Sahabat Terbaikku Menanam 'Bom' di Rumahku: Rahasia di Balik Ponsel Tersembunyi yang Mengubah Hidupku dalam Semalam...
Malam itu Jakarta lagi nangis sejadi-jadinya. Hujan deras mengguyur aspal Kemang, menyisakan bunyi rintik yang berisik di jendela kaca apartemen lantai dua puluh satu yang gue tinggali. Di dalam, suasana kontras banget. Bau aroma terapi lavender masih menguar, sisa-sisa makan malam mewah baru saja selesai. Siska, sahabat paling deket yang udah gue anggap saudara sendiri, baru aja pamit pulang setelah kita ngerayain ulang tahun pernikahan gue yang ketujuh bareng Aris, suami gue tercinta.
Gue masih duduk di sofa beludru warna abu-abu, mandangin gelas wine yang tinggal setengah. Aris lagi di kamar mandi, katanya mau bersih-bersih sebelum kita istirahat. Semuanya kelihatan sempurna. Karir gue sebagai fashion designer lagi di puncak, Aris baru aja dapet promosi jadi partner di firma hukumnya, dan Siska... dia selalu ada buat gue. Dia yang bantuin gue pilih gaun malam ini, dia yang pesen katering, bahkan dia yang dengerin keluh kesah gue kalau Aris lagi sibuk kerja.
Tapi ada yang janggal. Pas gue mau beresin bantal-bantal di sofa tamu, tangan gue nyenggol sesuatu yang keras di sela-sela lipatan sofa. Gue pikir itu remote TV atau mungkin koin. Tapi pas gue tarik, jantung gue kayak berhenti detak seketika. Itu sebuah ponsel. Bukan punya gue, dan gue tahu persis itu bukan punya Aris. Bentuknya kecil, tipe lama yang udah jarang orang pakai, dan yang bikin gue merinding, ponsel itu dalam keadaan nyala dengan layar yang berkedip-kedip.
Tangan gue gemetaran pas megang benda kecil itu. Kenapa ada ponsel tersembunyi di sini? Dengan rasa penasaran yang bercampur rasa takut yang luar biasa, gue coba buka kunci layarnya. Nggak dipassword. Begitu layar kebuka, hal pertama yang gue lihat adalah galeri foto. Di sana, ada ratusan foto gue. Tapi bukan foto yang diambil secara sadar. Itu foto-foto gue dari sudut yang aneh. Pas gue lagi tidur, pas gue lagi ganti baju di kamar yang gue pikir aman, bahkan pas gue lagi nangis sendirian di ruang kerja.
Napas gue mulai pendek-pendek. Siapa yang ngelakuin ini? Pikiran gue langsung tertuju ke Siska. Dia baru aja duduk di sini tadi. Apa dia yang ketinggalan? Tapi buat apa dia punya foto-foto ini? Gue scroll lagi ke bawah, dan di sana gue nemuin sebuah folder tersembunyi yang judulnya cuma titik. Pas gue buka, dunia gue bener-bener runtuh. Di dalamnya ada rekaman suara. Gue klik salah satu rekaman yang tanggalnya baru kemarin.
Suara itu... itu suara Aris. Dan suara satu lagi, suara manja yang gue kenal banget. Siska. 'Kamu kapan mau kasih tahu dia, Ris? Aku capek harus pura-pura jadi sahabat yang baik terus di depan Maya. Rasanya mau muntah setiap kali dia meluk aku dan bilang terima kasih karena aku udah ada buat dia,' kata Siska di rekaman itu. Suaranya nggak lembut kayak biasanya. Kedengarannya penuh kebencian yang mendalam.
Lalu suara Aris terdengar, berat dan tenang, 'Sabar, sayang. Kita butuh semua akses ke aset dia dulu. Kalau kita cerai sekarang, aku nggak dapet apa-apa. Kamu tahu kan perjanjian pranikah kita itu ketat banget? Aku harus bikin dia yang kelihatan salah, atau dia yang menyerah sendiri.' Gue ngerasa kayak disamber petir di tengah ruangan yang tenang ini. Suami yang tadi baru aja cium kening gue sambil bilang 'Happy Anniversary', ternyata lagi ngerencanain kehancuran gue sama sahabat gue sendiri.
