Sisa Parfum di Kerah Kemeja dan Kebohongan yang Terstruktur Rapi

Sisa Parfum di Kerah Kemeja dan Kebohongan yang Terstruktur Rapi

Edisi Cerita Pilihan

Sisa Parfum di Kerah Kemeja dan Kebohongan yang Terstruktur Rapi



Hujan malam ini tidak hanya membawa dingin yang menusuk tulang, tetapi juga aroma tanah yang basah dan memuakkan, seolah-olah bumi sedang memuntahkan semua rahasia yang selama ini tertimbun di bawah permukaannya. Aku berdiri di depan jendela kaca raksasa di lantai tiga puluh dua apartemen kami, memandang kerlap-kerlip lampu Jakarta yang nampak seperti berlian yang ditaburkan sembarangan di atas beludru hitam. Di tanganku, segelas teh chamomile yang sudah mendingin menjadi saksi bisu betapa jariku gemetar hebat, bukan karena suhu pendingin ruangan, melainkan karena secarik kertas yang baru saja kutemukan di saku jas Adrian.

Kertas itu bukan surat cinta murahan dengan lipstik merah di atasnya. Jika hanya itu, mungkin aku bisa tertawa dan menganggapnya sebagai kekhilafan sesaat seorang pria sukses di usia tiga puluhan. Namun, kertas itu adalah tanda terima pembayaran uang muka untuk sebuah unit apartemen di kawasan yang jauh lebih eksklusif dari tempat kami tinggal sekarang, atas nama seorang wanita yang namanya bahkan tidak pernah sekali pun melintasi bibir suamiku selama tujuh tahun kami berbagi ranjang. Arini Safira. Nama itu berputar-putar di kepalaku seperti melodi sumbang yang merusak simfoni pernikahan kami yang selama ini kupikir sempurna.

Suara kunci pintu yang diputar memecah keheningan yang menyesakkan. Aku tidak menoleh. Aku bisa merasakan kehadiran Adrian bahkan sebelum dia melangkah masuk ke ruang tengah. Aroma parfum citrus dan sandalwood miliknya—aroma yang dulu selalu membuatku merasa aman—kini terasa seperti racun yang menguap di udara. Aku mendengar langkah kakinya yang mantap, suara gesekan kulit sepatunya dengan lantai marmer yang mengkilap, dan helaan napas berat yang menandakan dia baru saja melalui hari yang panjang di kantor. Atau mungkin, hari yang panjang dengan Arini.

"Kau belum tidur, Sarah?" Suaranya berat, serak, dan memiliki nada kelelahan yang terdengar begitu tulus sehingga hampir saja aku mempercayainya lagi. Dia mendekat, meletakkan tas kerjanya di atas meja makan, lalu berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya, namun anehnya, aku merasa seperti sedang berdiri di samping bongkahan es yang siap menghancurkan kapal kehidupanku.

"Hujannya indah, bukan?" jawabku pelan, mengabaikan pertanyaannya. Aku sengaja tidak berbalik, membiarkan pantulan wajahku di kaca jendela yang gelap menunjukkan ekspresi datar yang sudah kulatih selama dua jam terakhir. Di pantulan itu, aku bisa melihat Adrian mengernyitkan dahi. Dia melepaskan dasinya dengan gerakan malas, sebuah ritual yang selalu kusukai karena dia biasanya akan meminta bantuanku untuk memijat bahunya yang kaku.

"Kau aneh malam ini. Ada apa?" Adrian melangkah maju, mencoba merangkul pinggangku. Refleks, aku menghindar dengan dalih ingin meletakkan gelas teh ke meja. Gerakanku halus, namun aku tahu dia merasakannya. Ada kilatan kebingungan di matanya, atau mungkin itu adalah ketakutan yang mulai merayap. Dia adalah seorang negosiator ulung di dunia bisnis, namun di hadapan istrinya yang sudah dia khianati, setiap gerak-gerik kecil menjadi sebuah distorsi yang tidak bisa dia kendalikan.

"Adrian, apakah ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku tentang investasi properti barumu?" tanyaku dengan nada yang sangat tenang, hampir menyerupai bisikan. Aku sengaja tidak menyebut nama wanita itu. Aku ingin melihat bagaimana dia merangkai kebohongan di atas kebohongan yang sudah ada. Aku memperhatikan bagaimana rahangnya mengeras, bagaimana otot di lehernya menegang, dan bagaimana dia menelan ludah dengan susah payah.

