Kursi Kosong di Meja Perjamuan Para Pengkhianat
Aroma kayu mahoni yang dipoles mahal dan wangi tembakau cerutu tipis selalu memenuhi ruangan kerja Baskara. Bagiku, ruangan ini dulunya adalah tempat perlindungan, sebuah sanctum di mana ide-ide besar lahir dari diskusi berjam-jam antara aku dan dia. Kami telah membangun imperium arsitektur ini dari nol, dari sebuah garasi sempit yang bocor saat hujan hingga menjadi menara kaca yang mencakar langit Jakarta. Namun malam ini, udara di ruangan ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang tajam, seperti bau logam atau firasat buruk yang mengendap di dasar paru-paruku. Aku duduk di sofa kulit yang dingin, memperhatikan Baskara yang sedang menuangkan scotch ke dalam dua gelas kristal dengan gerakan yang terlalu tenang. Terlalu presisi.
Hujan di luar jendela kaca besar itu turun dengan derasnya, menghapus siluet gedung-gedung tinggi lainnya menjadi bayang-bayang kelabu yang kabur. Detak jam dinding antik di sudut ruangan terdengar seperti vonis mati yang tertunda. Aku menatap punggung Baskara, sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudara kandung sendiri selama dua dekade. Kami berbagi segalanya, mulai dari mi instan di masa kuliah hingga kemenangan tender bernilai triliunan rupiah. Namun, belakangan ini, ada jarak yang tak kasat mata di antara kami. Sebuah jurang yang perlahan melebar tanpa suara, diisi oleh bisikan-bisikan di lorong kantor dan tatapan mata para staf yang tiba-tiba dialihkan saat aku melintas.
'Kamu tampak lelah, Ad,' kata Baskara tanpa menoleh. Suaranya halus, seperti sutra yang menyembunyikan sembilu. Ia berbalik, membawa dua gelas di tangannya. Cahaya lampu meja yang remang memantul di permukaan cairan amber itu, menciptakan kilatan-kilatan kecil yang tampak seperti api. Ia menyodorkan salah satu gelas kepadaku. Tangannya stabil, tidak ada sedikit pun getaran yang menunjukkan kegelisahan. Padahal, aku baru saja menemukan dokumen itu di laci tersembunyi meja sekretarisnya sore tadi.
'Hanya memikirkan proyek di Sudirman itu, Bas,' jawabku, berusaha menjaga suaraku agar tetap datar. Aku menerima gelas itu, merasakan dinginnya kristal di telapak tanganku yang berkeringat. 'Ada beberapa detail teknis yang kurasa perlu kita tinjau ulang. Terutama soal hak kepemilikan paten desain struktur utamanya. Kenapa nama firma kita diubah menjadi entitas baru di draf terakhir?' Aku menyesap scotch itu, membiarkan rasa bakarnya menggores tenggorokanku. Aku memperhatikan raut wajahnya dengan saksama. Tidak ada kejutan di sana. Hanya ada sebuah senyum tipis yang lambat laun berubah menjadi sesuatu yang asing di mataku.
Baskara duduk di kursi kebesarannya, kursi yang sebenarnya kami beli bersama dengan uang hasil proyek pertama kami. Ia menyandarkan tubuhnya, menyilangkan kaki dengan santai. 'Dunia berubah, Adrian. Skala proyek ini membutuhkan struktur korporasi yang lebih lincah. Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan masa depan perusahaan ini tetap aman. Kamu terlalu idealis, selalu terpaku pada detail artistik tanpa memikirkan sisi pragmatis bisnis.' Kalimatnya mengalir begitu saja, seolah-olah pengkhianatan adalah bagian dari strategi pemasaran yang lumrah. Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti paku yang dipukulkan ke dalam peti mati persahabatan kami.
Aku meletakkan gelas kristal itu di meja kopi dengan denting yang keras. 'Idealismeku yang membuat gedung-gedung kita berdiri, Baskara! Dan pragmatisme yang kamu maksud adalah menghapus namaku dari sejarah perusahaan ini? Aku melihat draf merger itu. Kamu menjual saham mayoritas kepada konsorsium asing tanpa sepengetahuanku, dan di sana tertulis bahwa aku akan dilepaskan dari posisi direktur kreatif dengan kompensasi yang menghina.' Aku bangkit berdiri, merasakan amarah yang membara di balik tulang rusukku. Ruangan ini tiba-tiba terasa sempit, seolah dinding-dindingnya mulai menghimpitku.
Baskara tidak bergeming. Ia hanya menatapku dengan tatapan dingin, tatapan seorang predator yang sudah lama mengintai mangsanya. 'Jangan dramatis, Adrian. Aku memberimu jalan keluar yang terhormat sebelum semuanya terlambat. Perusahaan ini butuh pemimpin yang berani mengambil risiko, bukan seniman yang meratapi setiap garis desain yang diubah. Kamu sudah ketinggalan zaman.' Ia menyesap minumannya lagi, seolah-olah aku hanyalah gangguan kecil di tengah malam yang tenang. Di saat itulah, aku menyadari bahwa orang yang ada di depanku bukanlah sahabat yang kukenal. Ini adalah orang asing yang telah memakai wajah sahabatku untuk mencuri semua yang kumiliki.
Aku melangkah menuju jendela, menatap hujan yang masih belum reda. Bayangan di kaca jendela menunjukkan seorang pria yang tampak hancur, namun ada kilatan api di matanya. 'Kamu pikir aku akan diam saja? Aku memiliki bukti aliran dana gelap yang kamu gunakan untuk menekan para pemegang saham minoritas. Aku tahu tentang akun di lepas pantai itu, Bas. Kamu tidak hanya mengkhianatiku, kamu juga mengkhianati hukum.' Suaraku kini rendah, penuh dengan ancaman yang nyata. Aku bisa melihat pantulan Baskara di kaca. Gerakannya terhenti. Gelasnya berhenti di depan bibirnya.
