Rahasia di Balik Ruang Kerja CEO: Karir dan Cintaku Hancur dalam Semalam karena Sebuah Pesan...
Lantai 22 gedung perkantoran di kawasan SCBD ini biasanya sudah sepi kalau jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hanya suara dengung AC sentral yang terdengar konsisten, menemani pendar lampu-lampu Jakarta yang terlihat dari jendela kaca setinggi langit-langit. Aku, Arini, masih terpaku di depan layar monitor. Jemariku menari lincah di atas keyboard, menyelesaikan laporan akhir tahun yang diminta Pak Adrian sore tadi. Ya, Pak Adrian. CEO muda yang bukan cuma jadi idola satu kantor, tapi juga pria yang selama enam bulan terakhir ini mengisi tempat paling spesial di hatiku.
Hubungan kami rahasia. Backstreet istilahnya, atau dalam dunia profesional, ini adalah zona merah yang sangat berbahaya. Adrian bilang, Arin, tunggu sebentar lagi ya. Kalau posisi kamu sudah aman sebagai Senior Manager, kita akan kasih tahu orang tua aku. Kalimat itu yang selalu aku pegang. Kalimat yang membuatku rela lembur sampai pagi, rela menyembunyikan senyum setiap kali kami berpapasan di lift, dan rela menahan cemburu saat melihatnya dikelilingi klien-klien cantik dari perusahaan rekanan.
Malam itu, heningnya ruangan tiba-tiba pecah oleh getaran ponsel di atas meja. Aku menoleh, mengira itu ponselku. Tapi ternyata, itu ponsel milik Adrian yang tertinggal saat dia buru-buru pergi ke meeting eksternal tadi sore. Ponsel itu tergeletak tepat di samping tumpukan berkas audit. Layarnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tanpa nama. Awalnya aku nggak mau lancang. Tapi, sebuah kalimat di layar kunci itu seolah menarik jantungku keluar dari tempatnya. 'Arini sudah tanda tangan dokumennya. Sekarang kita bisa lempar semua kesalahan audit ini ke dia. Perusahaan aman, kita bersih.'
Duniaku rasanya runtuh seketika. Nafasku tercekat, dan suhu ruangan yang dingin mendadak terasa membekukan tulang. Tanganku gemetar hebat saat mencoba menyentuh ponsel itu. Apa maksudnya? Dokumen apa yang dimaksud? Aku teringat tadi siang, Adrian datang ke kubikelku dengan senyum manisnya yang mematikan itu. Dia menyodorkan beberapa lembar kertas, katanya itu hanya berkas administrasi rutin untuk kenaikan jabatanku. Karena percaya seratus persen, aku menandatanganinya tanpa membaca detail kecil di lampiran belakang. Aku bodoh. Aku terlalu buta karena cinta.
Aku bangkit dari kursi, kakiku terasa lemas seperti jelly. Aku berjalan menuju ruang kerja Adrian yang berpintu kaca gelap. Ruangan itu kosong, tapi aroma parfum maskulinnya masih tertinggal kuat di sana. Aku mencari berkas audit yang dia sebutkan. Dengan tangan yang masih gemetar, aku menggeledah laci mejanya yang ternyata nggak dikunci. Di sana, di dalam map merah menyala, aku menemukan salinan dokumen yang tadi siang aku tanda tangani. Judulnya bukan promosi jabatan, melainkan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak atas manipulasi dana operasional perusahaan selama dua tahun terakhir.
Air mata mulai membanjiri pipiku. Jadi, selama ini perhatiannya, janji-janjinya, dan semua afeksi yang dia berikan hanya sandiwara? Aku cuma dijadikan tumbal untuk menutupi kejahatan korporat yang dia lakukan? Aku terduduk di kursi kebesarannya, merasa sangat kerdil dan hancur. Bagaimana mungkin orang yang aku cintai tega merancang kehancuranku dengan begitu rapi? Di Jakarta yang sekejam ini, aku pikir aku sudah menemukan pelabuhan, ternyata aku malah terjun ke jurang paling dalam.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Suara pantofel yang sangat aku kenali. Jantungku berpacu gila-gilaan. Adrian kembali. Aku nggak punya waktu untuk kabur. Aku hanya bisa mematung di kursinya, dengan dokumen itu masih di tanganku dan air mata yang belum kering. Pintu ruangan terbuka perlahan, menampakkan sosok pria dengan setelan jas mahal yang selalu tampak sempurna. Dia tertegun melihatku ada di sana. Ekspresi wajahnya yang semula tenang langsung berubah menjadi dingin, sekaku es.
'Arin? Kamu sedang apa di sini?' suaranya rendah, tanpa nada kasih sayang yang biasanya dia gunakan kalau kami sedang berdua. Aku mengangkat dokumen itu ke udara, menatapnya dengan pandangan hancur. 'Kenapa, Mas? Kenapa harus aku?' tanyaku dengan suara serak. Dia tidak menjawab. Dia justru berjalan mendekat, menutup pintu ruangan dan menguncinya dari dalam. Suasana berubah menjadi sangat mencekam. Lampu ruangan yang temaram membuat bayangannya terlihat seperti monster yang siap menerkamku.
