Kado Paling Menjijikkan di Ulang Tahun Pernikahanku: Rahasia di Balik Foto Polaroid Itu...
Malam itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Hujan turun begitu deras, menyisakan suara gemericik yang menghantam kaca jendela apartemen kami di lantai dua puluh delapan. Di dalam, suasana kontras terasa begitu hangat. Aku sudah menata meja makan dengan sangat rapi. Ada lilin aromaterapi aroma vanilla yang menenangkan, dua piring steak wagyu yang masih mengepulkan uap, dan sebotol jus anggur merah sebagai perayaan kecil-kecilan. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Lima tahun yang aku pikir penuh dengan cinta, tawa, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Rio, suamiku, baru saja mengirim pesan kalau dia sedang dalam perjalanan pulang. Katanya dia terjebak macet di daerah Sudirman, hal yang sangat lumrah di hari Jumat malam seperti ini. Aku tersenyum menatap ponselku, membayangkan wajah lelahnya yang akan langsung cerah saat melihat kejutan yang aku siapkan. Aku beranjak dari meja makan, berniat mengambil charger ponsel di ruang kerja Rio karena bateraiku sudah hampir habis. Aku tidak menyangka bahwa langkah kakiku ke ruangan itu akan menjadi awal dari kehancuran duniaku.
Ruang kerja Rio tertata sangat rapi, persis seperti kepribadiannya yang perfeksionis. Aku melihat tas kerja kulitnya tergeletak di atas sofa kecil. Biasanya aku tidak pernah berani menyentuh barang pribadinya, bukan karena dia melarang, tapi karena aku sangat menghargai privasinya. Namun, entah dorongan apa malam itu, tanganku terulur untuk membuka ritsleting tas itu. Aku hanya ingin mencari charger, batinku meyakinkan diri sendiri. Tapi jariku justru menyentuh sesuatu yang teksturnya kaku dan berbeda dari tumpukan berkas kantor.
Aku menarik keluar sebuah foto polaroid yang terselip di dalam kantong kecil di bagian dalam tas. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang, seolah ada alarm bahaya yang berbunyi di dalam kepalaku. Saat aku membalikkan foto itu, duniaku seakan berhenti berputar. Oksigen di sekitarku mendadak hilang. Di foto itu, Rio sedang tertawa lebar, merangkul pinggang seorang wanita dengan sangat mesra. Wanita itu bukan aku. Wanita itu adalah Shinta, sahabat baikku sejak SMA, orang yang sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri.
Mereka berada di sebuah kamar hotel yang sangat aku kenali dekorasinya. Di belakang foto itu, tertulis sebuah tanggal dengan tinta hitam yang sangat rapi. 14 Februari. Hari Valentine. Tanggal yang sama saat Rio bilang dia harus dinas ke luar kota selama tiga hari. Aku ingat betul betapa sedihnya aku saat itu karena harus merayakan Valentine sendirian, sementara suamiku malah asyik bermesraan dengan sahabatku di belakang punggungku. Tanganku gemetar hebat, foto itu jatuh ke lantai, tapi mataku tidak bisa berhenti menatap senyum penuh kemenangan Shinta di foto tersebut.
Rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkonganku. Aku teringat semua momen ketika Shinta datang ke rumah kami, mengeluh tentang betapa sulitnya dia menemukan laki-laki yang baik seperti Rio. Aku ingat betapa seringnya aku menyuruh Rio untuk mengantar Shinta pulang kalau hari sudah malam karena aku khawatir dengan keselamatannya. Ternyata, selama ini aku sedang mengantarkan suamiku sendiri ke pelukan wanita lain. Pengkhianatan ini terasa begitu halus, begitu rapi, dan begitu menjijikkan.
Aku memungut kembali foto itu, air mataku mulai jatuh satu per satu, membasahi permukaan foto yang licin. Mengapa Shinta? Mengapa Rio? Kami baru saja merencanakan untuk program bayi bulan depan. Kami baru saja membeli rumah baru yang lebih besar. Segalanya tampak begitu sempurna di mataku, tapi ternyata itu semua hanyalah panggung sandiwara yang mereka bangun untuk menutupi kebusukan mereka. Aku merasa seperti orang bodoh yang berdiri di tengah-tengah tepuk tangan penonton, tidak menyadari bahwa aku adalah bahan lelucon utamanya.
