Tagihan Game Misterius Ini Bongkar Siapa Ayah Biologis Dari Anak Sahabatku Sendiri
Larasati menahan napas saat mesin EDC di kasir supermarket itu mengeluarkan bunyi 'tit' yang panjang dan menyebalkan. 'Maaf Ibu, saldonya tidak mencukupi,' ucap petugas kasir dengan senyum formal yang terasa seperti sembilu di telinga Larasati. Antrean di belakangnya mulai berbisik, menciptakan simfoni ketidaksabaran yang membuat telapak tangannya berkeringat dingin. Seharusnya saldo di kartu itu masih tersisa sepuluh juta rupiah. Itu uang belanja bulanan yang baru saja ditransfer Galih dua hari lalu. Dengan jemari gemetar, Larasati membuka aplikasi mobile banking di ponselnya, mengabaikan tatapan tajam ibu-ibu di belakangnya.
Matanya menyipit, mencari angka-angka yang hilang. Di sana, di deretan mutasi rekening yang biasanya membosankan, ada satu transaksi yang mencolok. 'Top Up Diamond - MLBB - ID 8829102' sebesar dua juta rupiah. Dan itu bukan yang pertama. Setiap tanggal lima belas, selama enam bulan terakhir, nominal yang sama keluar secara konsisten. Larasati tertegun. Galih, suaminya yang kaku, yang bahkan menyebut bermain ponsel saat makan adalah perilaku tidak beradab, tidak mungkin bermain game. Galih adalah pria yang mencintai ketenangan, buku-buku sejarah, dan laporan keuangan kantornya yang rapi.
'Ibu? Jadi pakai kartu lain?' suara kasir memecah lamunannya. Larasati tersenyum kaku, mengeluarkan kartu kredit cadangannya yang sebenarnya hanya untuk keadaan darurat. Pikirannya tidak lagi di supermarket itu. Pikirannya melayang pada deretan angka ID game tersebut. Siapa pemilik akun itu? Mengapa Galih mengirimkan uang yang jumlahnya setara dengan cicilan motor itu setiap bulan? Rasa curiga yang selama ini ia tekan dalam-dalam seperti mata air yang mendadak meledak menjadi air bah.
Sesampainya di rumah, Larasati tidak langsung membereskan belanjaan. Ia duduk di kursi meja makan, menatap layar ponselnya yang masih menampilkan riwayat transaksi tersebut. Ia mencoba mencari ID itu di Google, lalu beralih ke aplikasi game yang ia unduh secara mendadak. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia memasukkan ID '8829102'. Sebuah profil muncul dengan nama pengguna 'Dirga_Champion'. Di sana, ada sebuah foto profil yang membuat jantung Larasati seolah berhenti berdetak. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, mengenakan jersey bola, sedang tersenyum lebar ke arah kamera. Lesung pipit di pipi kiri anak itu... itu adalah fotokopi dari lesung pipit yang selalu Larasati lihat setiap pagi di wajah Galih.
Larasati merasa dunianya miring. Ia mengenal anak itu. Namanya Dirga. Dia adalah putra tunggal Ratna Anindita, sahabat baiknya sejak SMA yang kini berstatus janda setelah suaminya meninggal dalam kecelakaan enam tahun lalu. Ratna, wanita yang selalu menangis di bahu Larasati setiap kali merasa kesepian membesarkan anak sendirian. Ratna, yang setiap Idul Fitri selalu datang ke rumah mereka dan dipeluk erat oleh Larasati karena dianggap sebagai saudara sendiri. Tangannya bergetar hebat saat ia menggulir profil akun tersebut. Di bagian bio akun game itu tertulis kalimat singkat yang menghancurkan seluruh sisa harga diri Larasati: 'Hadiah dari Papa Terhebat'.
Selama ini, Larasati mengagumi Galih karena kedermawanannya. Galih sering mengatakan bahwa ia memberikan 'santunan' rutin untuk anak yatim lewat yayasan. Larasati tidak pernah bertanya lebih detail karena ia percaya suaminya adalah orang suci. Ternyata, 'yayasan' itu memiliki alamat di sebuah apartemen di bilangan Jakarta Barat, tempat Ratna tinggal. Dan 'anak yatim' itu adalah darah daging Galih sendiri yang disembunyikan di balik status janda sahabatnya.
