Aku Menemukan Nama Perempuan Lain di Playlist Spotify Milik Tunanganku, dan Itu Bukan Sekadar Kebetulan Biasa
Cangkir keramik berisi latte dingin itu mulai mengembun, menciptakan lingkaran air yang membasahi meja kayu di hadapan Sekar. Di tengah riuh rendah suara percakapan pengunjung kafe di area Senopati yang selalu padat, Sekar hanya terpaku pada layar ponselnya. Sebuah notifikasi muncul, kecil namun cukup tajam untuk mengiris ketenangannya: 'Widyazz added a song to Our Infinite Loop'.
Jantung Sekar berdegup tidak keruan. Playlist itu adalah ruang suci yang ia buat bersama Elang lima tahun lalu, saat mereka masih duduk di bangku kuliah dan merayakan cinta dengan saling berbagi lagu-lagu indie yang melankolis. Selama lima tahun, tidak ada orang ketiga yang pernah menyentuh daftar putar itu. Elang selalu bilang bahwa playlist itu adalah arsip perjalanan cinta mereka yang tidak boleh dikotori oleh telinga orang lain. Namun sekarang, nama Widya ada di sana, bertengger dengan angkuh di samping judul lagu yang baru saja ditambahkan: 'Sesuatu di Jogja'.
Widya. Nama itu tidak asing. Elang memperkenalkannya sebagai sepupu jauh dari Yogyakarta yang baru saja pindah ke Jakarta untuk mengejar karier di bidang agensi periklanan. 'Kasihan dia, Kar. Nggak punya siapa-siapa di sini. Paling aku cuma bantu-bantu cari kosan atau antar dia beli keperluan kantor,' begitu dalih Elang tiga bulan lalu saat Sekar mendapati mereka makan siang berdua di sebuah mal. Sekar, dengan segala kebaikannya, memilih untuk percaya. Dia bahkan sempat membawakan Widya bika ambon saat pulang dari kunjungan kerja di Medan.
Namun, jempol Sekar tidak bisa berhenti bergerak. Ia membuka profil Spotify milik Widya. Di sana, di bawah kolom 'Recently Played', berderet lagu-lagu yang sangat ia kenal. Lagu-lagu yang sering diputar Elang saat mereka sedang berkendara malam hari di sepanjang jalan Sudirman. Napas Sekar mulai terasa pendek. Ada rasa sesak yang merayap dari ulu hati hingga ke tenggorokan. Ia mencoba menenangkan diri, mungkin ini hanya kesalahan teknis. Mungkin Elang tidak sengaja membagikan tautan playlist itu kepada Widya.
Tapi logika Sekar segera membantah. Menambahkan lagu ke dalam playlist kolaboratif membutuhkan persetujuan atau setidaknya akses yang sengaja diberikan. Ia lalu teringat sesuatu. Semalam, Elang meminjamkan laptopnya untuk Sekar menyelesaikan desain grafis pesanan klien karena MacBook-nya sedang diperbaiki. Elang sudah tertidur pulas saat itu, kelelahan setelah katanya habis lembur di kantor.
Sekar menutup aplikasi Spotify dan membuka catatan kecil di otaknya yang berisi kecurigaan-kecurigaan yang selama ini ia tekan dalam-dalam. Ia ingat, seminggu yang lalu, Elang mengeluh terjebak macet total di daerah TB Simatupang selama tiga jam. Namun, pagi ini saat Sekar secara iseng mengecek riwayat transaksi e-wallet di tablet Elang yang tertinggal di apartemen, ia menemukan sesuatu yang janggal. Ada transaksi pembayaran e-toll di Gerbang Tol Gorda pada jam sepuluh malam. Gorda adalah akses menuju kawasan peristirahatan yang jauh dari rute kantor Elang.
Sekar merasa seperti sedang menyusun puzzle yang gambarnya tidak ingin ia lihat. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Ia tidak boleh gegabah. Elang adalah pria yang sangat rapi. Dia selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan Sekar. Jika Sekar bertanya sekarang, Elang pasti akan menemukan alasan masuk akal, seperti 'Oh, aku antar Widya karena dia takut pulang malam sendirian'.
Sekar memutuskan untuk melakukan langkah yang lebih berani. Ia memesan ojek daring menuju apartemen Widya. Ia tahu alamatnya karena ia sendiri yang membantu mencarikan unit di daerah Kuningan itu. Di perjalanan, angin Jakarta yang panas menerpa wajahnya, namun Sekar merasa dingin yang luar biasa. Ia terus menatap layar ponselnya, memantau playlist itu. Satu lagu lagi ditambahkan oleh Widya: 'Untungnya, Kita Melupakan' dari Donne Maula. Judul yang seolah menjadi ejekan langsung ke wajah Sekar.
