Arloji Perak di Laci Meja Kerja dan Rahasia yang Tidak Pernah Terkubur
Hujan di Jakarta tidak pernah sekadar turun; ia jatuh dengan beban yang seolah mampu meretakkan kaca jendela apartemen kami di lantai tiga puluh dua. Malam itu, aroma ozon bercampur dengan parfum kayu cendana yang selalu menempel pada jas Adrian. Aku berdiri di ruang kerjanya yang sunyi, sebuah ruangan yang biasanya tabu untuk kumasuki tanpa alasan mendesak. Namun, getaran ponsel yang tertinggal di atas meja jati itu memaksa jemariku bergerak. Bukan ponsel itu yang akhirnya menghancurkan duniaku, melainkan sebuah laci yang sedikit terbuka, memperlihatkan kilatan logam perak di bawah cahaya lampu meja yang temaram.
Tanganku gemetar saat menarik laci itu lebih jauh. Di sana, tergeletak sebuah arloji perak antik dengan tali kulit buaya berwarna hitam yang masih tampak baru. Itu bukan milik Adrian, atau setidaknya, aku tidak pernah melihatnya memakai itu selama sepuluh tahun pernikahan kami. Dengan jantung yang berdegup kencang hingga telingaku berdenging, aku membalikkan arloji itu. Di bagian belakangnya, terukir sebuah kalimat dalam huruf kursif yang sangat halus: Untuk separuh jiwaku, kembalilah padaku setiap detik berdetak. S.
Duniaku seolah berhenti berputar. Huruf 'S' itu bukan namaku. Namaku Elena. Siapakah 'S' yang berani mengklaim separuh jiwa suamiku? Aku merasai permukaan dingin arloji itu dengan ibu jariku, mencoba mencari jawaban di balik logam bisu tersebut. Keheningan di ruangan ini tiba-tiba terasa mencekik. Aku teringat bagaimana Adrian belakangan ini sering pulang terlambat, alasannya selalu rapat dewan direksi atau audit tahunan yang melelahkan. Aku selalu percaya padanya. Aku percaya pada setiap kecupan di kening yang ia berikan sebelum berangkat kerja, dan aku percaya pada janji setianya yang ia ucapkan di bawah altar gereja satu dekade lalu. Namun sekarang, kepercayaan itu terasa seperti butiran debu yang tertiup angin kencang.
Aku mendengar suara pintu depan terbuka. Suara langkah kaki Adrian yang berat dan berwibawa bergema di lorong marmer. Aku segera mengembalikan arloji itu ke tempat semula, menutup laci dengan gerakan seringan mungkin, dan melangkah keluar menuju ruang tengah dengan wajah yang kucoba buat setenang permukaan telaga. Adrian berdiri di sana, sedang melonggarkan dasi sutranya. Wajahnya tampak lelah, namun matanya tetap tajam, jenis tatapan yang selalu membuatku merasa kecil namun terlindungi. Dia tersenyum kecil saat melihatku, sebuah senyuman yang biasanya menghangatkan hatiku, namun malam ini, senyuman itu terasa seperti sembilu yang menyayat perlahan.
Kau belum tidur, El? tanyanya dengan suara bariton yang lembut. Dia mendekat, aroma hujan dan alkohol tipis menguar dari tubuhnya. Dia baru saja menghadiri jamuan makan malam bisnis, katanya tadi sore. Aku memaksakan diri untuk berdiri diam saat dia mengecup pipiku. Kecupan itu terasa dingin, atau mungkin hatiku yang sudah membeku. Aku hanya menatapnya, mencari jejak kebohongan di matanya yang berwarna cokelat gelap. Apakah kau merindukanku, Adrian? tanyaku, suaraku nyaris berbisik, bergetar oleh emosi yang kutahan sekuat tenaga. Dia tertawa kecil, suara yang biasanya begitu merdu kini terdengar seperti ejekan. Tentu saja, El. Aku selalu merindukan rumah, jawabnya tanpa ragu sedikit pun. Kebohongan yang diucapkan dengan begitu sempurna adalah jenis pengkhianatan yang paling menyakitkan.
