Cermin Retak di Lantai Dua Puluh: Saat Notifikasi 'Smart Home' Membongkar Sandiwara Istri dan Sahabat Karibku

Cermin Retak di Lantai Dua Puluh: Saat Notifikasi 'Smart Home' Membongkar Sandiwara Istri dan Sahabat Karibku

Skandal & Pengkhianatan

Cermin Retak di Lantai Dua Puluh: Saat Notifikasi 'Smart Home' Membongkar Sandiwara Istri dan Sahabat Karibku



Tangan Arutala gemetar hebat, bukan karena hawa dingin pendingin ruangan di lobi hotel mewah di Surabaya itu, melainkan karena sebuah titik merah kecil yang berkedip di layar ponselnya. Sebagai seorang arsitek yang memuja presisi, Arutala selalu memastikan segala sesuatu dalam hidupnya berjalan sesuai cetak biru. Pernikahannya dengan Anindita selama tujuh tahun adalah bangunan megah yang ia banggakan. Namun, sore itu, sebuah notifikasi dari aplikasi 'Smart Frame' milik mereka menghantam pondasi hidupnya hingga runtuh seketika.

'Anindita baru saja menambahkan foto baru ke Bingkai Keluarga'. Pesan singkat itu muncul tepat saat Arutala sedang menyeruput kopi pahitnya, menunggu pertemuan dengan kontraktor. Ia menyentuh layar, berniat melihat wajah cantik istrinya yang seharusnya sedang berada di Jakarta, mengurus butik batik milik mereka. Namun, yang muncul bukanlah foto swafoto Anindita di depan butik. Itu adalah sebuah foto pemandangan balkon dengan latar belakang matahari terbenam yang memukau. Indah, jika saja Arutala tidak mengenali detail ukiran pagar besi balkon tersebut. Itu adalah pagar balkon Executive Lounge Hotel Majapahit, tempat yang sama di mana Arutala sedang menginap sekarang.

Darah Arutala terasa berhenti mengalir. Ia memperhatikan detail foto itu lebih teliti, memperbesarnya hingga pikselnya pecah. Di sudut kanan bawah, pada pantulan pintu kaca yang tertutup, terlihat siluet seorang wanita mengenakan gaun sutra berwarna zamrud—gaun yang dibelikan Arutala sebagai hadiah ulang tahun bulan lalu. Di samping wanita itu, berdiri seorang pria yang punggungnya sangat familiar. Pria itu memakai jam tangan kronograf edisi terbatas, hanya ada sepuluh di Indonesia. Arutala tahu persis siapa pemilik jam itu: Mahardika, pengacara pribadinya sekaligus sahabat yang paling ia percayai sejak masa kuliah di Bandung.

Dunia seolah berputar. Arutala mengingat pamit Anindita pagi tadi melalui telepon suara yang terdengar serak, katanya dia sedang flu berat dan ingin tidur seharian di rumah mereka di kawasan Menteng. Sementara Mahardika, pria itu mengirim pesan singkat dua jam lalu, mengatakan sedang sibuk mengurus sidang sengketa tanah di Semarang. Ternyata, keduanya sedang berada di gedung yang sama dengan Arutala, hanya berbeda delapan lantai. Arutala berada di lantai dua belas, sementara foto itu diambil dari lantai dua puluh, lantai khusus VIP yang hanya bisa diakses dengan kartu khusus.

Langkah kaki Arutala terasa berat saat ia berjalan menuju lift. Setiap denting lift yang melewati lantai demi lantai terasa seperti detak bom waktu di telinganya. Ia teringat bagaimana dulu ia dan Mahardika sering menghabiskan malam di studio arsitekturnya, merancang masa depan. Ia teringat bagaimana Anindita selalu menjadi pendengar setia setiap kali ia mengeluh tentang tekanan pekerjaan. Bagaimana mungkin dua orang paling penting dalam hidupnya bisa menyusun skenario sedalam ini? Apakah ini alasan mengapa Anindita sering menolak saat diajak berhubungan intim dalam tiga bulan terakhir dengan alasan kelelahan?

