Bayang-Bayang di Balik Sutra Merah
Hujan turun dengan ritme yang monoton, memukul-mukul kaca jendela penthouse kami yang berada di lantai tiga puluh enam. Di luar sana, Jakarta tampak seperti lautan cahaya yang buram, tenggelam dalam kabut air yang tak kunjung usai. Aku duduk di sofa kulit berwarna krem, memutar-mutar gelas kristal berisi cairan amber yang mulai kehilangan suhunya. Jam dinding di ruang tengah berdetak dengan suara yang tiba-tiba terdengar begitu mengintimidasi. Setiap detiknya seolah-olah adalah langkah kaki yang mendekat menuju sebuah jurang yang tidak ingin aku lihat. Ruangan ini, yang biasanya terasa seperti tempat perlindungan paling mewah, malam ini terasa dingin dan asing, seolah-olah dinding-dindingnya menyimpan rahasia yang tidak sanggup mereka sampaikan kepadaku.
Suara lift yang terbuka di lorong pribadi menyentak lamunanku. Aku tidak bergerak, hanya menajamkan pendengaran. Aku mengenali suara langkah itu. Mantap, teratur, dan penuh percaya diri. Itu adalah langkah kaki Adrian, suamiku. Pria yang telah bersamaku selama tujuh tahun terakhir, pria yang aku pikir adalah muara dari segala pencarianku. Pintu utama terbuka, membawa serta hembusan angin dingin dari lorong dan aroma hujan yang melekat di pakaiannya. Aku masih tetap pada posisiku, membelakanginya, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata yang telah kupersiapkan di kepala.
"Kau belum tidur, Arini?" suaranya rendah, memiliki bariton yang dulu selalu mampu menenangkan badai di dadaku. Namun malam ini, suara itu terdengar seperti gesekan pisau di atas permukaan marmer. Aku bisa merasakan kehadirannya di belakangku. Hawa tubuhnya yang hangat mulai menipiskan jarak di antara kami. Dia meletakkan tangannya di bahuku, sebuah sentuhan yang biasanya terasa penuh kasih, namun sekarang terasa seperti beban yang amat berat. Aku memejamkan mata, mencoba menahan getaran di napas pribadiku. Di saat itulah, aroma itu menusuk indra penciumanku. Itu bukan aroma parfum yang biasa ia gunakan. Bukan aroma citrus dan wood yang tajam yang selalu kubelikan setiap ulang tahunnya. Ini adalah aroma bunga melati yang sangat lembut, bercampur dengan sedikit vanila yang manis—aroma yang terlalu feminin, terlalu intim, dan terlalu asing untuk ada di kerah kemeja suamiku.
Pengkhianatan itu tidak datang dengan suara ledakan, melainkan dengan aroma parfum yang salah di waktu yang tidak tepat. Aku memutar tubuhku perlahan, mendongak untuk menatap matanya. Adrian tampak lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya, namun senyumnya masih tetap sama—senyum yang selama ini kusukai karena terlihat begitu tulus. Namun sekarang, aku melihat senyum itu sebagai sebuah topeng yang sangat rapi. Aku memperhatikan setiap detail wajahnya di bawah cahaya lampu gantung yang temaram. Ada sedikit noda kemerahan yang hampir tidak terlihat di ujung kerah kemeja putihnya yang mahal. Hanya setitik, tapi bagiku, itu seperti genangan darah di tengah salju yang putih bersih.
"Rapatnya selesai sangat larut, ya?" tanyaku dengan nada yang kuusahakan sedatar mungkin. Aku bisa merasakan otot-otot di wajahku menegang saat aku mencoba tersenyum balik. Adrian mengangguk, dia melepaskan jasnya dan menyampirkannya di lengan sofa. Dia tidak menyadari bahwa aku sedang menelitinya seperti seorang detektif yang sedang memeriksa tempat kejadian perkara. Dia berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan air mineral ke dalam gelas dengan gerakan yang tenang. Begitu tenang, seolah-olah dia tidak baru saja datang dari tempat yang seharusnya tidak dia kunjungi.
"Ya, investor dari Singapura itu sangat cerewet soal detail kontrak. Kami harus melewati tiga kali revisi di tempat sebelum mereka mau menandatangani dokumennya," jawabnya tanpa menoleh. Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibirnya, seperti madu yang dituangkan ke atas luka yang terbuka. Aku tahu dia berbohong. Aku tahu karena tadi sore, sekretarisnya—yang tidak tahu bahwa aku dan dia sedang dalam ketegangan—meneleponku untuk menanyakan apakah Adrian sudah sampai di rumah karena rapat telah dibatalkan sejak jam tiga sore. Namun, aku memilih untuk diam. Aku ingin melihat sejauh mana pria yang kucintai ini akan membangun labirin kebohongannya sendiri.