Hening yang mencekam menyelimuti ruangan. Suara napas kami terdengar berat, bersaing dengan suara hujan. Baskara meletakkan gelasnya pelan-pelan. Ia bangkit, melangkah mendekatiku hingga kami berdiri bersisian menghadap jendela yang sama. 'Bukti? Di dunia ini, bukti hanyalah soal siapa yang membayar lebih mahal untuk membuatnya menghilang, Adrian. Kamu pikir kenapa sekretarismu tidak masuk kerja hari ini? Atau kenapa pengacaramu tiba-tiba tidak bisa dihubungi?' Ia berbisik tepat di samping telingaku, aromanya kini terasa memuakkan. Pengkhianatan ini ternyata jauh lebih dalam dan gelap dari yang kubayangkan, menjalar seperti akar pohon tua yang merusak fondasi rumah dari dalam.
Aku merasakan dingin yang menjalar dari ujung jari kaki hingga ke puncak kepala. Ia telah merencanakan ini dengan sangat rapi. Setiap langkahku sudah diprediksi, setiap celah sudah ditutup. Namun, Baskara melakukan satu kesalahan besar. Ia lupa bahwa akulah yang merancang sistem keamanan digital perusahaan ini, bukan dia. Ia terlalu meremehkan kemampuan teknisku karena ia terlalu sibuk dengan permainan politiknya. Aku berbalik, menatap langsung ke bola matanya yang gelap. 'Kamu benar, Bas. Kamu memang sudah bergerak sangat jauh. Tapi kamu lupa satu hal: arsitek yang membangun rumah ini tahu persis di mana letak pilar yang jika ditarik, akan meruntuhkan seluruh bangunan.'
Senyum di wajah Baskara sedikit memudar. Ia mencoba mempertahankan ketenangannya, tapi aku melihat kedutan kecil di sudut matanya. 'Apa maksudmu?' tanyanya, kini dengan nada yang sedikit lebih tajam. Aku merogoh saku jas-ku, mengeluarkan sebuah drive USB kecil dan memutarnya di depan wajahnya. 'Semua data yang kamu hapus tadi malam? Aku punya salinannya. Dan semua transaksi yang kamu pikir tersembunyi? Sudah terjadwal untuk dikirim ke otoritas pajak dan bursa efek dalam waktu tiga puluh menit dari sekarang, kecuali aku memasukkan kode pembatalan.'
Wajah Baskara yang tadinya tenang kini berubah pucat. Keangkuhannya runtuh seketika, digantikan oleh kepanikan yang berusaha ia sembunyikan. 'Adrian, jangan bodoh. Kita bisa bicarakan ini. Kita bisa mengubah kesepakatannya. Kamu ingin apa? Uang? Posisi? Aku bisa memberikannya.' Ia mencoba meraih bahuku, tapi aku menepisnya dengan kasar. Rasa jijik mengalir di pembuluh darahku. Persahabatan ini sudah mati, terkubur di bawah tumpukan kebohongan dan ambisi yang buta.
'Aku tidak ingin uangmu, Baskara. Aku ingin keadilan. Dan aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya melihat semua yang kamu banggakan hancur berkeping-keping di depan matamu sendiri,' kataku dengan nada yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang menakutkan bahkan bagi diriku sendiri. Aku melangkah menuju pintu, tidak lagi peduli dengan kemewahan ruangan itu atau kenangan yang tertinggal di sana. Setiap langkahku terasa lebih ringan, meskipun aku tahu perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Saat aku mencapai pintu, aku berhenti dan menoleh untuk terakhir kalinya. Baskara berdiri mematung di tengah ruangan yang luas itu, tampak kecil di bawah bayang-bayang kemegahannya sendiri. 'Oh, satu lagi, Bas,' tambahku. 'Scotch itu? Itu adalah botol yang kuberikan untuk ulang tahunmu yang ke-40. Ternyata rasanya memang pahit saat diminum bersama seorang pengkhianat.' Aku keluar dari ruangan itu, menutup pintu dengan bunyi klik yang final. Di koridor kantor yang gelap, aku berjalan menuju lift, membiarkan keheningan malam menyambutku. Malam ini, aku kehilangan seorang sahabat, tapi aku menemukan kembali diriku yang telah lama hilang dalam bayang-bayang ambisinya.
Di dalam lift yang turun menuju lobi, aku menatap angka-angka yang berubah di panel digital. 20, 19, 18... Setiap lantai yang kulewati adalah bagian dari hidupku yang kutinggalkan. Aku tahu besok pagi dunia akan gempar dengan skandal ini. Aku tahu karierku mungkin akan ikut hancur dalam proses ini. Namun, ada kelegaan yang luar biasa saat kejujuran akhirnya menuntut tempatnya. Pengkhianatan mungkin bisa mencuri aset dan posisi, tapi ia tidak akan pernah bisa mencuri integritas yang tertanam di dalam jiwa.
Keluar dari gedung, hujan masih mengguyur kota Jakarta dengan sisa-sisa amukannya. Aku membiarkan tubuhku basah kuyup, merasakan setiap tetes air menghapus sisa-sisa kehadiran Baskara dari kulitku. Di bawah lampu jalan yang temaram, aku melihat ke atas, ke lantai paling atas menara itu di mana cahaya masih menyala. Di sana, di meja perjamuan para pengkhianat, kini hanya ada satu kursi kosong yang tersisa. Dan kursi itu bukan milikku lagi. Aku berjalan pergi ke kegelapan malam, siap untuk membangun sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh pengkhianatan mana pun.