Aku Mengira Suamiku Terlalu Protektif Karena Cinta, Ternyata Dia Sedang Memantau Pergerakan 'Barang Jaminan' di Tangan Musuh Bisnisnya
'Kenapa mobil kamu berhenti di SCBD selama tiga jam, Gendis? Aku lihat di log sistem pusat.' Kalimat itu meluncur dari bibir Dananjaya dengan nada datar, seolah dia sedang menanyakan laporan kuartal perusahaan, bukan mempertanyakan privasi istrinya. Aku tertegun di ambang pintu kamar kami yang bernuansa minimalis mewah. Di tangannya, sebuah iPad menyala, menampilkan titik merah kecil di atas peta digital yang sangat aku kenali. Itu adalah koordinat mobilku. Aku baru saja pulang dari pertemuan singkat dengan sahabat lama, namun tatapan Dananjaya membuatku merasa seperti seorang kriminal yang tertangkap basah di bawah lampu interogasi.
Awalnya, aku menganggap sikap Dananjaya yang memasang sistem 'Asset Management' di semua kendaraan kami adalah bentuk kasih sayang seorang pria yang terlalu khawatir. Dia adalah CEO muda yang sedang naik daun, dan aku, Gendis, adalah arsitek yang lebih suka menghabiskan waktu di lapangan. Dia bilang, 'Dunia luar itu keras, Sayang. Aku cuma mau pastikan kamu aman.' Aku tersanjung. Siapa yang tidak akan luluh dengan perhatian sedetail itu? Namun, malam ini, rasa hangat itu mendadak menguap, berganti dengan rasa dingin yang merayap di tengkukku saat aku menyadari sesuatu yang janggal pada tampilan layar iPad-nya.
Itu bukan aplikasi keamanan standar. Di pojok kiri atas layar, terdapat logo 'Artha-Vault', sebuah platform manajemen agunan yang biasanya digunakan oleh bank-bank gelap atau pemberi pinjaman swasta kelas atas. Mengapa namaku, atau setidaknya mobil yang aku kendarai, terdaftar di sana sebagai 'Aset Aktif'? Aku mencoba menelan ludah, berusaha menjaga suaraku agar tetap stabil. 'Aku cuma mampir ke toko buku, Danan. Lagipula, sejak kapan kamu memantau gerak-gerikku lewat platform manajemen utang piutang?'
Wajah Dananjaya tidak berubah. Ketampanannya yang biasanya mempesona kini terasa seperti topeng porselen yang retak. Dia meletakkan iPad itu di atas nakas, suaranya merendah, hampir berbisik. 'Ini demi kebaikan kita bersama, Gendis. Kamu tidak akan mengerti bagaimana rumitnya menjaga stabilitas perusahaan di tengah krisis seperti ini.' Kalimatnya menggantung, meninggalkan lubang besar di dadaku. Ada sesuatu yang dia sembunyikan, sebuah rahasia yang jauh lebih gelap daripada sekadar rasa cemburu atau proteksi berlebihan.
Keesokan harinya, rasa penasaran yang berpadu dengan ketakutan membawaku ke kantor pusat Dananjaya secara diam-diam. Aku mengenal sekretarisnya, seorang wanita paruh baya bernama Bu Lastri yang sudah mengabdi sejak zaman mendiang ayah Danan. Dengan alasan ingin memberikan kejutan makan siang, aku berhasil masuk ke ruang kerja Danan saat dia sedang memimpin rapat direksi. Hatiku berdegup kencang saat aku menyalakan komputer cadangan di sudut ruangan yang jarang dia gunakan. Keberuntungan berpihak padaku; password-nya masih menggunakan tanggal pernikahan kami. Namun, apa yang kutemukan di dalamnya menghancurkan seluruh fondasi hidup yang kubangun bersamanya selama lima tahun terakhir.
