Resign di Hari Pernikahan Bos? Rahasia di Balik Ruang Meeting Lantai 21 yang Menghancurkan Hidupku...
Pagi itu di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal, pendingin ruangan di lantai 21 gedung perkantoran mewah ini sudah diatur di suhu standar. Aku, Alana, berdiri di depan cermin toilet, merapikan blazer krem yang membungkus tubuhku dengan sempurna. Di jari manis tangan kiriku, ada sebuah bekas lingkaran yang samar. Bekas cincin yang baru saja kulepas dan kusimpan dalam saku paling dalam tas kerjaku. Cincin itu adalah janji, atau setidaknya begitu pikirku selama tiga tahun terakhir ini.
Aku sudah bekerja sebagai personal assistant untuk Adrian selama empat tahun. Tahun pertama adalah murni profesionalisme. Tahun kedua, batas itu mulai kabur. Tahun ketiga, aku sepenuhnya jatuh ke dalam pelukannya. Adrian adalah definisi pria sempurna di mata banyak orang; cerdas, ambisius, dan memiliki tatapan mata yang seolah bisa membaca isi kepalamu. Tapi bagiku, dia adalah rahasia paling manis sekaligus paling pahit yang pernah aku miliki. Kami berbagi malam-malam panjang di apartemennya, rencana-rencana masa depan yang dibisikkan di sela-sela kesibukan meeting, dan janji bahwa suatu saat, aku tidak perlu lagi bersembunyi di balik bayang-bayang.
Hari ini adalah hari besar bagi perusahaan. Adrian akan mengumumkan merger besar dengan perusahaan logistik milik keluarga Pranata. Tapi ada satu 'bonus' dari merger itu yang sudah menjadi rahasia umum di kalangan staf: pernikahan Adrian dengan Bianca Pranata. Saat gosip itu pertama kali beredar, Adrian memegang tanganku di bawah meja kerja dan berbisik, 'Itu cuma strategi bisnis, Alana. Kamu tahu siapa yang punya hatiku.' Aku, dengan bodohnya, mempercayai setiap kata yang keluar dari bibirnya yang tipis itu.
Aku berjalan keluar dari toilet menuju meja kerjaku yang tepat berada di depan pintu ruangan Adrian. Suasana kantor sangat sibuk. Beberapa staf dari divisi PR berlarian membawa berkas press release. Semuanya terlihat bersemangat, kecuali aku. Jantungku berdegup kencang. Ada perasaan tidak enak yang menyelinap di sela-sela dadaku sejak aku bangun tidur tadi pagi. Seperti ada badai yang sedang menunggu untuk meledak, namun langit di luar sana terlihat begitu biru dan tenang.
Adrian memanggilku lewat interkom. 'Alana, ke ruangan saya sekarang. Bawa draf kontrak yang tadi malam kita bahas.' Suaranya terdengar dingin, sangat profesional, seperti tidak pernah ada kejadian di mana dia memelukku erat saat aku menangis karena merindukan almarhum ayahku. Aku menarik napas panjang, mengambil map biru di atas meja, dan melangkah masuk ke ruangan yang aromanya sudah sangat kukenal—campuran antara kopi espresso dan parfum kayu cendana yang mahal.
Dia duduk di kursi kebesarannya, membelakangiku, menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta melalui dinding kaca. 'Sudah kamu siapkan semuanya?' tanyanya tanpa menoleh. 'Sudah, Pak. Semua draf sudah rapi, tinggal menunggu tanda tangan dari pihak keluarga Pranata,' jawabku dengan nada seformal mungkin. Aku menunduk, menatap sepatuku, berusaha tidak membiarkan emosiku meluap. Di saat seperti ini, aku harus menjadi Alana si sekretaris teladan, bukan Alana yang mencintainya setengah mati.
Adrian berbalik, wajahnya datar. Tidak ada kilat sayang di matanya, tidak ada senyum tipis yang biasa dia berikan secara rahasia. Dia meletakkan sebuah ponsel di atas meja. Ponsel pribadinya, yang biasanya selalu dia kunci rapat. 'Alana, tolong cek pesan dari Bianca. Dia bilang ada revisi di detail katering untuk acara pertunangan nanti malam. Saya harus segera ke ruang meeting besar,' ucapnya sambil berdiri, memperbaiki letak dasinya, dan berjalan melewatiku begitu saja seolah aku hanyalah bagian dari furnitur ruangan itu.
Aku terpaku. Tanganku gemetar saat meraih ponsel itu. Layarnya masih menyala, menampilkan percakapan WhatsApp dengan nama 'Bianca'. Namun, jemariku tidak sengaja menyentuh tombol back, dan mataku justru menangkap sebuah grup chat yang diberi nama 'The Board - Secret Group'. Di sana, ada nama Adrian, pengacara perusahaan, dan ayah Bianca. Rasa penasaran yang mematikan mendorongku untuk membuka chat itu. Dan di sanalah, duniaku runtuh seketika.