Gue denger langkah kaki dari arah kamar mandi. Aris keluar cuma pakai handuk, rambutnya masih basah. Dia senyum ke arah gue, senyum yang biasanya bikin gue ngerasa aman, tapi sekarang malah kelihatan kayak seringai iblis. 'Loh, sayang, kok belum masuk kamar? Masih mau minum?' tanyanya santai banget. Dia belum sadar kalau di tangan gue ada bom waktu yang siap meledak.
Gue cepet-cepet nyembunyiin ponsel itu di balik bantal lagi, tapi muka gue nggak bisa bohong. Gue pucat pasi. 'Aku... aku tiba-tiba ngerasa pusing, Ris. Kayaknya kecapekan,' kata gue terbata-bata. Aris mendekat, mau megang dahi gue, tapi refleks gue menghindar. Dia kelihatan bingung, tapi nggak curiga berlebihan. 'Ya udah, istirahat yuk. Aku temenin,' katanya lembut. Lembut yang mematikan.
Malam itu gue nggak tidur sama sekali. Gue pura-pura merem di samping laki-laki yang ternyata orang asing buat gue. Pikiran gue melayang ke sepuluh tahun lalu, pas pertama kali kenal Siska di kampus. Kita bagi suka duka bareng. Pas gue rintis butik dari nol, dia yang nemenin gue begadang. Pas gue patah hati, dia yang beliin gue es krim. Gimana bisa seseorang nyembunyiin kebencian sedalam itu di balik senyum manis selama bertahun-tahun?
Gue sadar, ini bukan cuma soal perselingkuhan biasa. Ini adalah sabotase hidup. Siska nggak cuma mau suami gue, dia mau semua yang gue punya. Karir gue, reputasi gue, bahkan rumah ini. Dia sengaja ada di setiap sudut hidup gue buat nyari celah. Dan yang paling bikin gue sakit hati, Aris... laki-laki yang gue dukung dari dia belum punya apa-apa sampai jadi pengacara sukses, tega ngebantu Siska buat ngehancurin gue.
Pas jam menunjukkan pukul tiga pagi, gue denger suara notifikasi pelan dari balik bantal sofa di ruang tamu. Gue pelan-pelan bangun, mastiin Aris bener-bener lelap. Gue jalan jinjit ke luar, ngambil ponsel itu lagi. Ada pesan masuk. Dari sebuah nomor yang nggak dinamain, tapi gue tahu itu pasti Siska. Pesannya singkat: 'Gimana? Dia udah tidur? Aku kangen wangi kamu yang masih nempel di baju aku tadi.'
Air mata gue netes, tapi kali ini rasanya panas. Bukan lagi sedih, tapi amarah yang mulai membakar. Gue ngelihat ke sekeliling ruangan ini. Semua barang-barang mahal ini, hasil kerja keras gue, ternyata cuma jadi panggung buat sandiwara mereka. Gue nggak bisa tinggal diam. Kalau mereka mau main kotor, gue bakal kasih mereka lumpur yang paling menjijikkan.
Gue ambil ponsel pribadi gue, lalu gue foto layar ponsel rahasia itu sebagai bukti. Gue kirim semua file rekaman suara ke email pribadi gue yang nggak diketahui Aris. Tangan gue gemetar, tapi tekad gue bulat. Gue harus cari tahu seberapa jauh mereka udah melangkah. Gue buka aplikasi m-banking di ponsel rahasia itu—ternyata ada akun bank atas nama Siska tapi nomor telepon pemulihannya adalah nomor Aris. Pas gue cek saldonya, jantung gue hampir copot. Ada transferan rutin tiap bulan dari rekening perusahaan gue ke rekening itu. Nominalnya nggak main-main. Aris udah pelan-pelan ngerampok gue dari dalam.