Di dalam folder tersembunyi berjudul 'Project Phoenix', aku menemukan rentetan dokumen digital yang memuakkan. Ada surat perjanjian pinjaman senilai puluhan miliar rupiah. Pemberi pinjamannya bukan bank, melainkan sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Baskara—musuh bebuyutan Dananjaya di dunia konstruksi, pria yang pernah bersumpah akan menghancurkan keluarga kami. Namun, bukan jumlah uangnya yang membuat duniaku berputar. Melainkan lampiran di halaman terakhir: 'Jaminan Tambahan Non-Aset'.
Di sana, namaku tertulis dengan jelas. Gendis Arisanti. Ada klausul yang menyatakan bahwa jika Dananjaya gagal memenuhi kewajiban pembayaran dalam waktu dua belas bulan, hak kendali atas 'perusahaan arsitektur milik Gendis' beserta 'keberadaan fisik' subjek akan dialihkan untuk kepentingan Baskara sebagai bentuk kompensasi strategis. Air mataku jatuh tanpa suara, membasahi meja mahoni yang dingin. Aku bukan lagi seorang istri di mata Dananjaya. Aku adalah barang jaminan. Aku adalah aset yang sedang dia pantau setiap detiknya agar tidak 'hilang' atau 'rusak' sebelum jatuh ke tangan Baskara.
Rasa mual menghantamku dengan hebat. Setiap pelukannya selama ini, setiap kecupan di kening sebelum aku berangkat kerja, apakah itu semua hanya cara untuk memastikan bahwa 'barangnya' masih berada di tempat yang aman? Aku mengingat kembali kejadian di SCBD kemarin. Aku tidak hanya ke toko buku. Aku bertemu dengan seorang pengacara untuk membahas rencana renovasi panti asuhan. Jika Dananjaya memantauku lewat Artha-Vault, artinya setiap langkahku juga dilaporkan secara otomatis ke dashboard milik Baskara. Aku sedang diawasi oleh pemangsa yang sedang menunggu mangsanya jatuh tempo.
Saat aku hendak menutup file tersebut, sebuah notifikasi email masuk di layar komputer. Pengirimnya adalah Baskara. Subjeknya singkat: 'Jaminanmu terlihat cantik di gala minggu lalu. Pastikan dia tidak lecet, Danan. Aku benci barang cacat.' Jantungku serasa berhenti berdetak. Mereka berdua berkomunikasi tentang aku seolah-olah aku adalah sebidang tanah atau sekumpulan saham yang siap dipindahtangankan. Dananjaya telah menjualku, bahkan sebelum aku menyadari bahwa pernikahan kami sedang berada di tepi jurang kehancuran.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka. Aku tersentak dan berbalik. Dananjaya berdiri di sana, masih mengenakan jas mahalnya, menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dia tidak tampak terkejut melihatku berada di depan komputernya. Sebaliknya, dia menghela napas panjang, seolah-olah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya karena rahasia ini akhirnya terbongkar. 'Kamu seharusnya tidak perlu tahu secepat ini, Gendis,' katanya dengan nada suara yang sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ketahuan menjual istrinya sendiri.
'Kamu menjadikanku jaminan utang, Danan?' suaraku bergetar, penuh dengan amarah dan luka yang teramat dalam. 'Kepada Baskara? Pria yang paling kamu benci? Pria yang sudah menghancurkan ayahmu?' Aku melangkah maju, menantang tatapannya. 'Apa aku hanya angka di matamu? Apa pernikahan kita ini hanya sebuah transaksi?'
Dananjaya berjalan mendekat, mencoba menyentuh bahuku, tapi aku menepisnya dengan kasar. 'Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan warisan ayahku, Gendis. Baskara punya segalanya. Dia menjebakku dalam kontrak pembangunan bandara itu. Aku butuh likuiditas cepat, dan dia hanya mau meminjamkan uang jika kamulah jaminannya. Dia terobsesi padamu sejak dulu, kamu tahu itu, kan?' Danan berkata tanpa rasa bersalah yang berarti. 'Tapi aku berjanji, aku akan melunasinya. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu. Aku memantau mobilmu supaya aku tahu kamu tidak pergi ke tempat-tempat yang berbahaya, tempat di mana orang-orang Baskara bisa mengambilmu secara paksa sebelum waktunya.'