Di dalam grup itu, mereka tidak sedang membahas merger. Mereka sedang membahas aku. Lebih tepatnya, membahas bagaimana 'menyingkirkan' aku setelah merger selesai. Ada sebuah dokumen PDF terlampir dengan judul 'Surat Pemutusan Hubungan Kerja - Alana Maheswari'. Di bawahnya, Adrian menulis sebuah pesan yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak: 'Tenang saja, dia sudah saya tangani. Alana tidak akan jadi masalah. Dia pikir saya benar-benar akan menikahinya. Setelah tanda tangan merger, dia akan saya minta resign dengan alasan pengurangan staf. Dia terlalu percaya diri untuk ukuran seorang sekretaris.'
Rasanya seperti ada air es yang disiramkan ke seluruh tubuhku. Oksigen di ruangan itu mendadak hilang. Aku membaca pesan itu berulang kali, berharap aku salah baca, berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi tidak. Itu adalah ketikan tangan Adrian. Pria yang semalam baru saja mengirimiku pesan singkat berbunyi 'I love you, stay with me'. Ternyata, selama tiga tahun ini, aku hanyalah pion dalam permainannya. Aku hanyalah cara baginya untuk memastikan operasional kantor tetap stabil sementara dia merancang pengkhianatan ini bersama calon mertuanya.
Aku merasakan air mata mulai menggenang, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Tidak. Aku tidak boleh menangis di sini. Aku melihat ke arah meja kerja Adrian. Di sana, ada sebuah laci yang sedikit terbuka. Di dalamnya, aku melihat sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah dari Cartier. Dengan tangan yang masih gemetar, aku membukanya. Sebuah cincin berlian yang sangat indah berkilau di dalamnya. Tapi bukan itu yang menghancurkan hatiku lebih dalam. Ada sebuah kartu kecil di bawah cincin itu. Tulisan tangan Adrian yang rapi: 'Untuk Bianca, awal dari segalanya. Terima kasih sudah memberiku akses ke saham ayahmu. Kamu adalah investasi terbaikku.'
Investasi? Jadi semuanya tentang bisnis? Semua kata cinta, semua perhatian, semua janji itu hanya investasi untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar? Aku merasa sangat mual. Semua kenangan indah kami berubah menjadi sampah dalam sekejap. Aku teringat bagaimana aku lembur hingga subuh demi menyelesaikan laporan keuangannya, bagaimana aku menolak tawaran kerja dari perusahaan kompetitor dengan gaji dua kali lipat hanya karena aku ingin berada di sampingnya. Aku telah menyerahkan segalanya, dan dia hanya menganggapku sebagai gangguan yang harus segera dibersihkan.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Adrian kembali masuk karena tertinggal pulpennya. Dia berhenti saat melihatku masih memegang ponselnya dan kotak perhiasan itu berada di atas meja. Suasana menjadi sangat hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti bom waktu yang siap meledak. Adrian menatapku, lalu menatap ponselnya, lalu kembali ke wajahku. Ekspresinya yang tadi datar berubah menjadi sedikit panik, tapi hanya sebentar, sebelum akhirnya kembali menjadi dingin dan angkuh.
'Jadi, kamu sudah tahu?' tanyanya dengan suara rendah, tanpa ada sedikit pun nada penyesalan. Dia berjalan mendekat, mengambil ponselnya dari tanganku dengan kasar. 'Seharusnya kamu tidak perlu mencari tahu secepat ini, Alana. Saya berencana memberitahumu setelah acara nanti malam selesai dengan cara yang lebih halus. Tapi ya sudahlah, karena kamu sudah tahu, mari kita bicara sebagai profesional.'
Profesional? Aku tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat menyakitkan bahkan di telingaku sendiri. 'Profesional kata kamu, Adrian? Setelah apa yang kita jalani selama tiga tahun? Kamu menyebut pengkhianatan ini profesional?' Suaraku bergetar, namun aku tetap berdiri tegak. Aku tidak akan membiarkan dia melihatku hancur sepenuhnya, meskipun di dalam sana, hatiku sudah berkeping-keping tidak berbentuk lagi.
Adrian mendengus, dia duduk di pinggir meja, menatapku dengan tatapan merendahkan. 'Alana, bangunlah. Kamu itu pintar. Kamu seharusnya tahu kalau hubungan kita itu nggak punya masa depan. Kamu itu cuma sekretaris. Bianca? Dia adalah tiket saya menuju puncak tertinggi di industri ini. Apa yang bisa kamu tawarkan selain kesetiaan? Di dunia ini, kesetiaan itu murah. Saham dan koneksi, itu yang mahal. Saya pikir kamu cukup dewasa untuk mengerti posisi kamu di hidup saya.'
