Sisa Wangi Parfum di Jas Suamiku yang Bukan Milikku
Gerimis di luar jendela tampak seperti ribuan jarum perak yang menusuk bumi dengan lembut, namun suaranya di telingaku terasa seperti dentuman godam yang memekakkan. Di dalam ruang tamu yang remang ini, aku duduk mematung di atas sofa beludru berwarna krem yang dulu kami pilih bersama dengan penuh tawa. Jam dinding kayu jati di sudut ruangan berdetak dengan ritme yang monoton, seolah-olah sedang menghitung mundur sisa-sisa kewarasan yang masih kumiliki. Cahaya lampu gantung yang temaram memantul di permukaan meja kaca, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding, seolah-olah mengejek kesendirianku yang mencekam.
Di pangkuanku, tergeletak sebuah jas wol berwarna abu-abu arang. Itu adalah jas favorit Aditya, suamiku. Jas yang selalu ia kenakan saat menghadiri rapat direksi yang penting, atau saat ia harus memberikan presentasi di hadapan para pemegang saham. Namun malam ini, jas itu membawa sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Sesuatu yang asing. Sesuatu yang merusak aroma kayu cendana dan sabun mandi yang biasanya melekat pada tubuh Aditya. Bau itu adalah aroma bunga lili yang tajam, bercampur dengan sentuhan vanila yang sangat manis—terlalu manis hingga membuat perutku mual. Itu bukan parfumku. Aku selalu menggunakan aroma mawar yang lembut atau jeruk nipis yang segar. Wangi ini adalah sebuah pengumuman perang yang tak terucapkan.
Tanganku gemetar saat jemariku meraba saku jas tersebut. Aku merasa seperti seorang pencuri di rumahku sendiri, seorang penyusup yang mencari kebenaran di balik lipatan kain mahal. Di dalam saku bagian dalam, jariku menyentuh secarik kertas kecil yang kaku. Dengan jantung yang berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada, aku menarik kertas itu keluar. Itu adalah sebuah nota dari sebuah butik perhiasan ternama di pusat kota. Tanggalnya baru kemarin sore. Di sana tertera pembelian sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian berbentuk tetesan air mata. Harganya setara dengan tiga kali gajiku sebagai seorang editor lepas. Namun, aku tidak pernah menerima kalung itu. Tidak ada kado yang diletakkan di atas meja riasku, tidak ada kejutan kecil saat makan malam, dan tidak ada pengakuan manis tentang betapa ia mencintaiku.
Aku memejamkan mata, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. Bayangan-bayangan tentang Aditya mulai berputar di kepalaku seperti potongan film lama yang rusak. Aditya yang selalu pulang terlambat dengan alasan lembur. Aditya yang kini lebih sering mengunci ponselnya dan membawanya bahkan saat ia ke kamar mandi. Aditya yang mulai jarang menatap mataku saat kami berbicara. Dulu, aku menganggap itu semua hanyalah efek dari tekanan pekerjaannya yang semakin berat sebagai manajer senior. Aku mencoba menjadi istri yang pengertian, yang selalu menyiapkan kopi hangat saat ia pulang, dan yang tidak pernah bertanya terlalu banyak. Betapa bodohnya aku karena telah memelihara kepercayaan di atas tanah yang sudah retak.
Suara deru mobil di halaman depan memecah keheningan. Lampu sorot mobil menyinari tirai tipis di ruang tamu selama beberapa detik sebelum akhirnya padam. Jantungku serasa berhenti berdetak. Itu dia. Aditya sudah pulang. Aku mendengar suara pintu mobil ditutup, lalu langkah kakinya yang berat di atas jalan setapak berbatu. Suara kunci yang dimasukkan ke dalam lubangnya terdengar seperti suara eksekusi mati. Aku tidak bergerak. Aku tetap duduk di sana, dengan jas abu-abu itu masih di pangkuanku, dan nota perhiasan itu tergenggam erat di tangan kananku. Aku ingin melihat bagaimana ia akan berbohong malam ini.
