suara bermanja yang biasa kudengar dari balik pintu kamar mandi rumahku.
'Iya, Mas Tirta... aku sudah sampai di lantai bawah. Kartu akses kluster Residence Hill yang kamu titipkan kemarin malam ketinggalan di meja riasku. Nanti malam kamu yang tap sendiri ya pas pulang dari rumah Gendis?' ujar Sekar dengan tawa kecil yang amat renyah. Suara di ujung telepon—suara Tirta, pria yang tadi pagi mencium keningku sebelum berangkat kerja—terdengar bergumam protektif, mengingatkan Sekar untuk tidak lupa meminum vitamin hamilnya.
Jantungku serasa dihantam godam raksasa hingga tak tersisa bentuknya. Kakiku lemas, namun lidahku terlalu kufur untuk memekik. Udara di dalam lif yang dipenuhi wewangian aromaterapi mendadak terasa begitu beracun, menyumbat setiap rongga pernapasanku hingga aku harus memegang erat pegangan besi di dinding belakang lif agar tidak ambruk ke lantai.
Penemuan ini bukan berawal dari noda lipstik di kerah kemeja atau pesan singkat mesra di aplikasi percakapan yang biasa ada di serial drama TV. Semuanya bermula dari sebuah kecerobohan kecil saat sistem perbankan suamiku mengalami pembaruan rutin akhir bulan lalu. Sebagai orang yang memegang kendali atas pembukuan usaha konveksi keluarga yang kami bangun dari nol, aku menerima rekapan auto-debet tagihan bulanan kartu e-money milik Tirta.
Di sana, tertera sebuah transaksi berulang yang sangat ganjil. Setiap tanggal 14, tepat pukul 02.15 dini hari, ada pembayaran berkala sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah untuk iuran pengelolaan lingkungan dan akses kartu gerbang otomatis di sebuah perumahan elit kawasan Selatan, tempat yang sama sekali tidak pernah kami kunjungi. Saat kuperiksa detail nomor registrasi kendaraan pada sistem gatehouse kluster tersebut melalui bantuan temanku yang bekerja di bagian properti, nama pemilik kendaraan yang terdaftar adalah Sekar Pradipta, sementara penanggung jawab rekening tagihannya adalah Tirta Dananjaya.
Selama ini, aku menganggap Sekar sebagai adik kandungku sendiri. Saat suaminya meninggal dunia dalam kecelakaan tiga tahun lalu, akulah yang memeluknya paling erat. Akulah yang menyuruh Tirta membantu mengurus berkas klaim asuransinya, akulah yang membawakan makanan ke rumah kontrakan sempitnya setiap akhir pekan, dan akulah yang meminjamkan modal tanpa bunga agar dia bisa membuka usaha katering kecil-kecilan.
Namun, hari ini, di dalam lif yang bergerak turun menuju basement ini, kenyataan pahit itu menghantamku tanpa belas kasihan. Mereka berdua tidak hanya berselingkuh di belakangku. Mereka telah membangun sebuah kehidupan ganda yang teratur, mewah, dan rapi di balik penderitaanku yang sibuk memutar otak menghemat anggaran operasional pabrik.
Ketika lif sampai di lantai LG, Sekar melangkah keluar dengan anggun tanpa pernah menoleh ke belakang. Aku mengikutinya dari jarak aman. Langkah kakinya membawaku menuju sebuah mobil SUV putih keluaran terbaru—mobil yang bulan lalu diklaim Tirta sebagai kendaraan operasional kantor cabang luar kota. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Tirta turun dari kursi pengemudi, membukakan pintu untuk Sekar, dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir wanita itu sebelum mengusap lembut perutnya.
Duniaku hancur berantakan di antara tiang-tiang beton parkiran basement yang dingin. Rasa mual meluap hingga ke tenggorokan. Tujuh tahun pernikahan yang kupikir dilandasi rasa saling percaya dan perjuangan dari bawah, ternyata hanyalah panggung sandiwara di mana aku berperan sebagai penyokong dana utama untuk kebahagiaan mereka berdua.
Aku memundurkan langkah, bersembunyi di balik pilar besar ketika mobil SUV itu perlahan meluncur keluar menuju pintu pembayaran parkir. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya menetes, dingin dan menyengat kulit pipiku. Namun, bersamaan dengan jatuhnya tetes air mata itu, rasa sedih yang mendalam mendadak menguap, berganti menjadi sebuah kemarahan yang amat dingin dan terukur.
Tirta lupa satu hal penting. Seluruh aset, lisensi merek dagang, dan surat kepemilikan tanah pabrik konveksi yang selama ini membiayai gaya hidup mewahnya berdiri sepenuhnya atas namaku dan warisan almarhum ayahku. Pria itu hanyalah seorang direktur operasional yang kuangkat karena rasa cintaku yang buta.
Aku mengambil ponsel dari dalam tas, mengusap layar yang basah oleh air mata, lalu memanggil nomor Dananjaya, seorang pengacara senior sekaligus sepupu kandungku yang paling disegani di dunia hukum bisnis. Saat suara Dananjaya menyapa di ujung telepon, aku mengatur napasku agar terdengar sangat tenang.
'Mas Danan,' kataku dengan nada suara paling datar yang pernah kubuat sepanjang hidupku. 'Bisa kita bertemu sekarang? Aku butuh bantuanmu untuk mencabut seluruh kuasa hukum, memblokir seluruh rekening operasional atas nama suamiku, dan menyiapkan berkas gugatan yang tidak akan menyisakan selembar benang pun di badannya.'
Hari itu, aku menyadari bahwa menangis tidak akan pernah mengembalikan waktu yang telah dicuri. Jika Tirta dan Sekar pikir mereka bisa merampas kebahagiaanku dan membawa lari masa depanku dengan cara sejahat ini, maka mereka harus siap merasakan bagaimana rasanya dilempar kembali ke kubangan kemiskinan yang dulu menyatukan kami.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, akulah yang memegang seluruh kendali papan caturnya.