Pakaian Sutra di Keranjang Laundry Itu Bukan Milikku, Tapi Suamiku Membayar Tagihannya Selama Dua Tahun
'Kamu yakin ini punya kita, Galih?' Suara Laksmi terdengar setipis kertas, nyaris robek oleh udara dingin pendingin ruangan di kamar utama mereka yang luas. Di tangannya, sehelai kamisol sutra berwarna merah marun menjuntai lemas. Warnanya terlalu berani, potongannya terlalu rendah, dan ukurannya jelas bukan milik Laksmi yang selalu mengenakan daster katun longgar atau piyama tertutup sejak melahirkan putra mereka dua tahun lalu.
Galih, yang sedang sibuk membetulkan simpul dasinya di depan cermin besar berpenerangan hangat, hanya melirik sekilas melalui pantulan kaca. Wajahnya tetap tenang, seolah-olah ketenangan itu adalah baju zirah yang sudah ia pakai bertahun-tahun. 'Oh, itu mungkin salah masuk dari pihak laundry-nya, Mi. Kamu tahu sendiri kan, mereka sering teledor mencampur barang pelanggan lain kalau lagi ramai. Taruh saja di plastik, nanti aku balikin pas berangkat kantor,' jawabnya lancar, tanpa jeda, tanpa sedikit pun getaran di nada bicaranya.
Laksmi terdiam. Ia meraba tekstur sutra yang dingin itu. Ada aroma yang samar namun menusuk indra penciumannya—bukan aroma deterjen lemon yang biasa digunakan jasa laundry langganan mereka di sudut komplek Bintaro ini. Ini aroma parfum Jo Malone varian Peony & Blush Suede. Aroma yang sangat ia kenal, karena itu adalah parfum favorit Arini, sahabat karibnya sejak masa SMA yang tiga bulan lalu mengaku baru saja kehilangan pekerjaan dan harus pindah ke apartemen kecil di Jakarta Selatan.
Laksmi tidak meledak. Ia sudah belajar bahwa kemarahan yang meluap-luap hanya akan memberi lawan kesempatan untuk menyusun kebohongan yang lebih rapi. Sebaliknya, ia melangkah ke meja rias, mengambil ponsel Galih yang tergeletak di samping jam tangan Rolex-nya. Galih tidak pernah mengunci ponselnya dengan sandi yang rumit—sebuah taktik klasik untuk menunjukkan seolah-olah ia tidak memiliki rahasia apa pun. Laksmi membuka aplikasi penyedia jasa laundry langganan mereka, sebuah startup 'laundry on-demand' yang memiliki fitur riwayat pesanan sangat mendetail.
Di sana, di bawah kolom 'Riwayat Transaksi', Laksmi menemukan sesuatu yang jauh lebih menghancurkan daripada sehelai kamisol. Ada dua alamat penjemputan yang terdaftar. Satu alamat rumah mereka, dan satu lagi adalah sebuah unit di Apartemen Oakwood, Kuningan. Alamat itu adalah tempat tinggal Arini yang baru. Dan yang membuat jantung Laksmi seolah berhenti berdetak adalah rincian tagihannya: 'Subscription Premium Gold - 24 Hours Pick-up'. Tagihan itu sudah berjalan selama dua puluh empat bulan. Dua tahun. Tepat sejak Laksmi mulai hamil besar dan memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai arsitek demi mengurus rumah tangga.
Dua tahun Galih membiayai segala kebutuhan hidup Arini, bahkan sampai ke urusan mencuci pakaian dalamnya, sementara Laksmi di rumah sibuk menghitung pengeluaran popok dan susu formula karena Galih selalu bilang 'perusahaan sedang melakukan efisiensi'. Laksmi merasa seperti orang bodoh yang berdiri di tengah panggung dengan lampu sorot paling terang, sementara semua orang di sekitarnya menertawakannya dalam gelap. Ia teringat bagaimana Arini sering datang ke rumah ini, menggendong anaknya, bahkan sempat menangis di bahu Laksmi saat mengaku diputus pacar imajinernya.
Laksmi meletakkan ponsel itu kembali ke tempat semula dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak. Ia melihat Galih yang kini sudah siap dengan tas kerja kulitnya. Galih menghampiri Laksmi, mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang yang terasa seperti sengatan listrik yang menyakitkan. 'Aku berangkat ya, sayang. Jangan lupa minum vitaminmu. Kamu kelihatan agak pucat hari ini,' kata Galih lembut. Senyumnya begitu tulus, begitu meyakinkan, sehingga jika Laksmi tidak memegang kamisol itu di balik punggungnya, ia mungkin akan percaya bahwa Galih adalah suami terbaik di dunia.
