Darah di Atas Toga: Skandal Plagiarisme dan Cinta yang Tergadai di Lorong Fakultas

Darah di Atas Toga: Skandal Plagiarisme dan Cinta yang Tergadai di Lorong Fakultas

Kisah Kampus

Darah di Atas Toga: Skandal Plagiarisme dan Cinta yang Tergadai di Lorong Fakultas



Udara di dalam Perpustakaan Pusat siang itu terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena tumpukan buku yang menjulang hingga ke langit-langit, melainkan karena keheningan yang mencekam, seolah-olah rak-rak tua itu sedang menahan napas. Aku, Maya, duduk di sudut paling belakang, tempat di mana cahaya matahari hanya berani mengintip melalui celah jendela kecil yang berdebu. Di hadapanku, sebuah map berwarna biru kusam tergeletak terbuka. Isinya bukan sekadar deretan angka atau teori sosiologi yang membosankan, melainkan sebuah pengkhianatan yang akan mengubah hidupku selamanya.

Detak jam di dinding seberang terdengar seperti palu hakim yang menghantam meja. Tuk. Tuk. Tuk. Setiap detiknya mengikis kewarasanku. Aku baru saja menemukan naskah penelitian orisinal milikku, yang telah kukerjakan selama dua tahun penuh keringat dan air mata, kini terpampang di jurnal internasional bergengsi dengan nama yang berbeda. Nama itu bukan milikku. Nama itu adalah milik Profesor Hendra, dosen pembimbingku sendiri, sosok yang selama ini kupuja sebagai mercusuar integritas di kampus ini.

Tanganku gemetar saat jemariku menyentuh permukaan kertas yang dingin. Aroma kertas lama bercampur dengan bau kopi hitam yang sudah dingin dari cangkir di sebelahku menciptakan sensasi mual yang mendalam. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin seorang pria yang mengajarkanku tentang etika penelitian tega mencuri hasil pemikiran mahasiswanya sendiri? Di sanalah, di halaman abstrak, tertulis dengan jelas setiap hipotesis yang kuramu di malam-malam tanpa tidur, setiap data yang kukumpulkan dari pelosok desa, semuanya dicuri tanpa sisa.

Pintu perpustakaan terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi derit yang memilukan. Elang masuk dengan langkah yang santai, namun bagi mata yang sudah mengenalnya selama tiga tahun, ada sesuatu yang berbeda dari caranya berjalan hari ini. Elang adalah putra tunggal Profesor Hendra, dan dia juga pria yang berbagi mimpi bersamaku di bawah pohon kamboja depan fakultas. Dia melihatku, tersenyum tipis, lalu menghampiri. Senyum itu kini terasa seperti pisau sembilu yang siap mengiris kulitku.

Maya, kenapa wajahmu pucat sekali? Kamu belum makan sejak pagi? tanya Elang sambil meletakkan tangannya di bahuku. Sentuhannya yang biasanya memberikan kehangatan, kini terasa seperti es yang membekukan darahku. Aku menutup map biru itu dengan gerakan cepat, namun terlambat. Mata Elang sempat menangkap judul jurnal yang ada di sana. Ada kilat ketakutan yang melintas di matanya sebelum dia segera menyembunyikannya di balik tawa hambar.

Aku menatapnya tajam, mencoba mencari kejujuran di balik bola mata cokelatnya. Kamu tahu, Elang? tanya suaraku, serak dan hampir tak terdengar. Kamu tahu bahwa ayahmu memublikasikan penelitianku sebagai miliknya? Keheningan yang mengikuti pertanyaanku terasa lebih menyakitkan daripada tamparan. Elang tidak membantah. Dia hanya menunduk, memandangi ujung sepatunya yang mengilap, simbol dari status sosial yang selalu membedakan kami. Ayah melakukan itu untuk kita, Maya. Agar posisi kita aman, agar setelah lulus nanti, kamu bisa langsung masuk ke jajaran peneliti senior di bawah naungannya, bisiknya lirih.

Duniaku runtuh seketika. Cinta yang selama ini kuanggap sebagai tempat perlindungan ternyata hanyalah bagian dari sebuah rencana besar untuk membungkamku. Elang, yang kucintai, telah menjadi kaki tangan dari pencurian masa depanku. Aku berdiri, kursi kayu yang kududuki terdorong ke belakang dengan suara keras, menarik perhatian beberapa mahasiswa lain yang sedang belajar. Aku tidak peduli. Air mata yang sejak tadi kutahan mulai luruh, membasahi pipiku yang terasa panas.

