Skripsi Berdarah Dingin: Saat Kertas di Mesin Printer Lab Soshum Mengungkap Wajah Asli Kekasihku
'Kenapa nama kamu ada di sini, Kar?' Suara Langit nyaris tidak terdengar, tertelan deru mesin fotokopi yang sedang bekerja keras di sudut laboratorium komputer Fakultas Ilmu Sosial itu. Tangannya gemetar hebat, meremas selembar kertas HVS 80 gram yang masih terasa hangat di jemarinya. Di atas kertas itu, terpampang judul penelitian yang telah ia susun selama satu tahun terakhir: Analisis Semiotika pada Retorika Politik Kontemporer. Namun, tepat di bawah judul yang ia banggakan itu, bukan namanya yang tertera. Nama Sekar Kirana, kekasih yang dipujanya selama tiga tahun, tertulis rapi lengkap dengan NIM-nya.
Sekar, yang sedang asyik merapikan anak rambut di depan cermin kecilnya, tersentak. Wajahnya yang biasanya tenang dan teduh mendadak pias. Ia mencoba meraih kertas itu, namun Langit menariknya menjauh. Di sekeliling mereka, beberapa mahasiswa masih sibuk dengan layar monitor masing-masing, tidak menyadari bahwa di baris antrean printer nomor empat, sebuah bom waktu baru saja meledak. Langit baru saja datang untuk mencetak revisi bab empatnya, namun karena kesalahan teknis jaringan lab, draf milik 'pengguna sebelumnya' keluar dari baki printer yang sama. Dan pengguna itu adalah Sekar.
Dunia Langit terasa berputar. Ia mengingat setiap malam yang mereka lalui di kafe remang-remang dekat kampus. Bagaimana ia dengan antusias menceritakan temuan-temuan uniknya, teori-teori yang ia gali dari buku-buku tua di perpustakaan pusat, hingga data primer yang ia dapatkan dengan susah payah. Sekar selalu mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat di buku kecilnya, katanya agar dia bisa belajar cara berpikir Langit. Langit yang dimabuk cinta mengira itu adalah bentuk dukungan emosional. Ia tidak pernah menyangka bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya sedang diketik ulang untuk menjadi tiket kelulusan wanita itu.
'Lang, itu cuma draf kasar. Aku... aku cuma menjadikannya referensi,' Sekar mencoba membela diri. Suaranya mulai bergetar, sebuah teknik pertahanan diri yang biasanya langsung membuat Langit luluh. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Langit membalik kertas itu dan melihat metadata di bagian header yang otomatis tercetak. Ada nama Pak Dananjaya di sana, dosen pembimbing favorit mereka. Hati Langit mencelos. Bukan hanya judul, tetapi akses data ini sepertinya diberikan langsung melalui akun dosen pembimbing mereka. 'Referensi? Kar, ini kata demi kata, titik demi koma, ini punya aku. Dan kenapa ada nama Pak Dananjaya di log akun printer ini? Kamu... kamu masuk ke akun beliau?'
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan menyesakkan. Langit teringat gosip-gosip miring yang sering berseliweran di kantin tentang bagaimana beberapa mahasiswi 'emas' mendapatkan jalur cepat untuk lulus. Ia selalu membela Sekar, menganggap pacarnya adalah pengecualian. Namun, melihat bukti fisik di tangannya, benteng pertahanan itu runtuh. Keheningan di antara mereka terasa lebih bising daripada suara printer. Langit menatap Sekar, mencari setitik penyesalan di mata cokelat itu, namun yang ia temukan hanyalah ketakutan akan tertangkap, bukan rasa bersalah karena telah mengkhianati kepercayaan.
Kenangan demi kenangan berputar seperti film tua yang rusak. Langit ingat saat ia jatuh sakit bulan lalu, Sekar dengan telaten menawarkan diri untuk 'merapikan' file-file di laptopnya agar Langit bisa istirahat. Ia ingat betapa bangganya ia saat Sekar berkata bahwa ia sudah mulai bisa menyusun kerangka berpikir skripsinya sendiri. Ternyata, itu semua adalah topeng. Setiap ciuman, setiap pelukan, dan setiap kata penyemangat adalah cara untuk meninabobokan Langit agar tidak curiga bahwa masa depannya sedang dicuri secara perlahan.
Di lab yang dingin oleh AC itu, Langit menyadari bahwa cinta terkadang bukan hanya soal memberi, tapi soal siapa yang lebih ahli dalam mengambil tanpa terlihat. Ia melihat Sekar perlahan mundur, wajahnya yang cantik kini tampak asing di mata Langit. Kertas di tangan Langit kini sudah kusut, sama seperti hatinya yang hancur berkeping-keping. 'Sejak kapan, Kar? Sejak kapan kamu menganggap aku cuma bank ide buat karier kamu?' tanya Langit dengan nada dingin yang belum pernah ia gunakan sebelumnya.
Sekar tidak menjawab. Ia justru meraih tasnya, bergerak cepat menuju pintu keluar. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh sebentar. 'Dunia ini kompetitif, Lang. Kamu terlalu idealis. Kamu pikir dengan kecerdasanmu itu, kamu bisa bertahan? Kamu butuh koneksi, dan aku cuma melakukan apa yang perlu dilakukan.' Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat sisa-sisa rasa sayang Langit. Ia berdiri terpaku, melihat punggung wanita yang ia cintai menghilang di balik pintu kaca laboratorium, meninggalkan dirinya dengan tumpukan kertas yang kini terasa seperti sampah tak berharga.