Pintu lift terbuka di lantai dua puluh. Aroma kayu cendana dan kemewahan langsung menyambut indra penciumannya. Arutala melangkah keluar dengan tatapan kosong namun tajam. Ia menuju ke arah lounge yang menghadap ke arah barat, tempat matahari sedang perlahan turun menuju garis cakrawala. Di ujung ruangan, di sebuah sudut yang agak tersembunyi oleh pilar besar, ia melihat mereka. Anindita sedang tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Mahardika, sementara tangan Mahardika dengan santai melingkar di pinggang Anindita. Mereka tampak seperti pasangan paling bahagia di dunia, merayakan kemenangan di atas penderitaan orang lain yang belum menyadarinya.

Arutala tidak langsung berteriak. Ia tidak mengamuk seperti karakter di sinetron. Ia justru merasa dingin yang luar biasa. Ia mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan fitur perekaman video, dan berjalan perlahan mendekati meja mereka. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai marmer seolah tenggelam dalam musik jazz lembut yang mengalun di ruangan itu. Anindita adalah yang pertama kali menyadari kehadirannya. Wajahnya yang tadinya merona karena tawa, seketika berubah pucat pasi, seperti seseorang yang baru saja melihat malaikat maut berdiri di depannya.

'Mas Arutala?' suara Anindita bergetar, nyaris tidak terdengar. Mahardika tersentak, tangannya yang melingkar di pinggang Anindita langsung terlepas seolah-olah baru saja menyentuh bara api. Pria itu berdiri dengan gagap, mencoba merapikan setelan jasnya yang sebenarnya sudah rapi. 'Ta... Arutala... ini bukan seperti yang kamu lihat. Kami... kami hanya tidak sengaja bertemu di sini,' kata Mahardika dengan kebohongan paling payah yang pernah Arutala dengar selama hidupnya.

Arutala tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan daripada tamparan. 'Oh, tidak sengaja bertemu di kamar VIP hotel yang sama di Surabaya, saat yang satu bilang sedang sakit di Jakarta dan yang satu lagi sidang di Semarang? Kebetulan yang sangat luar biasa, bukan? Mungkin kalian harus membeli tiket lotre bersama setelah ini,' ucap Arutala dengan nada yang sangat tenang, namun matanya memancarkan kemarahan yang bisa membakar seluruh ruangan itu. Ia menatap Anindita, wanita yang pernah ia janjikan untuk dilindungi seumur hidup. 'Gaun hijau itu... aku tidak menyangka kau akan memakainya untuk melubangi hatiku, Anin.'

Anindita mulai terisak, mencoba meraih tangan Arutala, namun Arutala menghindar dengan jijik. 'Mas, tolong dengarkan aku. Ini semua salahku, Mahardika tidak bersalah, dia hanya...' Kalimatnya terhenti karena Arutala mengangkat tangannya, memberi isyarat agar dia diam. 'Jangan pernah gunakan lidahmu untuk membela pria yang sudah menghancurkan rumah kita, Anin. Dan kau, Dika... aku sudah menyiapkan draf gugatan cerai sekaligus pencabutan kuasa hukum atas namamu. Aku arsitek, ingat? Aku tahu bagaimana cara meruntuhkan gedung yang sudah tidak layak huni, dan saat ini, kalian berdua adalah puing-puingnya.'

Arutala memutar tubuhnya, meninggalkan mereka berdua yang terpaku dalam kehinaan. Saat ia berjalan menuju lift, ia menghapus aplikasi 'Smart Frame' dari ponselnya. Ia menyadari satu hal: teknologi mungkin bisa menghubungkan orang, tapi kejujuranlah yang menjaganya tetap utuh. Dan di lantai dua puluh itu, Arutala baru saja belajar bahwa pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari musuh, melainkan dari orang-orang yang mengetahui semua titik lemahmu. Namun, ini barulah permulaan. Arutala tidak akan membiarkan mereka pergi begitu saja. Ia memiliki semua akses mutasi rekening dan bukti digital lainnya. Permainan sebenarnya baru saja dimulai.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url