'Sebelum waktunya?' aku tertawa getir, tawa yang terdengar seperti tangisan. 'Jadi ada waktunya? Ada hari di mana kamu akan mengantarkanku sendiri ke pintu rumahnya dan berkata, 'Ini bayaranku'?' Aku tidak bisa mempercayai apa yang kudengar. Pria yang kucintai, pria yang kuanggap sebagai pelindungku, ternyata adalah orang yang memasang target di punggungku.
Situasi semakin memanas ketika ponsel Danan berdering. Dia melirik layar ponselnya, wajahnya mendadak pucat. 'Baskara,' bisiknya. Dia ragu sejenak sebelum mengangkatnya dan menyalakan speaker. Suara berat Baskara terdengar di seluruh ruangan, penuh dengan nada kemenangan yang memuakkan. 'Danan, sepertinya istrimu sudah tahu. Aku bisa melihat detak jantungnya meningkat dari smartwatch yang dia pakai—oh, maaf, aku lupa bilang kalau aku juga punya akses ke sinkronisasi kesehatan 'aset' milikku. Jangan buat dia stres, Danan. Itu akan menurunkan nilainya di mataku.'
Aku melepaskan smartwatch di pergelangan tanganku dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Dananjaya menatap reruntuhan jam itu dengan pandangan kosong. Pada saat itulah, aku menyadari bahwa aku tidak bisa mempercayai siapa pun lagi. Bukan suamiku, bukan juga sistem yang mengelilingi hidupku. Aku terjebak dalam permainan antara dua pria yang terobsesi dengan kekuasaan, dan aku hanyalah piala yang diperebutkan di atas meja judi mereka.
'Aku akan pergi,' kataku tegas, meskipun kakiku terasa lemas seperti jelly. 'Aku akan mengurus perceraian ini, dan aku akan melaporkan kalian berdua atas perdagangan manusia atau apa pun itu.' Namun, Dananjaya hanya tersenyum pahit. Dia berjalan ke pintu dan menguncinya dari dalam. 'Kamu tidak bisa pergi, Gendis. Kamu lupa? Sertifikat rumah orang tuamu, kantor arsitekturmu, bahkan rekening pribadimu... semuanya sudah aku jaminkan dalam satu paket di bawah nama perusahaan cangkang. Jika kamu pergi sekarang, kamu tidak hanya akan menghancurkanku, tapi kamu akan membuat orang tuamu menjadi gelandangan besok pagi.'
Duniaku runtuh sepenuhnya. Ruangan itu terasa semakin sempit, oksigen seolah menghilang dari udara. Aku menatap pria di depanku, mencari sisa-sisa cinta yang dulu pernah ada, namun yang kutemukan hanyalah ambisi yang dingin dan gelap. Aku bukan lagi seorang istri. Aku adalah tawanan dalam sangkar emas yang pintunya dipegang oleh dua pria yang saling membenci. Dan saat itu juga, aku tahu bahwa untuk bertahan hidup, aku harus menjadi lebih kejam daripada mereka berdua. Aku harus memainkan permainan mereka, tapi dengan caraku sendiri.
'Baiklah,' kataku dengan suara yang kini setenang es. Aku menghapus air mataku dengan punggung tangan. 'Kalau aku memang aset, maka aku adalah aset yang sangat mahal. Dan kamu tahu apa yang terjadi pada aset yang terlalu mahal untuk dikelola? Aset itu akan menghancurkan pemiliknya dari dalam.' Aku menatap langsung ke mata Dananjaya, dan untuk pertama kalinya, aku melihat secercah ketakutan di sana. Ini bukan lagi soal cinta. Ini adalah perang.