Dunia Runtuh di Atas Podium: Saat Tablet Pinjaman Membongkar Skandal Plagiarisme Mahasiswa Paling Jenius se-Fakultas

Dunia Runtuh di Atas Podium: Saat Tablet Pinjaman Membongkar Skandal Plagiarisme Mahasiswa Paling Jenius se-Fakultas

Kisah Kampus

Dunia Runtuh di Atas Podium: Saat Tablet Pinjaman Membongkar Skandal Plagiarisme Mahasiswa Paling Jenius se-Fakultas



Suara riuh rendah di dalam Auditorium Graha Widya itu seharusnya menjadi musik yang paling merdu di telinga Anindya. Malam ini adalah malam penganugerahan Mahasiswa Berprestasi Utama tingkat universitas, sebuah ajang yang selama tiga tahun terakhir hanya menjadi mimpi di sela-sela shift kerjanya sebagai pelayan kafe. Di sana, di atas panggung yang diterangi lampu sorot kebiruan, Bhadrika berdiri dengan tegak. Mengenakan almamater kebanggaan dengan kancing emas yang berkilau, Bhadrika adalah definisi kesempurnaan. Dia tampan, putra dari seorang Guru Besar ternama, dan yang paling penting, dia adalah kekasih Anindya.

Anindya duduk di barisan staf pendukung teknis, memegang sebuah tablet kelas atas milik Bhadrika. Tugasnya sederhana: mengontrol pergantian slide presentasi saat Bhadrika menyampaikan pidato visinya tentang 'Inovasi Teknologi Pangan Berkelanjutan'. Makalah itu, yang membawa Bhadrika meraih skor tertinggi, adalah hasil diskusi panjang mereka di perpustakaan hingga larut malam. Atau setidaknya, itulah yang Anindya yakini selama ini.

'Tes, satu, dua. Selamat malam rekan-rekan mahasiswa dan dewan juri yang terhormat,' suara bariton Bhadrika menggema, penuh percaya diri. Anindya tersenyum, jemarinya bersiap menggeser layar tablet. Namun, sebuah notifikasi pop-up muncul di bagian atas layar. Itu adalah pesan masuk dari sebuah aplikasi pengiriman berkas cloud. Anindya biasanya tidak akan peduli, namun nama pengirimnya membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak: 'Penerbit Jurnal Internasional Q1'.

Rasa penasaran yang berpadu dengan firasat buruk mendorong jarinya untuk mengetuk notifikasi itu. Tablet tersebut tidak terkunci. Mungkin Bhadrika terlalu percaya padanya, atau mungkin pemuda itu terlalu ceroboh dalam kemenangannya. Layar beralih ke sebuah draf artikel ilmiah yang baru saja diterima untuk diterbitkan. Judulnya persis sama dengan judul skripsi yang tengah Anindya susun dengan darah dan air mata selama enam bulan terakhir: 'Sintesis Nanopartikel dari Limbah Kulit Singkong untuk Pengawetan Organik'.

Napas Anindya tercekat. Dia mulai menggulir layar dengan tangan gemetar. Setiap paragraf, setiap data statistik, bahkan kesalahan pengetikan kecil pada bagian metodologi yang sempat dia keluhkan pada Bhadrika minggu lalu, semuanya ada di sana. Di bawah judul itu, hanya ada satu nama penulis: Bhadrika Dananjaya. Tidak ada nama Anindya. Tidak ada pengakuan atas kontribusinya. Bhadrika telah mencuri seluruh penelitiannya dan mendaftarkannya ke jurnal internasional bergengsi untuk mengamankan posisi Mahasiswa Berprestasi ini.

Di atas panggung, Bhadrika terus berbicara dengan fasih. 'Penelitian ini saya kerjakan dengan dedikasi penuh selama satu tahun terakhir, melewati berbagai kegagalan laboratorium...' Dia berbohong. Dia bahkan tidak tahu cara mengkalibrasi mikroskop elektron tanpa bantuan Anindya. Anindya merasakan panas menjalar dari dadanya menuju wajah. Rasa dikhianati itu lebih perih daripada saat dia harus menahan lapar demi membeli bahan kimia penelitian.

Dia melihat ke arah kursi dewan juri. Ada Prof. Jatmiko di sana, sosok yang sangat menjunjung tinggi integritas akademik. Anindya menatap tablet di tangannya, lalu menatap layar proyektor raksasa di belakang Bhadrika yang sedang menampilkan grafik pertumbuhan bakteri—grafik yang Anindya buat sambil menangis karena laptop tuanya sempat mati total. Pemicu kemarahannya bukan lagi sekadar soal cinta, tapi soal harga diri intelektual yang diinjak-injak.

