Kulihat Film Indie Favorit Sahabatku Terputar di Profil Suamiku, Padahal Malam Itu Aku Sedang Tidak di Rumah

Kulihat Film Indie Favorit Sahabatku Terputar di Profil Suamiku, Padahal Malam Itu Aku Sedang Tidak di Rumah

Skandal & Pengkhianatan

Kulihat Film Indie Favorit Sahabatku Terputar di Profil Suamiku, Padahal Malam Itu Aku Sedang Tidak di Rumah



'Kamu nggak akan suka film ini, Mas. Ini terlalu lambat, terlalu banyak metafora,' ucapku kala itu, sambil menyesap teh melati di balkon rumah kami yang asri di pinggiran Jakarta. Dananjaya hanya tertawa, mengecup keningku pelan, dan berkata bahwa seleraku memang terlalu tinggi untuknya. Dia lebih suka film aksi yang meledak-ledak, bukan drama melankolis tentang kerinduan yang hanya dipahami oleh aku dan Anindita.

Anindita adalah belahan jiwaku dalam bentuk sahabat. Kami tumbuh bersama, berbagi rahasia terkecil, hingga urusan selera film yang aneh. Dan malam itu, seharusnya menjadi malam yang biasa saja. Aku baru saja kembali dari rumah Ibu di Yogyakarta, merasa lelah namun merindukan kenyamanan ranjang kami. Dananjaya sedang mandi, suara gemericik air terdengar dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Aku menyalakan Smart TV, niatnya hanya ingin mencari tontonan ringan sebelum terlelap.

Namun, jantungku seolah berhenti berdetak saat layar utama aplikasi streaming itu muncul. Di baris 'Lanjutkan Menonton' pada profil Dananjaya, bertengger sebuah judul film indie asal Iran yang baru saja rilis secara terbatas. Film yang sama yang baru kemarin sore Anindita ceritakan padaku lewat telepon dengan antusiasme yang meluap-luap. Film yang Dananjaya katakan 'membosankan' hanya dari melihat posternya saja.

Tanganku gemetar saat menekan tombol info. Durasi tontonan menunjukkan bahwa film itu diputar tadi malam, jam dua pagi, dan selesai sepenuhnya. Dananjaya tidak pernah terjaga sampai jam dua pagi hanya untuk menonton film drama, kecuali jika ada sesuatu yang menahannya untuk tetap terjaga. Atau seseorang.

Ingatanku melayang pada Anindita. Dia baru saja putus cinta bulan lalu, dan aku yang memintanya untuk sering-sering mampir ke rumah jika merasa kesepian. 'Dananjaya nggak keberatan, kok, Ta. Kamu kan sudah seperti keluarga sendiri,' kataku waktu itu dengan nada tulus yang kini terasa seperti racun yang kutelan sendiri. Apakah ketulusanku justru menjadi jembatan bagi mereka untuk menyeberangi garis batas?

Aku bangkit dari tempat tidur, kakiku terasa dingin menyentuh lantai parket. Aku berjalan menuju meja kerja Dananjaya di sudut kamar, tempat di mana dia biasanya meletakkan ponsel cadangannya yang jarang digunakan. Biasanya aku tidak pernah lancang, namun rasa mual yang melilit perutku menuntut jawaban. Ponsel itu tidak terkunci. Aku membuka riwayat pemesanan ojek online. Pukul 01.15 dini hari, ada pesanan makanan untuk dua porsi ramen dari kedai favorit Anindita, dengan titik pengantaran rumah kami.

Ramen dua porsi. Jam satu pagi. Saat aku sedang berada ratusan kilometer jauhnya. Dunia di sekitarku seolah runtuh dengan kecepatan yang mengerikan. Bayangan Dananjaya dan Anindita duduk di sofa ruang tengah, menonton film yang penuh metafora itu sambil berbagi ramen, menghantam kepalaku seperti godam. Semua pesan singkat Anindita yang menanyakan kabarku di Jogja, semua senyum Dananjaya saat mengantarku ke stasiun, semuanya terasa seperti panggung sandiwara yang disusun dengan sangat rapi.

Aku teringat sebulan yang lalu, saat ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Anindita datang membawa kado berupa sepasang cangkir keramik buatan pengrajin lokal. Dia memelukku lama, membisikkan betapa beruntungnya aku memiliki pria sehangat Dananjaya. Saat itu aku terharu, mengira itu adalah bentuk kasih sayang seorang sahabat. Sekarang, pelukan itu terasa seperti sebuah pelukan perpisahan, atau mungkin pelukan kemenangan.

