Pesan Martabak di Jam Dua Pagi Itu Bukan Untukku, Tapi Untuk Adik Sepupuku Sendiri

Pesan Martabak di Jam Dua Pagi Itu Bukan Untukku, Tapi Untuk Adik Sepupuku Sendiri

Skandal & Pengkhianatan

Pesan Martabak di Jam Dua Pagi Itu Bukan Untukku, Tapi Untuk Adik Sepupuku Sendiri



Gelas kristal di tanganku nyaris saja merosot kalau saja aku tidak segera mengeratkan genggaman. Suasana resepsi pernikahan sepupuku di hotel bintang lima malam itu terasa begitu megah, penuh dengan tawa dan wangi melati yang menyeruak tajam. Namun, bagiku, segalanya mendadak menjadi abu-abu saat layarku tak sengaja menangkap notifikasi pop-up dari iPad keluarga yang aku bawa untuk keperluan presentasi besok pagi. Sebuah notifikasi sederhana dari aplikasi ojek online: 'Pesanan Martabak Spesial telah sampai di tujuan'. Masalahnya, suamiku, Adiguna, sedang berada di sebelahku, tertawa renyah bersama rekan-rekan dosennya, sementara alamat pengiriman yang tertera di sana bukan alamat rumah kami.

Itu adalah alamat kost-an Nareswari. Adik sepupuku yang paling kusayang, yang aku boyong dari desa untuk berkuliah di Jakarta, dan yang biaya semesternya baru saja kulunasi bulan lalu. Jantungku berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Aku mencoba mengatur napas, menelan ludah yang terasa segetir empedu. Adiguna tampak begitu tenang dengan kemeja batik sutranya, seolah-olah dia tidak baru saja mengirimkan camilan tengah malam untuk seorang gadis yang seharusnya menganggapnya sebagai kakak ipar.

Aku menjauh dari kerumunan, mencari sudut balkon yang sepi. Jariku gemetar saat membuka riwayat pemesanan di aplikasi tersebut. Hatiku serasa diremas tangan raksasa saat melihat ini bukan pertama kalinya. Ada riwayat pembelian obat pereda nyeri bulan lalu, pengiriman paket bunga tanpa nama minggu lalu, dan yang paling menyesakkan: riwayat perjalanan 'GoRide' dari kampus Nareswari menuju sebuah butik pakaian dalam pada jam kerja Adiguna. Air mataku tidak jatuh, ia justru menguap menjadi amarah yang dingin dan membeku.

Aku teringat betapa Nareswari selalu memuji Adiguna. 'Mas Adi itu orangnya sabar banget ya, Mbak. Beruntung banget Mbak Laksmi punya suami seperti dia,' ucapnya suatu sore saat kami sedang minum teh bersama. Saat itu aku hanya tersenyum bangga, menganggapnya sebagai bentuk kekaguman adik kepada kakaknya. Aku tidak pernah menyangka bahwa kekaguman itu telah bermutasi menjadi sesuatu yang menjijikkan. Nareswari yang kukenal sebagai gadis polos dengan kuncir kuda, kini menjelma menjadi duri dalam daging yang ia tancapkan sendiri ke jantungku.

Aku kembali ke dalam ruangan, melihat Adiguna yang masih asyik mengobrol. Wajahnya yang tampak alim dan penuh wibawa sebagai seorang akademisi itu kini terasa seperti topeng yang retak. Aku mendekat, menyentuh lengannya dengan lembut, namun mataku menatap langsung ke dalam manik matanya. 'Mas, martabaknya enak?' tanyaku dengan suara yang sangat tenang, nyaris seperti bisikan malaikat maut. Adiguna tersentak, senyumnya membeku. Ia mencoba tertawa kecil, tapi ada ketakutan yang tersirat di sudut matanya yang mulai bergetar.

'Martabak apa, Laks? Kamu lapar?' tanyanya, mencoba melakukan gaslighting tingkat rendah. Aku tidak menjawab. Aku hanya menunjukkan layar iPad yang masih menampilkan bukti transaksi itu. Di sana tertera jelas nama penerima: 'Nareswari'. Dunia seolah berhenti berputar bagi Adiguna. Gelas wine di tangannya bergetar hebat. Di tengah keriuhan pesta pernikahan yang merayakan janji suci, aku justru sedang menyaksikan pemakaman dari pernikahanku sendiri yang sudah berjalan tujuh tahun.

