Iseng Buka Aplikasi Tukang Bersih-Bersih di HP Suami, Aku Malah Menemukan Alamat Apartemen yang Tidak Pernah Kutahu
'Bisa pesankan taksi online dari HP-ku sekarang? Tanganku masih penuh oli, Sayang,' suara Kalandra menggema dari arah garasi, memecah keheningan Minggu pagi yang biasanya kami habiskan dengan menyesap kopi luwak di teras belakang. Aku, Nirmala, hanya bergumam pelan mengiyakan, meraih ponsel pintar suamiku yang tergeletak di atas meja makan kayu jati. Aku tidak pernah menjadi tipe istri pencemburu yang suka menggeledah isi privasi pasangannya. Tujuh tahun pernikahan kami berjalan seperti air tenang di danau; tanpa riak, tanpa badai. Kalandra adalah pria sempurna, seorang arsitek lanskap dengan reputasi bersih, pria yang masih menatapku dengan binar yang sama seperti saat kami pertama kali bertemu di sebuah pameran seni di Jogja.
Layar ponsel itu menyala. Aku menggeser ikon pencarian, namun jempolku secara tidak sengaja menyentuh sebuah folder notifikasi yang belum sempat dibersihkan. Di sana, di antara deretan email kerja dan update berita, sebuah notifikasi dari aplikasi layanan jasa kebersihan rumah—aplikasi yang juga sering kugunakan—menarik perhatianku. 'Pesanan Anda untuk Unit 12-B Tower Arcasia telah selesai. Berikan rating untuk mitra kami.' Kalimat itu terasa seperti sengatan listrik statis yang tiba-tiba melompat ke ujung jariku. Tower Arcasia? Kami tinggal di sebuah rumah tapak di kawasan Pejaten. Kami tidak memiliki properti di apartemen, apalagi di Tower Arcasia yang tersohor sebagai kawasan hunian mewah di pusat kota. Dengan jantung yang mulai berdegup tidak beraturan, aku membuka aplikasi itu sepenuhnya.
Riwayat pesanan terbuka. Mataku membelalak melihat daftar panjang pemesanan rutin setiap hari Selasa dan Jumat, selama enam bulan terakhir. Alamatnya selalu sama: Tower Arcasia, Unit 12-B. Nama pemesannya jelas tertera: Kalandra Dananjaya. Udara di sekitarku mendadak terasa tipis, seolah oksigen diserap habis oleh dinding-dinding rumah yang selama ini kuanggap sebagai pelindung. Selasa dan Jumat adalah hari-hari di mana Kalandra selalu pulang terlambat dengan alasan meeting koordinasi proyek di luar kota. Aku terduduk lemas di kursi makan, menatap layar yang kini seolah berubah menjadi lubang hitam yang siap menelanku hidup-hidup. Kalandra masih sibuk di garasi, bersenandung pelan lagu jazz kesukaannya, sama sekali tidak menyadari bahwa benteng rahasia yang ia bangun dengan sangat rapi baru saja retak karena satu notifikasi aplikasi cleaning service.
Aku mencoba menarik napas panjang, mengunci kembali ponselnya, dan menaruhnya di posisi semula dengan tangan yang gemetar hebat. 'Sudah kupesankan, Lan. Taksinya sampai lima menit lagi,' teriakku dengan nada suara yang kupaksakan sedatar mungkin. Aku harus tahu. Aku bukan wanita yang akan meledak tanpa bukti konkret di tangan. Aku perlu melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang ada di Unit 12-B itu. Apakah itu sebuah studio tempat ia bekerja secara rahasia? Ataukah itu tempat persembunyian bagi sebuah pengkhianatan yang paling kotor? Pikiran itu menghantuiku sepanjang hari. Setiap kali Kalandra tersenyum padaku, setiap kali ia mengecup keningku sebelum berangkat kerja keesokan harinya, aku merasa mual. Senyum itu terasa seperti topeng plastik yang murah.
Selasa tiba. Aku mengambil cuti dari kantorku dengan alasan sakit. Aku membuntuti mobil Kalandra dari jarak aman menggunakan mobil sewaan yang tidak akan ia kenali. Alih-alih mengarah ke kantornya di kawasan Sudirman, mobil hitam metalik itu melaju lancar menuju jantung kota, memasuki gerbang megah Tower Arcasia. Aku menunggu di seberang jalan, di sebuah kedai kopi kecil yang menghadap langsung ke lobby apartemen tersebut. Mataku tajam mengawasi. Setengah jam berlalu, dan aku melihat seorang wanita muda—mungkin usianya lima tahun di bawahku—berjalan masuk ke lobby dengan santai. Ia membawa tas belanja dari supermarket organik ternama. Tak lama kemudian, Kalandra turun ke lobby, menyambut wanita itu dengan pelukan yang terlalu akrab, terlalu hangat, dan mengecup pipinya di depan umum seolah itu adalah hal yang paling lumrah di dunia.
Duniaku runtuh saat itu juga. Rasa pahit dari kopi yang kuminum terasa seperti racun di tenggorokan. Wanita itu bukan orang asing. Dia adalah Laras, mantan asisten magang di kantor Kalandra yang setahun lalu berpamitan karena alasan ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Ternyata, 'luar negeri' yang dimaksud adalah sebuah unit apartemen mewah berjarak sepuluh kilometer dari rumah kami. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju lift, tangan Kalandra melingkar di pinggang Laras dengan posesif. Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku memutih di telapak tangan. Pengkhianatan ini bukan sekadar nafsu sesaat; ini adalah sebuah manajemen kehidupan ganda yang sangat terorganisir. Apartemen yang dibersihkan secara rutin, rutinitas pertemuan yang terjadwal, dan sebuah kebohongan yang dipelihara dengan pupuk kasih sayang palsu di rumah.
