Gaji Naik Jabatan Turun: Rahasia di Balik Ruang Kerja CEO yang Menghancurkan Hidupku Secara Instan!
Suasana kantor di lantai dua puluh tujuh sore itu terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal, di luar sana, matahari Jakarta masih menyengat dengan beringasnya, membuat aspal Sudirman seolah mengeluarkan uap panas. Tapi di dalam ruangan ini, di balik dinding kaca yang kedap suara, aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri. Namaku Maya, dan aku sudah tiga tahun mengabdikan hidupku sebagai asisten pribadi Pak Aris, CEO muda yang menjadi idola di gedung ini. Dia tampan, perfeksionis, dan punya aura yang membuat siapa pun tunduk tanpa perlu dia membentak. Selama ini, aku pikir aku adalah orang kepercayaannya. Aku tahu semua jadwalnya, aku tahu dia suka kopi hitam tanpa gula di jam sepuluh pagi, dan aku tahu dia tidak suka jika ada yang menyentuh meja kerjanya tanpa izin.
Hari itu seharusnya menjadi hari perayaanku. Aku baru saja menyelesaikan proyek merger besar yang menyita waktu tidurku selama tiga bulan terakhir. Aku berharap, setidaknya ada ucapan terima kasih atau mungkin bonus yang sudah lama dijanjikan. Namun, saat aku melangkah menuju ruangannya dengan membawa berkas laporan akhir, aku melihat Sarah, sahabat baikku sejak masa orientasi, baru saja keluar dari sana dengan wajah memerah dan senyum yang sulit diartikan. Sarah adalah staf di departemen kreatif, dia cantik, ceria, dan selalu punya cara untuk menarik perhatian orang. Tapi yang membuatku terdiam adalah ketika dia merapikan blusnya yang sedikit berantakan sambil menoleh ke arahku dengan tatapan kemenangan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Maya, lo baru mau lapor? Pak Aris lagi nggak mau diganggu, kayaknya dia butuh istirahat setelah kita 'diskusi' panjang tadi, ucap Sarah dengan nada yang sengaja ditekan pada kata diskusi. Dia tertawa kecil, menepuk bahuku dengan gaya merendahkan, lalu melenggang pergi menuju lift. Jantungku berdegup kencang. Ada sesuatu yang tidak beres. Selama ini, aku menyimpan rasa pada Aris secara diam-diam. Aku tahu itu profesionalitas yang berbahaya, tapi siapa yang bisa menyalahkan hati? Melihat Sarah keluar dari ruangan itu dengan gelagat seperti itu membuat perutku mual karena kecemburuan dan kecurigaan yang membuncah.
Aku mengabaikan peringatan Sarah. Aku mengetuk pintu dua kali, lalu masuk tanpa menunggu jawaban. Ruangan itu harum kayu cendana, parfum khas Aris. Dia sedang duduk di kursi kebesarannya, membelakangiku, menatap pemandangan kota Jakarta yang mulai dipenuhi lampu-lampu kendaraan. Pak Aris, ini laporan akhirnya, kataku dengan suara yang sedikit bergetar. Dia tidak berbalik. Suasana begitu sunyi hingga aku bisa mendengar detak jarum jam dinding yang elegan itu. Taruh saja di meja, Maya. Dan oh ya, selamat untuk Sarah. Mulai besok, dia akan mengisi posisi Manajer Operasional yang kosong itu, ucapnya dingin, datar, tanpa emosi.
Aku nyaris menjatuhkan map di tanganku. Posisi itu? Posisi itu adalah janji yang dia berikan padaku enam bulan lalu jika proyek ini berhasil. Aku yang bekerja lembur sampai pagi, aku yang menghadapi klien-klien sulit, dan sekarang Sarah yang baru setahun di sini mendapatkan posisi itu? Tapi Pak, bukannya kita sudah sepakat kalau... kalimatku terputus. Aris memutar kursinya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat lelah, tapi ada kilatan keras di matanya. Kesepakatan bisa berubah, Maya. Kamu tetap asistenku. Jangan banyak tanya, lanjutnya dengan nada mengusir. Aku merasa seperti ditampar di tengah keramaian. Perasaan sakit hati ini bukan cuma soal jabatan, tapi soal kepercayaan yang hancur berkeping-keping.
