Mutasi Rekening 'Kursus Memasak' Milik Istriku Bongkar Skandal Terencana Selama Tujuh Tahun
Gelas kristal di tangan Baskara bergetar halus, bukan karena ia kedinginan, melainkan karena dentingan notifikasi di ponselnya yang tergeletak di atas meja granit hitam itu terasa seperti hantaman godam. Suara riuh rendah di acara gala dinner ulang tahun firma arsitektur 'Mahardika Design' yang ia bangun selama sepuluh tahun terakhir mendadak berubah menjadi dengung statis di telinganya. Di seberang ruangan, Gendis—istrinya yang tampak begitu anggun dalam balutan kebaya kutubaru modern berwarna zamrud—tengah tertawa bersama para kolega. Senyumnya begitu tulus, begitu menenangkan, tipe senyum yang selama tujuh tahun ini menjadi tempat Baskara pulang dari segala lelah.
Awalnya, Baskara hanya iseng membuka aplikasi mobile banking-nya untuk memastikan pembayaran katering acara malam ini sudah lunas. Namun, matanya tertuju pada baris transaksi rutin setiap tanggal 15 selama enam bulan terakhir. 'Transfer ke: LKP Culinaria Nusantara - Rp 15.000.000'. Baskara mengernyit. Gendis memang pernah bilang ingin belajar memasak kue-kue premium, tapi lima belas juta setiap bulan? Itu angka yang terlalu fantastis untuk sekadar kursus membuat macaron atau croissant di pinggiran Jakarta.
Pikirannya mulai berkelana ke hal-hal kecil yang selama ini ia abaikan. Wangi parfum Gendis yang seringkali berbeda saat ia pulang sore hari, alasan 'macet di Senopati' yang terlalu sering digunakan, hingga ponsel Gendis yang kini selalu dalam posisi layar menghadap ke bawah. Baskara bukan tipe suami pencemburu yang posesif, tapi instingnya sebagai seorang arsitek yang detail terhadap setiap inci struktur bangunan mulai merasakan ada retakan besar di fondasi rumah tangganya.
Malam itu, setelah pesta usai dan rumah mereka yang megah di kawasan Dharmawangsa kembali senyap, Baskara menunggu Gendis tertidur lelap. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mencoba mengakses laptop pribadi Gendis yang biasanya digunakan untuk mengurus yayasan sosial kecil-kecilan miliknya. Password-nya masih sama, tanggal pernikahan mereka. Hati Baskara mencelos, rasa bersalah sempat menyelinap karena merasa telah melanggar privasi wanita yang sangat ia cintai itu. Namun, folder bernama 'Budget Dapur' di sudut layar menarik perhatiannya.
Di dalamnya bukan berisi resep masakan atau rincian belanja bulanan. Isinya adalah kumpulan dokumen PDF mengenai rancangan proyek 'Blue Horizon'—sebuah megaproyek resor di Labuan Bajo yang baru saja dimenangkan oleh firma pesaingnya dua minggu lalu. Baskara merasakan dunianya berputar. Proyek itu adalah impiannya, hasil kerja kerasnya selama dua tahun yang tiba-tiba gagal di tangan dewan juri karena desain pesaing dianggap 'lebih matang dan serupa namun lebih efisien'.
Baskara membuka salah satu file korespondensi di folder tersebut. Matanya memanas saat membaca nama pengirim emailnya: Aradhana. Sahabat karibnya sejak masa kuliah, partner bisnis yang ia percayai memegang kendali operasional perusahaan. Isi email itu singkat namun mematikan: 'Gendis, dana untuk operasional kantor baru kita di Singapura sudah masuk ke rekening penampungan LKP Culinaria. Pastikan Baskara tidak curiga soal revisi desain terakhir. Kita akan segera bebas dari bayang-bayangnya.'
Rasa mual seketika menyerang Baskara. Pengkhianatan ini bukan sekadar urusan ranjang, melainkan sebuah konspirasi sistematis untuk menghancurkan hidup dan kariernya. Ternyata, 'kursus memasak' itu hanyalah perusahaan cangkang yang digunakan Gendis dan Aradhana untuk mencuci uang hasil penjualan rahasia dagang miliknya. Gendis, wanita yang ia puji karena kesederhanaannya, ternyata adalah otak di balik kebocoran data perusahaan selama satu tahun terakhir.
Baskara teringat bagaimana Aradhana sering datang ke rumah mereka, membawakan buah tangan, dan bermain dengan anjing peliharaan mereka seolah mereka adalah keluarga. Di meja makan itu, di bawah lampu gantung yang mahal, mereka bertiga sering tertawa bersama, sementara di bawah meja, tangan mereka mungkin saling bersentuhan atau setidaknya, pikiran mereka sedang sibuk merencanakan kejatuhan Baskara.
