Duri di Balik Gaun Sutra dan Rahasia yang Terkubur di Balik Aroma Parfum Asing

Duri di Balik Gaun Sutra dan Rahasia yang Terkubur di Balik Aroma Parfum Asing

Edisi Cerita Pilihan

Duri di Balik Gaun Sutra dan Rahasia yang Terkubur di Balik Aroma Parfum Asing



Cahaya matahari pagi yang menyusup melalui celah gorden beledu berwarna krem itu biasanya terasa hangat, namun entah mengapa, pagi ini ia terasa seperti sembilu yang mengiris permukaan kulitku. Aku terbangun dengan rasa hampa yang ganjil di sisi tempat tidur yang seharusnya ditempati oleh Adrian. Sprei sutra di sampingku masih rapi, nyaris tanpa kerutan, seolah-olah pria yang telah bersamaku selama tujuh tahun itu tidak pernah benar-benar pulang semalam. Aku bangkit perlahan, merasakan berat yang luar biasa di kedua bahuku, sebuah beban yang bukan berasal dari kelelahan fisik, melainkan dari intuisi yang selama berbulan-bulan ini kucoba bungkam dengan logika. Aku melangkah menuju kamar mandi, namun langkahku terhenti tepat di depan meja rias, di mana sebuah benda asing tergeletak begitu saja di samping botol parfum Chanel-ku yang hampir habis. Itu adalah sebuah ponsel, ramping dan hitam, yang bukan milik suamiku—setidaknya bukan ponsel yang biasa ia gunakan untuk urusan kantor yang membosankan itu.

Tanganku bergetar saat menyentuh layar dingin ponsel tersebut. Tidak ada kata sandi, sebuah kecerobohan yang mungkin lahir dari rasa percaya diri yang berlebihan, atau mungkin Adrian memang ingin aku menemukannya. Di sana, di balik layar yang bercahaya redup, aku melihat sebuah nama yang tidak pernah kudengar sebelumnya muncul dalam barisan pesan yang panjang. Aruna. Nama itu terdengar seperti melodi yang manis namun berbisa. Aku tidak membukanya—belum sanggup. Aku justru menghirup udara di kamar ini dalam-dalam, dan saat itulah aku menyadarinya. Aroma itu. Bukan aroma maskulin kayu cendana dan tembakau yang biasa menguar dari tubuh Adrian, melainkan aroma bunga lili yang samar namun tajam, aroma yang bukan milikku. Aku menutup mata, membiarkan rasa sakit itu merembas masuk ke dalam rongga dadaku, menghancurkan setiap jengkal pertahanan yang telah kubangun dengan susah payah selama bertahun-tahun menjadi istri yang sempurna.

Sore harinya, kami harus menghadiri gala tahunan perusahaan konstruksi milik keluarga Adrian. Aku memilih gaun sutra berwarna biru malam yang membalut tubuhku seperti kulit kedua, dingin dan mewah. Aku memoles bibirku dengan warna merah yang berani, sebuah topeng untuk menyembunyikan bibir yang gemetar saat aku harus tersenyum di hadapan para kolega bisnisnya. Adrian masuk ke kamar saat aku sedang memasang anting berlian di depan cermin. Ia mengenakan tuksedo hitam yang dipesan khusus dari penjahit terbaik di London, tampak begitu gagah dan berwibawa, seolah-olah ia bukan pria yang menyembunyikan pengkhianatan di balik ponsel rahasia itu. Ia mendekat, meletakkan tangannya di bahuku, dan mencium keningku dengan lembut. Ciuman itu biasanya membuatku merasa aman, namun kali ini, aku merasakan dorongan kuat untuk menghindar, untuk berteriak, untuk bertanya siapa Aruna dan mengapa aroma lili itu masih tertinggal di kerah kemejanya yang putih bersih.

"Kau tampak luar biasa malam ini, Maya," bisiknya dengan suara bariton yang selalu berhasil memikat siapapun yang mendengarnya. Aku hanya tersenyum tipis, menatap pantulannya di cermin tanpa benar-benar menatap matanya. Aku takut jika aku menatap matanya, aku akan melihat kebohongan yang terpantul di sana, atau yang lebih buruk lagi, aku akan melihat bahwa dia sama sekali tidak merasa bersalah. Kami berangkat dalam keheningan yang menyesakkan di dalam mobil Audi hitamnya. Suara ban yang bergesekan dengan aspal jalanan Jakarta yang basah setelah hujan menjadi satu-satunya latar belakang percakapan batin yang riuh di kepalaku. Aku memperhatikannya dari sudut mata; ia terus-menerus memeriksa jam tangannya, seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu—atau seseorang. Ketegangan di antara kami begitu nyata, seperti benang yang ditarik terlalu kencang, hanya menunggu waktu yang tepat untuk putus dan melukai kami berdua.