Saat aku hendak berbalik pergi dengan mata yang mulai memanas, ponsel Aris yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar yang menyala terang. Aku tidak sengaja membacanya karena posisinya sangat dekat dengan tempatku menaruh laporan. Pesan itu dari Sarah. Isinya: 'Makasih buat yang tadi ya, Sayang. Aku nggak nyangka kamu bakal beneran kasih jabatan itu secepat ini. See you tonight at our place.' Napasku seolah berhenti. 'Sayang'? 'Our place'? Ternyata pengkhianatan ini jauh lebih dalam dari yang aku bayangkan. Sahabatku dan bos yang aku cintai secara rahasia, ternyata memiliki hubungan di belakangku selama ini.
Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Rekan-rekan kantor yang lain masih sibuk di depan layar monitor mereka, tidak tahu bahwa duniaku baru saja runtuh. Aku duduk di kubikelku, menatap kosong ke arah layar komputer yang menampilkan tabel Excel yang membosankan. Ingin rasanya aku berteriak, menjambak rambut Sarah, atau memaki Aris di depan semua orang. Tapi aku tahu, aku bukan tipe orang seperti itu. Aku adalah Maya, si gadis pendiam yang selalu bermain aman. Namun, sore ini, sesuatu dalam diriku patah. Aku tidak bisa membiarkan mereka menginjak-injak harga diriku seperti ini. Aku mulai membuka folder rahasia di komputer kantor, sebuah folder yang berisi catatan keuangan perusahaan yang pernah diminta Aris untuk aku 'rapikan' beberapa bulan lalu.
Dulu aku melakukannya karena aku percaya padanya. Aku pikir itu hanya prosedur internal biasa. Tapi sekarang, dengan mata yang terbuka lebar oleh rasa sakit, aku melihat pola-pola aneh. Aliran dana yang masuk ke rekening-rekening tidak dikenal, proyek fiktif, dan penggelapan pajak yang dilakukan secara sistematis. Aris bukan hanya bos yang berengsek soal cinta, dia adalah kriminal berkerah putih. Dan Sarah? Dia pasti tahu sesuatu atau mungkin dia adalah bagian dari rencana ini untuk mengamankan posisi pribadinya. Aku menyalin semua data itu ke dalam sebuah flashdisk dengan tangan gemetar. Ini adalah satu-satunya senjataku.
Malam semakin larut. Kantor mulai sepi. Aku masih di sana, berpura-pura lembur. Tiba-tiba, Aris keluar dari ruangannya, sudah rapi dengan jasnya, siap untuk pergi. Dia berhenti di depan mejaku. Kamu belum pulang, Maya? Jangan terlalu memaksakan diri. Besok kamu harus bantu Sarah pindahan ke ruangan barunya, katanya dengan senyum tipis yang kini terlihat sangat menjijikkan di mataku. Aku mendongak, menatap matanya dalam-dalam. Tentu, Pak. Saya akan pastikan semuanya 'bersih' sebelum Sarah menempati ruangan itu, jawabku dengan nada ganda yang tidak dia sadari. Dia mengangguk, lalu pergi begitu saja, mungkin menuju 'tempat mereka' seperti yang disebutkan dalam pesan Sarah.
Setelah dia menghilang di balik lift, aku segera mengemasi barang-barangi. Aku tidak akan menunggu sampai besok. Aku tahu Sarah pasti akan menghubungiku malam ini untuk berpura-pura merasa bersalah atau mungkin untuk memamerkan kesuksesannya. Benar saja, saat aku sedang menunggu KRL di peron stasiun Sudirman yang padat, ponselku berbunyi. Telepon dari Sarah. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang liar. Aku mengangkatnya. Maya! Aduh, sori banget ya soal tadi. Aku mau jelasin tapi Pak Aris kayaknya nggak mau aku ngomong dulu. Kita ketemu yuk di kafe biasa? Aku traktir deh! suara Sarah terdengar sangat ceria, tanpa beban dosa sedikit pun.