Anindya tidak menggeser slide ke halaman berikutnya. Dia malah membuka folder 'Recent Downloads' di tablet itu. Di sana, dia menemukan file PDF lain yang lebih menghancurkan: sebuah surat perjanjian jual beli draf skripsi. Bhadrika ternyata tidak hanya mencuri karyanya, dia juga telah menjual draf mentah penelitian Anindya kepada seorang mahasiswa dari universitas swasta ternama dengan harga jutaan rupiah. Riwayat transfer di aplikasi m-banking yang masih terbuka di latar belakang menunjukkan mutasi masuk dengan keterangan 'Pelunasan Bab 4-5'.

Dunia seolah melambat. Suara Bhadrika mendadak terdengar seperti dengung lalat yang mengganggu. Anindya bangkit dari kursinya di pojok ruangan. Dia berjalan perlahan menuju meja operator utama, tempat kabel HDMI terhubung. Petugas operator, seorang mahasiswa junior bernama Gendis, menatapnya bingung. 'Kak Anin? Ada masalah sama tabletnya?' bisik Gendis.

'Biar aku yang pegang kontrol penuh untuk bagian penutup, Gendis. Ada kejutan kecil untuk Bhadrika,' jawab Anindya dengan suara yang sangat tenang, meski air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak ingin menangis karena sedih. Dia menangis karena kemarahan yang sudah meluap-luap.

Anindya menghubungkan tablet itu langsung ke switch pusat. Di atas panggung, Bhadrika sampai pada bagian kesimpulan. 'Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa inovasi adalah tentang kejujuran dalam berkarya. Terima kasih.' Bhadrika memberikan isyarat agar Anindya menampilkan slide bertuliskan 'Terima Kasih'.

Namun, yang muncul di layar proyektor berukuran 10x6 meter itu bukanlah kata-kata manis. Layar itu menampilkan tangkapan layar chat antara Bhadrika dan pembeli skripsi, lengkap dengan detail transaksi dan draf yang dicuri. Seluruh auditorium mendadak sunyi senyap. Prof. Jatmiko berdiri dari kursinya, membetulkan letak kacamata dengan raut wajah yang berubah drastis. Bhadrika menoleh ke belakang, dan seketika itu juga, wajahnya yang tadinya berseri-seri berubah menjadi pucat pasi seputih kertas.

Anindya berjalan keluar dari balik meja operator, melangkah ke tengah lorong auditorium, tepat di hadapan Bhadrika yang masih berdiri mematung di atas podium. Semua mata kini tertuju pada gadis dengan kemeja flanel sederhana yang kontras dengan kemegahan acara itu. Anindya tidak berteriak. Dia hanya menatap Bhadrika dengan tatapan kosong, jenis tatapan yang diberikan seseorang saat menyadari bahwa orang yang mereka cintai sebenarnya adalah orang asing.

'Inovasi adalah tentang kejujuran, Bhadrika?' suara Anindya tanpa mikrofon entah bagaimana terdengar jelas di keheningan itu. 'Lalu bagaimana dengan kejujuran tentang siapa yang sebenarnya menulis setiap kata dalam presentasimu itu?'

Bhadrika mencoba membuka mulut, namun tidak ada suara yang keluar. Dia melirik ke arah ayahnya yang duduk di barisan depan. Sang Guru Besar itu kini menunduk dalam, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Skandal ini bukan hanya akan menghancurkan karir Bhadrika sebelum dimulai, tapi juga akan mencoreng nama besar keluarganya di lingkungan akademis.

Anindya meletakkan tablet itu di pinggir panggung. Dia merasa seperti baru saja melepaskan beban berton-ton dari pundaknya. Namun, saat dia berbalik untuk pergi, seorang pria dengan jaket kulit hitam berdiri di pintu masuk auditorium. Itu adalah Elang, kakak tingkat yang selama ini selalu memperingatkannya tentang Bhadrika. Elang tidak tersenyum kemenangan; dia menatap Anindya dengan simpati yang mendalam. Di tangannya, Elang memegang sebuah map cokelat yang tampak tebal.

'Anin, kamu belum melihat semuanya,' bisik Elang saat Anindya mencapainya. Elang membuka map itu, memperlihatkan dokumen-dokumen beasiswa milik Anindya yang ternyata telah disabotase. Nama Anindya dicoret dari daftar penerima beasiswa luar negeri, dan digantikan oleh nama lain melalui memo internal yang ditandatangani oleh ayah Bhadrika. Pengkhianatan ini ternyata jauh lebih sistematis dan lebih dalam dari sekadar pencurian karya ilmiah. Mereka tidak hanya mencuri masa kininya, mereka mencoba menghapus masa depannya.

Anindya merasakan lututnya lemas. Lingkungan kampus yang selama ini dia anggap sebagai tempat paling suci untuk menuntut ilmu, ternyata hanyalah sebuah sarang intrik yang kotor. Dia menatap kembali ke arah panggung, di mana Bhadrika kini dikerumuni oleh panitia dan keamanan kampus. Kehancuran Bhadrika baru saja dimulai, tapi perjuangan Anindya untuk mendapatkan kembali haknya baru saja memasuki babak yang paling berbahaya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url