Malam-malam berikutnya menjadi siksaan batin yang tak berujung. Aku menjadi detektif di rumahku sendiri. Aku memperhatikan cara dia memegang ponselnya, cara dia tersenyum pada layar yang gelap saat dia pikir aku tidak melihat, dan aroma parfum wanita yang asing—sesuatu yang berbau seperti melati dan vanilla—yang sesekali tertinggal di kerah kemejanya. Setiap detail kecil menjadi duri yang menusuk kesadaranku. Puncaknya adalah ketika sebuah undangan mewah tiba di meja makan kami: Pesta Perayaan Ulang Tahun Perusahaan yang ke-25. Sebuah acara megah yang akan dihadiri oleh seluruh relasi bisnis papan atas. Aku tahu, di sanalah aku akan menemukan jawaban siapa sosok 'S' itu.
Malam pesta itu tiba dengan kemegahan yang terasa palsu bagiku. Aku mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang memeluk tubuhku dengan pas, warna yang sengaja kupilih untuk memberikan kesan keberanian yang sebenarnya tidak kumiliki. Di depan cermin, aku memulas lipstik merah menyala, seolah itu adalah baju zirahku. Adrian berdiri di belakangku, mengenakan tuxedo hitam yang membuatnya tampak seperti pangeran dari dongeng yang salah. Dia meletakkan tangannya di bahuku, matanya menatap pantulanku di cermin. Kau cantik sekali malam ini, Elena, bisiknya. Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan badai di dalamnya. Terima kasih, Adrian. Aku harap malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan bagi kita berdua, jawabku dengan nada yang penuh makna ganda.
Aula hotel bintang lima itu dipenuhi dengan denting gelas sampanye dan alunan musik orkestra yang elegan. Cahaya lampu gantung kristal memantul di setiap sudut, menciptakan atmosfer yang penuh dengan kemewahan yang membutakan. Aku berjalan di samping Adrian, tangan kananku melingkar di lengannya, merasakan ototnya yang tegang setiap kali kami berpapasan dengan tamu tertentu. Aku memperhatikan setiap wanita yang mendekat, mencari inisial 'S' atau aroma melati dan vanilla yang menghantui mimpiku. Adrian tampak sangat piawai bersosialisasi, tertawa pada lelucon klien dan menjabat tangan rekan kerjanya dengan mantap. Dia adalah aktor terbaik yang pernah kukenal.
Kemudian, dia muncul. Seorang wanita dengan gaun putih gading yang tampak sangat kontras di tengah kerumunan. Dia memiliki kecantikan yang tenang, namun matanya memancarkan kecerdasan yang berbahaya. Saat dia mendekat ke arah kami, aku merasakan cengkeraman tangan Adrian di gelas sampanyenya mengencang hingga buku-bukunya memutih. Elena, perkenalkan, ini Sarah. Kepala konsultan hukum baru untuk proyek pelabuhan kita, suara Adrian terdengar stabil, namun aku bisa mendengar getaran halus yang hanya bisa didengar oleh seorang istri yang telah menghabiskan sepuluh tahun bersamanya. Sarah. Huruf 'S' itu akhirnya memiliki wajah.
Senang bertemu denganmu, Nyonya Elena. Adrian sering menceritakan tentangmu, ujar Sarah dengan suara yang semerdu lonceng perak. Dia mengulurkan tangannya, dan saat aku menjabatnya, aku merasakan dingin yang menjalar ke seluruh tubuhku. Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah arloji yang identik dengan yang kutemukan di laci Adrian, hanya saja ukurannya lebih kecil. Sebuah pasangan. Arloji itu berkilau di bawah lampu kristal, seolah menertawakan kebodohanku. Oh, arloji yang indah, ujarku, mataku tertuju tepat pada benda itu. Sarah tersenyum, sebuah senyuman yang penuh kemenangan yang tersembunyi. Ini pemberian dari seseorang yang sangat spesial. Katanya, agar aku tidak pernah lupa kapan harus kembali padanya, jawabnya dengan nada yang sangat berani.