Ballroom hotel bintang lima itu penuh dengan gemerlap lampu kristal dan denting gelas sampanye. Musik jazz mengalun lambat, menciptakan suasana elegan yang kontras dengan kekacauan di dalam hatiku. Adrian segera tenggelam dalam obrolan bisnis dengan beberapa direktur bank, sementara aku berdiri di sudut ruangan dengan segelas air mineral di tangan, mencoba mengatur napas. Di tengah kerumunan itu, mataku menangkap sosok seorang wanita muda yang berdiri tak jauh dari tempat Adrian berada. Ia mengenakan gaun merah menyala yang memamerkan bahunya yang mulus, rambut hitamnya dibiarkan terurai, dan yang paling menyesakkan adalah aroma yang menguar darinya saat ia melintas di dekatku. Lili. Aroma yang sama dengan yang kutemukan di kamar tidurku pagi tadi. Wanita itu tidak cantik dengan cara yang konvensional, namun ada binar di matanya yang menunjukkan kepercayaan diri yang mematikan, binar yang seolah-olah berkata bahwa ia telah memenangkan sesuatu yang berharga.

Aku memperhatikan interaksi mereka dari jauh. Adrian tidak menyentuhnya, tidak secara terang-terangan. Namun, cara ia sedikit menundukkan kepala saat mendengarkan wanita itu berbicara, cara sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang biasanya ia simpan hanya untukku, dan bagaimana tangannya yang memegang gelas wine tampak menegang saat wanita itu secara tidak sengaja—atau mungkin sengaja—menyenggol lengannya. Itu bukan sekadar percakapan antara atasan dan bawahan, itu adalah sebuah tarian rahasia yang dilakukan di bawah hidungku, di tengah ratusan orang yang tidak tahu apa-apa. "Siapa dia?" tanyaku tiba-tiba saat Adrian kembali ke sisiku untuk mengajakku berdansa. Ia tampak sedikit terkejut, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia meraih tanganku, menuntunku ke lantai dansa, dan berbisik tepat di telingaku, "Dia hanya anak magang baru di departemen pemasaran, namanya Aruna. Mengapa kau bertanya?"

Suaranya terdengar begitu datar, begitu meyakinkan, namun aku tahu dia sedang berbohong. Aku bisa merasakannya dari detak jantungnya yang sedikit lebih cepat saat aku menyebutkan nama itu. Kami mulai berdansa, bergerak perlahan mengikuti irama musik. Tangannya di pinggangku terasa asing sekarang. Setiap sentuhannya terasa seperti duri yang menusuk gaun sutraku. Aku ingin bertanya lebih jauh, aku ingin menuntut penjelasan, namun aku memilih untuk diam. Aku ingin melihat sejauh mana dia bisa memainkan peran ini. "Dia punya aroma parfum yang unik, lili yang sangat tajam, bukan begitu?" ujarku sambil menatap lurus ke dalam matanya yang gelap. Untuk sepersekian detik, aku melihat kepanikan di sana, sebuah kilatan ketakutan yang muncul sebelum ia menutupinya dengan senyum sinis yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia tidak menjawab, hanya mempererat dekapannya di pinggangku, seolah-olah mencoba membungkamku dengan kedekatan fisik yang hampa ini.

Malam semakin larut, dan pesta itu mulai terasa seperti penjara bagiku. Aku meminta izin untuk pulang lebih awal, mengeluh sakit kepala yang sebenarnya adalah sakit hati yang telah mencapai puncaknya. Di dalam mobil, Adrian tetap diam. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi, seolah-olah ia sedang mencoba melarikan diri dari sesuatu yang mengejarnya. Sesampainya di rumah, keheningan itu pecah saat kami berdiri di ruang tamu yang luas. Aku tidak tahan lagi. Aku mengeluarkan ponsel hitam yang kutemukan pagi tadi dari dalam tasku dan meletakkannya di atas meja marmer dengan dentuman yang cukup keras. Adrian tertegun. Wajahnya yang biasanya tenang berubah menjadi pucat pasi di bawah temaram lampu ruang tamu. Ia menatap ponsel itu, lalu menatapku, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun pernikahan kami, aku melihatnya benar-benar telanjang tanpa topeng wibawanya.

