Aroma Jasmine di Kemeja Suamiku

- Aku: Istri yang menaruh curiga, seorang arsitek lanskap dengan mata tajam pada detail.
- Raja: Suami, seorang manajer investasi yang awalnya penuh perhatian, kini berjarak.
- Maya: Sosok misterius yang kehadirannya mulai meracuni pernikahan Aku dan Raja.
Sejak semilir angin senja mulai terasa berbeda, seakan membawa bisikan rahasia dari sudut kota yang tak terjamah olehku, hidupku bersama Raja mulai bergeser. Bukan pergeseran tiba-tiba yang kasat mata, melainkan pergerakan halus, lambat, seperti retakan mikroskopis di permukaan porselen berharga yang baru akan terlihat setelah cahaya yang tepat menimpanya. Dulu, setiap Raja pulang, aroma citrus favoritnya akan menyambutku bahkan sebelum ia membuka pintu. Kini, ada aroma lain. Samar, namun jelas. Aroma jasmine.
Jasmine. Bunga yang selalu kubenci. Bunga yang selalu Raja tahu aku tidak suka, dengan wanginya yang terlalu manis, terlalu mendominasi. Lalu, mengapa aroma itu kini melekat di kemeja kerjanya? Bukan hanya sekali, tapi berulang kali. Setiap Raja mencium keningku saat ia berangkat pagi, atau memelukku sesaat sebelum tidur, aku bisa merasakannya. Aroma itu bagai bayangan, tidak kasat mata, namun kehadirannya tak terbantahkan. Ia mengendap di serat kain, di sela-sela lipatan dasi yang tidak pernah Raja perhatikan lagi kerapiannya, bahkan di helaan napasnya saat ia terlelap di sampingku.
Malam-malam panjang itu, aku berjuang melawan suara-suara di kepalaku. Suara yang mengatakan aku terlalu sensitif, terlalu banyak membaca makna. Namun, insting seorang istri, yang telah membangun rumah tangga ini dengan setiap serat jiwa, tak bisa dibungkam. Perubahan Raja bukan hanya pada aroma. Ia mulai pulang lebih larut, dengan alasan rapat dadakan yang semakin sering. Matanya, yang dulu selalu memancarkan kehangatan saat bertemu tatap denganku, kini seringkali berjarak, seakan sedang merangkai pikiran yang jauh di luar jangkauanku. Ponselnya, yang dulu terbuka di mana saja, kini selalu tertelungkup atau terkunci dengan sandi baru yang tak pernah ia beritahukan. Sentuhannya pun berubah. Dulu, sentuhannya adalah janji. Kini, sentuhannya adalah kebiasaan, tanpa gairah, tanpa niat, hanya sebatas rutinitas yang ia jalankan karena kewajiban.
Aku mulai mengamati. Setiap detail kecil menjadi sebuah petunjuk. Suatu pagi, saat ia terburu-buru, dompetnya tertinggal di meja dapur. Aku melihat sekilas struk pembelian kopi dari sebuah kafe yang tidak pernah kami kunjungi, terletak di sisi lain kota, jauh dari kantornya. Sorenya, saat membantu melipat cucian, aku menemukan selembar kertas kecil terselip di saku celananya. Sebuah potongan tisu yang beraroma sama persis dengan jasmine yang kini menghantui penciumanku. Di sana, tertulis nomor telepon dan inisial M. Dengan tulisan tangan yang anggun dan jelas bukan milik Raja. Dadaku serasa dihantam palu godam. Bukan karena bukti itu, tapi karena betapa rapuhnya kepercayaanku, betapa butanya aku selama ini.
Malam itu, saat Raja pulang, aroma jasmine begitu kuat hingga aku merasa mual. Ia menyapa dengan senyum lelah, dan mencoba mencium keningku seperti biasa. Aku menghindar. “Ada apa, Sayang?” tanyanya, keningnya berkerut. Aku menatapnya. Mataku menyapu wajahnya, mencoba mencari Raja yang dulu kukenal, Raja yang penuh kejujuran. Namun, yang kulihat hanyalah bayangan, sosok yang kini asing.
“Aku ingin bicara, Raja,” kataku, suaraku nyaris berbisik namun penuh ketegasan yang tak ia kenal. Kami duduk di sofa ruang keluarga, di bawah lampu gantung yang dulu kami pilih bersama. Cahayanya yang temaram kini terasa ironis, seakan mencoba menyembunyikan kebenaran yang pahit. Aku mengeluarkan tisu berinisial M itu dari saku bajuku, meletakkannya di meja kopi, di antara kami. “Ini apa, Raja?”
Raja menatap tisu itu, lalu ke arahku. Wajahnya memucat. Ia mencoba meraih tisu itu, namun aku menahan tangannya. “Jangan. Jangan sentuh lagi. Aroma jasmine-nya terlalu kuat,” ucapku, suaraku sedikit bergetar kali ini. “Sejak kapan kamu menyukai jasmine, Raja? Bukankah kamu tahu aku selalu membencinya?”