'Kamu seharusnya nggak pernah menyentuh laci itu, Arin,' katanya sambil melangkah perlahan ke arahku. Tidak ada penyesalan di matanya. Yang ada hanyalah kalkulasi dingin seorang predator. Dia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang tadi aku temukan, lalu menaruhnya di meja. 'Aku mencintaimu, itu jujur. Tapi perusahaan ini adalah hidupku. Dan dalam bisnis, harus ada yang dikorbankan agar kapal besar ini nggak tenggelam.' Aku tertawa miris. Tertawa di atas rasa sakit yang luar biasa. 'Jadi cinta kamu itu harganya cuma selembar surat tumbal ini?'
Adrian menghela nafas panjang, dia berdiri tepat di depanku, menghimpitku di antara kursi dan meja besar itu. Dia membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. 'Dengar, Arin. Kalau kamu diam dan ikuti permainanku, aku pastikan kamu nggak akan dipenjara lama. Aku akan sewa pengacara terbaik. Setelah itu, kita bisa mulai lagi di luar negeri. Tapi kalau kamu coba-coba lapor atau melawan...' dia menggantung kalimatnya, tangannya mengelus pipiku dengan lembut namun terasa seperti sayatan pisau. '...hidup kamu dan keluarga kamu di kampung nggak akan pernah tenang.'
Ancaman itu membuat bulu kudukku berdiri. Dia tahu segalanya tentangku. Tentang Ibuku yang sedang sakit di desa, tentang adikku yang baru masuk kuliah. Dia sudah menyiapkan ini semua sejak awal. Setiap kencan, setiap obrolan tengah malam, dia sedang mengumpulkan kelemahanku. Aku merasa seperti tikus yang terjebak dalam perangkap emas. Aku ingin berteriak, ingin mencakar wajah tampannya yang penuh tipu daya itu, tapi lidahku kelu. Ruang CEO yang mewah ini tiba-tiba terasa seperti sel penjara yang sangat sempit.
Aku menatap matanya dalam-dalam, mencari sisa-sisa Adrian yang aku kenal dulu. Tapi tidak ada. Pria di depanku ini adalah orang asing. Seorang sosiopat yang bersembunyi di balik karisma CEO sukses. Aku menarik nafas dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Aku nggak boleh menyerah begitu saja. Kalau dia pikir aku adalah wanita lemah yang bisa dia setir hanya dengan ancaman, dia salah besar. Arini yang dulu mungkin sudah mati malam ini, tapi Arini yang baru saja lahir dari pengkhianatan ini tidak akan tinggal diam.
'Ok,' bisikku pelan, pura-pura menyerah. Aku bisa melihat kilat kemenangan di matanya. Dia tersenyum puas, sebuah senyum yang membuatku mual. 'Anak pintar,' katanya sambil mencium keningku. Aku memejamkan mata, menahan rasa jijik yang luar biasa. Saat dia berbalik untuk mengambil air minum di dispenser, tanganku bergerak cepat. Aku tahu ada sesuatu yang dia lewatkan. Sebuah detail kecil yang mungkin bisa membalikkan keadaan.
Di bawah meja, ada sebuah alat perekam kecil yang biasanya dia gunakan untuk mencatat poin-poin meeting penting. Alat itu masih menyala. Aku sempat melihat lampu merahnya berkedip saat aku bersembunyi tadi. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, aku meraih alat itu dan memasukkannya ke dalam saku blazerku. Jika rekaman ancamannya tadi masuk ke sana, aku punya kartu as. Aku harus keluar dari ruangan ini sekarang juga, sebelum dia menyadari apa yang aku lakukan.
'Mas, aku mau pulang. Aku butuh waktu untuk berpikir,' kataku dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Adrian berbalik, menatapku curiga selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. 'Tentu. Sopir kantor akan mengantarmu. Jangan coba-coba pergi ke tempat lain selain apartemenmu, Arin. Aku akan tahu.' Aku mengangguk patuh, lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang diatur agar tidak terlihat terburu-buru.
Begitu pintu lift tertutup, aku luruh ke lantai. Jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. Aku merogoh saku blazer, memastikan alat perekam itu ada di sana. Ini baru permulaan. Besok pagi, seluruh kantor mungkin akan gempar. Besok pagi, mungkin aku akan jadi buronan atau pahlawan. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan membiarkan Adrian menang. Cinta ini sudah mati, terkubur bersama ambisinya di lantai 22. Sekarang, hanya ada satu misi: menghancurkan pria yang pernah menjadi semestaku.
Aku berjalan keluar gedung, disambut oleh udara malam Jakarta yang lembap. Lampu-lampu jalanan terlihat kabur karena air mata yang kembali mengalir. Aku melihat mobil hitam yang sudah menungguku di depan lobi. Sopir itu menunduk sopan, tapi aku tahu dia adalah mata-mata Adrian. Aku masuk ke dalam mobil dengan pikiran yang berkecamuk. Di dalam tas, ponselku terus bergetar. Pesan dari Adrian masuk: 'Tidur yang nyenyak, Arin. Masa depan kita dimulai besok.' Aku tersenyum pahit. Ya, Adrian. Masa depan kita memang dimulai besok, tapi bukan masa depan yang kamu bayangkan.