Suamiku Bilang Dinas ke Luar Kota, Tapi Kenapa Alamat Pesan Antar Makanannya Berhenti di Perumahan Elit Tengah Hutan?

Suamiku Bilang Dinas ke Luar Kota, Tapi Kenapa Alamat Pesan Antar Makanannya Berhenti di Perumahan Elit Tengah Hutan?

Skandal & Pengkhianatan

Suamiku Bilang Dinas ke Luar Kota, Tapi Kenapa Alamat Pesan Antar Makanannya Berhenti di Perumahan Elit Tengah Hutan?



'Mas, martabak manisnya sudah aku pesankan, ya. Pakai akun kamu biar dapat promo ongkir,' teriakku dari dapur, sambil membolak-balik piring saji yang baru saja aku cuci. Aku mendengar gumaman pelan dari kamar mandi, tanda Ardhito mengiyakan. Ia baru saja pulang dari dinas tiga hari di Semarang. Wajahnya tampak kuyu, namun ada binar yang sulit kujelaskan saat ia mencium keningku tadi. Aku, sebagai istri yang berbakti, hanya ingin menyambutnya dengan kenyamanan paling sederhana: makanan kesukaannya.

Aku membuka aplikasi pengiriman makanan di ponselnya yang tergeletak di atas meja makan. Layarnya masih menyala, menunjukkan halaman utama. Tanpa niat menyelidik, aku menyentuh ikon riwayat pesanan untuk memastikan martabak tadi sudah diproses oleh driver. Namun, jemariku membeku. Di sana, tepat di bawah pesanan martabakku yang sedang diproses, berderet riwayat pesanan selama tiga hari terakhir. Pesanan yang seharusnya dibuat di Semarang, karena Ardhito bilang dia ada rapat maraton di sana.

Ayam Geprek Level 5 - Diantar ke: 'Paviliun Melati, Cluster Amethyst No. 12'.

Susu Hamil Rasa Cokelat - Diantar ke: 'Paviliun Melati, Cluster Amethyst No. 12'.

Bubur Ayam Spesial - Diantar ke: 'Paviliun Melati, Cluster Amethyst No. 12'.

Jantungku berdegup kencang, seolah-olah baru saja dihantam godam seberat sepuluh kilogram. Cluster Amethyst. Aku tahu tempat itu. Itu adalah perumahan elit di pinggiran kota kami, hanya berjarak empat puluh menit dari rumah ini. Bukan di Semarang. Bukan di hotel tempat ia mengklaim sedang menginap bersama tim kantornya. Dan yang paling menghancurkan adalah item kedua: susu hamil. Aku dan Ardhito sudah menikah lima tahun, dan kami masih berjuang untuk mendapatkan garis dua. Bulan lalu, aku menangis karena tamu bulanan datang lagi, dan Ardhito memelukku erat, berkata bahwa 'waktu Tuhan adalah yang terbaik'.

'Laras? Sudah dipesan?' Ardhito keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang. Rambutnya masih basah, menyebarkan aroma sabun maskulin yang biasanya menenangkanku. Tapi malam ini, aroma itu terasa mencekik. Aku buru-buru meletakkan ponselnya, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar patah-patah.

'Sudah, Mas. Lagi jalan driver-nya,' jawabku lirih, memunggungi dirinya. Aku pura-pura sibuk menata gelas di rak. Tanganku gemetar hebat. Aku harus memastikan ini. Aku tidak boleh meledak sekarang. Aku butuh bukti lebih dari sekadar riwayat aplikasi. Karena di dunia ini, teknologi bisa saja salah, tapi insting seorang istri jarang meleset.