Malam itu, Galih pulang dengan wajah lelah yang biasa ia tunjukkan. Ia mencium kening Larasati, aroma parfum kayu cendana yang biasanya menenangkan kini terasa mual di hidung Larasati. 'Mas, tadi aku ke supermarket dan kartuku ditolak,' ucap Larasati datar, sambil meletakkan ponselnya yang menampilkan mutasi rekening itu di atas meja makan. Wajah Galih yang tadinya tenang mendadak memucat. Ia mencoba meraih ponsel itu, tapi Larasati lebih cepat menjauhkannya.
'Sejak kapan kamu jadi Papa Terhebat buat Dirga, Mas?' Suara Larasati sangat pelan, namun efeknya seperti ledakan dinamit di ruang tamu mereka yang sunyi. Galih terdiam. Tidak ada bantahan, tidak ada pembelaan diri yang agresif seperti yang biasa dilakukan pria bersalah di film-film. Ia hanya menghela napas panjang dan duduk di kursi, menundukkan kepala. Keheningan itu adalah pengakuan paling menyakitkan yang pernah Larasati terima.
'Laras, dengar dulu...' Galih memulai pembicaraan dengan nada yang sangat rendah. Larasati tertawa getir. 'Dengar apa? Dengar bagaimana kamu menghamili sahabatku saat aku sedang berjuang menjalani program bayi tabung yang gagal itu? Dengar bagaimana kamu membiayai mereka dengan uang yang seharusnya menjadi masa depan kita?' Air mata Larasati akhirnya luruh, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang membakar setiap sel di tubuhnya.
Galih mengangkat wajahnya, matanya memerah. 'Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Ratna saat itu hancur setelah suaminya meninggal, dan aku... aku hanya ingin membantu. Kejadian itu cuma sekali, Laras. Demi Tuhan, cuma sekali.' Larasati menggelengkan kepala, merasa jijik. 'Sekali yang menghasilkan manusia, Mas. Sekali yang membuat kamu berbohong selama lima tahun. Kamu bukan membantu Ratna, kamu membangun keluarga kedua di belakangku!'
Konfrontasi itu berlangsung hingga dini hari. Larasati menyadari bahwa seluruh pernikahannya adalah sebuah panggung sandiwara yang sangat rapi. Ratna, wanita yang sering ia ajak berbelanja baju anak untuk Dirga, ternyata sedang menertawakan kebodohannya di dalam hati. Setiap kali Larasati mengeluh betapa sulitnya memiliki anak, Ratna pasti merasa menang karena ia sudah memiliki benih dari suami Larasati. Rasa dikhianati oleh dua orang paling penting dalam hidupnya membuat Larasati merasa seperti dikuliti hidup-hidup.
Larasati berdiri, masuk ke kamar, dan mengambil koper besar. Ia mulai memasukkan pakaiannya secara acak. Ia tidak butuh rencana, ia hanya butuh pergi dari rumah yang kini terasa seperti kuburan itu. Galih mencoba menghalanginya di pintu kamar, memohon-mohon dengan kata-kata cinta yang kini terdengar seperti sampah. 'Aku mencintaimu, Laras. Dirga itu cuma kecelakaan, tapi kamu adalah hidupku,' rintih Galih.
'Kalau aku hidupmu, kamu tidak akan pernah membiarkan orang lain masuk ke dalam kita, Mas. Apalagi dia.' Larasati mendorong Galih dengan sisa tenaganya. Ia keluar dari rumah itu saat fajar mulai menyingsing, membawa koper dan kehancuran hati yang tak bersuara. Namun, saat ia menyalakan mesin mobil, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak dikenal. Sebuah foto: Galih, Ratna, dan Dirga sedang meniup lilin ulang tahun bersama-sama sebulan yang lalu. Di bawahnya ada teks: 'Dia tidak akan pernah meninggalkan kami, Laras. Sebaiknya kamu menyerah.'
Larasati meremas kemudi mobilnya. Pengkhianatan ini ternyata jauh lebih dalam dan terencana dari yang ia duga. Ratna bukan sekadar orang ketiga yang pasif, dia adalah predator yang sedang menunggu mangsanya jatuh. Dan Larasati baru saja menyadari bahwa peperangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.