Gue terduduk di lantai dapur yang dingin. Selama ini gue terlalu percaya. Gue kasih Aris kuasa buat pegang keuangan perusahaan karena gue mau fokus di desain. Ternyata itu kesalahan terbesar dalam hidup gue. Gue kasih Siska kunci cadangan apartemen karena gue pikir dia sahabat sejati. Ternyata itu cara dia buat masuk dan masang kamera tersembunyi atau mungkin hal lain yang lebih parah.
Pagi harinya, gue bangun dengan rencana di kepala. Gue harus bersikap seolah nggak ada apa-apa. Pas sarapan, gue tetep bikinin Aris kopi kesukaannya. Gue tetep senyum pas dia pamit kerja. Tapi begitu pintu apartemen tertutup, gue langsung nelpon seorang detektif swasta yang dulu pernah bantu klien gue. Gue butuh bukti yang lebih kuat. Gue butuh mereka berdua hancur sehancur-hancurnya tanpa punya jalan buat balik lagi.
Siangnya, Siska nelpon. Suaranya ceria banget di telepon, kayak nggak ada dosa. 'May, entar sore temenin gue ke mall yuk? Ada koleksi tas baru nih, kayaknya cocok buat lo,' katanya. Gue meremas pinggiran meja, nahan diri buat nggak teriak. 'Boleh, Sis. Kebetulan gue juga mau beli sesuatu buat ngerayain anniversary gue yang telat semalem,' jawab gue sedatar mungkin.
Di mall, gue ngelihat Siska dengan cara yang beda. Gue perhatiin caranya jalan, caranya ngomong sama pelayan toko, semuanya kelihatan palsu. Pas dia lagi nyobain tas, gue iseng nanya, 'Sis, lo pernah nggak sih ngerasa iri sama orang lain? Kayak... pengen punya hidup orang itu?' Siska diem sebentar, lalu ketawa kecil. 'Ya pernah lah, May. Namanya juga manusia. Tapi kan gue bersyukur punya sahabat kayak lo yang sukses. Hidup lo itu goals banget tahu nggak.'
Goals. Kata itu kedengaran kayak ejekan di kuping gue. Gue tahu apa yang dia maksud. Dia mau 'goals' itu jadi miliknya. Di tengah obrolan kita, tiba-tiba Aris lewat di depan toko itu sama seorang cewek lain yang bukan gue, dan bukan Siska. Siska langsung pucat pasi. Mukanya berubah drastis dari ceria jadi penuh amarah yang tertahan. Gue cuma senyum dalam hati. Ternyata pengkhianatan ini punya banyak lapisan. Aris bukan cuma mainin gue, dia juga mainin Siska.
Gue pura-pura nggak lihat, tapi gue perhatiin reaksi Siska. Dia langsung gelisah, terus-terusan ngecek HP-nya. 'May, sori banget ya, tiba-tiba nyokap gue nelpon, katanya ada urusan mendadak. Gue duluan ya!' Dia lari gitu aja tanpa nunggu jawaban gue. Gue tahu dia bakal ngejar Aris. Dan itu awal dari kehancuran yang gue rencanain. Biar mereka berdua saling cakar dulu, sementara gue nyiapin panggung buat eksekusi terakhir.
Gue balik ke apartemen dengan perasaan yang lebih tenang. Gue bakal ganti semua kunci pintu besok. Gue bakal cabut semua kuasa hukum Aris di perusahaan gue. Dan yang paling penting, gue bakal pastiin mereka berdua tahu gimana rasanya kehilangan segalanya dalam sekejap. Pengkhianatan itu mahal harganya, dan gue bakal pastiin mereka bayar lunas dengan bunga-bunganya.
Malam itu, Aris pulang telat lagi. Dia kelihatan berantakan, mungkin habis berantem sama Siska. Dia mau meluk gue, tapi gue dorong pelan. 'Ada bau parfum lain di baju kamu, Ris. Bukan punya aku, dan bukan punya Siska juga. Kamu dari mana?' tanya gue dengan nada yang sangat tenang, sampai gue sendiri kaget dengernya. Aris membeku. Dia nggak nyangka gue bakal selantang itu. Dan saat itulah, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.