Sesampainya di lobi apartemen, Sekar tidak langsung naik. Ia duduk di lobi, menunggu dengan sabar. Ia tahu Elang seharusnya sedang berada di kantornya di Sudirman untuk rapat besar dengan investor. Namun, firasatnya berkata lain. Pukul lima sore, sebuah mobil SUV hitam yang sangat ia kenali memasuki area drop-off. Itu mobil Elang.
Hati Sekar mencelos. Elang keluar dari mobil, bukan dengan pakaian formal kantor, melainkan hanya mengenakan kaos polo santai dan celana pendek. Tak lama kemudian, sosok perempuan bertubuh mungil dengan rambut sebahu keluar dari lobi dan langsung memeluk lengan Elang dengan sangat akrab. Itu Widya. Tidak ada raut wajah 'sepupu jauh' di sana. Tatapan Elang kepada Widya adalah tatapan yang sama yang ia berikan pada Sekar saat mereka merayakan pertunangan tiga bulan lalu.
Sekar merasa dunia di sekitarnya mendadak sunyi, meski suara klakson mobil di jalanan Kuningan saling bersahutan. Ia mengeluarkan ponselnya, merekam momen itu dari kejauhan dengan tangan yang gemetar hebat. Ia melihat Elang mengecup kening Widya sebelum mereka berdua masuk kembali ke dalam mobil dan pergi. Sekar masih terpaku di tempatnya. Jadi, semua perhatian Elang, semua kata-kata manis tentang masa depan, dan rencana pernikahan yang tinggal enam bulan lagi adalah sebuah sandiwara besar.
Namun, alih-alih menangis histeris, Sekar merasakan sebuah amarah yang dingin mulai membeku di hatinya. Ia teringat bahwa seluruh biaya reservasi gedung pernikahan dan uang muka katering menggunakan rekening atas namanya, meskipun Elang berjanji akan menggantinya bulan depan. Ia juga teringat bahwa ia memiliki akses penuh ke sistem Cloud milik Elang yang menyimpan semua data pekerjaan dan rahasia kantor pria itu.
Sekar berdiri, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. Ia tidak akan mengonfrontasi Elang sekarang. Itu terlalu mudah. Elang sudah merusak playlist cinta mereka, maka Sekar akan merusak seluruh simfoni hidup yang sedang Elang bangun. Ia kembali membuka Spotify, menghapus lagu-lagu yang baru ditambahkan Widya, dan menggantinya dengan satu lagu tunggal yang dipasang dalam mode repeat: 'The Winner Takes It All'.
Malam itu, saat Elang pulang ke rumah dengan wajah penuh senyum palsu dan membawa sebungkus martabak kesukaan Sekar, Sekar menyambutnya dengan senyuman yang paling manis yang pernah ia miliki. 'Gimana meeting-nya, Sayang? Lancar?' tanya Sekar sambil mengambil martabak itu. Elang mengangguk mantap, 'Lancar banget, investornya suka sama presentasiku. Capek banget tapi worth it'.
Sekar mengangguk perlahan. 'Oh iya, tadi aku dengerin playlist kita. Kayaknya ada yang aneh, deh. Ada orang lain yang bisa akses ya?' Sekar bertanya dengan nada yang sangat tenang, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Elang. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Sekar melihat binar ketakutan yang sangat tipis di mata pria itu. Elang berdeham, mencoba mengatur napasnya. 'Masa sih? Mungkin glitch dari aplikasinya kali, Kar. Kamu tahu kan Spotify sering aneh kalau update'.
'Iya mungkin ya,' jawab Sekar singkat. Ia lalu berjalan menuju dapur, mengambil pisau untuk memotong martabak. Namun, pikirannya sudah jauh melayang ke rencana yang akan ia eksekusi besok pagi. Ia sudah menyiapkan surel terjadwal yang ditujukan kepada atasan Elang di kantor, berisi bukti-bukti penyelewengan dana proyek yang selama ini Elang sembunyikan di balik kedok 'biaya lembur'.
Sekar juga sudah menghubungi pihak gedung untuk membatalkan semua pesanan tanpa sepengetahuan Elang. Ia ingin melihat wajah Elang saat pria itu menyadari bahwa di hari pernikahannya nanti, tidak akan ada gedung, tidak ada pengantin wanita, dan tidak ada lagi karier yang bisa ia banggakan di hadapan Widya.
Permainan baru saja dimulai, dan Sekar tidak akan berhenti sampai Elang merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Di meja makan, lagu dari ponsel Sekar masih berputar pelan, liriknya menggema seolah meramalkan akhir dari segalanya: 'The gods may throw a dice, their minds as cold as ice. And someone way down here, loses someone dear'.
Elang masih asyik dengan ponselnya, mungkin sedang membalas pesan dari Widya, tanpa menyadari bahwa wanita di hadapannya telah berubah menjadi badai yang siap meratakan seluruh dunianya dalam semalam. Sekar menyesap lattenya yang sudah tawar, menatap Elang dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah tatapan dari seseorang yang sudah tidak lagi memiliki rasa takut karena hatinya sudah hancur menjadi serpihan paling tajam.