Pintu terbuka, membawa masuk hawa dingin malam dan aroma hujan yang lembap. Aditya melangkah masuk, wajahnya tampak lelah, namun ada seberkas binar di matanya yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Ia terhenti sejenak saat melihatku duduk di kegelapan. Wajahnya menegang, sebuah reaksi instingtual yang hanya berlangsung sepersekian detik sebelum akhirnya ia memasang topeng ketenangan yang biasa ia gunakan. Ia tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya. Senyum itu terasa hambar dan penuh kepalsuan.
Sayang, kenapa belum tidur? Kamu duduk di sini gelap-gelapan seperti hantu, suaranya terdengar berusaha santai, namun aku bisa mendengar nada kecemasan yang bergetar di baliknya. Ia mendekat, hendak mencium keningku seperti ritual biasanya, namun aku memalingkan wajah. Ia tertegun, tangannya yang menggantung di udara perlahan turun kembali ke samping tubuhnya. Matanya kemudian tertuju pada jas yang ada di pangkuanku. Dalam cahaya yang minim, aku bisa melihat jakunnya bergerak saat ia menelan ludah dengan susah payah.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Sebaliknya, aku mengangkat nota butik perhiasan itu ke depan wajahnya. Aku ingin ia melihatnya dengan jelas. Aku ingin ia merasakan setiap inci kehancuran yang kurasakan saat ini. Kalung yang indah, Mas. Emas putih dengan berlian tetesan air mata. Siapa wanita yang sangat beruntung itu? suaraku terdengar dingin dan datar, bahkan aku sendiri terkejut dengan betapa tenangnya aku bersuara. Di dalam hatiku, badai sedang mengamuk, menghancurkan segala kenangan indah yang pernah kami bangun selama lima tahun terakhir.
Aditya terdiam cukup lama. Ruangan itu kembali dikuasai oleh suara detak jam yang kini terasa seperti dentuman drum perang. Ia menghela napas panjang, lalu duduk di kursi tunggal di hadapanku. Ia menyandarkan punggungnya, mencoba terlihat berkuasa, namun jemarinya yang saling bertautan erat mengkhianati ketenangannya. Laras, itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa menjelaskan semuanya, katanya dengan nada memohon yang justru membuatku ingin tertawa histeris. Kalimat klasik itu. Kalimat yang selalu diucapkan oleh para pecundang yang tertangkap basah.
Lalu jelaskan, Mas. Jelaskan kenapa ada wangi lili dan vanila di jasmu. Jelaskan kenapa ada nota perhiasan senilai puluhan juta untuk barang yang tidak pernah sampai ke tanganku. Jelaskan kenapa akhir-akhir ini kamu selalu pulang jam dua pagi dengan aroma alkohol dan kebohongan yang pekat! suaraku mulai meninggi, pecah oleh emosi yang sudah tidak sanggup lagi kubendung. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga, membasahi pipiku yang terasa panas. Aku menatapnya, menuntut sebuah jawaban yang mungkin akan menghancurkan hidupku selamanya, namun aku lebih baik hancur oleh kebenaran daripada terus hidup dalam kepalsuan yang indah.
Aditya menunduk, tidak berani menatap mataku. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Itu untuk klien, Laras. Seorang klien penting yang harus kubujuk agar mau menandatangani kontrak besar. Aku harus memberikan kesan yang baik, katanya. Suaranya terdengar lemah, sebuah kebohongan yang bahkan seorang anak kecil pun tidak akan mempercayainya. Aku berdiri, melemparkan jas itu ke arahnya dengan rasa jijik yang luar biasa. Klien mana yang memakai parfum lili dan vanila hingga aromanya meresap ke dalam serat jas suamiku? Klien mana yang menerima perhiasan pribadi sebagai bentuk lobi bisnis? Jangan anggap aku wanita dungu yang bisa kau suapi sampah seperti ini!