Keesokan harinya, aku melakukan sesuatu yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Aku membuntuti suamiku. Ardhito pamit berangkat kantor seperti biasa, memakai kemeja biru muda yang kupilihkan sendiri. Namun, alih-alih berbelok menuju kawasan perkantoran Sudirman, mobilnya justru mengarah ke pinggiran kota. Ke arah Cluster Amethyst. Aku menjaga jarak, menggunakan taksi online yang kupesan dengan akun baru agar tak terlacak. Hatiku terus merapal doa, berharap dia hanya mampir ke rumah teman, atau sedang mengurus proyek rahasia yang tak sempat ia ceritakan.

Mobil Ardhito berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern dengan taman depan yang asri. Pagar kayu jati otomatis terbuka menyambutnya. Dari kejauhan, aku melihat seorang wanita keluar dari pintu rumah. Dia mengenakan daster satin berwarna krem. Perutnya buncit, sekitar tujuh atau delapan bulan. Dan ketika wanita itu berbalik untuk menyambut pelukan Ardhito, duniaku runtuh berkeping-keping. Wanita itu adalah Sekar. Sepupuku sendiri. Anak dari adik kandung ibuku yang katanya sedang menempuh pendidikan S2 di Singapura dengan beasiswa penuh yang dibantu urus oleh Ardhito.

Aku terduduk lemas di kursi belakang taksi. Air mata tidak mau keluar, yang ada hanyalah rasa sesak yang luar biasa di dada, seolah paru-paruku berhenti berfungsi. Sekar, yang setiap lebaran selalu duduk di sampingku dan memuji betapa beruntungnya aku memiliki suami seperti Ardhito. Sekar, yang ibunya selalu meminjam uang padaku dengan alasan biaya kuliah Sekar di Singapura sangat mahal. Ternyata, uang yang kukirimkan setiap bulan bukan untuk biaya kuliah, melainkan untuk menyewa 'istana rahasia' ini dan memberi makan janin yang ada di rahimnya. Janin suamiku.

Aku tidak langsung melabrak mereka. Pengkhianatan sedalam ini tidak bisa diselesaikan dengan teriakan di depan umum. Aku meminta driver taksi untuk pergi. Sepanjang jalan pulang, aku menyusun rencana. Aku teringat mutasi rekening Ardhito yang belakangan ini sering menunjukkan penarikan tunai dalam jumlah besar di ATM dekat rumah ibuku. Apakah ibuku tahu? Apakah seluruh keluargaku terlibat dalam sandiwara menjijikkan ini?

Sore harinya, Ardhito pulang dengan wajah tanpa dosa. Ia bahkan membawakanku martabak lagi, seolah itu adalah obat untuk segala kebohongannya. Aku menyambutnya dengan senyuman yang paling palsu yang pernah kubuat. Kami makan malam bersama, dan aku mulai memancingnya.

'Mas, tadi Tante Indah telepon. Katanya Sekar mau wisuda bulan depan di Singapura. Kita jadi berangkat ke sana?' tanyaku sembari menyendok nasi dengan tenang. Ardhito tersedak sedikit. Ia meraih gelas air putih dan meneguknya cepat.

'Oh, iya? Eh, sepertinya jadwal kantor lagi padat banget, Sayang. Mungkin kita kirim kado saja ya? Atau kamu pergi sama Ibu saja,' jawabnya dengan mata yang tidak berani menatapku langsung. Ia sibuk mengutak-atik ponselnya di bawah meja.

'Sayang banget ya, Mas. Padahal aku pengen lihat Sekar pakai toga. Oh ya, tadi aku nggak sengaja lihat riwayat pesanan makanmu kemarin. Ada alamat di Cluster Amethyst. Teman kantor kamu ada yang tinggal di sana?' Aku bertanya dengan nada seringan kapas, namun mataku menatapnya tajam, mengunci setiap gerak-gerik wajahnya.

Wajah Ardhito memucat seketika. Sendok di tangannya beradu dengan piring porselen, menimbulkan denting yang memekakkan telinga di ruang makan yang mendadak sunyi itu. Ia terdiam selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Keringat dingin mulai tampak di pelipisnya, meskipun AC ruang makan menyala di suhu terendah.

