Gema Sunyi di Ruang Laboratorium
Udara di dalam Laboratorium Mikrobiologi itu selalu terasa lima derajat lebih dingin daripada suhu di luar gedung fakultas, terutama ketika jarum jam sudah melewati angka dua dini hari. Bau tajam autoklaf yang baru saja selesai dipanaskan bercampur dengan aroma kopi instan yang sudah mendingin di atas meja kerja. Aku menghela napas panjang, membiarkan uap napasku mengaburkan sedikit kacamata yang bertengger di pangkal hidung. Di depanku, barisan cawan petri berisi kultur bakteri Pseudomonas seolah sedang menertawakan nasibku yang masih terjebak di sini, sementara teman-teman seangkatanku mungkin sudah terlelap atau sedang asyik merayakan berakhirnya ujian tengah semester di kafe-kafe pusat kota.
Aku mengusap wajahku dengan kasar. Kelelahan ini bukan sekadar fisik, melainkan sesuatu yang menggerogoti hingga ke sumsum tulang. Beasiswa Erasmus Mundus ke Jerman hanya tinggal selangkah lagi. Hanya satu mahasiswa dari jurusan Bioteknologi ini yang akan dikirim, dan namaku berada di urutan teratas daftar nominasi, bersaing ketat dengan satu nama lain yang membuat ulu hatiku selalu berdenyut nyeri setiap kali mendengarnya: Ervandi. Ervandi adalah definisi dari kesempurnaan akademik yang menjengkelkan. Ia cerdas, karismatik, dan selalu memiliki jawaban yang tepat untuk setiap pertanyaan dosen yang paling sulit sekalipun. Namun bagiku, Ervandi adalah lebih dari sekadar saingan. Ia adalah sosok yang dulu pernah berbagi payung denganku saat hujan badai melanda gerbang kampus, sosok yang dulu selalu mengingatkanku untuk tidak lupa makan di tengah kesibukan praktikum.
Pintu laboratorium berderit pelan. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Langkah kakinya yang berat namun teratur itu sudah sangat kukenal. Ervandi berjalan mendekat, membawa aura dingin yang seolah lebih beku dari mesin pendingin sampel di sudut ruangan. Ia tidak menyapa. Ia langsung menuju meja kerjanya yang berada tepat di seberang mejaku, meletakkan tas ranselnya dengan suara gedebuk yang memecah keheningan malam. Aku tetap fokus pada mikroskopku, mencoba mengabaikan kehadirannya yang terasa begitu mendominasi ruang sempit ini. Namun, konsentrasiku buyar saat aku mendengar suara gesekan kertas yang sangat familiar. Itu adalah suara map plastik berisi draf proposal penelitianku yang seharusnya tersimpan rapi di dalam laci meja yang terkunci.
'Sedang mencari ini, Amara?' suara Ervandi memecah kesunyian. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun mengandung getaran yang membuat bulu kudukku meremang. Aku perlahan mengangkat kepala, menatap matanya yang tersembunyi di balik lensa kacamata frame hitamnya. Di tangannya, ia memegang draf penelitianku tentang modifikasi enzim untuk degradasi plastik. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah baru saja dihantam godam. Aku segera memeriksa laci mejaku. Kuncinya sudah rusak, tampak bekas congkelan halus yang dilakukan oleh tangan yang sangat terampil.
'Apa yang kamu lakukan, Van? Itu milikku,' kataku dengan suara yang bergetar karena amarah yang berusaha kuredam. Aku berdiri, tanganku mengepal di sisi paha. Aku tidak percaya bahwa pria yang pernah kusebut sebagai sahabat terbaikku, orang yang berbagi rahasia denganku tentang ketakutannya mengecewakan ayahnya yang seorang profesor ternama, tega melakukan hal serendah ini. Ervandi hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Matanya tampak lelah, ada lingkaran hitam yang dalam di sana, menunjukkan bahwa ia juga tidak tidur selama berhari-hari. Namun, ambisi yang terpancar dari tatapannya terasa begitu buas, begitu asing bagiku.