Aku melangkah mundur, menjauh darinya seolah-olah ia adalah wabah yang mematikan. Ruangan ini, rumah ini, segalanya terasa asing bagiku sekarang. Setiap sudut ruangan ini menyimpan memori yang kini terasa beracun. Meja makan tempat kami merencanakan masa depan, rak buku yang penuh dengan koleksi favorit kami, hingga foto pernikahan kami yang tergantung besar di dinding—semuanya terasa seperti ejekan yang menyakitkan. Aku menatap foto itu, menatap diriku yang sedang tersenyum lebar dengan gaun putih, menggandeng tangan laki-laki yang saat itu kuyakini sebagai pelindung dan pelabuhan terakhirku. Ternyata, ia hanyalah seorang aktor berbakat yang sedang memainkan peran sebagai suami yang setia.
Laras, tolong, dengarkan aku dulu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Jangan emosi seperti ini, Aditya mencoba mendekat, tangannya hendak meraih lenganku, namun aku menepisnya dengan kasar. Jangan sentuh aku dengan tangan yang mungkin baru saja membelai wanita lain! teriakku. Suaraku menggema di seluruh rumah yang sunyi itu. Aku bisa melihat keterkejutan di wajahnya, mungkin ia tidak menyangka aku bisa semarah ini. Selama ini, aku adalah Laras yang sabar, Laras yang penurut, Laras yang selalu mengalah. Tapi malam ini, Laras yang itu sudah mati. Ia mati bersamaan dengan terciumnya aroma parfum asing itu.
Aku berjalan menuju kamar, mengambil koper besar dari atas lemari dengan gerakan yang tergesa-gesa. Aku mulai memasukkan pakaianku secara acak, tidak peduli apakah itu rapi atau tidak. Aku hanya ingin pergi dari sini. Aku ingin melarikan diri dari aroma lili yang seolah-olah mengejarku ke mana pun aku pergi. Aditya berdiri di ambang pintu kamar, wajahnya pucat pasi. Kamu mau ke mana? Kamu tidak bisa pergi begitu saja di tengah malam seperti ini! serunya, mulai terdengar panik. Ia menyadari bahwa kali ini aku tidak sedang bermain-main. Ia menyadari bahwa benteng kesabaranku sudah runtuh sepenuhnya.
Aku berhenti sejenak, memegang pinggiran koper dengan erat hingga buku jariku memutih. Aku akan pergi ke tempat di mana tidak ada bau pengkhianatanmu, Mas. Aku akan pergi ke tempat di mana aku bisa bernapas tanpa harus merasa sesak oleh kebohonganmu. Besok, pengacaraku akan menghubungimu. Jangan coba-coba mencariku, kataku dengan suara yang rendah namun penuh penekanan. Aku menutup ritsleting koper dengan sekali sentakan kuat. Suara ritsleting itu terdengar seperti suara penutup dari bab hidupku yang paling menyedihkan.
Saat aku menyeret koper melewati ruang tamu, aku sempat melirik ke arah meja kaca. Nota perhiasan itu masih di sana, tergeletak tak berdaya. Aku mengambilnya, lalu merobeknya menjadi potongan-potongan kecil dan melemparkannya ke udara. Potongan kertas itu jatuh perlahan seperti salju hitam di atas lantai marmer. Kamu menghancurkan segalanya demi sebuah kalung yang mungkin hanya akan dipakai sekali, sementara aku memberikan seluruh hidupku untukmu tanpa mengharapkan apa pun.
Aku membuka pintu depan. Udara malam yang dingin langsung menyergapku, namun terasa jauh lebih menyegarkan daripada udara di dalam rumah ini. Aku melangkah keluar, menuju mobilku yang terparkir di bawah rintik hujan. Aku tidak menoleh ke belakang, meskipun aku tahu Aditya sedang berdiri di teras, memanggil namaku dengan suara yang penuh penyesalan. Tapi penyesalan selalu datang terlambat, dan bagi aku, penyesalan tidak akan pernah bisa menghapus noda pengkhianatan yang sudah ia torehkan di hatiku. Malam ini, di bawah langit yang menangis, aku meninggalkan masa laluku dan berjalan menuju ketidakpastian yang jauh lebih jujur daripada kenyamanan yang penuh dusta.