Aransemen Pengkhianatan: Ketika Lukisanku Menjadi Milik Orang Lain

Aransemen Pengkhianatan: Ketika Lukisanku Menjadi Milik Orang Lain

Novel

Aransemen Pengkhianatan: Ketika Lukisanku Menjadi Milik Orang Lain



Aroma terpentin dan cat minyak selalu menjadi napas bagi Aruna. Di studio kecilnya yang terletak di lantai dua rumah mereka di kawasan Jakarta Selatan, ia menghabiskan ribuan jam untuk melarikan jiwanya ke atas kanvas. Baginya, setiap goresan kuas adalah bisikan rahasia yang tidak bisa ia katakan dengan kata-kata. Namun, selama lima tahun pernikahan mereka, Aruna memilih untuk tetap berada di balik bayang-bayang. Ia adalah 'tangan hantu' di balik kesuksesan Maya, sahabatnya sendiri, yang kini dikenal sebagai pelukis kontemporer paling berpengaruh di Indonesia.

Semua itu adalah ide Baskara, suaminya. 'Sayang, kamu tahu sendiri betapa kejamnya dunia seni. Maya punya citra, dia punya koneksi. Jika kita menggunakan namamu yang pendiam ini, lukisanmu tidak akan laku semahal sekarang. Ini demi masa depan kita, demi rumah ini, demi tabungan kita,' bisik Baskara setiap kali Aruna merasa ragu. Dan Aruna, yang mencintai Baskara melebihi logika, selalu mengangguk. Ia percaya bahwa cinta adalah pengabdian yang tidak butuh panggung.

Sore itu, hujan turun dengan deras, membungkus Jakarta dalam selimut kelabu. Aruna baru saja menyelesaikan sebuah mahakarya yang ia beri judul 'Lazuardi di Atas Luka'. Sebuah lukisan abstrak dengan gradasi biru yang begitu dalam, seolah-olah mampu menyedot siapa pun yang melihatnya ke dalam palung kesedihan yang paling sunyi. Ia berniat memberikan kejutan untuk Baskara dengan memasak makan malam istimewa. Namun, saat ia menuruni tangga, ia mendengar tawa renyah dari ruang kerja suaminya.

'Kamu benar-benar jenius, Bas. Aruna tidak pernah curiga bahwa selama ini uang hasil penjualan lukisannya mengalir ke rekening pribadi kita, bukan rekening bersama,' suara itu adalah suara Maya. Aruna terpaku di anak tangga ketiga. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.

'Dia terlalu naif, Maya. Aruna itu seperti kanvas kosong; dia hanya akan menerima apa pun warna yang aku goreskan padanya. Dia percaya bahwa aku menyimpankan uang itu untuk masa tua kami. Padahal, apartemen di Bali yang kita tempati bulan lalu itu adalah hasil dari lukisan 'Senja di Borobudur' miliknya,' balas Baskara dengan nada meremehkan yang belum pernah Aruna dengar sebelumnya.

Aruna merasa dunianya runtuh seketika. Oksigen di sekitarnya seolah menipis. Bukan hanya soal uang, tapi pengkhianatan ini melibatkan harga dirinya sebagai seniman dan kesetiaannya sebagai seorang istri. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Rasa mual menjalar dari perut hingga ke kerongkongannya. Selama ini, Baskara dan Maya bukan hanya mencuri karyanya, tapi mereka telah berselingkuh di belakangnya, menggunakan uang hasil keringatnya untuk membiayai kemesraan mereka.

'Lalu, bagaimana dengan lukisan barunya? Yang dia kerjakan selama tiga bulan terakhir?' tanya Maya lagi. Suara gesekan gelas kristal terdengar, menandakan mereka sedang merayakan sesuatu.

'Itu akan menjadi gong-nya. Kita akan menjualnya ke kolektor dari Singapura dengan harga lima miliar rupiah. Atas nama Maya, tentu saja. Setelah transaksi itu selesai, aku akan menceraikannya. Aku sudah muak melihat wajahnya yang selalu penuh noda cat dan tatapannya yang melankolis itu. Aku ingin kita bebas, Maya,' kata Baskara telak.

Air mata Aruna jatuh tanpa suara. Namun, di tengah kehancuran itu, sesuatu di dalam dirinya bangkit. Bukan lagi Aruna yang rapuh dan penurut, melainkan Aruna yang penuh dengan api dendam yang dingin. Ia tidak akan membiarkan mereka menang. Ia tidak akan membiarkan 'Lazuardi di Atas Luka' jatuh ke tangan mereka sebagai alat penipuan berikutnya.

Malam harinya, Aruna bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menyambut Baskara dengan senyuman yang ia paksa, meski hatinya menjerit perih. Ia memperhatikan bagaimana suaminya itu mengecup keningnya dengan penuh kepalsuan. 'Lukisanmu luar biasa, Sayang. Maya sudah menyiapkannya untuk pameran tunggalnya besok malam. Kamu akan bangga melihat karyamu dikagumi banyak orang, meski tanpa namamu,' kata Baskara sambil mengelus rambut Aruna.