Kata-katanya seperti sembilu yang menyayat kulitku. Begitu dingin, begitu tak berperasaan. Aku menatap pria di depanku ini dan menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar mengenalnya. Pria yang kucintai adalah sebuah ilusi yang dia ciptakan untuk memanfaatkanku. 'Kamu benar, Adrian,' kataku dengan suara yang mendadak tenang. Ketenangan yang muncul dari kemarahan yang luar biasa. 'Aku memang terlalu bodoh karena percaya pada monster seperti kamu. Tapi jangan pikir aku akan pergi begitu saja tanpa perlawanan.'
Adrian tertawa, tawa yang mengejek. 'Perlawanan apa? Kamu mau lapor ke media? Siapa yang mau percaya sama sekretaris sakit hati yang mencoba merusak reputasi CEO sukses? Kamu nggak punya bukti apa pun yang bisa menjatuhkan saya. Kontrak merger akan ditandatangani satu jam lagi, dan setelah itu, kamu resmi tidak punya pekerjaan. Jadi, lebih baik kamu ambil pesangon yang sudah saya siapkan dan pergi dengan tenang. Jangan buat dirimu semakin memalukan.'
Dia tidak tahu. Dia benar-benar tidak tahu. Dia lupa siapa yang memegang semua password akun pribadinya, siapa yang menyusun semua draf laporan keuangan rahasia perusahaan selama tiga tahun ini, dan siapa yang selama ini menyembunyikan 'celah-celah' kecil dalam pajaknya agar perusahaan tidak diaudit oleh pemerintah. Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Adrian mengernyitkan dahi. 'Kamu yakin aku nggak punya apa-apa, Adrian? Kamu lupa siapa yang menyiapkan flashdisk untuk presentasi merger kamu satu jam lagi di depan keluarga Pranata dan para pemegang saham?'
Wajah Adrian mendadak pucat. Dia seolah baru tersadar akan sesuatu. Dia segera memeriksa tas kerjanya, mencari sesuatu. Aku tetap diam, mengamati gerak-geriknya dengan kepuasan yang aneh. 'Apa yang kamu lakukan, Alana?' bentaknya. 'Isi flashdisk itu adalah data rahasia merger! Kalau kamu macam-macam, saya bisa tuntut kamu secara hukum!'
'Tuntut saja,' balasku tenang. 'Tapi sebelum itu, mungkin kamu harus cek apa yang baru saja aku kirim ke email pribadi Pak Pranata dan seluruh anggota dewan komisaris. Bukan data merger, Adrian. Tapi semua bukti transfer gelap yang kamu lakukan untuk menyuap pejabat tahun lalu, lengkap dengan rekaman suara saat kamu merencanakan manipulasi saham perusahaan keluarga Pranata untuk keuntungan pribadimu. Aku menyimpannya dengan sangat baik selama ini, sebagai asuransi kalau hal seperti ini terjadi.'
Adrian menerjang ke arahku, wajahnya merah padam karena amarah. Dia mencengkeram bahuku dengan keras. 'Kamu gila ya?! Kamu mau menghancurkan perusahaan ini? Kamu juga bakal kena, Alana! Kamu itu kaki tangan saya!' teriaknya di depan wajahku. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu. Tapi aku tidak takut. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku merasa bebas.
'Aku nggak peduli,' bisikku tepat di telinganya. 'Aku mungkin akan ikut hancur, tapi setidaknya aku nggak akan hancur sendirian. Kamu bilang kesetiaan itu murah, kan? Nah, sekarang mari kita lihat seberapa mahal harga yang harus kamu bayar untuk sebuah pengkhianatan. Selamat atas pernikahannya, Adrian. Semoga Bianca suka dengan kejutan yang aku siapkan di layar presentasi nanti.'
Aku melepaskan cengkeramannya dengan kasar, mengambil tas kerjaku, dan berjalan menuju pintu. Saat aku membuka pintu, aku melihat Bianca Pranata berdiri di sana dengan gaun putih mewahnya, tampak bingung melihat kekacauan di dalam ruangan. Aku menatapnya sebentar, merasa kasihan karena dia akan menikahi seorang iblis, namun aku juga tahu bahwa dia bukanlah orang suci dalam drama ini. Aku melewatinya begitu saja, berjalan dengan kepala tegak melintasi lobi kantor yang luas. Semua mata menatapku, tapi aku tidak peduli. Di saku blazerku, ponselku bergetar hebat. Pesan masuk dari grup perusahaan, teriakan, kepanikan. Badai yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dan saat aku melangkah keluar dari gedung itu, untuk pertama kalinya, udara Jakarta yang penuh polusi terasa begitu segar di paru-paruku.