Simulasi Kesetiaan: Ketika Cinta Menjadi Laboratorium Luka
Hujan turun dengan ritme yang monoton di luar jendela kaca setinggi langit-langit apartemen mereka di lantai tiga puluh dua. Di dalam, keheningan terasa jauh lebih bising daripada gemuruh petir yang sesekali membelah langit Jakarta. Arini duduk di sofa beludru berwarna biru safir, jemarinya yang lentik menyesap secangkir teh melati yang sudah mendingin. Ia mengenakan silk slip dress berwarna putih tulang yang jatuh dengan elegan di tubuhnya, membiarkan helai rambut hitamnya tergerai menyentuh bahu yang tampak tegang. Di hadapannya, Davi berdiri mematung, masih mengenakan kemeja kantor yang sudah kusut di bagian siku, napasnya terdengar berat seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis diserap oleh kecurigaan.
Sudah berapa lama kita terjebak dalam sandiwara ini, Davi? Suara Arini memecah keheningan, tenang namun memiliki ketajaman yang mampu menyayat kulit. Ia tidak menatap suaminya. Matanya terpaku pada pantulan dirinya di jendela kaca. Davi berdehem, mencoba mencari celah untuk meletakkan tas kerjanya, namun tangannya gemetar. Aku tidak mengerti maksudmu, Arini. Aku baru saja pulang dari pertemuan klien yang melelahkan. Bisakah kita tidak memulai pertengkaran malam ini? Arini tersenyum kecil, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. Senyuman yang lebih mirip dengan seringai pemenang di medan perang. Pertemuan klien? Atau makan malam romantis di sebuah bistro tersembunyi di Menteng dengan seorang wanita bernama Clara?
Langkah kaki Davi terhenti. Ia merasa seolah-olah lantai di bawah kakinya tiba-tiba menghilang. Bagaimana Arini tahu? Ia telah menghapus semua pesan, mematikan pelacak lokasi, dan memastikan tidak ada satu pun jejak digital yang tersisa. Clara? Siapa Clara? Aku benar-benar tidak mengenal nama itu. Kamu pasti salah paham atau terlalu banyak mendengar gosip dari teman-temanmu yang tidak berguna itu. Davi mencoba tertawa, namun suaranya terdengar sumbang dan dipaksakan. Arini akhirnya berdiri, gerakan tubuhnya begitu cair dan anggun, hampir menyerupai predator yang sedang mendekati mangsanya. Ia berjalan perlahan mengitari meja kopi, mendekati Davi hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma parfum melati yang kuat dari tubuh Arini bercampur dengan aroma kecemasan Davi.
Arini mengeluarkan sebuah tablet dari balik bantal sofa dan menyalakannya. Layar itu menampilkan rangkaian kode, data log, dan rekaman audio yang sangat jernih. Clara itu cantik, bukan? Cerdas, misterius, dan selalu tahu apa yang ingin kau dengar setelah hari yang panjang di kantor. Dia sempurna, Davi. Hampir terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Davi menatap layar itu dengan mata terbelalak. Itu adalah percakapan pribadinya dengan Clara. Bagaimana kamu bisa meretas ponselku, Arini? Ini sudah keterlaluan! Ini pelanggaran privasi! Suara Davi naik satu oktav, mencoba menutupi rasa takutnya dengan kemarahan yang dipaksakan. Namun, Arini hanya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat hampa dan menyedihkan.
Aku tidak meretas ponselmu, Sayang. Aku yang menciptakan Clara. Kalimat itu jatuh seperti bom atom di tengah ruangan. Davi terdiam, mulutnya setengah terbuka. Apa? Apa maksudmu menciptakan? Arini kembali menyesap tehnya yang dingin, matanya kini menatap lurus ke dalam manik mata Davi yang mulai berkaca-kaca. Clara adalah sebuah proyek kecerdasan buatan yang aku kembangkan bersama timku enam bulan lalu. Aku menggunakan asisten pribadiku untuk memerankan sosok fisiknya di bistro itu. Semua pesan, semua perhatian, semua kata-kata manis yang membuatmu merasa muda kembali... itu semua adalah algoritma yang aku rancang berdasarkan data tentang wanita impianmu yang pernah kau ceritakan saat kita masih berkencan dulu.
