Pesta Amal Berdarah Dingin: Liontin Rubi Almarhumah Ibuku Melingkar di Leher Tunangan Sahabatku
'Kamu yakin itu permatanya, Dana?' Suara Sekar Arum terdengar setenang permukaan telaga di pagi hari, namun ada getaran halus yang hampir tak tertangkap telinga saat dia menyesap champagne-nya. Aradhana tidak menjawab. Matanya tetap terpaku pada wanita di seberang aula Ballroom Hotel Mulia malam itu. Wanita itu mengenakan gaun beludru hitam yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, tapi bukan itu yang membuat napas Aradhana tercekat. Di leher wanita itu, melingkar sebuah liontin rubi berbentuk tetesan darah dengan ukiran sulur emas yang sangat spesifik—sebuah mahakarya pengrajin perhiasan kuno dari Kotagede.
'Itu milik Ibu, Sekar. Aku tahu setiap inci goresan di emasnya. Aku yang membersihkannya setiap malam sebelum beliau meninggal,' bisik Aradhana dengan suara serak. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya seolah ingin keluar. Liontin itu seharusnya berada di dalam Save Deposit Box (SDB) Bank Mandiri, tersimpan aman bersama dokumen-dokumen berharga keluarga. Aradhana sendiri yang mengantar Sekar untuk menyimpannya tiga bulan lalu setelah acara peringatan seribu hari ibunya.
'Mungkin hanya mirip, Sayang. Kotagede punya banyak pengrajin, bukan?' Sekar mencoba meredam suasana, jemarinya yang lentik menyentuh lengan Aradhana, mencoba mengalihkan perhatian suaminya. Namun, Aradhana bukan pria yang mudah disesatkan oleh kebetulan. Dia adalah seorang arsitek restorasi; matanya dilatih untuk melihat detail terkecil yang diabaikan orang lain. Dia tahu persis bahwa rubi itu memiliki inklusi kecil berbentuk sayap burung di dalamnya jika dilihat di bawah cahaya lampu tertentu. Dan saat wanita di kejauhan itu berputar mengikuti alunan musik, cahaya lampu kristal ballroom menghantam permata itu, memantulkan kilatan merah yang sangat dia kenali.
'Siapa wanita itu, Kar? Yang berdiri di sebelah Kalingga,' tanya Aradhana. Kalingga adalah sahabatnya sejak SMA. Pria itu baru saja kembali dari Singapura setelah dua tahun menghilang untuk mengurus bisnis propertinya. Malam ini adalah 'debut' pertamanya kembali ke pergaulan Jakarta, dan dia membawa seorang wanita cantik yang diperkenalkannya sebagai tunangannya.
'Namanya Nindya. Katanya dia anak pengusaha tambang dari Kalimantan. Baru tunangan bulan lalu,' jawab Sekar dengan nada yang terlalu cepat, seolah dia sudah menyiapkan jawaban itu di ujung lidahnya. Aradhana menyipitkan mata. Ada sesuatu yang tidak beres. Bagaimana mungkin seorang wanita yang baru dikenal Kalingga bisa memiliki perhiasan warisan keluarga Aradhana? Kecuali, perhiasan itu tidak pernah sampai ke bank.
Aradhana tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Dia melangkah lebar menembus kerumunan tamu yang wangi parfumnya mulai terasa mencekik. Sekar memanggil namanya dengan setengah berbisik, panik, tapi Aradhana tidak peduli. Dia sampai di depan Kalingga tepat saat pria itu sedang tertawa lebar memamerkan gigi-giginya yang rapi.
'Dana! Gila, makin gagah aja lo!' Kalingga menyambutnya dengan pelukan maskulin yang biasanya terasa hangat, tapi kali ini Aradhana merasa seperti dipeluk oleh seekor ular sanca. Dingin dan licin. Aradhana melepaskan diri dengan sopan, matanya langsung tertuju pada leher Nindya.
'Kalingga, perkenalkan, ini istriku, Sekar,' kata Aradhana sambil menarik Sekar yang baru saja sampai di sisinya dengan napas terengah. 'Dan ini... Nindya, kan? Perhiasanmu cantik sekali. Sangat unik. Bolehkah aku melihatnya lebih dekat?'
Nindya tampak sedikit terkejut, namun dia tersenyum manis. 'Oh, terima kasih. Ini kado pertunangan dari Kalingga. Dia bilang ini barang antik yang dia cari susah payah di balai lelang Singapura.'
Dunia seolah berhenti berputar bagi Aradhana. Balai lelang Singapura? Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibir Kalingga. Aradhana menatap sahabatnya itu, mencari jejak rasa bersalah di matanya, namun Kalingga hanya membalas dengan tatapan bingung yang sangat meyakinkan. 'Ada apa, Dana? Lo naksir pengen beliin buat Sekar juga? Nanti gue cariin infonya.'
'Gue pengen tahu nama pelelangnya, Ling. Soalnya, liontin ini persis dengan milik almarhumah nyokap gue yang hilang dari brankas rumah,' Aradhana meluncurkan serangan pertama. Dia berbohong tentang 'hilang dari rumah', dia ingin melihat reaksi mereka.
Seketika, ekspresi Sekar berubah pucat. Gelas champagne di tangannya bergetar. 'Dana, jangan mulai deh. Malu dilihat orang. Mungkin memang modelnya pasaran dulu,' potong Sekar dengan nada ketus yang dipaksakan. Sementara itu, Kalingga tertawa canggung. 'Masa sih? Wah, dunia sempit banget ya. Tapi ini beneran gue dapet dari kolektor, Dana. Mungkin lo salah lihat karena pencahayaan di sini agak remang.'