'Tentu, Bas. Aku sangat menantikannya,' jawab Aruna dengan nada datar yang tidak disadari oleh Baskara.

Hari pameran tiba. Galeri seni milik Baskara di kawasan Menteng dipenuhi oleh kaum jetset Jakarta, kritikus seni, dan jurnalis. Maya tampil memukau dengan gaun sutra berwarna merah menyala, berpose di depan lukisan-lukisan yang sebenarnya adalah milik Aruna. Baskara berdiri di sampingnya dengan bangga, berperan sebagai kurator sekaligus pemilik galeri yang sukses.

Aruna datang terlambat. Ia mengenakan gaun hitam sederhana namun elegan, dengan riasan wajah yang tegas. Ia tidak bergabung dengan kerumunan, melainkan berdiri di sudut ruangan, memperhatikan 'Lazuardi di Atas Luka' yang menjadi pusat perhatian. Lukisan itu diberi label nama: 'Maya Danuarta'.

Saat acara sambutan dimulai, Baskara naik ke podium. 'Malam ini adalah bukti bahwa seni tidak mengenal batas. Maya Danuarta sekali lagi membuktikan bahwa dia adalah maestro di generasi kita. Mari kita sambut, mahakarya terbaru, Lazuardi di Atas Luka!' Tepuk tangan meriah membahana. Maya maju dengan senyum kemenangan.

Namun, tepat sebelum Maya mulai berbicara, Aruna melangkah maju. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai marmer menciptakan irama yang menuntut perhatian. Ia membawa sebuah amplop besar di tangannya.

'Maaf mengganggu momen yang luar biasa ini,' suara Aruna tenang namun menggema ke seluruh penjuru galeri. 'Tapi saya rasa ada satu detail kecil yang lupa disebutkan oleh kurator hebat kita ini.'

Baskara menegang. Matanya membelalak menatap Aruna dengan penuh ancaman. 'Aruna, apa yang kamu lakukan? Kembali ke belakang!' bisiknya tajam. Namun Aruna tidak bergeming.

'Detail kecil itu adalah... bukti orisinalitas,' lanjut Aruna sambil mengeluarkan serangkaian foto dari amplop. 'Foto-foto ini diambil secara otomatis oleh kamera tersembunyi di studio saya selama tiga bulan terakhir. Foto yang menunjukkan setiap tahap pembuatan lukisan ini, dari sketsa kasar hingga goresan terakhir. Dan di setiap foto itu, bukan Maya yang memegang kuas, melainkan saya.'

Suasana galeri seketika sunyi senyap. Maya memucat, wajahnya yang tadinya merah karena gembira kini seputih kertas. Baskara mencoba merebut foto-foto itu, namun Aruna dengan sigap menghindar dan menyerahkannya kepada seorang kritikus seni ternama yang berdiri di barisan depan.

'Bukan hanya itu,' tambah Aruna, suaranya mulai bergetar karena emosi yang tertahan. 'Saya juga memiliki rekaman percakapan antara suami saya dan sahabat saya, mengenai rencana mereka menjual karya saya dan membagi hasilnya untuk kehidupan rahasia mereka di Bali. Jika kalian ingin bukti lebih lanjut, silakan lihat di balik bingkai lukisan itu.'

Kritikus seni itu segera mendekati lukisan 'Lazuardi di Atas Luka'. Dengan hati-hati, ia membalikkan bingkai kayu yang berat itu. Di sana, tertanam di bawah lapisan pernis yang sengaja disembunyikan, terdapat tanda tangan mikro yang hanya bisa dilihat dengan kaca pembesar: 'Aruna'. Itu adalah trik yang selalu dilakukan Aruna pada setiap karyanya sebagai bentuk perlindungan diri yang tidak pernah diketahui Baskara.

Skandal pecah malam itu juga. Kilatan lampu kamera jurnalis kini beralih kepada Aruna, sang pelukis asli yang selama ini tersembunyi. Maya menangis histeris di pojok ruangan, sementara Baskara mencoba melarikan diri dari kepungan wartawan yang menuntut penjelasan tentang penipuan publik tersebut.

Aruna berdiri tegak di tengah kekacauan itu. Ia merasa bebas. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi berada di balik bayang-bayang. Ia kehilangan suami dan sahabatnya, namun ia menemukan kembali jiwanya yang sempat tercuri. Saat ia melangkah keluar dari galeri, hujan telah berhenti, menyisakan udara malam yang segar dan aroma tanah yang basah. Di bawah lampu jalanan Menteng, Aruna tahu bahwa kanvas hidupnya yang baru baru saja dimulai, dan kali ini, ia sendiri yang akan menentukan warnanya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url