Aku berjalan meninggalkan Adiguna tanpa menunggu jawabannya. Aku butuh udara. Aku butuh ruang. Saat aku melangkah menuju area parkir, sebuah pesan masuk ke ponselku dari nomor Nareswari. 'Mbak, maaf ya aku tadi pesen makanan pakai akun Mas Adi, soalnya saldo gopay-ku habis.' Alasan klasik. Sangat klise hingga membuatku ingin tertawa histeris. Kenapa dia harus menggunakan akun Adiguna jika dia bisa memintaku langsung? Kenapa harus ada riwayat pengiriman bunga dan obat-obatan yang tidak pernah diceritakan padaku?

Malam itu, aku tidak pulang ke rumah. Aku memesan kamar hotel di seberang kota, mematikan ponsel, dan duduk di lantai sambil menatap pemandangan kota Jakarta yang gemerlap namun terasa kosong. Aku mulai menyusun potongan-potongan puzzle yang selama ini aku abaikan. Adiguna yang sering pulang terlambat dengan alasan bimbingan skripsi mahasiswa, Nareswari yang tiba-tiba memiliki tas bermerek yang katanya barang 'pre-loved' murah, hingga aroma parfum maskulin yang samar-samar tercium di kamar kost Nareswari saat aku mengunjunginya bulan lalu.

Kebodohanku terasa begitu nyata. Aku adalah seorang arsitek sukses yang bisa merancang gedung-gedung kokoh, namun aku gagal melihat keretakan di fondasi rumah tanggaku sendiri. Aku memberikan segalanya untuk Nareswari, menganggapnya seperti adik kandung karena dia yatim piatu. Dan beginilah cara dia berterima kasih: dengan merayap ke dalam tempat tidur suamiku saat aku sibuk bekerja mencari uang untuk masa depannya.

Keesokan harinya, aku pergi ke kost-an Nareswari tanpa memberitahu siapapun. Aku tidak akan mengamuk. Aku bukan tipe wanita yang akan menjambak rambut wanita lain di depan umum. Aku sampai di sana pukul enam pagi. Aku melihat mobil Adiguna terparkir di ujung jalan, tidak jauh dari gerbang kost. Hatiku hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya. Jadi, setelah aku pergi dari pesta semalam, dia bukannya mencariku, melainkan lari ke tempat perlindungannya yang baru.

Aku mengetuk pintu kamar Nareswari dengan tenang. Saat pintu terbuka, wajah pucat Nareswari muncul dengan rambut yang berantakan dan mengenakan kaos milik Adiguna yang sangat aku kenal—kaos yang aku beli saat kami bulan madu di Jepang. Di belakangnya, Adiguna berdiri dengan wajah hancur. Tidak ada kata-kata. Keheningan itu jauh lebih menyakitkan daripada teriakan manapun. Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan luka dan tekad yang bulat.

'Barang-barangmu sudah aku kemas di depan teras rumah, Mas. Dan Nares, mulai hari ini, biaya kuliahmu berhenti. Silakan minta pada 'suami' barumu ini,' ucapku singkat sebelum berbalik pergi. Aku bisa mendengar Nareswari mulai terisak dan Adiguna memanggil namaku dengan suara serak, tapi aku tidak menoleh. Aku belajar satu hal hari ini: pengkhianatan terbesar tidak datang dari musuh, melainkan dari orang yang kita suapi dengan tangan kita sendiri.

Saat aku masuk ke dalam mobil, aku merasakan kelegaan yang aneh. Seperti sebuah bisul yang akhirnya pecah. Sakit, tapi aku tahu ini awal dari penyembuhan. Aku akan memulai hidup baru, tanpa parasit dan tanpa pengkhianat. Jakarta pagi itu tampak lebih cerah, seolah-olah semesta setuju bahwa aku berhak mendapatkan yang lebih baik daripada sekadar sisa-sisa cinta yang dicuri di jam dua pagi.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url