Terdengar suara pintu depan terbuka. Jantungku mencelos. Itu Rio. Dia sudah pulang. Aku mendengar langkah kakinya yang berat mendekat ke arah kamar kami, lalu berhenti sejenak, mungkin mencari keberadaanku. Aku segera menyeka air mataku dengan kasar, tapi mataku pasti sudah merah dan sembap. Aku menyelipkan foto polaroid itu ke dalam saku daster sutra yang aku kenakan. Aku harus bersikap tenang, setidaknya sampai aku mendapatkan jawaban langsung dari mulutnya.
Maya? Kamu di mana, Sayang? Suaranya terdengar begitu lembut, begitu penuh kasih sayang yang sekarang terasa seperti racun di telingaku. Aku keluar dari ruang kerja dengan langkah gontai, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar sesak. Rio berdiri di sana, masih menggunakan kemeja kerjanya, dengan senyum lebar dan sebuket bunga lili putih kesukaanku di tangannya. Melihat bunga itu, rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Hai, kamu sudah pulang? tanyaku dengan suara yang aku usahakan senormal mungkin. Rio mendekat, hendak mengecup keningku, tapi aku secara refleks memiringkan kepalaku. Dia tampak sedikit terkejut, tapi kemudian tertawa kecil, mengira mungkin aku sedang merajuk karena dia pulang terlambat. Happy anniversary, cantik. Maaf ya telat banget, macetnya luar biasa tadi, ucapnya sambil menyerahkan bunga itu padaku.
Aku menerima bunga itu dengan tangan dingin. Makasih, Rio. Aku sudah siapkan makan malam, yuk kita makan sekarang, ajakku. Kami duduk berhadapan di meja makan yang sudah aku hias dengan penuh cinta tadi. Lilin-lilin masih menyala, memberikan cahaya remang yang sekarang terasa sangat mencekam. Rio mulai bercerita tentang harinya yang melelahkan di kantor, tentang meeting yang membosankan, dan tentang betapa dia merindukanku seharian ini. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang menusuk jantungku berulang kali. Bagaimana dia bisa berbohong dengan begitu natural?
Rio, kamu ingat nggak Valentine tahun lalu? tanyaku tiba-tiba, memotong ceritanya tentang proyek gedung baru. Rio terdiam sejenak, tangannya yang sedang memegang pisau steak berhenti bergerak. Valentine tahun lalu? Oh, yang aku harus ke Surabaya itu ya? Kenapa tiba-tiba tanya itu? tanyanya balik, matanya menatapku dengan tatapan yang sedikit gelisah, meski dia mencoba menyembunyikannya dengan senyuman.
Aku cuma ingat aja, waktu itu aku kangen banget sama kamu. Tapi syukurlah kamu kerja keras buat kita, kan? kataku sambil merogoh saku dasterku. Aku meletakkan foto polaroid itu di atas meja, tepat di samping piring steak-nya. Suasana mendadak hening. Suara hujan di luar terasa makin keras, tapi di dalam ruangan ini, keheningan itu jauh lebih mematikan. Wajah Rio berubah pucat pasi seketika. Matanya terbelalak menatap foto itu, seolah melihat hantu yang paling menakutkan.
Maya, ini... ini nggak seperti yang kamu lihat, suaranya bergetar. Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku segera menariknya menjauh. Lalu seperti apa, Rio? Foto ini diambil di kamar hotel di Jakarta, pada tanggal yang sama saat kamu bilang kamu ada di Surabaya. Dan itu Shinta. Sahabatku sendiri. Kamu mau bilang ini cuma editan? Atau kalian cuma 'kebetulan' ketemu di kamar hotel dalam keadaan seperti itu? suaraku mulai meninggi, kemarahan yang sejak tadi aku tahan akhirnya meledak.
Rio berdiri, mencoba mendekatiku, tapi aku mundur sampai punggungku membentur lemari kaca. Maya, dengerin aku dulu. Aku khilaf, aku bener-bener minta maaf. Shinta yang selalu hubungin aku, dia yang goda aku terus... dia memohon-mohon dengan alasan yang paling klise di dunia: menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Aku tertawa pahit, tawa yang penuh dengan rasa sakit dan penghinaan terhadap diriku sendiri karena pernah mencintai pria ini.