"Sejak kapan, Adrian?" tanyaku dengan suara yang tenang, meski di dalamnya ada badai yang siap menghancurkan segalanya. Aku tidak menangis. Air mata terasa terlalu murah untuk pengkhianatan sekelas ini. Aku hanya ingin kebenaran, sekecil apapun itu. Adrian menghela napas panjang, ia melonggarkan dasinya dengan kasar dan duduk di sofa, membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. "Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Maya," ucapnya dengan suara parau. Kalimat klise itu membuatku ingin tertawa histeris. Selalu itu yang mereka katakan saat tertangkap basah. Aku mendekatinya, merasakan amarah yang murni mulai mengambil alih kesedihanku. Aku berdiri tepat di depannya, menuntut agar ia menatapku dan mengakui apa yang telah ia lakukan di belakangku selama ini, di rumah yang kubangun dengan cinta dan dedikasi.

Ia mulai bercerita, sebuah narasi tentang kesepian di tengah keramaian, tentang tekanan pekerjaan yang tak ada habisnya, dan bagaimana Aruna hadir sebagai pendengar yang tidak menuntut apa-apa. Ia mengaku bahwa hubungan itu dimulai hanya sebagai pelarian ringan, sebuah cara untuk merasakan kegembiraan yang telah lama hilang dari rutinitas pernikahan kami yang stabil namun membosankan. Namun, semakin ia bercerita, semakin aku menyadari bahwa pengkhianatan ini bukan hanya soal fisik. Ini adalah tentang bagaimana ia memberikan bagian dari jiwanya kepada orang lain, bagian yang seharusnya menjadi milikku. Ia menceritakan bagaimana mereka bertemu di kafe-kafe tersembunyi, bagaimana mereka bertukar pesan hingga larut malam, dan bagaimana ia merasa lebih 'hidup' saat bersama wanita itu. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti paku yang dipukul masuk ke dalam jantungku, namun aku tetap berdiri tegak, tidak membiarkan diriku runtuh di hadapannya.

"Lalu sekarang apa?" tanyaku setelah ia selesai dengan pengakuannya yang panjang dan menyakitkan. Adrian menatapku dengan mata yang memerah, penuh dengan penyesalan yang terlambat. Ia mencoba meraih tanganku, namun aku menariknya menjauh. Sentuhannya sekarang terasa kotor bagiku. Ia memohon ampun, berjanji akan memutuskan hubungan dengan Aruna malam itu juga, berjanji akan melakukan apa saja untuk memperbaiki pernikahan kami yang telah retak. Namun, saat aku menatapnya, aku tidak lagi melihat pria yang kucintai dengan sepenuh hati. Aku melihat seorang asing yang telah merusak tempat paling sakral dalam hidupku. Aku menyadari bahwa meski luka ini bisa sembuh, bekas lukanya akan selalu ada di sana, mengingatkanku bahwa kesetiaan adalah sesuatu yang sangat rapuh dan bisa hancur hanya karena aroma bunga lili yang murahan.

Malam itu berakhir tanpa keputusan yang pasti. Adrian tertidur di sofa dengan sisa-sisa rasa bersalahnya, sementara aku kembali ke kamar kami yang kini terasa asing. Aku berbaring di tempat tidur yang sama, menatap langit-langit kamar yang gelap, mendengarkan detak jam dinding yang seolah-olah menghitung mundur kehancuran hidupku. Aku menyadari bahwa cinta saja tidak pernah cukup. Aku membutuhkan rasa hormat, aku membutuhkan kejujuran, dan aku membutuhkan harga diri yang kini sedang kucoba kumpulkan kembali dari puing-puing pengkhianatan ini. Esok pagi, aku tahu segalanya tidak akan pernah sama lagi. Gaun sutra biru malam itu kini teronggok di lantai, simbol dari sebuah kemewahan yang tidak bisa menutupi kebusukan di dalamnya. Aku memejamkan mata, membiarkan kegelapan menelan segalanya, bersiap untuk menghadapi badai yang lebih besar yang akan datang saat matahari kembali terbit nanti.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url