Aku berlari keluar dari perpustakaan, melewati lorong-lorong fakultas yang dindingnya dipenuhi foto-foto mantan dekan. Wajah-wajah itu seolah menertawakanku, mahasiswi miskin yang mencoba melawan sistem. Aku sampai di taman fakultas, tempat di mana bunga-bunga kamboja berguguran di atas tanah yang becek setelah hujan pagi. Di sana, aku berdiri sendirian, merasakan angin dingin menusuk kulitku. Aku teringat masa-masa sulit saat ibuku harus menjual perhiasan terakhirnya hanya agar aku bisa membayar uang semester. Aku teringat janjiku padanya untuk menjadi sarjana yang jujur.

Malam harinya, kampus terasa seperti kota hantu. Lampu-lampu jalan yang remang-remang menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan. Aku memutuskan untuk kembali ke ruang laboratorium untuk mengambil sisa data yang belum sempat kupindahkan. Namun, saat aku mendekati pintu laboratorium, aku mendengar suara perdebatan dari dalam. Itu suara Profesor Hendra dan Elang. Aku mendekat, menempelkan telingaku pada pintu kayu yang dingin.

Kamu harus bisa meyakinkan dia, Elang! Jika dia bicara ke komite etik, reputasi keluarga kita hancur! Suara Profesor Hendra terdengar penuh tekanan, jauh dari kesan tenang yang biasanya dia tunjukkan di ruang kelas. Tapi Yah, itu haknya. Maya sudah berkorban terlalu banyak, jawab Elang dengan nada bimbang. Jangan naif! Di dunia ini, yang kuatlah yang menulis sejarah. Maya hanyalah seorang mahasiswi tanpa koneksi. Dia tidak akan bisa membuktikan apa pun tanpa dukungan kita, bentak sang Profesor.

Hatiku hancur berkeping-keping. Mendengar mereka membicarakan hidupku seolah-olah aku hanyalah pion di papan catur membuat amarahku meledak. Aku tidak lagi merasa takut. Aku merasakan kekuatan yang muncul dari rasa sakit. Aku mengeluarkan ponselku, menekan tombol rekam, dan tetap di sana hingga mereka selesai berbicara. Setiap kata, setiap rencana jahat untuk menyuapku dengan posisi fiktif, terekam dengan sempurna.

Keesokan harinya, kampus gempar. Aku tidak pergi ke komite etik, karena aku tahu komite itu diisi oleh rekan-rekan dekat Profesor Hendra. Sebaliknya, aku mengirimkan rekaman itu dan draf asliku kepada sebuah media investigasi independen yang sering mengangkat skandal di dunia pendidikan. Dalam hitungan jam, berita itu menyebar seperti api di atas jerami kering. Tagar #KeadilanUntukMaya menjadi trending di media sosial.

Aku berdiri di depan gerbang kampus, menatap gedung rektorat yang megah. Elang datang menemuiku dengan wajah yang hancur. Maya, kenapa kamu melakukan ini? Kamu menghancurkan karir ayahku, dan hubungan kita, katanya dengan nada penuh kekecewaan. Aku menatapnya dengan mata yang kini sudah kering. Bukan aku yang menghancurkannya, Elang. Ayahmu yang melakukannya sendiri dengan keserakahannya, dan kamu melakukannya dengan diammu. Cinta tidak seharusnya dibangun di atas tumpukan kebohongan, jawabku tegas.

Hari itu, aku tidak hanya kehilangan kekasih, aku juga kehilangan masa depan akademik yang mulus yang selama ini kuimpikan. Profesor Hendra diberhentikan secara tidak hormat, dan Elang memilih untuk pindah ke luar negeri untuk menghindari rasa malu. Aku tetap di sini, di kampus yang sama, menghadapi tatapan sinis dari mereka yang merasa kepentingannya terganggu, namun juga mendapatkan dukungan dari mereka yang selama ini takut untuk bicara.

Lorong-lorong kampus kini terasa lebih terang bagiku, meski tak ada lagi Elang yang menungguku di bawah pohon kamboja. Aku menyadari bahwa integritas adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dicuri dariku. Biarlah toga yang akan kukenakan nanti tidak datang dari tangan seorang penipu, melainkan dari perjuanganku sendiri yang berdarah-darah. Kejujuran mungkin terasa pahit di awal, namun ia adalah satu-satunya jalan menuju kemerdekaan yang sesungguhnya.

Kini, setiap kali aku melewati perpustakaan, aku teringat akan map biru itu. Map yang mengajarkanku bahwa di balik megahnya gelar dan jabatan, seringkali tersimpan kebusukan yang hanya bisa dibersihkan oleh keberanian. Aku bukan lagi mahasiswi miskin yang bisa diinjak-injak. Aku adalah suara bagi mereka yang dibungkam, dan aku akan memastikan bahwa tidak akan ada lagi naskah yang dicuri di bawah atap universitas ini. Kisahku bukanlah tentang cinta yang berakhir bahagia, melainkan tentang keberanian untuk berdiri tegak saat seluruh dunia memintamu untuk berlutut.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url