Aku berdiri, melangkah mendekatinya dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Lantai kayu jati yang kami pilih bersama terasa dingin di bawah telapak kaki telanjangku. Aku berhenti tepat di depannya, cukup dekat sehingga aku bisa mencium kembali aroma melati itu. Tanganku terulur, merapikan kerah kemejanya yang sedikit miring. Jari-jariku menyentuh kulit lehernya yang hangat, dan aku bisa merasakan denyut nadinya yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Apakah dia gugup? Ataukah itu hanya imajinasiku yang didorong oleh rasa cemburu yang membakar?
"Kau berbau sangat wangi malam ini, Adrian. Melati? Sejak kapan kau mengganti parfummu?" Aku bertanya sambil menatap langsung ke dalam manik matanya yang berwarna cokelat gelap. Untuk sepersekian detik, aku melihat kilatan kepanikan di matanya. Hanya sekejap, sebelum ia berhasil menutupinya kembali dengan ketenangan yang dingin. Dia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dipaksakan di telingaku. Dia memegang tanganku yang ada di kerahnya, meremasnya lembut seolah-olah ingin meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja.
"Oh, itu mungkin karena aku sempat mampir ke peluncuran produk baru klien kami tadi. Ada banyak tester parfum di sana. Mungkin aromanya menempel saat aku bersalaman dengan orang-orang," jawabnya ringan. Alasan yang logis. Alasan yang sempurna bagi siapa saja yang ingin percaya. Tapi aku bukan lagi Arini yang dulu, yang akan menelan mentah-mentah setiap perkataannya hanya karena aku terlalu takut kehilangan dia. Kepercayaan yang hancur adalah cermin yang pecah; kau bisa mencoba menyatukannya kembali, tapi retakannya akan selalu memantulkan bayangan yang terdistorsi.
Aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan berjalan menuju jendela besar. Hujan di luar semakin deras, seolah-olah langit ikut menangisi kebodohanku yang telah bertahan begitu lama dalam kegelapan. Aku teringat pada Maya, sahabat baikku. Maya yang selalu menggunakan parfum melati. Maya yang akhir-akhir ini sering sekali menanyakan jadwal kepulangan Adrian dengan alasan urusan bisnis yang tidak jelas. Pikiran itu mulai merayap di kepalaku seperti ular yang berbisa, menyebarkan racun kecurigaan ke setiap sudut hatiku. Apakah mungkin? Apakah mereka berdua telah membangun dunia rahasia di belakang punggungku, menertawakan kenaifanku sambil berbagi tempat tidur yang sama?
"Kenapa kau diam saja, Arini? Ada yang mengganggu pikiranmu?" Adrian mendekat lagi, tangannya melingkar di pinggangku dari belakang. Dia menyandarkan dagunya di bahuku, sebuah posisi yang biasanya membuatku merasa paling aman di dunia. Tapi malam ini, aku merasa seperti sedang didekap oleh seekor predator yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkanku sepenuhnya. Aku melihat bayangan kami di kaca jendela yang basah. Kami tampak seperti pasangan yang sempurna di sebuah majalah gaya hidup mewah, namun di balik itu semua, ada keropos yang mulai meruntuhkan fondasi rumah tangga kami.
"Aku hanya sedang berpikir tentang kejujuran, Adrian. Bukankah aneh bagaimana satu rahasia kecil bisa merusak segalanya?" Aku berbisik, suaraku hampir tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar di kejauhan. Aku bisa merasakan tubuhnya sedikit menegang. Pelukannya tidak lagi terasa hangat, melainkan mencekik. Aku ingin berbalik dan berteriak di depan wajahnya. Aku ingin bertanya siapa wanita yang telah mencuri aroma tubuhnya, siapa yang telah membuat suamiku menjadi orang asing di rumahnya sendiri. Namun, aku menahan diri. Aku belum memiliki bukti yang cukup kuat untuk menghancurkan segalanya. Aku harus bermain cantik. Aku harus menjadi lebih tenang daripada dia.