Setelah pintu depan tertutup dan suara mesin mobil BMW Galih menjauh dari halaman, Laksmi luruh ke lantai. Air matanya tidak keluar. Rasanya terlalu perih untuk sekadar air mata. Ia mengeluarkan ponsel miliknya sendiri dan melakukan sesuatu yang seharusnya sudah ia lakukan sejak lama. Ia menghubungi Danu, sepupu Galih yang juga merupakan auditor internal di perusahaan tempat Galih bekerja. Selama ini, Danu selalu bersikap aneh setiap kali mereka bertemu, seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun tertahan oleh loyalitas darah.
'Halo, Danu. Aku ingin kita bertemu. Bukan sebagai keluarga, tapi sebagai profesional,' ujar Laksmi dengan suara yang kini sekeras baja. 'Aku butuh semua mutasi rekening Galih yang mengalir ke rekening atas nama Arini atau vendor-vendor apartemen di Kuningan. Aku tahu kamu punya aksesnya.' Di seberang telepon, terjadi hening yang cukup lama. Danu menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang penuh dengan rasa bersalah yang akhirnya menemui jalan keluar. 'Aku sudah lama menunggumu menanyakan hal ini, Laksmi. Aku tidak tahan melihatnya terus-menerus mengkhianatimu dengan uang dari warisan ayahmu yang dia kelola,' jawab Danu parau.
Dunia Laksmi runtuh untuk kedua kalinya. Jadi, Galih bukan hanya berselingkuh, tapi dia juga menggunakan uang warisan dari almarhum ayah Laksmi untuk membiayai selingkuhannya? Ayah Laksmi memberikan kuasa penuh pada Galih untuk mengelola portofolio saham dan properti keluarga karena Laksmi saat itu terlalu berduka dan memercayai Galih sepenuhnya sebagai pelindungnya. Itu bukan sekadar pengkhianatan cinta; itu adalah perampokan sistematis atas masa depan Laksmi dan putra mereka.
Laksmi bangkit, menyeka pipinya yang sebenarnya kering, dan berjalan menuju lemari pakaian. Ia tidak mengambil koper. Ia mengambil sebuah amplop cokelat besar berisi dokumen-dokumen properti yang masih tersisa atas namanya sendiri. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa hanya menjadi korban yang menangis. Jika Galih dan Arini ingin bermain di belakang punggungnya selama dua tahun, maka Laksmi akan memastikan bahwa saat ia berbalik, ia akan menghancurkan semua yang telah mereka bangun dengan uangnya.
Ia teringat sebuah percakapan singkat sebulan yang lalu saat Arini memuji rumah ini. 'Beruntung banget ya kamu punya suami kayak Galih, Laks. Dia itu setia, pekerja keras, dan royal banget sama kamu,' kata Arini saat itu sambil menyeruput teh melati di ruang tamu Laksmi. Sekarang Laksmi tahu maksud dari kata 'royal' itu. Royal dengan uang Laksmi untuk kemewahan Arini. Kamisol sutra merah marun itu kini ia remas kuat-kuat. Ia akan pergi ke apartemen itu hari ini. Bukan untuk menjambak rambut Arini, tapi untuk menyerahkan surat pengosongan unit yang ternyata secara hukum masih berada di bawah kepemilikan holding keluarga Laksmi, yang selama ini disamarkan oleh Galih sebagai 'aset kantor'.
Rencana Laksmi sudah tersusun rapi dalam kepalanya yang mendadak dingin. Ia akan membiarkan Galih bekerja seharian ini dengan perasaan tenang. Ia akan membiarkan Galih berpikir bahwa Laksmi masih merupakan istri penurut yang menunggunya di rumah dengan masakan hangat. Namun, saat Galih sampai di apartemen Arini sore nanti untuk melakukan rutinitas 'lembur'-nya, dia tidak akan menemukan Arini yang menyambutnya dengan kamisol sutra. Dia hanya akan menemukan pintu yang sudah diganti kuncinya dan dua orang petugas keamanan yang membawa perintah sita aset.
Laksmi keluar dari kamar, melewati kamar anaknya yang sedang tidur lelap di bawah pengawasan pengasuh. Ia berhenti sejenak, menatap wajah polos itu. 'Maafkan Ibu, Nak. Ibu harus menghancurkan duniamu sebentar untuk membangun fondasi yang lebih jujur untuk kita,' bisiknya. Saat ia menuruni tangga, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari Arini masuk: 'Laks, nanti sore aku mampir ya? Kangen banget mau main sama si kecil. Sekalian mau bawain martabak favoritmu.' Laksmi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia mengetik balasan dengan jempol yang stabil: 'Tentu, Arini. Kebetulan ada kejutan besar yang ingin aku kasih ke kamu. Sampai ketemu nanti ya.'
Pengkhianatan itu seperti racun yang bekerja lambat, namun Laksmi baru saja menemukan penawarnya. Dan penawar itu bernama kehancuran total bagi mereka yang telah mencuri hidupnya. Ia melangkah keluar rumah, mengunci pintu, dan masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya. Tujuannya hanya satu: Apartemen Oakwood, Kuningan. Tempat di mana sandiwara dua tahun ini akan berakhir dengan sebuah ledakan yang sangat sunyi namun mematikan.