Aku tersenyum kecut di tengah kerumunan orang yang berdesakan. Boleh, Sarah. Kita memang perlu bicara banyak. Soal jabatan baru kamu, soal hubungan kamu sama Pak Aris, dan mungkin soal file-file keuangan yang baru saja aku temukan, kataku pelan tapi tajam. Keheningan panjang terjadi di seberang telepon. Aku bisa mendengar napas Sarah yang memburu. Ma-maksud kamu apa, Maya? Jangan ngaco deh, suaranya berubah panik. Kamu tahu persis maksudku. Ketemu aku di kafe satu jam lagi, atau file ini akan sampai ke meja dewan komisaris besok pagi, ancamku sebelum mematikan sambungan telepon. Aku merasa ada adrenalin yang mengalir deras di pembuluh darahku. Ini bukan lagi soal cinta yang tak terbalas, ini soal bertahan hidup di tengah serigala-serigala kantor.
Sesampainya di kafe, suasana sangat remang-remang. Sarah sudah duduk di pojok ruangan, wajahnya terlihat pucat di bawah lampu kuning yang redup. Saat dia melihatku datang, dia langsung berdiri. Maya, plis, dengerin dulu. Itu nggak kayak yang kamu pikirkan! Aris yang maksa aku! Dia bilang kalau aku nggak mau bantu dia, aku bakal dipecat! Sarah mencoba meraih tanganku, tapi aku menepisnya dengan kasar. Jangan akting lagi, Sar. Aku lihat pesannya. 'Sayang'? Sejak kapan kamu jadi simpanan bos kita sendiri? Dan sejak kapan kamu ikut-ikutan bantu dia gelapin duit perusahaan? tanyaku tanpa basa-basi.
Sarah terduduk lemas. Air mata mulai mengalir di pipinya, tapi aku tidak merasa kasihan sedikit pun. Dia yang mengkhianati persahabatan kami demi sebuah kursi manajer. Dia yang menusukku dari belakang saat aku sedang berjuang untuk masa depan kami berdua. Kamu nggak tahu betapa berkuasanya dia, Maya. Kalau kamu bongkar ini, kita berdua bakal hancur. Dia punya orang di mana-mana! Sarah berbisik dengan nada ketakutan. Biar saja hancur, asal dia tidak menang sendirian, jawabku tegas. Namun, tepat saat aku hendak menunjukkan flashdisk itu, sebuah bayangan muncul di belakang Sarah. Aris berdiri di sana, dengan wajah yang lebih gelap dari malam paling pekat sekalipun. Dia memegang ponselnya, dan sepertinya dia sudah mendengar semuanya lewat pelacak yang ada di ponsel Sarah.
Jadi, ini cara kamu membalas budi, Maya? Aris melangkah maju, membuat orang-orang di kafe itu menoleh sebentar sebelum kembali ke urusan mereka masing-masing. Suasananya mendadak mencekam. Aku merasa terjebak. Aku hanya seorang asisten dengan sebuah flashdisk, sementara di depanku adalah pria yang punya segalanya untuk melenyapkanku dalam semalam. Aris mengambil kursi dan duduk di antara kami berdua. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang membuatku sadar bahwa aku baru saja memulai permainan yang mungkin tidak bisa aku menangkan. Kembalikan flashdisk itu, dan aku akan lupakan semua ini. Kamu bisa tetap kerja, dan aku akan kasih posisi yang lebih tinggi dari Sarah. Tapi kalau kamu menolak... Aris menggantung kalimatnya, tangannya merogoh sesuatu di dalam saku jasnya.
Jantungku serasa mau copot. Aku melihat ke sekeliling, mencari jalan keluar, tapi dua pria berbadan besar yang biasanya menjadi pengawalnya sudah berdiri di dekat pintu keluar kafe. Aku terjebak. Sarah hanya bisa menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan tangan. Aku menatap flashdisk di tanganku, lalu menatap Aris. Aku tahu, jika aku menyerah sekarang, aku akan menjadi budaknya selamanya. Tapi jika aku melawan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku besok pagi. Di tengah kebisingan musik kafe dan suara tawa pengunjung lain, aku menyadari bahwa rahasia yang aku pegang ini jauh lebih besar dari sekadar korupsi. Ini adalah kunci yang bisa menghancurkan seluruh dinasti keluarga Aris. Dan saat itulah, ponselku bergetar lagi. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk: 'Jangan percaya siapa pun di ruangan itu, Maya. Keluar sekarang kalau kamu masih mau selamat.'