Langit kembali menatap layar monitor di depannya. Ia melihat daftar antrean printer. Ada sepuluh dokumen lagi yang sedang menunggu untuk dicetak dengan nama Sekar Kirana. Langit tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak akan membiarkan satu tahun kerja kerasnya dirampas begitu saja. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mulai mengakses log sistem laboratorium. Jika Sekar pikir dia bisa bermain curang menggunakan akun dosen, maka dia belum tahu bahwa Langit adalah asisten lab yang lebih paham celah sistem tersebut daripada siapa pun.
Satu per satu, Langit membuka file yang sedang mengantre. Matanya membelalak. Bukan hanya skripsinya yang ada di sana. Ada data nilai mahasiswa lain yang telah diubah, ada surat rekomendasi beasiswa palsu, dan semua itu bermuara pada satu folder tersembunyi. Ternyata, Sekar tidak bekerja sendirian. Pengkhianatan ini jauh lebih dalam dan sistematis daripada sekadar pencurian ide skripsi. Ini adalah skandal akademik yang melibatkan orang-orang besar di fakultas mereka.
Langit merasakan keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia berada di persimpangan jalan. Menghancurkan Sekar berarti menghancurkan sebagian dari dirinya sendiri, dan mungkin karier beberapa dosen yang selama ini ia hormati. Namun, membiarkan ini terjadi adalah penghinaan bagi kejujuran yang selama ini ia agungkan. Ia mengambil napas dalam-dalam, jemarinya mulai menari di atas keyboard. Ia tidak akan mencetak dokumen-dokumen itu. Ia akan mengirimkan semuanya langsung ke server pusat universitas, lengkap dengan bukti log akses yang tidak bisa dibantah.
Malam itu, kampus terasa lebih sunyi dari biasanya. Langit berjalan keluar gedung dengan perasaan hampa. Lampu-lampu jalan di sepanjang koridor fakultas tampak temaram, seolah ikut berduka atas matinya sebuah kepercayaan. Ia duduk di bangku taman, tempat biasanya ia dan Sekar berbagi tawa sambil menunggu jam kuliah. Di kejauhan, ia melihat Pak Dananjaya berjalan menuju parkiran mobilnya, tampak terburu-buru. Langit tahu, besok pagi, dunia akademik di kampus ini tidak akan pernah sama lagi.
Handphone-nya bergetar. Pesan dari Sekar masuk. 'Jangan lakukan hal bodoh, Lang. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku sayang kamu.' Langit hanya menatap layar ponselnya dengan senyum getir. Sayang? Kata itu kini terdengar seperti kutukan. Ia teringat bagaimana Sekar selalu memesankan kopi kesukaannya setiap kali mereka mengerjakan tugas bersama. Apakah kopi itu juga bagian dari manipulasi? Apakah setiap perhatian itu hanyalah cara untuk memastikan Langit tetap berada di bawah kendalinya? Pikiran-pikiran itu menghantui Langit, membuatnya merasa mual.
Ia mematikan ponselnya, mencabut kartu SIM, dan melemparkannya ke tempat sampah. Ia butuh ketenangan. Ia butuh untuk menemukan kembali dirinya yang sempat hilang dalam bayang-bayang ambisi Sekar. Langit tahu perjalanannya untuk lulus mungkin akan terhambat karena kekacauan yang ia picu, tapi setidaknya ia akan lulus dengan kepala tegak dan nurani yang bersih. Ia berjalan menjauhi area kampus, langkahnya mantap meskipun hatinya masih terasa perih.
Keesokan harinya, suasana kampus mendadak gempar. Rektorat mengumumkan investigasi besar-besaran terkait kebocoran data akademik. Nama Sekar Kirana dan Pak Dananjaya disebut-sebut dalam percakapan rahasia di setiap sudut kantin. Langit duduk di sudut perpustakaan, tempat paling sunyi yang bisa ia temukan. Di depannya, sebuah laptop baru yang bersih dari file-file lama terbuka. Ia mulai mengetik judul baru untuk penelitiannya. Kali ini, ia tidak akan membagikannya kepada siapa pun sampai ia benar-benar berdiri di podium wisuda.
Namun, sebuah tepukan di bahu mengejutkannya. Seorang gadis dengan kacamata tebal, asisten perpustakaan yang jarang bicara, berdiri di sana. 'Langit, ya? Ada paket buat kamu di meja depan. Pengirimnya anonim, tapi isinya sepertinya penting buat penelitian kamu.' Langit mengernyitkan dahi. Ia berjalan menuju meja depan dan menemukan sebuah amplop cokelat besar. Saat ia membukanya, jantungnya hampir berhenti berdetak. Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk dan secarik kertas bertuliskan: 'Sekar hanya puncak gunung es. Jika kamu ingin tahu siapa yang sebenarnya menggerakkan ini semua, lihat folder 'Anggrek Hitam' di flashdisk ini. Hati-hati, Lang. Kamu sedang berurusan dengan naga, bukan sekadar kadal.'
Langit merasakan bulu kuduknya meremang. Ternyata, keberaniannya semalam barulah permulaan dari sebuah labirin yang jauh lebih gelap. Ia melihat ke sekeliling perpustakaan, merasa ada mata yang mengawasinya dari balik rak-rak buku yang tinggi. Siapa lagi yang terlibat? Dan siapakah pengirim misterius ini? Langit menyadari bahwa di kampus yang terlihat tenang ini, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia memasukkan flashdisk itu ke kantong celananya, menutup laptop, dan melangkah keluar dengan waspada. Dunia mahasiswa yang ia kira hanya seputar IPK dan organisasi, ternyata menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan hidup seseorang dalam sekejap.