Tiba-tiba, suara pintu kamar mandi terbuka. Dananjaya keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, uap air hangat masih menguar dari tubuhnya. Dia tersenyum, senyum yang biasanya membuatku merasa aman, namun kini terlihat begitu palsu. 'Lho, kok belum tidur, Kirana? Katanya capek?' tanyanya ringan, seolah tidak ada dosa yang baru saja ia tinggalkan di riwayat tontonan TV itu.

Aku menatapnya lurus-lurus, mencoba mencari celah di matanya. 'Mas, sejak kapan kamu suka film indie Iran?' tanyaku dengan suara yang anehnya terdengar sangat tenang, padahal di dalam sana aku sedang menjerit. Dananjaya tertegun sejenak. Gerakannya yang sedang mengeringkan rambut terhenti. Ada jeda tiga detik yang terasa seperti selamanya sebelum dia menjawab.

'Oh, itu... nggak sengaja kepencet semalam. Aku nggak bisa tidur, jadi asal pilih aja. Membosankan banget, kan?' Dia tertawa kecil, sebuah tawa yang dipaksakan. Dia tidak tahu bahwa aku sudah melihat durasi tontonannya yang tamat. Dia tidak tahu bahwa aku tahu dia memesan dua porsi ramen.

'Dua porsi ramen juga nggak sengaja kepesan, Mas? Jam satu pagi?' Aku menunjukkan layar ponsel cadangannya. Dananjaya terdiam total. Wajahnya yang tadinya segar sehabis mandi, perlahan memucat. Dia tidak mencoba merebut ponsel itu, dia hanya berdiri di sana, membeku di bawah lampu kamar yang kekuningan.

'Kirana, aku bisa jelasin. Anindita datang semalam, dia nangis-nangis, dia bilang dia nggak kuat sendirian...' kalimat klasik itu meluncur dari bibirnya. Pengkhianatan selalu memiliki alasan yang terdengar mulia di telinga pelakunya. Anindita yang malang, Anindita yang butuh sandaran, dan Dananjaya yang merasa menjadi pahlawan di tengah malam sepi.

'Dan untuk menenangkannya, kalian harus menonton film favoritnya sampai habis di jam dua pagi? Di rumah ini? Di sofa tempat kita biasanya menghabiskan waktu bersama?' suaraku mulai meninggi, pecah oleh tangis yang tidak bisa lagi kutahan. Aku membayangkan Anindita duduk di sana, memakai salah satu kaos rumahanku, sementara suamiku memberikan perhatian yang seharusnya hanya milikku.

Dananjaya melangkah mendekat, mencoba meraih tanganku, namun aku mundur dengan jijik. 'Jangan sentuh aku. Berapa lama, Mas? Berapa lama kalian menjadikan rumah ini tempat kalian bersandiwara di belakangku?'

Dia menunduk, tidak berani menatap mataku. 'Cuma beberapa bulan ini, sejak dia putus. Aku awalnya cuma kasihan, Kirana. Tapi dia... dia memahamiku dengan cara yang berbeda.' Kalimat itu, 'memahami dengan cara yang berbeda', adalah belati terakhir yang menghujam jantungku. Jadi, selama lima tahun ini, aku hanyalah istri yang fungsional, sementara Anindita adalah belahan jiwa yang sebenarnya?

Aku meraih tas tanganku yang bahkan belum sempat kubongkar. Aku tidak butuh melihat lebih banyak bukti. Detail kecil di layar TV itu sudah cukup untuk menceritakan seluruh kebenaran yang pahit. Aku berjalan menuju pintu kamar, namun sebelum keluar, aku berbalik sekali lagi. 'Mas, film itu judulnya 'The Last Forest'. Tentang seseorang yang tersesat di hutan yang dia kira adalah rumahnya sendiri. Ternyata judul itu cocok sekali untukku malam ini.'

Aku keluar dari rumah itu, meninggalkan Dananjaya yang masih mematung. Di luar, udara malam Jakarta terasa mencekik. Aku merogoh ponselku, mencari kontak Anindita. Aku tidak mengirimkan makian. Aku hanya mengirimkan satu foto: layar TV yang menunjukkan riwayat tontonan itu. Detik berikutnya, aku memblokir nomornya selamanya. Aku kehilangan suami dan sahabatku dalam satu malam, tapi setidaknya, aku tidak kehilangan diriku sendiri dalam kebohongan mereka yang busuk.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url