Aroma Asing di Balik Janji Pernikahan

Aroma Asing di Balik Janji Pernikahan

Aroma Asing di Balik Janji Pernikahan

Malam itu, aroma melati dan vanila menyusup ke dalam hidungku, bukan dari parfumku, melainkan dari kerah kemeja linen putih milik Adrian. Sebuah wangi yang asing, namun begitu akrab, seolah telah lama bersemayam di sana, merasuki setiap serat kain. Jantungku berdesir, bukan karena rindu, melainkan karena ketakutan yang dingin. Ini adalah aroma yang pernah tercium samar beberapa minggu terakhir, namun selalu kutepis sebagai khayalanku belaka, ilusi dari kepenatan dan stres.

Kini, saat Adrian terlelap di sampingku, napasnya teratur dan damai, aroma itu begitu nyata. Menjelajah indraku, menusuk langsung ke ulu hati. Kemeja yang baru saja ia lepas, teronggok di kursi dekat ranjang, menjadi saksi bisu dari pertanyaan yang tak berani kuucapkan. Tanganku terulur ragu, memungut kain itu, mendekatkannya. Aroma itu semakin kuat, memelukku dalam kecemburuan yang mencekik.

  • Aku (Nara) - Seorang istri yang selama ini merasa sempurna, mendapati dunianya terguncang oleh sebuah petunjuk yang tak terbantahkan. Matanya yang tajam kini hanya melihat bayangan keraguan.
  • Adrian - Suamiku, seorang CEO muda yang karismatik dan cerdas, selalu pulang dengan senyum yang menenangkan. Namun kini, senyum itu terasa seperti topeng yang rapuh, menyimpan rahasia di baliknya.

Semua terasa seperti adegan dalam film yang kutonton, di mana protagonis wanita secara perlahan menemukan pecahan-pecahan kebenaran yang pahit. Aku selalu berpikir, aku takkan pernah menjadi wanita itu. Pernikahanku dengan Adrian adalah sebuah mahakarya. Delapan tahun kebersamaan, fondasi cinta yang kukira kokoh, dibangun di atas tawa dan mimpi yang sama. Kami adalah pasangan idaman di setiap acara sosial, di setiap reuni keluarga. Namun kini, satu aroma kecil mampu meruntuhkan seluruh arsitektur kebahagiaan itu.

Aku membaringkan kemeja itu perlahan, kembali ke tempat tidur, berusaha menenangkan napas yang memburu. Mataku menatap langit-langit kamar yang gelap, di mana bayangan bulan purnama menari-nari lewat celah gorden. Di sisi ranjang, Adrian bergeser sedikit, menggumam dalam tidurnya. Aku menoleh. Wajahnya tampak begitu polos, seolah tak ada beban dosa yang menghantuinya. Apakah ini semua hanya prasangkaku? Apakah aku hanya terlalu lelah, terlalu curiga?

Beberapa hari terakhir, Adrian memang sering pulang larut. Alasan-alasan yang disampaikannya selalu logis: proyek besar, negosiasi penting, rapat maraton. Aku selalu percaya. Aku bangga padanya. Tapi kemudian, ada perubahan kecil yang mulai mengganggu. Ponselnya yang selalu diletakkan terbalik di meja makan. Senyumnya yang terkadang terlalu lebar, terlalu cepat menghilang. Tatapan matanya yang sesekali menerawang, seolah pikirannya jauh di tempat lain. Aku menepisnya sebagai kelelahan, tekanan pekerjaan. Sampai malam ini, sampai aroma ini.

"Kau baik-baik saja, sayang? Kau gelisah sekali,"

Suara serak Adrian memecah keheningan, membuatku terlonjak. Ia menoleh, matanya setengah terbuka, memancarkan kantuk. Aku segera memalingkan wajah, menyembunyikan badai yang berkecamuk di dadaku.

"Oh, tidak. Hanya... sulit tidur saja. Aku memikirkan presentasi besok," kataku, sebuah kebohongan yang terasa begitu hambar di lidahku.

Adrian mengulurkan tangan, meraih tanganku yang dingin. Jari-jarinya mengusap lembut punggung tanganku. Sentuhannya dulu selalu menghangatkan, menenangkan. Kini, sentuhan itu terasa kosong, formalitas belaka. Aku bisa merasakan jarak yang tiba-tiba membentang di antara kami, bukan jarak fisik, melainkan jurang emosi yang dalam.

Aku menutup mata, berharap kegelapan bisa menelan kecurigaan ini. Tapi aroma melati dan vanila itu, seolah telah meresap ke dalam pori-pori kulitku sendiri, tak mau pergi. Ia berbisik, berteriak, tentang kebenaran yang tak ingin kudengar. Tentang bayangan lain yang kini menghuni ruang di antara Adrian dan aku. Dan aku tahu, malam ini, tidur tak akan pernah datang. Hanya ada pertanyaan, yang kian lama kian menggerogoti jiwaku: Siapa pemilik aroma itu, dan mengapa ia menempel begitu erat pada suamiku?

Kemeja linen putih itu, kini tampak seperti kain kafan yang menyelimuti masa lalu kami. Setiap helaan napas Adrian di sisiku terasa seperti pasir yang jatuh dari jam pasir, menghitung mundur waktu kebahagiaan yang tersisa. Aku harus tahu. Aku harus mencari kebenaran, seberapa pun menyakitkan itu.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url