Iseng Cek Riwayat GoFood di Tablet Bekas, Aku Malah Menemukan Alamat 'Rumah Kedua' Suamiku
'Tante Kalila, ini kenapa gambarnya macet-macet terus?' Suara cempreng Arka, keponakanku yang baru berusia lima tahun, memecah lamunanku di tengah riuhnya arisan keluarga besar di rumah ibu mertuaku. Arka menyodorkan sebuah tablet tua dengan layar yang sudah retak seribu di pojokannya. Tablet itu adalah gawai lama milik suamiku, Pradipa, yang katanya sudah tidak terpakai dan diberikan kepada Arka untuk sekadar menonton kartun atau bermain gim ringan.
Aku tersenyum tipis, mengambil tablet yang terasa lengket oleh bekas sisa cokelat dari tangan Arka. Suasana di ruang tengah rumah Ibu Ratna begitu hangat. Aroma rendang dan opor ayam menguar, beradu dengan suara tawa bibi-bibi Pradipa yang sedang asyik memamerkan perhiasan terbaru mereka. Di sudut lain, Pradipa sedang asyik berbincang dengan kakak iparnya, tampak begitu berwibawa dengan kemeja batik yang kupilihkan pagi tadi. Dia adalah definisi suami sempurna di mata semua orang: mapan, penyabar, dan sangat menyayangi keluarga.
Aku mulai mengutak-atik tablet itu, mencoba membersihkan cache yang menumpuk agar performanya kembali lancar. Namun, saat aku menyapu layar ke bawah untuk menutup aplikasi yang berjalan di latar belakang, sebuah notifikasi muncul. Notifikasi dari sebuah aplikasi layanan pesan antar makanan. 'Pesanan Anda dari Bubur Ayam Mang Husein sedang menuju alamat: Cluster Akasia, Blok C-12'. Dahiku berkerut. Cluster Akasia? Seingatku, itu adalah perumahan elit di pinggiran kota, hampir empat puluh kilometer dari rumah kami di pusat Jakarta.
Awalnya, aku berpikir mungkin itu hanya kesalahan sistem atau akun yang masih tersangkut di perangkat lama. Namun, rasa penasaran yang aneh mulai merayap di tengkukku. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku membuka aplikasi tersebut. Aku melihat profil penggunanya. Nama Pradipa terpampang di sana, lengkap dengan foto profilnya yang sedang tersenyum lebar. Aku masuk ke bagian 'Riwayat Pesanan'. Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat ketika melihat daftar panjang pesanan yang ada di sana.
Hampir setiap Selasa dan Kamis, selama enam bulan terakhir, ada pesanan makanan yang dikirim ke alamat yang sama: Cluster Akasia, Blok C-12. Jenis makanannya pun sangat spesifik. Martabak manis tanpa kacang, nasi goreng gila tanpa cabai, hingga berbotol-botol susu khusus ibu hamil. Napasku mendadak terasa pendek. Susu ibu hamil? Kami sudah menikah selama lima tahun, dan selama itu pula kami berjuang menghadapi diagnosa infertilitas yang membuatku merasa gagal sebagai wanita. Pradipa selalu berkata, 'Enggak apa-apa, Kalila. Kita berdua saja sudah cukup buat aku'.
Aku menelan ludah, mencoba mencari kewarasan di tengah gemuruh emosi yang mulai meledak. Aku menggulir lebih jauh. Ada pesanan dari toko perlengkapan bayi. Paket popok ukuran newborn, minyak telon, hingga set baju bayi warna kuning pucat. Semua dikirim ke alamat yang sama. Tanganku mendingin, tablet di genggamanku terasa seberat beton. Di kejauhan, aku mendengar tawa Pradipa yang renyah. Dia sedang menceritakan pengalamannya mengurus proyek di luar kota setiap Selasa dan Kamis. 'Iya, proyek di Purwakarta itu memang menyita waktu, makanya saya sering pulang malam atau terpaksa menginap,' ucapnya dengan nada meyakinkan yang selama ini selalu kupercayai tanpa celah.
Ternyata, Purwakarta hanyalah dongeng sebelum tidur. Cluster Akasia adalah realitanya. Aku merasa seperti orang asing di tengah keluarga yang begitu memujanya. Aku menatap punggung tegap suamiku itu. Bagaimana mungkin pria yang setiap pagi mencium keningku dan membisikkan kata cinta, bisa memiliki kehidupan lain yang begitu mendalam di tempat lain? Apakah ada wanita lain di sana? Seorang wanita yang memberinya apa yang tidak bisa kuberikan: seorang anak?