Keesokan harinya, Baskara tidak menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak. Ia memilih bermain dengan sangat tenang. Ia menghubungi seorang detektif swasta sekaligus auditor forensik digital. Ia ingin memastikan setiap rupiah yang mereka curi, setiap data yang mereka bocorkan, terekam dengan sempurna sebagai bukti di pengadilan nanti. Baskara sengaja meninggalkan 'umpan' di meja kerjanya—sebuah sketsa desain palsu untuk proyek pemerintah yang sangat prestisius.
Benar saja, sore harinya, melalui kamera tersembunyi yang baru ia pasang di ruang kerja rumahnya, Baskara melihat Gendis masuk ke ruangan itu. Dengan gerakan yang sangat terlatih, Gendis memotret lembaran sketsa tersebut dan mengirimkannya melalui pesan singkat. Baskara melihat semuanya dari layar ponselnya di kantor. Air matanya menetes, bukan karena kehilangan proyek itu, tapi karena menyadari bahwa orang yang ia peluk setiap malam adalah orang yang paling menginginkan kehancurannya.
Puncak dari drama ini terjadi seminggu kemudian. Baskara mengundang Aradhana dan Gendis untuk makan malam di sebuah restoran privat untuk merayakan 'kesuksesan kecil' firma mereka. Suasana tampak normal, Aradhana tetap dengan gaya bicaranya yang jenaka, dan Gendis tetap dengan keanggunannya yang mempesona. Namun, saat hidangan utama disajikan, Baskara meletakkan sebuah map cokelat di tengah meja.
'Ini apa, Bas?' tanya Aradhana dengan nada santai, meski matanya menunjukkan kilatan kegelisahan yang tipis. Gendis hanya terdiam, wajahnya mendadak pucat pasi melihat logo bank yang tertera di sudut map tersebut.
'Itu menu spesial malam ini,' jawab Baskara dingin. 'Isinya adalah resep-resep masakan dari LKP Culinaria Nusantara. Aku pikir kalian berdua sangat menyukai menu di sana, terutama menu yang harganya lima belas juta per bulan itu.'
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Aradhana mencoba tertawa sumbang, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Gendis menunduk, tangannya yang memegang garpu gemetar hebat. Baskara melanjutkan dengan suara yang tenang namun tajam seperti sembilu, 'Aku sudah tahu semuanya. Tentang Project Blue, tentang kantor di Singapura, dan tentang bagaimana kalian berdua berencana meninggalkanku dalam keadaan bangkrut setelah proyek pemerintah ini kalian ambil.'
Gendis mulai terisak, 'Baskara, aku bisa jelaskan... ini tidak seperti yang kamu bayangkan.' Baskara hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan luka mendalam. 'Jangan repot-repot, Gendis. Auditor dan pengacaraku sudah menyerahkan semua bukti ke pihak berwajib sore tadi. Saat ini, tim kepolisian mungkin sedang menunggu di depan rumah kita dan di kantor Aradhana.'
Aradhana berdiri, mencoba mengancam, 'Kamu tidak punya bukti kuat, Baskara! Itu hanya asumsi!' Baskara mengambil ponselnya dan memutar rekaman video Gendis saat mencuri data di ruang kerjanya. 'Di dunia arsitektur, Aradhana, kita belajar bahwa struktur yang paling megah sekalipun akan runtuh jika ada satu pilar yang berkhianat. Dan kalian adalah pilar-pilar yang sudah keropos sejak lama.'
Malam itu berakhir dengan pemandangan yang tidak akan pernah Baskara lupakan. Gendis yang bersimpuh di kakinya memohon ampun, dan Aradhana yang mencoba melarikan diri lewat pintu belakang namun sudah disambut oleh petugas berpakaian sipil. Baskara berdiri di sana, di tengah kemewahan restoran itu, merasa sangat kosong. Ia memenangkan pertempuran hukum dan finansialnya, tapi ia kehilangan segalanya dalam hal kepercayaan.
Enam bulan setelah kejadian itu, Baskara duduk di depan jendela kantor barunya yang menghadap langsung ke arah pelabuhan. Ia telah membangun kembali semuanya dari nol, kali ini dengan fondasi yang lebih waspada. Ia belajar bahwa pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari musuh yang kita kenal, melainkan dari orang-orang yang tahu bagaimana cara kita menyeduh kopi di pagi hari dan apa yang membuat kita tertawa di malam hari.
Gendis dan Aradhana kini harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di balik jeruji besi atas tuduhan pencucian uang dan pencurian rahasia dagang. Namun bagi Baskara, hukuman fisik itu tidak sebanding dengan luka di hatinya yang mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh. Ia masih sering terbangun di tengah malam, memeriksa mutasi rekeningnya, bukan karena ia kekurangan uang, melainkan karena ia takut menemukan nama lain yang akan menusuknya dari belakang.