Aradhana tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. 'Mungkin. Tapi ada satu cara buat mastiin. Liontin nyokap gue punya mekanisme rahasia di bagian belakangnya. Kalau ditekan bagian atasnya, dia bakal terbuka dan ada inisial 'A.S'—Aradhana & Sekar—karena itu memang diniatkan buat jadi kado pernikahan kita yang nggak sempat beliau kasih langsung.'
Nindya yang tampak polos mulai merasa tidak nyaman. 'Eh, Kalingga, mungkin kita pindah ke buffet saja?' Namun Aradhana sudah lebih dulu mengulurkan tangannya. 'Boleh aku pinjam sebentar, Nindya? Hanya sedetik. Kalau tidak ada inisialnya, aku akan minta maaf secara formal di depan semua tamu malam ini.'
Ketegangan itu bisa diiris dengan pisau. Kalingga mencoba menepis tangan Aradhana, tapi Aradhana lebih cepat. Dia memegang liontin itu—dingin, nyata, dan sangat familiar. Jempolnya mencari tonjolan kecil di balik emas ukiran itu. Klik. Liontin itu terbuka. Di dalamnya, terukir dengan sangat halus: 'A & S - Kasih Ibu Sepanjang Masa'.
Bukan inisial Aradhana & Sekar seperti yang dia bohongkan tadi, tapi inisial ibunya dan ayahnya, namun pesan itu jelas membuktikan kepemilikannya. Keheningan yang memuakkan menyelimuti mereka berempat di tengah keriuhan musik orkestra. Aradhana menatap istrinya, Sekar, yang kini menunduk dalam, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Lalu dia menatap Kalingga, yang rahangnya mengeras, wajahnya merah padam antara malu dan marah.
'Sekar, kamu bilang liontin ini ada di bank,' suara Aradhana kini sangat rendah, penuh dengan luka yang mendalam. 'Kalingga, kamu bilang ini dari Singapura. Sejak kapan kalian mulai merampok hidupku bersama-sama?'
Nindya, yang ternyata hanya bidak catur yang tak tahu apa-apa, mulai melepas kalung itu dengan tangan gemetar. 'Aku... aku nggak tahu apa-apa. Kalingga, kamu bilang ini sah!' Dia memberikan kalung itu ke tangan Aradhana dan melangkah mundur, lalu berlari menjauh dari kerumunan.
'Dana, dengerin dulu...' Kalingga mencoba bicara, tapi Aradhana mengangkat tangannya. 'Berapa lama, Kar? Berapa lama kamu kasih barang-barang Ibuku ke dia? Atau jangan-jangan, cicilan apartemen mewah Kalingga di Sudirman itu juga dari tabungan pendidikan anak kita yang kamu bilang investasinya lagi turun?'
Sekar akhirnya mendongak, wajahnya yang cantik kini tampak mengerikan karena rasa bersalah. 'Aku terpaksa, Dana. Kalingga... dia pegang rahasia aku. Aku nggak punya pilihan!'
'Rahasia apa yang lebih berharga daripada kehormatan keluarga kita, Sekar?' Aradhana merasa seluruh dunianya runtuh. Dia baru menyadari bahwa selama ini dia hidup dengan dua orang asing. Sahabat yang dia percayai untuk menjaga punggungnya, dan istri yang dia cintai sepenuh jiwa, ternyata telah bersekongkol di belakangnya. Bukan hanya soal materi, tapi tentang pengkhianatan emosional yang tak termaafkan.
Aradhana menatap liontin di tangannya. Rubi itu tampak begitu merah, semerah amarah yang kini membakar dadanya. Dia tidak meledak marah. Dia tidak berteriak. Dia justru merasa sangat dingin. Dia merogoh kantong jasnya, mengeluarkan ponselnya, dan menekan sebuah tombol. 'Pak Baskara, silakan masuk. Pintu Ballroom 2. Saya punya bukti tambahan untuk laporan penggelapan aset yang tadi pagi saya sampaikan.'
Kalingga dan Sekar tersentak. Mereka tidak menyangka Aradhana sudah selangkah lebih maju. Aradhana telah curiga sejak dia menemukan mutasi rekening aneh di kartu kredit cadangannya sebulan lalu untuk pembayaran sebuah butik perhiasan—bukan untuk membeli, tapi untuk biaya 'Repolishing & Restoration'. Dia mengikuti jejak digital itu diam-diam, hingga akhirnya malam ini, liontin itu menjadi saksi bisu yang mengunci segalanya.
'Kita selesaikan ini di kantor polisi, Ling. Dan Sekar... jangan pulang ke rumah. Barang-barangmu sudah aku packing dan aku kirim ke rumah ibumu satu jam yang lalu,' Aradhana berbalik, meninggalkan mereka berdua yang terpaku di tengah sorotan lampu gala, sementara petugas keamanan hotel dan dua orang pria berpakaian preman mendekat ke arah mereka.
Langkah Aradhana mantap menuju pintu keluar. Udara malam Jakarta yang polutif mendadak terasa jauh lebih segar daripada udara di dalam ballroom tadi. Dia tahu malam ini hanyalah awal dari perang panjang, tapi setidaknya, dia tidak lagi hidup dalam kebohongan yang wangi parfumnya memuakkan.