'Milikmu? Dalam sains, Amara, ide tidak dimiliki oleh siapa pun sampai ide itu dipublikasikan atau dipresentasikan. Dan kurasa, aku akan mempresentasikan metode ini di hadapan dewan penguji beasiswa besok pagi. Kamu tahu, ayahku tidak akan menerima kegagalan. Baginya, posisi kedua adalah penghinaan bagi nama besar keluarga kami. Jadi, aku minta maaf, tapi aku lebih butuh beasiswa ini daripada kamu,' ucapnya tanpa nada penyesalan sedikit pun. Kalimat itu terasa seperti sembilu yang menyayat hatiku. Aku teringat bagaimana kami dulu sering duduk di perpustakaan hingga malam, berdiskusi tentang masa depan, tentang bagaimana kami ingin mengubah dunia melalui sains. Semua itu ternyata hanya panggung sandiwara baginya untuk memata-matai progres penelitianku.
Aku melangkah maju, mendekatinya hingga jarak kami hanya menyisakan beberapa jengkal. Aku bisa mencium aroma parfum kayu cendana miliknya yang kini terasa menyesakkan paru-paru. 'Kamu mencuri, Ervandi. Kamu bukan hanya mencuri ideku, kamu mencuri kepercayaanku. Apa kamu pikir kamu bisa hidup tenang setelah membangun karirmu di atas reruntuhan orang lain? Apa kamu pikir kamu akan merasa bangga saat berdiri di Jerman nanti, mengetahui bahwa kamu berada di sana karena sebuah kecurangan?' tanyaku dengan nada yang kini lebih tajam. Mataku mulai berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena kemarahan yang meluap-luap. Aku melihat ada kilatan keraguan di matanya sejenak, namun itu segera menghilang, digantikan oleh dinding es yang kembali mengeras.
'Dunia tidak seindah buku dongeng yang sering kamu baca, Amara. Di sini, yang bertahan adalah yang paling cerdik, bukan yang paling jujur. Kamu terlalu naif. Kamu pikir dedikasi dan kerja keras saja cukup? Tidak. Kadang kita harus sedikit mengotori tangan kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan,' balasnya sambil memasukkan draf itu ke dalam tasnya. Ia berbalik, bersiap untuk pergi. Namun, aku belum selesai. Aku menarik lengannya, memaksanya untuk kembali menghadapku. Aku ingin dia melihat kehancuran yang ia ciptakan di mataku. Aku ingin dia merasakan beban dari setiap keringat dan air mata yang kutumpahkan untuk penelitian itu.
'Jangan pergi, Ervandi! Tatap aku! Katakan padaku bahwa persahabatan kita selama tiga tahun ini tidak berarti apa-apa bagimu! Katakan bahwa semua dukungan yang kamu berikan saat aku hampir menyerah karena biaya kuliah adalah bagian dari rencana ini!' teriakku. Suaraku menggema di antara rak-rak bahan kimia dan peralatan gelas. Ervandi terdiam. Bahunya tampak merosot sedikit. Ia tidak menatapku. Ia menatap lantai laboratorium yang mengkilap terkena pantulan lampu neon. Sunyi kembali menyergap, lebih pekat dari sebelumnya. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur menuju kehancuran hubungan kami yang tak akan pernah bisa diperbaiki lagi.
'Aku memang mendukungmu, Amara. Aku benar-benar peduli padamu. Tapi di universitas ini, kita adalah rival. Sejak hari pertama kita menginjakkan kaki di sini, kita sudah berada di jalur pacu yang berbeda. Aku tidak bisa membiarkan perasaanku menghalangi tujuanku. Aku harus pergi,' bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Ia melepaskan tanganku dengan lembut namun tegas. Saat ia melangkah keluar dari laboratorium, aku merasa ada sesuatu yang patah di dalam dadaku. Bukan hanya mimpiku untuk pergi ke Jerman, tapi juga keyakinanku bahwa masih ada ketulusan di dunia yang kompetitif ini.
Aku jatuh terduduk di kursi laboratoriumku, menatap cawan petri yang tadi kutinggalkan. Air mata akhirnya jatuh, membasahi jas lab putihku. Aku merasa sangat bodoh. Aku terlalu fokus pada mikroskop hingga gagal melihat predator yang berada tepat di sampingku. Namun, di tengah isak tangisku, aku teringat sesuatu. Ervandi mungkin mengambil draf fisikku, tapi ia tidak tahu bahwa aku telah melakukan modifikasi terakhir pada variabel kontrol penelitian itu sore tadi. Hasil yang ada di dalam draf yang ia curi adalah data yang belum sempurna, data yang akan menunjukkan anomali jika diuji ulang di depan panelis. Ia terlalu terburu-buru. Keangkuhannya telah membuatnya ceroboh.