Khilaf selama setahun lebih, Rio? Kamu pikir aku bodoh? Aku lihat tanggal-tanggal lain di folder digital yang baru saja aku cek di laptopmu tadi lewat akses remote ponselku. Kalian sudah berhubungan sejak lama. Bahkan saat kita sedang merencanakan masa depan kita, kamu sedang sibuk membangun masa lalu yang kotor dengan dia! teriakku. Air mata kembali mengalir deras, kali ini aku tidak mencoba menghapusnya. Aku ingin dia melihat betapa hancurnya aku.
Tepat saat itu, bel apartemen berbunyi. Aku dan Rio sama-sama terdiam. Rio tampak semakin panik. Jangan dibuka, Maya. Paling itu paket atau apa, cegahnya. Tapi aku tidak peduli. Aku berjalan menuju pintu dengan langkah mantap. Aku punya firasat kuat siapa yang ada di balik pintu itu. Dan benar saja, saat pintu terbuka, Shinta berdiri di sana. Dia tidak tampak seperti orang yang merasa bersalah. Dia mengenakan dress merah yang sangat mencolok, wajahnya penuh riasan, dan matanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Maya, aku perlu bicara sama Rio, ucap Shinta tanpa basa-basi. Dia bahkan tidak menyapaku atau menanyakan kabarku sebagai sahabat. Dia langsung melangkah masuk seolah ini adalah rumahnya sendiri. Rio tampak membeku di ruang makan. Shinta berjalan menghampirinya, lalu tanpa memedulikan keberadaanku, dia memegang lengan Rio dengan posesif. Rio, aku nggak bisa nunggu lagi. Aku sudah bilang kan, aku nggak mau anak ini lahir tanpa status? ucap Shinta pelan tapi cukup jelas untuk membuat duniaku benar-benar kiamat malam itu.
Anak? Aku menatap perut Shinta yang tertutup dress longgarnya. Aku tidak menyadarinya tadi, tapi sekarang aku melihat sedikit tonjolan di sana. Dia hamil? Sahabatku hamil anak suamiku? Rasa sakit yang kurasakan tadi kini berubah menjadi mati rasa yang luar biasa. Aku merasa jiwaku tercabut dari ragaku. Aku melihat mereka berdua, dua orang yang paling aku percaya di dunia ini, berdiri di depanku sebagai sepasang pengkhianat yang paling kejam.
Rio tertunduk lesu, tidak berani menatapku. Shinta kemudian menoleh padaku dengan senyum sinis yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Maaf ya, Maya. Tapi cinta memang nggak bisa dipaksakan. Rio sudah nggak bahagia sama kamu sejak lama. Dia cuma kasihan sama kamu, makanya dia bertahan. Tapi sekarang ada nyawa lain yang lebih butuh dia. Kamu harusnya sadar diri dan pergi, ucapnya dengan nada yang begitu tenang, seolah dia sedang membicarakan cuaca.
Aku menatap mereka bergantian, lalu beralih ke meja makan yang masih tertata rapi. Lilin-lilin itu kini mulai padam, menyisakan asap tipis yang menyesakkan. Kado ulang tahun pernikahan yang aku siapkan ternyata adalah sebuah kenyataan pahit yang harus aku telan bulat-bulat. Aku tidak menangis lagi. Rasa sedihku sudah menguap, digantikan oleh tekad yang sangat dingin. Aku berjalan ke meja makan, mengambil gelas jus anggur merahku, lalu menyiramkan isinya tepat ke wajah Shinta dan kemeja putih Rio.
Nikmati kemenangan kalian malam ini, kataku dengan suara yang sangat tenang namun tajam. Karena besok, aku pastikan kalian berdua tidak akan punya tempat lagi untuk bersembunyi. Rio, surat cerai akan sampai ke kantormu senin pagi. Dan Shinta, jangan harap kamu bisa hidup tenang dengan bayang-bayang sebagai perusak rumah tangga sahabatmu sendiri. Aku mengambil tas tanganku, kunci mobil, dan keluar dari apartemen itu tanpa menoleh sedikit pun. Di bawah guyuran hujan Jakarta, aku merasa bebas, meski hatiku telah hancur menjadi ribuan kepingan yang tak mungkin bisa disatukan lagi.