Aku mencoba berdiri, namun kakiku terasa lemas. Aku harus memastikan ini. Aku tidak boleh hancur di sini, di depan Ibu Ratna yang selalu membanggakan putranya. Aku berjalan menuju kamar mandi, mengunci pintu, dan bersandar di balik daun pintu yang dingin. Aku membuka ponsel pribadiku, gemetar jariku saat mengetikkan alamat 'Cluster Akasia Blok C-12' di aplikasi peta digital. Jaraknya satu jam dari sini. Foto gerbang perumahannya terlihat sangat privat, sangat aman untuk menyembunyikan sebuah rahasia besar.
Air mata mulai menggenang, namun aku menahannya sekuat tenaga. Aku tidak ingin mataku sembap saat keluar nanti. Aku kembali melihat riwayat transaksi di tablet itu. Ada satu pesanan yang menarik perhatianku. Sebuah kue ulang tahun dengan tulisan: 'Selamat 1 Bulan, Jagoan Papa'. Tanggalnya baru minggu lalu. Jagoan Papa. Kata-kata itu seperti sembilu yang menyayat tepat di jantungku. Selama ini, aku adalah pihak yang paling merasa bersalah karena rahimku yang sepi, sementara dia sudah merayakan kelahiran seorang 'jagoan'.
Aku teringat betapa seringnya Pradipa pulang dengan aroma parfum yang berbeda, atau bagaimana dia mendadak sangat protektif terhadap ponselnya. Aku bodoh. Aku terlalu percaya pada topeng kesetiaannya yang dipoles begitu rapi dengan kemapanan dan tutur kata manis. Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah yang kupaksakan terlihat tenang, meski di dalam dadaku ada badai yang siap meluluhlantakkan segalanya. Aku mengembalikan tablet itu kepada Arka, yang langsung kembali asyik dengan dunianya.
'Kalila, kok mukanya pucat? Kamu kurang enak badan?' tanya Ibu Ratna sambil menghampiriku, tangannya yang hangat menyentuh pipiku. Aku hanya bisa tersenyum getir. 'Hanya pusing sedikit, Bu. Mungkin karena kurang tidur semalam'. Di seberang ruangan, Pradipa menoleh ke arahku, tatapannya penuh perhatian yang kini terasa seperti racun bagiku. 'Sayang, kalau capek kita pulang sekarang saja ya?' tanyanya dengan nada lembut yang sangat manipulatif.
Aku menatap matanya dalam-dalam, mencari setitik saja rasa bersalah di sana. Tidak ada. Hanya ada ketenangan seorang pembohong ulung. 'Iya, Mas. Mari kita pulang. Aku butuh istirahat... dan mungkin kita perlu mampir ke suatu tempat sebentar,' jawabku dengan nada yang datar, menyimpan sejuta rencana di balik ketenanganku yang palsu. Pradipa hanya mengangguk, tidak menyadari bahwa hari ini, istana pasir yang ia bangun dengan kebohongan selama berbulan-bulan, baru saja dihantam ombak kenyataan yang tak terelakkan.
Sepanjang perjalanan pulang, mobil terasa sesak oleh keheningan. Pradipa mencoba mencairkan suasana dengan membicarakan rencana liburan akhir tahun kami ke Jepang. Aku hanya menanggapi dengan gumaman singkat. Pikiranku melayang ke Cluster Akasia. Aku harus melihatnya sendiri. Aku harus tahu siapa wanita yang tinggal di sana. Dan yang paling penting, aku harus melihat 'jagoan' yang telah menggantikan posisiku dalam arti keluarga yang sebenarnya bagi Pradipa.
Saat kami melewati gerbang tol, aku melihat struk e-toll yang diletakkan Pradipa di dashboard. Aku mengambilnya perlahan. Jam keluarnya selalu di atas jam sepuluh malam pada hari-hari dia mengaku 'lembur'. Hatiku semakin hancur, namun logikaku mulai bekerja tajam. Ini bukan lagi soal cinta yang dikhianati, ini soal martabatku yang diinjak-injak. Aku tidak akan membiarkan dia menang dengan skenario 'suami teladan' ini lebih lama lagi.
Tiba-tiba, ponsel Pradipa yang diletakkan di console box bergetar. Sebuah pesan masuk muncul di layar yang tidak terkunci sepenuhnya. Sebuah foto bayi mungil yang sedang tertidur lelap, dikirim oleh kontak bernama 'Admin Proyek'. Pesannya singkat: 'Daffa kangen Papa, jangan lupa bawa susunya ya'. Darahku mendidih. Admin Proyek? Sungguh penyamaran yang sangat klise namun efektif jika istrinya sebodoh aku dulu. Aku menggenggam erat pegangan pintu mobil, menahan diri agar tidak menjerit sekarang juga. Permainan ini baru saja dimulai, Pradipa. Dan aku pastikan, kamu akan kehilangan segalanya sebelum matahari terbit besok.