Dia tertawa pendek, sebuah tawa yang dipaksakan dan terdengar hambar di telingaku. "Investasi? Oh, maksudmu proyek di BSD itu? Aku kan sudah bilang kalau itu masih dalam tahap pembicaraan dengan klien. Kenapa tiba-tiba bertanya soal itu di tengah malam seperti ini?" Dia mencoba untuk kembali tenang, namun matanya tidak bisa berbohong. Dia tidak menatap mataku; dia menatap vas bunga di belakangku.

Aku berjalan perlahan menuju meja makan, mengambil secarik kertas yang tadi kusembunyikan di balik buku jurnal. Aku meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas meja, seolah-olah kertas itu adalah bahan peledak yang bisa menghancurkan gedung ini kapan saja. "Aku tidak bicara tentang proyek BSD, Adrian. Aku bicara tentang unit apartemen di Langham. Atas nama Arini Safira. Siapa dia? Dan kenapa uang dari rekening bersama kita mengalir ke sana selama enam bulan terakhir?"

Keheningan yang mengikuti pertanyaanku terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen di ruangan ini tiba-tiba tersedot habis. Aku melihat Adrian menatap kertas itu, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku melihat pria yang selalu memiliki jawaban untuk segalanya itu terdiam membatu. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini pucat pasi di bawah cahaya lampu gantung kristal yang mewah. Detik demi detik berlalu, hanya suara detak jam dinding yang mengisi kekosongan di antara kami. Setiap detakan terasa seperti palu yang menghantam harga diriku.

"Sarah, ini... ini tidak seperti yang kau bayangkan," dia akhirnya memulai, menggunakan kalimat klise yang paling dibenci oleh setiap wanita di dunia ini. Dia melangkah mendekat, tangannya terulur seolah ingin menyentuhku, tapi aku mundur satu langkah lagi. Jarak di antara kami kini bukan hanya sekadar ruang fisik, melainkan jurang dalam yang dipenuhi oleh bangkai kepercayaan yang sudah membusuk.

"Lalu seperti apa? Katakan padaku dengan detail yang paling jujur. Apakah dia lebih muda? Apakah dia lebih mengerti duniamu? Atau apakah dia hanya sekadar tempat pelarian karena kau bosan dengan rutinitas pernikahan kita yang kau sebut sempurna ini?" Suaraku tetap stabil, meskipun di dalam dada, jantungku berdegup begitu kencang hingga rasanya ingin meledak. Aku tidak ingin menangis. Belum saatnya. Air mata adalah kemewahan yang tidak boleh kuhamburkan di depan pria yang sedang menyusun strategi pertahanan.

Adrian mengusap wajahnya dengan kasar. Dia duduk di kursi makan, bahunya merosot, menunjukkan keruntuhan citra pria sempurna yang selama ini dia bangun. "Dia adalah asisten dari klien di Singapura. Awalnya hanya urusan pekerjaan, Sarah. Aku bersumpah. Tapi kemudian... semuanya menjadi rumit. Dia butuh tempat tinggal, dan aku... aku merasa bertanggung jawab karena aku yang membawanya ke sini."

"Bertanggung jawab?" Aku mengulangi kata itu dengan tawa getir yang meledak dari tenggorokanku. "Kau merasa bertanggung jawab pada wanita asing hingga membelikannya apartemen mewah dengan uang yang kita tabung untuk rencana pendidikan anak-anak kita nanti? Kau menyebutnya tanggung jawab, sementara aku menyebutnya pengkhianatan yang paling rendah, Adrian!"

Kemarahan yang sejak tadi kupendam mulai merayap naik, membakar sisa-sisa kesabaranku. Aku teringat semua malam di mana dia pulang terlambat dengan alasan rapat mendadak. Aku teringat semua ulang tahun pernikahan yang dia lewatkan karena alasan perjalanan dinas ke luar kota. Ternyata, selama ini aku hanya menjadi pemeran pendukung dalam drama yang dia sutradarai untuk kebahagiaannya sendiri. Aku merasa seperti orang bodoh yang menjaga api di rumah, sementara suamiku sibuk membangun istana lain di luar sana.

"Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu, Sarah," bisiknya, matanya kini berkaca-kaca. Oh, betapa hebatnya dia berakting. Sekarang dia ingin berperan sebagai korban dari keadaan yang dia ciptakan sendiri. "Aku mencintaimu. Dia tidak berarti apa-apa dibandingkan kau. Ini hanya kesalahan bodoh yang aku tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya."