Aku menghapus air mataku dengan punggung tangan. Rasa perih itu masih ada, namun kini dibarengi dengan tekad yang dingin. Aku membuka laptopku, jemariku mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku akan menulis ulang semuanya dari memori, dengan data terbaru yang hanya ada di kepalaku. Aku tidak akan membiarkan dia menang begitu saja. Besok pagi, di ruang sidang senat, akan ada pertunjukan yang sesungguhnya. Bukan hanya tentang siapa yang lebih cerdas, tapi tentang siapa yang benar-benar memahami sains dengan integritas. Ervandi ingin bermain kotor? Baiklah. Aku akan menunjukkan padanya bahwa kebenaran dalam sains selalu menemukan jalannya untuk terungkap, meski harus melewati malam yang paling gelap sekalipun.
Pagi harinya, suasana kampus terasa lebih tegang dari biasanya. Aku berdiri di depan pintu ruang sidang dengan pakaian formal yang rapi, meski mataku sembab karena kurang tidur. Di sana, di kejauhan, aku melihat Ervandi sedang dikelilingi oleh beberapa dosen. Ia tampak percaya diri, tertawa kecil seolah kemenangan sudah di tangannya. Saat mata kami bertemu, aku tidak membuang muka. Aku menatapnya dengan tatapan yang tenang, sebuah ketenangan yang sepertinya membuatnya sedikit terusik. Senyumnya perlahan memudar saat ia melihat map baru yang kupegang erat di dadaku. Ia tidak menyangka aku masih memiliki kekuatan untuk berdiri di sini.
'Peserta nomor urut satu, Ervandi Wiryawan, silakan memasuki ruangan,' suara sekretaris jurusan memanggil. Ervandi menarik napas dalam, membetulkan letak dasinya, lalu melangkah masuk. Aku menunggu di luar, duduk di kursi tunggu yang dingin. Menit demi menit berlalu seperti jam. Dari balik pintu kayu yang tebal, aku tidak bisa mendengar apa yang terjadi di dalam, namun aku bisa merasakan ketegangan yang merambat keluar. Tiba-tiba, pintu terbuka lebih cepat dari jadwal presentasi yang seharusnya. Ervandi keluar dengan wajah yang pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya. Ia tampak gemetar, dan di belakangnya, Prof. Subroto, ketua dewan penguji yang terkenal paling teliti, tampak sangat geram.
'Amara, silakan masuk sekarang,' panggil Prof. Subroto dengan nada suara yang berat. Aku berdiri, melewati Ervandi tanpa sepatah kata pun. Saat aku berada tepat di sampingnya, aku berbisik sangat pelan hingga hanya dia yang bisa mendengarnya, 'Sains tidak pernah berbohong, Van. Begitu juga dengan hati nurani.' Aku melangkah masuk ke dalam ruangan, meninggalkan sosok pria yang pernah aku cintai dalam diam itu hancur oleh ambisinya sendiri. Di dalam sana, aku mempresentasikan bukan hanya sebuah penelitian, tapi juga sebuah pembuktian bahwa kejujuran adalah mata uang yang paling berharga di dunia akademik. Meski jalanku mungkin akan lebih sulit, setidaknya aku tidak akan pernah terbangun di tengah malam dengan rasa bersalah yang mencekik leherku seperti yang akan dialami Ervandi sepanjang sisa hidupnya.
Sidang berakhir dengan keputusan yang mengejutkan. Tidak ada beasiswa yang diberikan tahun ini karena adanya skandal plagiarisme yang mencoreng nama baik jurusan. Ervandi diskors, dan penelitianku ditunda publikasinya untuk penyelidikan lebih lanjut. Aku kehilangan kesempatanku ke Jerman, namun anehnya, aku merasa lega. Saat aku berjalan keluar gedung kampus sore itu, hujan mulai turun membasahi bumi. Aku tidak membuka payungku. Aku membiarkan air hujan membasuh sisa-sisa kesedihan dan kekecewaan yang menggelayut di pundakku. Di tengah riuh rendah suara hujan, aku menyadari bahwa kadang kita harus kehilangan segalanya untuk menemukan kembali diri kita yang sebenarnya. Kampus ini mungkin telah menjadi saksi bisu sebuah pengkhianatan, namun ia juga menjadi tempat di mana aku belajar bahwa kesuksesan tanpa integritas hanyalah sebuah gema sunyi yang tak akan pernah sampai ke tujuan yang berarti.