Dunia seakan berputar bagi Davi. Ia merasa seperti tikus laboratorium yang baru saja menyadari bahwa labirin yang ia lalui adalah jebakan yang dibuat oleh istrinya sendiri. Kamu... kamu menjebakku? Kamu mengujiku seolah-olah aku adalah produk gagal? Arini meletakkan cangkirnya dengan denting yang keras di atas meja kaca. Aku tidak menjebakmu, Davi. Aku memberimu pilihan. Aku memberikanmu pintu keluar dari pernikahan kita yang mulai hambar, dan kau dengan senang hati berlari menuju pintu itu tanpa menoleh ke belakang sekali pun. Aku ingin tahu, apakah cinta yang kau janjikan di depan altar itu asli, atau hanya sekadar kenyamanan yang kau pertahankan karena takut miskin. Dan hasilnya? Kau gagal dalam simulasi ini pada minggu kedua.
Air mata mulai mengalir di pipi Davi. Ia jatuh terduduk di kursi makan, menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ini gila, Arini. Kamu sakit. Kamu psikopat. Bagaimana mungkin seorang istri melakukan ini pada suaminya sendiri? Arini mendekat, mengusap kepala Davi dengan lembut, namun sentuhannya terasa sedingin es. Mungkin aku memang sakit, Davi. Tapi bukankah lebih sakit menyadari bahwa pria yang kucintai lebih memilih bayangan digital yang diciptakan oleh kode komputer daripada wanita yang berdiri di sampingnya selama sepuluh tahun? Clara tidak nyata, tapi pengkhianatanmu sangat nyata. Kau jatuh cinta pada sebuah algoritma karena ia memberikan validasi yang tidak lagi bisa kuberi karena aku terlalu sibuk mengurus rumah dan kariermu.
Hening kembali merayap, kali ini lebih menyesakkan. Arini berjalan menuju kamar utama, langkahnya tenang tanpa beban. Ia telah mendapatkan jawabannya, meskipun jawaban itu menghancurkan hatinya menjadi kepingan yang tak mungkin bisa disatukan kembali. Davi masih terduduk di sana, dikelilingi oleh kemewahan apartemen mereka yang kini terasa seperti penjara kaca. Di layar tablet yang masih menyala, profil Clara perlahan memudar, digantikan oleh barisan kode biner yang dingin. Pernikahan mereka bukan lagi sebuah persatuan dua jiwa, melainkan sebuah eksperimen yang berakhir dengan kesimpulan yang pahit: bahwa kesetiaan terkadang hanyalah kondisi di mana godaan yang tepat belum ditemukan.
Malam itu, tidak ada kata maaf yang terucap. Tidak ada pelukan rekonsiliasi. Hanya ada dua orang asing yang berbagi atap yang sama, dipisahkan oleh jurang kenyataan yang diciptakan dari kebohongan dan teknologi. Arini berbaring di tempat tidur besarnya, menatap langit-langit kamar, menyadari bahwa kemenangan yang ia raih adalah kemenangan paling sunyi yang pernah ada. Ia telah membuktikan ketidaksetiaan suaminya, namun dalam prosesnya, ia juga membunuh bagian dari dirinya yang masih percaya pada ketulusan. Di ruang tengah, Davi masih meratapi bayangan Clara, menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya karena sebuah ilusi yang dirancang oleh wanita yang seharusnya paling ia lindungi.
Drama ini belum berakhir, namun akhir dari cerita mereka sudah tertulis di antara baris-baris kode dan tetesan air mata yang membasahi lantai marmer. Besok, pengacara akan datang. Besok, dunia akan tahu bahwa rumah tangga sempurna mereka hanyalah sebuah simulasi yang gagal total. Arini menutup matanya, membiarkan kegelapan menelan sisa-sisa cinta yang masih berdenyut lemah di dadanya, sementara di luar, hujan masih terus turun, seolah-olah langit pun ikut berduka atas matinya sebuah kepercayaan.