Ia terdiam, menunduk. Keheningan itu menusuk. Lebih sakit dari seribu kata makian. “Aku… aku bisa jelaskan,” katanya akhirnya, suaranya pelan dan putus asa. “Dia hanya… rekan kerja. Ada masalah di kantor.”
“Rekanan kerja yang menuliskan nomor teleponnya di tisu beraroma jasmine, Raja? Rekanan kerja yang membuatmu pulang larut setiap malam, dengan tatapan kosong? Rekanan kerja yang membuatmu menyembunyikan ponselmu dariku?” Aku menghela napas panjang, menahan gelombang emosi yang bergejolak. “Raja, kita membangun rumah ini dengan janji. Kita membangun hidup ini dengan kepercayaan. Dan sekarang, aku merasa semua itu runtuh di hadapanku.”
Ia mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. “Aku minta maaf, Sayang. Aku… aku khilaf. Dia… dia Maya. Klien baru kami. Situasinya memang rumit, dan aku…” Ia tidak bisa melanjutkan. Kata-katanya menggantung di udara, penuh penyesalan yang terlambat.
“Rumit?” tanyaku, suaraku meninggi. “Rumit bagaimana, Raja? Apakah rumit berarti membiarkan dirimu jatuh ke pelukan orang lain? Apakah rumit berarti mengkhianati setiap janji yang pernah kau ucapkan padaku?” Aku menunjuk kemejanya. “Bahkan sekarang, di tubuhmu, masih ada jejaknya. Aroma jasmine itu menempel padamu, Raja. Bahkan saat kau duduk di hadapanku, aroma itu berteriak tentang pengkhianatanmu.”
Air mata akhirnya membanjiri pipinya. “Aku salah, Sayang. Aku benar-benar menyesal. Aku akan berhenti. Aku akan memperbaiki semuanya. Tolong, beri aku kesempatan lagi.” Tangannya meraih tanganku, namun sentuhannya kini terasa asing, kosong.
Aku menarik tanganku pelan. “Kesempatan?” Aku tersenyum pahit. “Untuk apa, Raja? Untuk aku kembali hidup dalam ketakutan setiap kali kamu pulang telat? Setiap kali aku mencium aroma asing? Untuk aku terus menerus mencari bukti dari pengkhianatanmu?” Mataku menatap lurus ke matanya, mencari jawaban yang mustahil. “Rumah ini, Raja, bukan hanya dibangun dengan batu dan semen. Ia dibangun dengan kepercayaan. Dan kepercayaan itu, sudah hancur. Bukan karena aroma jasmine itu sendiri, tapi karena kebohongan yang kau biarkan mengendap bersamanya.”
Keheningan kembali menyelimuti kami, lebih berat dari sebelumnya. Aku bangkit, berjalan menuju jendela. Menatap ke luar, ke arah taman yang dulu kami rancang bersama, setiap sudutnya penuh kenangan manis. Kini, semua itu terasa seperti ilusi. “Aku tidak tahu apakah aku bisa melihatmu dengan cara yang sama lagi, Raja,” kataku, suaraku kini datar, dingin. “Cinta itu seperti cermin. Sekali pecah, seribu upaya untuk menyatukannya hanya akan menghasilkan serpihan tajam. Aku tidak ingin terluka lagi.”
Ia mencoba mendekatiku, namun aku mengangkat tangan, memberinya isyarat untuk berhenti. “Aku butuh waktu,” ucapku, memejamkan mata. “Bukan hanya waktu untuk berpikir. Tapi waktu untuk menyembuhkan luka yang bahkan aku sendiri tidak tahu seberapa dalamnya.” Aku menoleh kembali padanya, mataku menatapnya tanpa emosi, sebuah tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. “Aku ingin kamu pergi malam ini, Raja. Biarkan aku sendiri.”
Raja berdiri membeku, air mata masih mengalir di pipinya. Ia tahu, dari nada suaraku, dari tatapan mataku, bahwa ini bukanlah sebuah ancaman kosong. Ini adalah sebuah keputusan. Sebuah akhir yang tidak pernah kami bayangkan. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju pintu, mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja. Sebelum ia melangkah keluar, ia menoleh sekali lagi, ingin mengucapkan sesuatu, namun bibirnya bergetar, dan tak ada kata yang keluar. Pintu tertutup perlahan, menyisakan keheningan yang memekakkan telinga. Aroma jasmine itu perlahan memudar, digantikan oleh kehampaan yang begitu nyata, begitu menyesakkan. Aku tahu, ini adalah permulaan dari babak baru, sebuah babak yang harus kumulai tanpa Raja, tanpa aroma jasmine yang mengkhianati, hanya dengan diriku sendiri dan serpihan hati yang harus kukumpulkan kembali.