'Itu... itu pesanan titipan teman kantor, Laras. Dia lagi ada proyek di sana dan minta tolong dipesankan pakai akunku karena ada promo diskon besar. Kamu tahu kan, anak-anak kantor suka titip-titip begitu,' kilahnya, suaranya terdengar sedikit bergetar.

'Titipan teman kantor sampai belikan susu hamil rasa cokelat, Mas? Teman kantormu itu ngidam?' Aku tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat mengerikan bahkan di telingaku sendiri. Aku mengeluarkan ponselku dan menunjukkan foto yang kuambil secara diam-diam pagi tadi. Foto Ardhito yang sedang mengelus perut buncit Sekar di teras rumah Paviliun Melati.

Duar! Ardhito seolah tersambar petir. Ia terpaku, wajahnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi abu-abu. Ia mencoba meraih tanganku, tapi aku menepisnya dengan kasar. Keheningan di rumah ini kini terasa begitu menyesakkan, penuh dengan bau busuk kebohongan yang akhirnya tercium juga.

'Laras, aku bisa jelaskan... Ini tidak seperti yang kamu lihat. Sekar... dia butuh bantuan, dan aku...'

'Dan kamu memberinya bayi, Mas? Kamu memberinya rumah sementara aku di sini menghitung masa subur setiap bulan seperti orang gila? Kamu membiarkan aku mengirim uang untuk 'kuliahnya' padahal uang itu dipakai untuk membiayai perselingkuhan kalian?' suaraku naik satu oktav, air mata yang tadi kutahan kini tumpah tak terbendung. Tapi ini bukan tangis kesedihan, ini adalah tangis kemarahan yang meluap.

Ardhito berlutut di bawah kakiku, menangis dan memohon ampun. Ia mengatakan bahwa itu adalah kesalahan satu malam saat Sekar curhat soal kegagalannya di kampus dan mereka mabuk. Namun, aku tahu itu bohong. Tidak ada 'kesalahan satu malam' yang menghasilkan rumah sewaan jangka panjang dan stok susu hamil yang tertata rapi. Ini adalah sebuah rencana. Sebuah pengkhianatan yang terstruktur, sistematis, dan masif.

'Keluar, Mas. Keluar dari rumah ini sebelum aku memanggil semua orang dan mempermalukan kalian berdua,' ucapku dingin. Hatiku sudah membatu. Aku tidak butuh penjelasannya lagi. Yang kubutuhkan sekarang adalah memastikan mereka berdua tidak mendapatkan satu sen pun dari aset yang kami bangun bersama. Karena aku tahu, rumah di Cluster Amethyst itu pasti dibeli atau disewa menggunakan rekening bersama kami yang ia manipulasi.

Tapi kejutan malam itu belum berakhir. Saat Ardhito masih bersimpuh, ponselku bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor ibuku. Isinya membuat jantungku benar-benar berhenti berdetak: 'Laras, jangan lupa transfer uang bulanan untuk Sekar ya. Kasihan dia, vitamin bayinya habis. Ardhito bilang dia lagi agak cekak bulan ini karena habis bayar DP mobil baru buat kamu. Sabar ya Nak, anggap saja ini investasi pahala untuk keluarga kita.'

Aku menatap layar ponsel itu dengan tatapan kosong. Ibuku. Ibuku tahu semuanya. Dia tidak hanya tahu, dia mendukungnya. Dia menganggap pengkhianatan ini sebagai 'investasi pahala'. Aku merasa seperti orang asing di tengah keluargaku sendiri. Ternyata, selama ini aku bukan sedang membangun rumah tangga, melainkan sedang memelihara parasit yang secara perlahan menghisap hidupku. Dan sekarang, saatnya aku menunjukkan pada mereka apa yang terjadi jika parasit itu mencoba memakan inangnya sampai mati.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url