Aku tidak langsung melabrak mereka. Amarahku yang tadinya meluap kini membeku menjadi sebuah rencana yang dingin dan presisi. Aku menghabiskan sisa hari itu dengan menghubungi seorang kenalan lama yang bekerja di bidang audit forensik digital. Aku ingin tahu seberapa jauh Kalandra telah mencuri dari masa depan kami untuk membiayai kehidupan selirnya. Hasilnya mengejutkan. Mutasi rekening rahasia menunjukkan aliran dana yang stabil; biaya sewa apartemen, cicilan mobil baru atas nama Laras, hingga asuransi kesehatan premium. Kalandra bukan hanya selingkuh, ia sedang membangun sebuah 'dinasti kecil' di atas penderitaanku yang diam-diam menabung untuk program bayi tabung yang selalu ia tunda dengan alasan 'belum siap secara finansial'.
Malam itu, Kalandra pulang dengan wajah lelah yang dibuat-buat. Ia mengeluh tentang klien yang rewel dan macetnya Jakarta yang tidak masuk akal. Aku memperhatikannya melepaskan sepatu, menggantung jasnya, dan duduk di sofa sambil meminta pijatan di bahu. 'Lelah sekali ya, Lan? Pasti sulit menjaga dua rumah sekaligus tetap bersih,' ucapku sambil tetap menatap layar televisi yang sedang menayangkan berita tanpa suara. Kalandra membeku. Bahunya yang tegang mendadak menjadi kaku seperti batu. Ia menoleh perlahan, mencoba mencari jejak candaan di wajahku, namun yang ia temukan hanyalah tatapan kosong yang mematikan. 'Apa maksudmu, Nim? Aku nggak mengerti,' jawabnya, namun suaranya bergetar satu oktaf lebih tinggi dari biasanya.
Aku mengeluarkan ponselku, menunjukkan foto-foto yang kuambil di lobby Arcasia tadi siang, serta hasil print-out mutasi rekening yang kudapatkan. Aku juga meletakkan struk layanan cleaning service yang sempat kucatat nomor pesanannya. 'Unit 12-B, Tower Arcasia. Laras terlihat sangat bahagia hari ini, Lan. Apakah dia juga tahu kalau uang yang kamu pakai untuk membayar apartemen itu adalah uang tabungan yang seharusnya kita pakai untuk membangun keluarga?' Suara suamiku menghilang. Ruang tamu kami yang hangat mendadak berubah menjadi ruang interogasi yang dingin. Kalandra mencoba meraih tanganku, namun aku menghindar seolah ia adalah penderita penyakit menular yang menjijikkan. Penjelasan-penjelasan klise mulai keluar dari mulutnya; tentang bagaimana ia merasa kesepian, tentang bagaimana Laras memberinya apresiasi yang tidak ia dapatkan dariku, tentang bagaimana ia 'khilaf'.
Khilaf tidak berlangsung selama enam bulan dengan jadwal cleaning service yang teratur, Kalandra. Khilaf adalah kesalahan sesaat, bukan strategi jangka panjang. Aku menyadari bahwa pria yang kucintai selama tujuh tahun ini hanyalah sebuah proyeksi dari keinginanku sendiri, bukan sosok aslinya. Sosok aslinya adalah pria pengecut yang bersembunyi di balik notifikasi aplikasi ponsel. Malam itu, aku tidak menangis. Air mataku sudah mengering sejak aku melihatnya memeluk Laras di lobby apartemen. Aku hanya menyerahkan sebuah map cokelat berisi surat cerai yang sudah kutandatangani di hadapan notaris sore tadi. Aku memberikan dia satu pilihan: keluar dari rumah ini malam ini juga dengan hanya membawa baju yang ia kenakan, atau aku akan mengirimkan semua bukti ini kepada dewan etik di perusahaannya dan orang tuanya yang sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga.
Kalandra menangis, bersimpuh di kakiku, memohon ampunan yang tidak akan pernah ia dapatkan. Bagiku, kepercayaan itu seperti kaca; sekali retak, kau bisa menyambungnya kembali, tapi kau akan selalu melihat retakan itu setiap kali berkaca. Dan aku menolak untuk melihat wajahku di depan cermin yang penuh retakan. Saat ia akhirnya melangkah keluar dari pintu rumah dengan tas olahraga yang diisi seadanya, aku mengunci pintu dan mengganti kodenya saat itu juga. Aku terduduk di lantai, menghirup aroma rumah yang kini terasa asing. Namun, di tengah kesunyian itu, aku menyadari sesuatu yang aneh. Di bawah meja konsol, aku menemukan sebuah kunci apartemen yang terjatuh dari tas Kalandra saat ia terburu-buru tadi. Itu bukan kunci Unit 12-B. Label di kunci itu tertulis: 'Unit 4-A, Tower Arcasia'. Jantungku kembali berdegup kencang. Apakah ini berarti ada wanita lain selain Laras? Ataukah Kalandra menyimpan rahasia yang jauh lebih gelap dari sekadar perselingkuhan? Dengan tangan gemetar, aku meraih kunci itu, menyadari bahwa badai ini mungkin baru saja dimulai.