"Kau bicara hal-hal yang filosofis malam ini. Kau pasti kelelahan," kata Adrian sambil melepaskan pelukannya. Dia berjalan menuju kamar mandi, mungkin untuk membersihkan sisa-sisa aroma dosa yang masih menempel di tubuhnya. Aku memperhatikan punggungnya sampai dia menghilang di balik pintu kayu ek yang besar itu. Begitu suara gemericik air terdengar, aku segera menyambar jasnya yang tergeletak di sofa. Tanganku gemetar saat merogoh saku-sakunya. Aku tahu ini salah, aku tahu ini adalah awal dari akhir, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku perlu tahu.
Di saku bagian dalam, aku menemukan sesuatu yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Sebuah struk dari sebuah toko perhiasan ternama di pusat kota, tertanggal hari ini pukul empat sore. Jam di mana dia seharusnya berada di rapat yang ia ceritakan tadi. Aku membaca detail barangnya: Sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian berbentuk tetesan air. Kalung yang indah, aku yakin itu. Namun, aku tidak pernah menerima kalung itu. Ulang tahunku masih tiga bulan lagi, dan hari ini bukan hari perayaan apa pun bagi kami. Rahasia yang disimpan dalam saku jas akan selalu menemukan jalan keluar melalui celah-celah kecil ketidaksengajaan.
Aku mengembalikan struk itu ke tempatnya semula dengan tangan yang kini dingin seperti es. Aku duduk kembali di sofa, mencoba mengatur napas yang terasa sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, tapi aku menolak untuk membiarkannya jatuh. Aku tidak akan menangis untuk pria yang sedang mandi di dalam sana sambil memikirkan bagaimana cara menjelaskan noda di kerahnya. Aku melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja bar, layarnya menyala sebentar karena ada notifikasi masuk. Aku mendekat, hanya untuk melihat sekilas nama yang muncul di layar kunci.
"Terima kasih untuk malam yang indah, Adrian. Kalungnya sangat cantik, persis seperti yang aku inginkan." Pesan itu datang dari sebuah nomor tanpa nama, namun aku tahu siapa pemilik gaya bahasa itu. Aku tahu siapa yang selalu menggunakan emoji bunga melati di akhir setiap pesannya. Itu Maya. Sahabat yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Dunia di sekitarku seolah runtuh seketika. Rasa sakit yang tajam menghujam dadaku, lebih menyakitkan daripada pengkhianatan Adrian itu sendiri. Ini adalah pengkhianatan ganda, sebuah skandal yang akan menghancurkan hidupku jika aku tidak bertindak cepat.
Aku kembali ke sofa sebelum Adrian keluar dari kamar mandi. Saat dia muncul dengan handuk yang melilit pinggangnya, rambutnya yang basah berantakan, dia tampak begitu tidak berdosa. Dia tersenyum padaku, senyum yang sama yang membuatku jatuh cinta bertahun-tahun yang lalu. "Aku merasa jauh lebih segar. Kau sebaiknya segera istirahat, sayang. Besok kita punya hari yang panjang," katanya dengan suara yang lembut, seolah-olah tidak ada badai yang sedang mengamuk di dalam ruangan ini.
Aku menatapnya, benar-benar menatapnya untuk pertama kali dalam waktu yang lama. Aku melihat seorang pria yang mahir bersandiwara, seorang pria yang bisa mencium istrinya setelah memberikan berlian kepada wanita lain. Aku mengangguk pelan, menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam jiwaku. "Ya, kau benar. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang. Mungkin hari terpanjang dalam hidup kita," jawabku dengan nada misterius yang tidak dia sadari maknanya. Aku berjalan menuju kamar, melewati dia tanpa menoleh lagi. Permainan baru saja dimulai, dan aku tidak akan membiarkan mereka menang dengan mudah. Jika mereka menginginkan sebuah skandal, maka aku akan memberikan mereka sebuah pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka.
Malam itu, di bawah selimut sutra merah yang dingin, aku tidak memejamkan mata sedikit pun. Aku mendengarkan napas Adrian yang teratur di sampingku, napas seorang pengkhianat yang merasa aman dalam kebohongannya. Aku menatap langit-langit kamar, merancang setiap langkah pembalasanku. Aku akan membiarkan mereka merasa menang untuk saat ini. Aku akan membiarkan mereka terus bertemu di hotel-hotel mewah, berbagi tawa dan rahasia, sementara aku mengumpulkan semua bukti yang diperlukan untuk menghancurkan reputasi mereka di depan seluruh dunia bisnis Jakarta. Kemarahan wanita yang dikhianati adalah api yang membara di bawah tumpukan salju; ia tidak terlihat, namun ia akan melelehkan segalanya saat waktunya tiba. Aku akan memastikan bahwa saat aku meledak nanti, tidak akan ada satu pun dari mereka yang tersisa untuk berdiri kembali.