Aku berjalan mendekatinya, menunduk sehingga wajah kami hanya berjarak beberapa inci. Aku bisa mencium aroma alkohol tipis dari napasnya, bercampur dengan aroma parfum wanita yang samar namun nyata di kerah kemejanya. Aroma yang bukan milikku. Aroma yang akan menghantui setiap mimpiku mulai malam ini. "Jika dia tidak berarti apa-apa, maka tujuh tahun kita juga tidak berarti apa-apa bagimu. Karena kau sanggup mempertaruhkan segalanya hanya untuk sesuatu yang 'tidak berarti'."

Aku melepaskan cincin pernikahan dari jari manisku. Logam emas putih itu terasa dingin saat kusentuh. Aku meletakkannya di atas meja, tepat di samping tanda terima apartemen itu. Suara denting cincin yang membentur meja marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi pernikahan kami. Adrian menatap cincin itu dengan ekspresi hancur, namun aku tidak lagi merasakan simpati. Rasa sakit yang dia berikan telah membunuh semua rasa kasih yang pernah tumbuh subur di hatiku.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Adrian dengan suara bergetar. Dia tahu bahwa ketika aku sudah sampai pada tahap ini, tidak ada jalan kembali. Aku bukan tipe wanita yang akan memaafkan dan melupakan hanya karena beberapa kata manis dan janji palsu.

"Aku akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang wanita yang baru saja sadar bahwa rumahnya telah lama runtuh," kataku sambil berjalan menuju kamar utama untuk mengambil koper yang sudah kusiapkan sejak sore tadi. Ya, aku sudah tahu. Aku sudah tahu sejak seminggu yang lalu ketika asisten pribadinya tanpa sengaja mengirimkan jadwal 'rapat pribadi' ke email bersama kami. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk melihatnya hancur dengan tangannya sendiri.

Setiap langkahku menjauh dari Adrian terasa begitu berat, seolah-olah ada beban ribuan ton yang menarik kakiku. Namun, di saat yang sama, ada rasa lega yang aneh. Kebohongan adalah penjara, dan malam ini, meskipun dengan cara yang menyakitkan, aku telah menemukan kunci untuk keluar. Aku masuk ke kamar, melihat sekeliling ruangan yang penuh dengan kenangan—foto pernikahan kami di Paris, lukisan yang kami beli saat bulan madu di Bali, dan ranjang tempat kami merencanakan masa depan yang kini hanyalah abu.

Aku menarik koperku keluar. Adrian masih duduk di posisi yang sama, terpaku, tidak mampu bergerak. Dia melihatku berjalan menuju pintu keluar dengan tatapan kosong. Aku berhenti sejenak di ambang pintu, tidak menoleh ke belakang, namun memastikan suaraku terdengar jelas olehnya. "Besok, pengacaraku akan menghubungimu. Jangan repot-repot mencari alasan lagi, Adrian. Simpan energimu untuk menjelaskan pada Arini mengapa unit apartemen barunya akan disita sebagai aset harta gono-gini."

Aku melangkah keluar, menutup pintu apartemen itu dengan dentuman keras yang bergema di koridor yang sepi. Di luar, hujan masih turun dengan derasnya, namun kali ini aromanya tidak lagi memuakkan. Aroma itu terasa seperti pembersihan. Aku berjalan menuju lift, melihat pantulan diriku di dinding lift yang mengkilap. Mataku merah, namun tatapanku tajam. Aku tidak hancur. Aku hanya sedang berganti kulit. Dan bagi Adrian, ini adalah awal dari neraka yang dia bangun dengan tangannya sendiri, sementara bagiku, ini adalah babak pertama dari kehidupan yang tidak lagi didasari oleh kepura-puraan.

Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, aku menghirup udara malam dengan dalam. Dinginnya malam menyentuh kulitku, menyadarkanku bahwa dunia di luar sana masih sangat luas. Pengkhianatan Adrian mungkin telah merobek hatiku, namun dia lupa satu hal: aku adalah wanita yang membantunya membangun kariernya dari nol. Aku tahu setiap celah dan kelemahannya. Jika dia pikir dia bisa meninggalkanku begitu saja setelah mengambil semua yang berharga dariku, dia salah besar. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, akulah yang memegang kendali atas papan caturnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url