Kemarahan yang selama ini kupendam mendidih, namun aku tidak akan membiarkan mereka menang dengan cara yang rendah. Aku menyesap sampanyeku perlahan, merasakan sensasi menggelitik di tenggorokanku. Benarkah? Suamiku juga memiliki arloji yang sangat mirip di laci mejanya. Dia bilang itu adalah barang antik yang dia beli untuk koleksi. Betapa kebetulan yang luar biasa, bukan? kataku, suaraku tenang namun setajam pisau bedah. Wajah Sarah berubah pucat sesaat, dan aku bisa melihat Adrian menelan ludah dengan susah payah. Keheningan yang canggung menyelimuti kami bertiga, sebuah vakum di tengah keramaian pesta yang bising.
Adrian mencoba mengalihkan pembicaraan, namun aku tidak memberinya kesempatan. Pengkhianatan itu seperti arloji, Adrian. Ia terus berdetak di dalam gelap, menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan wajah aslinya, bisikku cukup keras agar Sarah juga mendengarnya. Aku melepaskan lenganku dari tangan Adrian, merasa muak dengan sentuhannya yang selama ini kuanggap sebagai perlindungan. Aku menatap mereka berdua, satu demi satu, dengan tatapan yang penuh dengan kekecewaan yang mendalam namun juga kekuatan yang baru kutemukan. Aku tidak akan menjadi istri yang menangis di pojok kamar, meratapi nasib yang malang.
Aku melangkah pergi meninggalkan mereka di tengah aula yang luas itu, menuju teras balkon yang sepi. Angin malam menyapu wajahku, membawa aroma kebebasan yang pahit. Aku tahu pernikahan ini telah berakhir di detik aku melihat arloji itu, namun malam ini, aku telah mengakhirinya dengan caraku sendiri. Di bawah langit Jakarta yang tanpa bintang, aku menyadari bahwa cinta tidak pernah cukup jika tidak dibarengi dengan kejujuran. Adrian mungkin telah memiliki separuh jiwanya bersama Sarah, namun dia baru saja kehilangan seluruh duniaku. Dan bagiku, detak arloji itu bukan lagi pengingat akan cinta yang hilang, melainkan hitungan mundur menuju hidup baru yang akan kubangun tanpa bayang-bayang kebohongan mereka.
Beberapa saat kemudian, aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu Adrian. Dia tidak berbicara, hanya berdiri di sana, mungkin mencari kata-kata untuk membela diri yang sudah tidak berguna lagi. Elena, aku bisa menjelaskan semuanya, suaranya terdengar pecah, kehilangan wibawa yang selama ini ia agungkan. Aku berbalik, menatapnya dengan senyum paling tulus yang pernah kuberikan padanya selama bertahun-tahun. Penjelasan tidak akan mengubah ukiran di belakang arloji itu, Adrian. Kau sudah memberikan separuh jiwamu padanya, jadi silakan ambil sisanya dan pergilah. Aku tidak butuh pria yang detak jantungnya tidak pernah selaras dengan kejujurannya.
Malam itu, aku meninggalkan pesta lebih awal. Aku berjalan keluar dari hotel dengan kepala tegak, membiarkan gaun merahku berkibar ditiup angin. Aku masuk ke dalam taksi dan tidak sekali pun menoleh ke belakang. Di dalam tas kecilku, aku menggenggam ponselku, sudah mengetik pesan singkat untuk pengacaraku. Perang mungkin baru saja dimulai, namun aku sudah memenangkan pertarungan yang paling penting: pertarungan melawan ketakutanku sendiri. Sebab pada akhirnya, pengkhianatan bukan tentang siapa yang pergi, tapi tentang siapa yang tetap berdiri tegak saat dunianya runtuh. Dan malam ini, wanita itu adalah aku.